My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 22


__ADS_3

Menuju perjalanan pulang Grace menangis tersedu-sedu di dalam taksi yang ia tumpangi. Ternyata hati Liam masih mengeras, Grace gagal meluluhkan hatinya meski sudah bersusah payah mencoba. Ia harus mempercepat rencana mendekati Peter agar bisa segera pergi jauh.


Ia berusaha menelpon Peter melalui sekretaris nya di La collection. Untung saja Grace belum menandatangani pekerjaan baru untuk beberapa hari ke depan. Ia bisa fokus menyusun rencana hidup selanjutnya. Tawaran memang sudah di ajukan padanya namun mengingat keadaan dirinya yang sering sakit Grace belum memutuskan menerimanya.


"Halo, apa kau bisa membuatkan janji temu untuk ku? " Sekretaris Peter nampak memeriksa jadwal atasannya. Ia tahu Grace yang menghubungi kantor, model tengah naik daun.


"Baiklah, besok malam jam sepuluh di restoran hotel La Chambre." Sepertinya Peter memang sudah menunggu ajakan dirinya. Grace bisa dengan mudah menemuinya. Ia lalu meminta bantuan pengacara ayahnya tuan Rodrigo untuk membuatkan surat berisi poin penting sesuai keinginannya.


Setelah semua tersusun rapi Grace menghempaskan tubuhnya di kursi belakang. Rasanya lelah sekali, tubuh dan pikirannya selalu di paksa bekerja keras. "Kau harus kuat baby, mommy akan menjagamu dengan segenap hati." Grace mengusap perutnya yang masih datar. Ternyata harapannya di kabulkan Tuhan, menghadirkan sebagian diri Liam di hidup Grace. Karena ia sadar tidak bisa berharap lebih pada pria itu.


Grace tiba di depan apartemen dengan mata sembabnya. Ketika Sia membuka pintu matanya terbelalak melihat Grace yang kacau. "Sia aku,,, " Belum selesai ia berbicara tubuhnya ambruk ke dalam dekapan Sia. Hecan berlari meraih tubuh lemah Grace lalu memboyongnya ke dalam kamar.


Hecan memeriksa suhu tubuh Grace menggunakan termometer namun dia tidak demam sama sekali. Dia khawatir melihat kondisi Grace, sementara Sia masih berusaha menghubungi tuan Rodrigo meminta bantuan untuk mengirim dokter pribadi keluarga mereka.


"Bagaimana? " Tanya Hecan menatap Sia. Sia menggeleng belum berhasil berbicara dengan tuan besar.


"Tadi dia ke dokter, aku pikir seharusnya Grace baik baik saja bukan? " Sia panik memikirkan harus berbuat apa terhadap Grace.


"Apa tidak sebaiknya kau hubungi pria itu? Mungkin Grace merindukan dia." Tebak Sia asal saja mengaitkan sakitnya Grace dengan Liam.


"Jangan gila Sia, kita sudah berjanji untuk menjauhkan mereka. Aku tidak ingin mengecewakan tuan Rodrigo." Hecan bangkit, ia keluar dari kamar guna meredakan emosinya mendengar usul Sia. "Ada apa dengan pria itu? " Keheranan Sia menangkap keanehan sikap Hecan.


,,,,,,,


Hari sudah berganti, Grace terbangun di keesokan pagi. Hecan terduduk di lantai sambil menjaga Grace sejak semalam. Kali ini Grace merasa sangat lapar, ia berjalan keluar mencari sosok Sia. Ternyata perempuan itu sedang sibuk di dapur membuatkan sarapan untuk mereka. "Syukurlah kau sudah bangun Grace, aku dan Hecan sangat khawatir melihatmu sakit. " French toast selesai di buat, Sia memberi ketiga piring kosong di atas island. Grace duduk dan langsung melahap sarapannya.


"Pelan pelan Grace, kau bisa tersedak." Kerutan halus muncul di kening Sia, ia heran kenapa Grace seperti orang kelaparan saja. "Aku melewatkan makan malam, perutku sangat lapar Sia. Tolong buatkan aku sesuatu yang mengenyangkan." Pinta Grace dengan mulut penuh, Sia hanya tertawa pelan karena tingkah Grace menandakan dia sudah sehat kembali.


Hecan bangun dari tidurnya mendengar suara di luar. Ia melihat tempat tidur Grace sudah kosong, akhirnya mereka berkumpul bertiga untuk sarapan.

__ADS_1


"Hari ini kita libur, kau mau belanja Grace?" Hecan menawarkan diri mengantar Grace barangkali ia mau keliling mall seperti biasa. "Tidak, kalian pergilah bersenang-senang. Aku ada urusan lain dan ingin pergi sendiri." Sia dan Hecan saling tatap menebak tujuan Grace pergi kemana.


"Kabari aku kalau kau membutuhkan sesuatu." Perintah Sia dibalas acungan jempol dari Grace.


Seharian Grace memilih rebahan di sofa depan televisi. Namun jemarinya sibuk sejak tadi mencari beberapa informasi mengenai ibu hamil. Makanan apa saja yang baik untuk janin di perutnya, dan hal hal yang sebaiknya di hindari saat hamil muda. Ia bahkan mencari beberapa referensi tempat untuk melarikan diri.


Sedang asyik, Tiba-tiba ia mendapatkan email dari pengacara ayahnya. Grace bergegas menuju meja kerja untuk mencetak surat yang ia minta kemarin.


