
Matanya terlalu berat untuk terbuka, kalau saja tidak ada suara bel pintu yang berbunyi lebih baik dia tetap bergulung dengan selimut. Mencoba duduk, ia meringis merasa sakit di sekujur tubuhnya. Alya berjalan pelan mengambil dress baru di lemarinya. Membiarkan tamu di luar menunggu tak sabar.
Tak lupa Alya membuang piyama yang sobek ulah Christian ke dalam tempat sampah di dekat pintu kamar mandi. Melirik sebentar ke arah noda merah di atas sprei, Alya berusaha acuh tanpa ingin memusingkan hal semalam lagi.
"Ya ampun sabarlah! " Teriak Alya mendekat ke arah pintu.
Betapa terkejut nya Alya melihat siapa yang datang.
"Daddy, mommy? " Alya menutup mulutnya tak percaya, ia berhamburan memeluk Patricia lalu tuan Rodrigo.
"Kalian membuatku kaget, ayo masuk." Ajak Alya menggiring orang tuanya ke dalam.
"Kami sengaja Al merahasiakan ini, agar kau tidak melarang kami datang." Patricia menaruh beberapa karton di atas meja makan. Sebelumnya ia sudah berbelanja untuk memenuhi isi lemari pendingin anaknya.
"How's your college Al? " Tuan Rodrigo mengusap ujung kepala Alya. Mereka duduk bersebelahan di sofa depan Televisi.
"Good, it was a nice place. " Jawab Alya tersenyum tipis.
"Al, kau belum memakan sarapanmu? " Tanya Patricia yang melihat ada makanan di atas meja makan.
"Ah ya, aku lupa momm. Kalian tak sabar minta di bukakan pintu. " Ternyata Christian memasak untuknya.
"Apa Christian sering kesini? " Sejak di perjalanan tuan Rodrigo sudah menyiapkan pertanyaan itu, dan ia lega tidak mendapati Christian ketika mereka datang.
"Tidak, dia stay di hotel miliknya. " Alya Menunduk tak berani menatap mata ayahnya.
"Lalu kenapa kau pindah ke flat kumuh itu?" Serang tuan Rodrigo, Alya sudah bisa menebak jika dia memang selalu di awasi.
"Menginap di tempat Hellen, dia temanku di kampus. " Meskipun berbohong Alya tahu tuan Rodrigo akan menyadarinya.
"Lalu, transaksi besar itu untuk apa Al? " Menyangkut pembayaran sewa Flat, ternyata mutasi rekening Alya sampai di lacak oleh ayahnya.
"Awalnya aku ingin tinggal dekat dengan Hellen, malu juga menumpang di tempat Christian. Tapi di sana jauh lebih parah keadaannya, aku memilih kembali kemari." Semoga saja kejadian tukang pizza dan yang semalam tidak tembus ke telinga ayahnya. Alya takut dia akan di seret pulang kembali ke Paris.
"Daddy, sudah menginterogasi nya? Alya cepatlah mandi lalu sarapan. Kau harus ke kampus bukan? " Alya bernafas lega, ibunya paling mengerti keadaan. Ia selamat dari cecaran sang ayah yang menakutkan.
"Yes momm... " Alya pun beranjak dari sofa untuk pergi mandi.
Sementara Patricia sibuk membantu merapikan dan membersihkan flat milik Christian. Sebenarnya masih sangat rapi hanya saja agar ia memiliki kegiatan. Ketika masuk ke kamar Alya, nyonya Rodrigo akan merapikan tempat tidurnya. Ia terkejut ketika menyibak selimut tebal, melihat bercak darah tercetak jelas.
Mendadak jantungnya berdegup kencang, rasa takut dan cemas mulai hadir di benaknya. Alya yang keluar dari kamar mandi menangkap gerak gerik ibunya.
"Aku sedang datang bulan mom, biarkan sprei nya di laundry saja." Tanpa menimbulkan kecurigaan, Alya berhasil meyakinkan ibunya.
__ADS_1
"Kau ini Al, gunakanlah pembalut yang extra size. " Patricia berdecak heran karena di Paris pun Alya kadang suka bocor.
"Mom, apa alasan kalian mengunjungi ku?" Tanya Alya, ia mulai mengenakan pakaiannya di hadapan sang ibu, tidak merasa malu sedikitpun.
