My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
alergi


__ADS_3

Mobil yang membawa Christian dan Alya tiba di carpot hotel milik pria itu. Terlihat lebih ramai di banding malam biasanya. Alya begitu manis dengan balutan dress rajut selutut berwarna kuning tanpa lengan. Rambutnya di biarkan terurai begitu saja, menambah kesan manis dan elegan.


Tidak ada kacamata tebal bertengger, begitu kontras dengan kulit putih bak Suusuu.


Christian adalah pria beruntung yang bisa menggandeng Alya Shamare di acara terbuka. Padahal sejak dulu putri bungsu tuan Rodrigo begitu sulit di ajak menghadiri acara apapun.


Daniel menunggu keduanya di dekat lift untuk masuk bersama ke ballroom. Matanya tak berkedip cukup lama demi mengenali Alya. Ia pikir Christian membawa wanita lain.


Sungguh, Alya bak boneka Barbie hidup. Riasan di wajahnya menampilkan kepribadian lain. Daniel merasa malu sudah salah menilai Alya di awal perkenalan mereka. Pantas saja Christian begitu gencar menginginkan nya.


"Niel,,, " Christian sengaja menyapa sahabatnya agar berhenti menatap Alya sedemikian rupa.


"Ah sorry Chris. Ayo masuk, acaranya akan segera di mulai. " Ajak Daniel pada mereka.


Christian menyerahkan lengannya agar Alya mau mengapit nya. Meski cukup ragu akhirnya Alya pun menerima. Mereka berjalan memasuki ruangan yang di sulap semegah mungkin. Akan ada beberapa pelukis terkenal dunia mengisi acara.


Semua mata tertuju ke arah pintu masuk dimana Christian untuk pertama kalinya menggandeng gadis cantik. Dulu ketika menjalin kisah percintaan dengan Viona Christian tidak mau mempublikasikan hubungan mereka. Wajar jika rekan bisnis maupun koleganya di buat kaget sekaligus kagum melihat kecantikan Alya.


"Mereka kenapa Chris? " Bisik Alya, keduanya hendak duduk di meja VIP jajaran paling depan.


"Terpesona oleh kecantikan mu Al. " Tangan Christian menarik kursi Tiffany berpita, Alya meletakkan pantatnya.


Tak ingin Alya terus-terusan menjadi pusat perhatian, Christian rela melepas jasnya untuk menutupi tubuh Alya. Kaum hawa di ruangan menelan saliva masing-masing melihat otot-otot lengan kekar Christian terpampang nyata.


Pelayan datang menghampiri meja Christian, menawarkan jenis minuman yang ingin mereka pesan. Christian berbisik pada Alya "jangan biarkan aku mabuk! " Alya hampir tertawa lepas jika saja ia lupa tempat nya berada. Lalu Alya pun memilih minuman bersoda untuk keduanya. Pelayan mengangguk meninggalkan meja setelah tahu apa keinginan tuannya.


"Kau payah sekali Chris. " Christian memperhatikan wajah berseri Alya. Ia rela menjadi bahan lelucon agar bisa terus melihat senyum gadis di sampingnya.


Padahal Alya juga tidak bisa mentolerir kadar alkoholnya sendiri.


Interaksi Christian danaAlya tak pernah luput dari pengawasan seseorang sejak mereka tiba di ballroom. Tangannya mengepal kuat tak suka melihat kedekatan itu. Hatinya begitu terbakar api cemburu, siapapun tidak boleh merebut kekasih hatinya.


"Nona, acara akan segera di mulai. " Bisik salah seorang crew acara. Meski perasaannya sedang kacau ia harus tetap profesional. Tugasnya harus berjalan lancar sebagai kurator sekaligus pembawa acara.


"Ok." Jawabnya singkat.


Acara berlangsung meriah, selain pelelangan lukisan ternama ada juga penampilan grup paduan suara anak-anak panti asuhan. Selain menyewa tempat, penyelenggara juga bekerja sama dengan Christian untuk membantu sesama.


Dia bahkan maju ke atas panggung untuk menyampaikan pidato.


