My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 37


__ADS_3

Dylan akhirnya pulang lebih awal karena Grace masih harus bekerja. Sesampainya di rumah sudah ada Alya yang asik membaca buku di ruang keluarga.


"Auntie Al,,, " Dylan berjalan cepat lalu berhamburan memeluk Alya. Alya terperanjat kaget lalu membalas pelukannya.


"Bagaimana sekolah baru? " Dylan melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Alya.


"Good, kau habis dari mana Dy? " Tanya Alya, dia datang bersama ibu dan ayahnya. Tapi mereka masih di luar untuk membahas masalah penting.


"Makan siang di kantor mommy, harusnya kau ikut denganku auntie. Makanan di sana enak." Alya hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ocehan Dylan.


"Dy,,, ayo tidur siang dulu sayang." Grand ma tiba di ruang keluarga mengajak Dylan ke kamarnya.


"Daddy mana mom? " Tanya Alya.


"Daddy masih harus mengurus sesuatu, mending kau temani mommy di kamar Dylan." Alya mengangguk karena dia memang merasa bosan sendirian. Kepindahannya membuat Alya belum memiliki teman di sekolah maupun lingkungan rumah.


Setelah mengetahui kebenaran dari dokter obgyn, Liam langsung pergi menuju kediaman Tuan Rodrigo. Dia mengamati keadaan, menunggu barangkali Dylan keluar rumah untuk bermain.


"Tuan perlu ingat, jika tuan mengambil Dylan secara paksa nona Grace akan membenci tuan lebih dalam lagi. Begitupun tuan Rodrigo, bukankah itu akan mempersulit keadaan ? " Josh terpaksa bersuara demi mengingatkan Liam.


"Aku tahu, saat ada kesempatan aku ingin mengajak Dylan pergi sebentar saja. " Liam memijit pelipis merasakan pusing menghadapi masalahnya.


Jam kerja berakhir, Grace mulai merapikan meja dan mematikan komputernya. Ia ingin cepat pulang dan bermanja-manja dengan Dylan. Rencananya Grace akan mengajak Dylan ke taman bermain dekat rumah. Namun saat di lobby Grace sudah ditunggu oleh seorang pria.


"Ethan,,, " Gumam Grace masih bisa di dengar oleh pria di hadapannya.


"Lama tidak berjumpa Grace, aku sangat merindukanmu." Grace mematung tanpa bisa menjawab ungkapan perasaan Ethan. "Maaf Ethan, aku harus pulang sekarang juga."


"Boleh aku mengantarmu Grace? " Ethan memohon melalui tatapannya. Grace merasa tidak enak hati untuk menolak, ia menerima tawaran Ethan hanya karena tidak ingin merusak pertemanan. Grace mengangguk tanda iya.


Di perjalanan Ethan mencoba mengajak Grace berbincang, namun sepertinya wanita yang duduk di sampingnya sudah banyak berubah. Grace selalu menjawab sekenanya saja.

__ADS_1


"Grace, aku akan sabar... " Kata Ethan lirih. "Tidak, aku sangat jauh dari kata pantas untukmu Ethan. Kau berhak mendapatkan seseorang lebih baik lagi." Cepat cepat Grace mematahkan harapan Ethan.


"Aku hanya ingin kau, apapun kondisimu Grace." Ethan melirik sebentar melihat wajah Grace.


"Ethan aku,,, "


"Aku tahu Grace, semua yang terjadi padamu aku sangat mengerti. Ini bukan salahmu, aku juga akan menerima darah daging mu dan Liam sebagai anakku." Grace melihat ketulusan yang Ethan tunjukkan padanya. Selama ini Ethan selalu meminta bertemu namun Grace yang terus saja menolak dengan berbagai alasan.


"Tidak semudah yang kau bayangkan Ethan, aku hanya ingin hidup tenang berdua bersama anakku. Maaf sekali lagi tapi sungguh aku tidak bisa memberimu harapan." Ethan akan berhenti, dia takut Grace malah semakin menghindari nya.


Tak terasa akhirnya mobil tiba di depan gerbang rumah Grace.


"Aku turun, Terima kasih atas tumpangannya." Grace keluar dari mobil setelah pamit pada Ethan. Pria itu ikut turun sebelum Grace masuk ke dalam.


"Grace tunggu! " Ethan meraih tangan Grace untuk menahan laju kakinya. Grace melirik ke arah tangannya lalu menepisnya sopan.


"Maaf. Maukah kau makan malam denganku? " Ethan masih berusaha mendekati Grace padahal jelas jelas Grace sudah menolaknya.


"Aku tidak bisa Ethan, aku memiliki janji dengan anakku." Grace berbalik menuju rumah namun Ethan malah memeluknya dari belakang.


"Ethan lepaskan aku, tolong jangan seperti ini." Grace menangis karena tidak suka di perlakukan demikian oleh pria asing, bagi Grace Ethan terlalu melanggar privasinya. "Dia bilang lepaskan! " Liam yang tak tahan melihat adegan itu segera mencengkram lengan Ethan lalu menghajarnya di bagian wajah.