Sebelum menemui Peter di hotel nanti malam, Grace memilih pergi berbelanja kebutuhan seperti buah buahan, sayur, susu dan tentu gaun khusus yang akan ia kenakan.


Di sebuah supermarket Grace mendorong troli berukuran kecil menyusuri koridor buah dan sayur. Matanya berbinar melihat warna warni begitu menyegarkan pandangan. Saat dirinya sibuk memilih buah alpukat ia di kejutkan dengan kehadiran dua orang yang berdiri di samping nya baru saja.


"Grace? " Sapa pria yang datang bersama wanita bertubuh seksi di sebelahnya. Grace tersenyum kecut bisa bertemu mereka di tempat umum.


"Liam aku akan mencari keperluan ku sebentar." Veronica memberi kesempatan untuk Liam dan Grace berbincang sebentar selagi dirinya berbelanja.


"Tidak bisa Liam, aku ada janji temu dengan seseorang." Hampir saja kalau ia harus bertemu Peter di tempat dan waktu yang sudah di tentukan.


"Baiklah, aku mengerti. Kamu baik baik saja kan? " Grace merasa salah tingkah di perhatikan Liam menyeluruh.


"Tentu. Aku pergi duluan. " Grace pamit meninggalkan Liam dan bergegas ke kasir untuk membayar.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Rasa penasaran Veronica sudah tak terbendung mengenai kehamilan Grace. "Tidak ada, bukankah kami memang tidak memiliki sesuatu untuk di bahas? " Jawab Liam menampilkan wajah murungnya. Veronica merasa gemas sendiri di buat Grace, kenapa dia malah memilih merahasiakan semuanya dari Liam?


"Liam apa kau yakin tidak mencintai wanita itu? " Kembali Veronica memastikan isi hati mantan kekasihnya.


"Kalaupun memang aku mencintainya, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu padanya." Masih dengan pendirian yang sama Liam lagi lagi membuang Grace.


Grace bersiap mengenakan gaun panjang berwarna hitam, menampilkan punggung eksotis nya dengan belahan rok hingga sebatas paha. Kali ini tidak boleh gagal ataupun tertunda, Grace menyiapkan sebuah rencana matang untuk menjebak Peter. Hecan dan Sia sudah menunggu di depan mobil karena mereka memang akan membantu Grace hingga berhasil.

__ADS_1


"Ingat, harus tetap bersabar menghadapi pria brengsek itu. Dia bisa saja melukaimu." Kembali Hecan mengingatkan Grace karena dia tidak ingin terjadi sesuatu menimpa Grace. Grace hanya mengangguk yakin bahwa dirinya akan baik baik saja.


Mobil berhenti di parkiran khusus VIP, Grace masuk ke dalam hotel sendirian tanpa di temani Hecan maupun Sia. Namun mereka akan tetap mengawasi di mobil dan bersiap jika sewaktu-waktu Grace memerlukan bantuan.


kehadiran Grace jelas sudah di tunggu oleh Peter dengan rasa tak sabar. tentu bukan tanpa alasan pastinya wanita itu ingin bertemu secara pribadi.


"selamat malam tuan, maaf menunggu lama." grace duduk di kursi berhadapan dengan Peter. seringai di tunjukkan oleh Peter membuat Grace sedikit khawatir akan kewalahan nantinya.


"bukan masalah menunggu beberapa menit untuk seorang wanita cantik. lalu hal apa yang kau inginkan dariku? " tanpa basa basi Peter segera bertanya tujuan Grace mendekatinya.


"aku sangat tertarik bisnis pakaian, aku bingung ingin memulainya dari mana. tapi aku berharap bisa membeli saham La collection." kejujuran Grace ternyata sesuai dugaan Peter. ini pasti ada kaitannya dengan perusahaan.


"aku kecewa nona, ku pikir kau ingin menawarkan diri sebagai model pakaian dalam kami." Liam menyandarkan tubuhnya ke kursi menatap wajah Grace yang penuh rasa berani. padahal dia tahu bahwa dirinya dan sang Ayah pernah berbuat jahat pada Grace.


"Bagaimana, aku akan menawarkan harga terbaik untuk anda tuan." Grace menjadi tak sabar karena Peter seperti sengaja memancingnya.


"entahlah, aku susah payah mendapatkannya. aku tidak tahu apakah bisa menjualnya atau tidak padamu nona." Penolakan Peter sudah bisa di tebak oleh Grace iapun menampilkan senyum termanis nya.


"bagaimana kalau kita pindah ke kamar dan menikmati segelas anggur? mungkin saja anda akan berubah pikiran tuan." Nampak berpikir, Peter mulai tergiur mendapat tawaran dari Grace. ternyata wanita di hadapannya cukup menarik.


"Let me see, jika kamu bisa menyenangkan ku akan aku pertimbangkan." berhasil, Grace puas bisa memancing Peter. ia beranjak dari tempat duduknya.


"mau kemana nona? " Tanya Peter kebingungan.


"apa lagi, memesan kamar kita. " Senyum jahat terbit di wajah Peter sembari memperhatikan cara berjalan Grace menuju lobby.


sebelum ke kamar Grace menyempatkan menelpon Hecan dan Sia. ternyata mereka sudah menitipkan berkas transaksi di receptionist.


"susul aku jika dalam waktu lima belas menit aku tidak keluar." Titah Grace pada mereka. segala kemungkinan buruk harus di pikirkan secara matang. Grace tidak Terima kalau dirinya harus memuaskan seorang brengsek seperti Peter.

__ADS_1


__ADS_2