Alya tidak menyangka jika Christian memiliki sisi baik. Mungkin benar, kita tidak akan pernah tahu sifat asli seseorang kalau tidak mengenal nya lebih dalam.

__ADS_1


"Permisi, aku mau kudapan nya. " Alya menghentikan laju pelayan yang membawa nampan berisi camilan untuk di bagikan. Dengan senang hati pelayan itu memberi Alya sepiring kue kering.


Christian masih berada di atas sana untuk membuka acara penggalangan dana melalui pelelangan lukisan. Alya mencicipi kue dengan mata terus tertuju pada wanita yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Christian. Gestur tubuhnya seolah ingin selalu berdekatan dengan Christian.


Alya meraba tenggorokannya, mendadak terasa panas. Di beberapa titik seperti lengan, tengkuk dan pipi mulai merasa gatal dan menginginkan pemiliknya menggaruk demi rasa puas.


"Sial, aku ceroboh. " Alya mengumpat kesal, seharusnya Alya memeriksa terlebih dulu bahan yang terkandung dalam kudapan itu.


Ia bingung, jika meninggalkan acara takutnya Christian malah menyusulnya dan malah mengacaukan kegiatan penting.


Tapi kalau terus di biarkan Alya akan mengalami sesak nafas.


"Eungh, biji wijen terkutuk. " Alya mengusap lengannya tanpa ingin menggaruk. Atau kulitnya malah menimbulkan ruam dan bengkak. Sejak kecil Alya memiliki alergi terhadap biji wijen. Mungkin karena di tumbuk Alya tidak tahu kue kering itu menggunakan biji yang ia hindari.


Tak sengaja Christian menatap ke arah Alya, gadis itu terlihat tidak nyaman. Christian mulai cemas dibuatnya, ia melirik ke arah Daniel di samping panggung untuk mengecek keadaan Alya menggunakan sorot mata tajamnya.


"Nona, mari kita keluar saja. " Daniel berbisik mengajak Alya meninggalkan ruangan. Alya mengangguk pasrah tanpa berpikir lagi.


Keduanya berjalan tergesa-gesa, namun perhatian tamu tetap tertuju ke arah panggung dimana lukisan lukisan indah siap di lepas pemilik nya.


Sejujurnya Christian sangat ingin menemani Alya, tapi ia masih memiliki tanggung jawab. Setidaknya ada Daniel yang akan menjaga Alya. Lega bercampur rasa bersalah membayangi Christian.


Daniel mengantar Alya ke kamar pribadi Christian. Alya sudah mulai kehilangan kendali, sejak di dalam lift tangannya sibuk menggaruk bagian yang terasa gatal.


"Terima kasih tuan Daniel. " Ucap Alya tulus.


"Niel, panggil saja Niel nona. Bertahanlah." Daniel segera keluar meninggalkan Alya, untungnya apotek tidak jauh dari hotel.


Dalam keadaan darurat tiba-tiba ponsel Alya berdering, seseorang melakukan panggilan video.


"Daddy, please jangan sekarang. " Lirih Alya, nafasnya mulai terasa berat. Jika Tuan Rodrigo mengetahui keadaan Alya jelas Christian akan di salahkan karena tida bisa menjaga dirinya.


Dering berhenti, namun tak lama berselang kembali menggema. Sekarang Gracia kakanya yang menelepon. Untung saja panggilan suara, Alya bergegas mengangkat nya.


"Halo Al, kenapa kau susah di hubungi? Kau baik-baik saja bukan? " Terdengar suasana di sana begitu ramai, sepertinya keluarga tengah berkumpul.


"Yah,,, hem, akuh baikh baikh saja Kak. Nantih kuh telepon lagih... " Sebisa mungkin Alya menyembunyikan keadaannya meski suara Alya jelas terdengar terengah-engah.


Daniel membuka pintu sembarang, ia meraih botol minum di mini bar lalu memberikan Alya obatnya. Tak tanggung tanggung Alya menenggak beberapa butir langsung.