"Katanya kami akan mengunjungi mu secara rutin. Daddy juga bilang akan mencarikan tempat baru untukmu." Mendengar penuturan Patricia Alya mengernyit. Ia belum ingin pergi dari flat Christian, Alya sudah sangat betah dan nyaman di sini. Pernah pindah pun nyatanya dia kembali lagi.
"Beritahu Daddy itu tidak perlu mom, aku nyaman di sini. Beri saja Christian uang sewa setahun penuh, beres kan? " Sudah siap, Alya membawa peralatan melukis beserta laptop miliknya. Terlihat repot di mata Patricia.
"Bilang saja langsung pada daddy mu, sekalian mengantarmu ke kampus. Mommy pusing melihatmu membawa banyak barang. " Keduanya keluar kamar setelah selesai dengan urusan masing-masing.
Patricia dan tuan Rodrigo menemani Alya sarapan. Sesekali Alya bercerita kesehariannya selama tinggal di London. Ia juga mengatakan Christian menjaganya dengan baik. Bahkan dia mengajak Alya menghadiri pelelangan lukisan terkenal.
"Jadi kau betah di sini ? Bukan karena Christian sering datang berkunjung? Alya tersedak saat minum ketika mendapat pertanyaan dari daddy nya.
" Pelan-pelan Alya, kau ceroboh sekali." Tangan Patricia menepuk pelan punggung anaknya.
"Jelas bukan dadd. Christian orang sibuk mana ada waktu mengawasi ku dua puluh empat jam." Kilah Alya berbohong.
"Baiklah, asal kau bisa jaga diri dengan baik daddy akan terus menuruti semua keinginan mu Al. Ayo daddy antar ke kampus. " Tuan Rodrigo bangkit dari duduknya begitupun Alya.
Sebelum pergi Alya berpelukan dengan Patricia. "Aku pergi mom, tolong buatkan aku adonan pastry ya. " Rengekan Alya begitu menyenangkan bagi orang tuanya, bagaimanapun Alya masih sangat muda. Ia begitu sering meminta Patricia membuatkan berbagai jenis pastry kesukaannya di hari ulang tahunnya.
"Siap baby girl... " Mendengar ibunya memanggil girl, Alya meringis merasakan sesak di dadanya. Ia sudah kehilangan predikat itu, dan semuanya karena kegilaan Christian.
Di dalam mobil menuju kampus, tuan Rodrigo menyetir sendiri demi mengantarkan putrinya ke kampus.
"Aku sedikit meriang dad. Semalam hujan lebat dan aku lupa mematikan pendingin ruangan. " Sialan, umpat Alya dalam hati. Padahal dia berkeringat setelah di serang oleh Christian. Ia menutupi jejak yang di tinggalkan Christian di ceruk lehernya. Untung tadi Alya menutupi nya menggunakan rambut saat menyambut kedua orang tuanya.
"Daddy menginap di hotel milik Christian, nanti malam kita dinner bersama di sana. Sekaligus ada yang ingin daddy sampaikan Al. " Sebelum Alya turun Tuan Rodrigo memberitahukan jadwal mereka.
"Baiklah dad, aku pergi dulu. See you... " Tak lupa Alya mengecup pipi daddy, padahal biasanya tidak pernah begitu ketika di Paris. Bagaimana bisa, lagipula Alya selalu berangkat sendiri naik bis ke sekolah.
***
Seharian Alya membantu Luke mengerjakan tugas lombanya di kelas melukis. Untung saja pelajaran mata kuliahnya tidak split, jadi Alya bisa pulang tepat waktu.
"Al, aku antar kau pulang. " Luke mengejar langkah jenjang Alya, mereka berjalan bersama menuju parkiran.
"Ah tidak perlu Luke, aku di jemput daddy." Tolak Alya sopan, ia menghargai Luke sebagai partner nya.
"Ku pikir kau tinggal sendiri di sini Al? " Langkah mereka terhenti ketika tiba di tempat parkir dimana Tuan Rodrigo sudah berdiri di samping mobil.
"Ya, dia sedang berkunjung untuk mengawasi ku. " Lirih Alya tanpa menatap Luke di sampingnya.
__ADS_1
"Hah, maksudmu Al? " Terlihat kebingungan di wajah Luke.