"Brengsek kau, beraninya menyentuh Grace. " Liam akan memukul bagian perut namun Grace menghalau Karena tidak ingin ada keributan di depan rumahnya.


"Stop! Ethan lebih baik kau cepat pulang." Pinta Grace dengan sangat, air matanya sudah membasahi pipi sejak Ethan mencoba menyentuhnya tadi. Ethan kembali ke mobil dengan perasaan dongkol pada Liam.


Kejadian itu membuat Grace merasa jijik pada dirinya sendiri. Apa pria hanya menginginkan sentuhan dari tubuhnya? Grace muak akan sikap Ethan yang tidak mengerti kata penolakan.


"Grace, tenanglah. " Liam jadi sungkan untuk menyentuh Grace, ibu dari anaknya terlihat sangat ketakutan.


"Aku,,, " Belum selesai Grace bicara tubuhnya sudah lemas tak sadarkan diri, Liam dengan sigap menahan Grace agar tidak terjatuh. Untung nya penjaga sedang berada di dalam pos pengamanan. Liam bisa leluasa membawa Grace pergi dari sana.

__ADS_1


Josh sedikit bingung kenapa Liam malah membopong Grace kearah mobil namun dia tetap membantu membukakan pintu.


"Kita ke apartemen ku Josh." Perintah Liam, dia ingin Grace merasa nyaman karena di sanalah pertama kali hubungan mereka terjalin.


,,,,,,,


Ketika Grave terbangun langit sudah berubah menjadi gelap. Di tempat tidur yang entah dimana Grace bisa melihat lampu lampu menghiasi pemandangan kota. Ia memegangi kepalanya merasa pusing akibat tidur terlalu lama. Ia melirik jam tangan dan ini sudah waktunya makan malam.


Buru buru Grace turun dari ranjang dan memakai high heels nya asal hingga hampir terjatuh. Tas miliknya berada di nakas, Grace ambil lalu berjalan ke luar kamar. Namun sayangnya pintu di kunci dari luar oleh seseorang.


"Liam buka! " Teriak Grace menggedor pintu berkali-kali, tak ada jawaban siapapun di balik pintu.


"Cepat bukakan pintunya, atau aku akan menelpon polisi." Ancam Grace pada siapa saja yang mendengar ucapannya. Di tengah kepanikan ponsel Grace berbunyi dalam tasnya.


"Halo Dy,,, " Grace menempelkan ponselnya di telinga. Terdengar suara tangisan Dylan entah kenapa anaknya menangis histeris. "Mommy kemana,,, kenapa belum pulang mom? Aku takut mom, tadi aku mimpi buruk. " Mendengar perkataan Dylan Grace juga ikut menangis namun tanpa bersuara, ia tak ingin anaknya tambah khawatir.


"Dy, tenanglah sayang mommy akan pulang sebentar lagi. Pekerjaan mommy baru selesai Dy, jadi mommy pulang terlambat." Grace mondar-mandir sambil mencoba menenangkan Dylan, tangannya memijat kepala memikirkan cara keluar dari kamar itu.


"Cepat pulang mommy, aku merindukanmu." Grace hanya menganggukkan kepala berjanji akan segera pulang untuk anaknya.


"Siapa Grace? " Suara seseorang mengejutkan Grace sampai ia menjatuhkan ponselnya ke lantai.


"Liam,,, " Grace meringis mengingat percakapannya tadi dengan Dylan, sejak kapan pria itu duduk di sofa sudut kamar? Apa karena Grace tidak terlalu memperhatikan ruangan, padahal Dylan duduk sejak tadi menunggu Grace bangun. "Dia anak pamanku, sejak bayi aku yang mengurusnya jadi dia sering memanggilku mommy." Kilah Grace berbohong, tak terhitung berapa banyak kebohongan yang ia ciptakan untuk Liam. Liam kesal dalam hati, ia mencoba bersikap biasa saja menanggapinya.


"Liam biarkan aku pulang, aku sangat lelah hari ini." Grace memohon agar Liam mau melepaskannya. Tapi pria itu sedikitpun tak bergeming, dia masih santai duduk menatap Grace.


"Kalau lelah istirahat saja di kamarku Grace." Liam akan mengikuti permainan petak umpet Grace.


"Liam aku,,, " Grace masih belum menemukan alasan kuat supaya Liam bisa membiarkannya pergi.


"Kau wanita lajang Grace, tidak masalah kalaupun kau bermalam di sini." Kata Liam santai. Pintu terbuka dimana Josh datang membawa paper bag berisi makan malam untuk Grace. Ada celah, Grace berlari cepat sebelum pintu di tutup kembali namun langkahnya kalah oleh gerakan Liam yang menahan perutnya.

__ADS_1


"Lepaskan Liam! " Grace memberontak dengan kakinya yang mengapung di udara. Liam membanting tubuh Grace keatas tempat tidur, dia menahan kedua tangan Grace di samping kepalanya. Nafas mereka sama sama terengah-engah setelah adu tenaga.


"Aku merindukanmu Grace,,, " Ungkapan hati yang sama dengan Ethan, tapi Grace menyukai cara Liam. Rasanya hangat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.


__ADS_2