"Nona, apa tidak akan overdosis? " Daniel mengambil alih botol tadi, Alya menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


"Terima kasih Niel, kalau minum banyak reaksinya lebih cepat. " Alya melepaskan sandal talinya, tangannya sudah berada di pundak untuk melepaskan jas milik Christian.


"Nona jangan di buka! " Daniel berteriak menghentikan aksi Alya. Alya menyipitkan matanya heran.


"Aku keluar dulu, nona beristirahat lah. " Daniel mengusap dadanya lega. Dia pasti akan dihabisi oleh Christian saat tanpa sengaja melihat kemolekan tubuh Alya.


"Untung saja aku cepat keluar, Chris bisa-bisa mencongkel kedua mataku. " Daniel bergidik ngeri hanya membayangkannya saja. Ia pun kembali menuju ballroom untuk mendampingi bosnya.


Alya baru sadar dirinya berada di kamar pribadi Christian. Aroma tubuh Christian begitu khas mendominasi ruangan. Alya membuka jas hitam kemudian menggantungkan nya di standing berbahan kayu jati asli.


menatap cermin, Alya merasa jijik melihat ruam pada tubuhnya. inilah kenapa dia sangat menghindari acara seperti ini, ia tidak tahu makanan apa yang di hidangkan yang bisa saja membuatnya celaka.


"Chris, kau pasti mentertawakan ku melihat ini semua, bukankah aku tampak bodoh? " gumam Alya.


Akhirnya Alya memilih merebahkan tubuhnya di balik selimut tebal. selain pereda nyeri, obat juga memiliki efek samping mengantuk agar penderita alergi bisa beristirahat dan berhenti menggaruk badannya.


sementara di ballroom, acara baru saja selesai pukul sepuluh malam. langkah Christian yang ingin cepat-cepat melihat keadaan Alya harus terhenti. beberapa rekan bisnisnya mengajak berbincang singkat.


"selamat tuan Oliver, pasangan anda begitu cantik. jangan lupa undangan pernikahannya." ucap pria paruh baya seumuran daddy Oliver menggoda Christian.


"ya, Terima kasih. " Christian menanggapinya santai.


"wah, beruntung sekali gadis itu bisa merayu mu Chris. " dan sesuai dugaan, Christian harus meladeni kehadiran wanita bertubuh bak gitar Spanyol dengan dress seksinya.


"sebaliknya, aku beruntung bisa mendapatkan nya. tidak ada yang lebih istimewa selain dia." Christian menatap lawan bicaranya penuh intimidasi.


"well, kita lihat saja bagaimana reaksinya kalau tahu kelemahan seorang Christian Oliver. " mendengar nada ancaman, Christian bergemuruh hebat. Daniel yang menyadari nya segera melerai.


"Permisi tuan-tuan, kami masih ada pekerjaan lain. " Daniel menutup sesi bincang-bincang mereka, Christian berjalan gagah keluar ruangan tanpa sepatah katapun.


"Sial, awas saja kau Chris. akan ku buat kau menyesal sudah menolak ku." Tangan wanita itu meninju udara menyaksikan punggung Christian lenyap di balik pintu.


"Viona sangat tidak tahu malu. " Christian yang hanya mengenakan kemeja putih mengumpat kesal. ia mengendurkan dasinya seraya menunggu lift.


"Keputusan mu sudah tepat Chris. sejak awal Viona memang licik. " Daniel merasa lega Christian lepas dari jerat Viona. meski cuek dan terus menuruti keinginan Christian, Daniel begitu perhatian padanya. tak rela seseorang menyakiti perasaan bos sekaligus sahabatnya.


"bagaimana kondisi Alya? " Keduanya masuk ke dalam lift yang mulai beranjak naik.


"kata apoteker nona Alya alergi biji wijen. dia bahkan menelan banyak pil tadi. " Daniel bergidik ngeri mengingat keberanian Alya.


"panggilkan dokter untuk memeriksa kesehatan nya. " perintah Christian.

__ADS_1


"baiklah." Daniel dan Christian berpisah di depan lift. Christian berjalan ke arah kanan koridor sementara Daniel ke sebelah kiri. ia langsung menghubungi dokter pribadi Christian.


__ADS_2