"Aku duluan Luke. " Mengabaikan pertanyaan Luke, Alya berlari kecil menuju tuan Rodrigo untuk berhamburan memeluknya.
"Kenapa kau jadi manja sekali Al? " Tangan tuan Rodrigo mencubit pipi Alya gemas. Jika di Paris putrinya seperti menjaga jarak, tapi di sini dia begitu ceria dan terbuka.
Mungkin Christian membawa pengaruh baik untuknya. Ketakutan Tuan Rodrigo tak beralasan selama ini.
"Hehe kan jarang sekali daddy mengantar jemput ku seperti ini. " Alya menunjukkan barisan giginya, dia memiliki gigi kelinci yang jarang orang sadari.
"Ayo kita ke hotel, mommy sudah menunggu. " Ajak tuan Rodrigo, Alya mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil Rolls-Royce milik ayahnya.
Interaksi keduanya di saksikan Luke dan beberapa pasang mata. Terutama Hellen dan juga Cindy, entahlah kenapa mereka malah bertambah akrab.
"Ternyata Alya anak pengusaha sukses, dia tuan Rodrigo pengusaha berlian dan jam tangan mewah Ell. " Terperangah tak percaya Cindy berulang kali menepuk lengan Hellen di sampingnya.
"Jadi semua yang Alya lakukan padaku kamuflase? Dia memanfaatkan ku untuk memiliki teman. " Merasa kesal dan di bohongi, Hellen berubah membenci Alya saat ini.
"Sudah ku bilang Ell, dia memang licik." Hasut Cindy menyulut api yang sudah terpercik.
"Ayo pergi, akan aku pikirkan cara untuk membalasnya. " Hellen menarik tangan Cindy menjauh dari parkiran.
Restoran begitu ramai, apa lagi kedatangan tamu penting yang merupakan kerabat pemilik hotel. Christian, Daniel dan juga Nyonya Aline menyambut hangat keluarga Rodrigo yang akan makan malam di sana.
"Alya,,, kamu semakin cantik saja baby. Theo pasti terkejut melihatmu. " Ibu dari kedua laki-laki itu memuji paras cantik Alya. Ia memang manis dengan balutan one set koleksi Chanel berwarna kuning.
"Bibi, aku kira bibi tidak di sini. Ku dengar Theo juga akan berkunjung." Alya berpelukan sebentar dengan Aline, mereka duduk di meja panjang karena akan makan bersama. Christian maupun Daniel bisa merasakan Alya menghindari bertatap mata dengan pria yang telah mengambil mahkotanya.
"Ah ya sayang, Theo dan uncle O akan datang. Karena pertunangan Christian dan Sera di majukan seminggu lagi."
Deg,,,
Jantung Alya seolah terpanah sebuah busur secara mendadak mendengar kabar pertunangan Christian. Christian menunggu reaksi Alya saat ini, apakah dia akan merasa cemburu atau malah bersikap biasa saja ?
"Benarkah? Kalau begitu selamat bibi, aku ikut senang." Senyuman Alya di buat setulus mungkin agar pria di hadapannya tidak curiga.
"Bibi juga punya surprise untukmu Al, tapi nanti tunggu Theo dan uncle O tiba." Christian mengernyitkan dahinya penasaran apa maksud dari ucapan ibunya.
Alya melirik ke arah orang tuanya meminta penjelasan, namun pramusaji datang menyela membawa troli lalu mulai menyajikan makanan pesanan di atas meja.
Merekapun menikmati makan malam dengan santai, di selingi obrolan ringan anatara orang tua Alya dan ibunya Christian.
"Aku permisi ke toilet sebentar. " Di sela makannya Alya meminta waktu untuk pergi dari meja mereka.
__ADS_1
Di dalam toilet Alya merasa kakinya lemas hingga harus bertumpu pada wastafel. Perasaan apa ini, kenapa Alya merasa sakit mendengar Christian akan bertunangan? Apa benar dirinya sudah jatuh hati pada Christian ?
"Tidak mungkin, aku hanya merasa bingung. Semua akan baik-baik saja Al... " Menguatkan diri, Alya berusaha meneguhkan kembali pendiriannya. Ia tidak ingin terjebak oleh perasaan yang hanya akan memberinya luka. Alya membasuh wajahnya berharap mendapat kesegaran.