My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 40


__ADS_3

Alya dan ayahnya baru selesai melakukan donor darah. Patricia tidak bisa datang karena harus menjaga Dylan. Mereka masih menunggu Grace yang sudah di pindahkan ke ruang intensif care unit. Josh harus meninggalkan Liam karena mengurus beberapa pekerjaan.


"Dadd, aku ingin beli snack di cafe terdekat." Ucap Alya pamit pada tuan Rodrigo, dia enggan menunggu tanpa kepastian bersama para pria di sekeliling nya.


"Jangan lama dan tetap waspada Al." Jack menimpali karena tuan Rodrigo malah melamun sejak tadi.


"Baik paman." Alya berjalan lunglai setelah darahnya terkuras untuk membantu kesembuhan kakak.


Alya berubah menjadi pendiam setelah beranjak remaja. Dia tidak seceria saat Grace mengenalnya pertama kali. Mungkin karena sudah mengalami pubertas Alya lebih tertutup pada keluarganya. Menyaksikan hidup sang kakak membuatnya membenci perasaan bernama cinta. Dia tidak ingin bernasib sama dengan Grace.


"Al,,, " Seseorang memanggilnya dari arah samping sebelum Alya menyebrangi jalan. "Theo, sedang apa kau di sini? " Dahi Alya mengkerut heran karena bisa bertemu dengan teman sekelasnya.


"Kakak ku sakit dan di rawat di sini Al. Kau sendiri? " Tanya pria bertubuh tinggi pada Alya, Theo memang memiliki paras tampan dan menjadi idola di sekolah.


"Kakak ku juga, dia korban penusukan orang jahat." Theo menutup mulutnya tak percaya mendengar kabar buruk tentang anggota keluarga Alya.


"Semoga dia baik baik saja Al. Aku harus masuk dan menemui kakak ku, dia selalu saja merepotkan. See you Al." Bisa di bilang Theo adalah teman pertamanya di sekolah. Alya sedikit kesulitan bergaul dengan murid perempuan, mereka selalu menatapnya tak suka entah apa alasannya.


"Ice americano satu." Ucap Alya bersamaan dengan seseorang di sampingnya, mereka berada di depan kasir untuk membeli minuman.


"Aku dulu " Ketus Alya menyodorkan debit card ke kasir.


"Hey bocah, kau tidak tahu budaya antri? Kau menyerobot barisan." Ucap pria berbadan tinggi dan atletis di sampingnya. "Baiklah, silahkan paman duluan saja." Alya mengalah karena dia sedang malas berdebat. Ia memilih berdiri di belakang punggung pria itu.


"Apa? " Tanya Alya meninggikan intonasinya mendapat tatapan tajam dari pria yang berpakaian pasien rumah sakit sebrang. Bisa bisanya pria setampan dia di panggil paman.


"Kau beruntung karena aku sedang berbaik hati." Dia sudah ingin menjitak kening Alya nemun urung, lebih baik dia cepat memesan minum lalu kembali ke rumah sakit.


,,,,,,,


"Syukurlah tidak ada kerusakan pada organ vitalnya, kami hanya menjahit luka tusukan. Pasien juga sudah melalui masa kritisnya akibat pendarahan. Semoga nona cepat sadarkan diri dan segera pulih." Dokter tengah menjelaskan kondisi Grace yang baru di pindahkan ke ruang rawat inap keesokan pagi nya.

__ADS_1


"Terima kasih dok. " Ucap tuan Rodrigo mengakui kinerja dokter rumah sakit itu memang cepat tanggap menangani pasien. "Sudah tugas saya tuan, kalau begitu saya permisi." Mereka mengangguk membiarkan dokter meninggalkan koridor dimana Jack, Liam dan Tuan Rodrigo masih setia menunggu Grace.


"Kalian pulanglah dulu, mandi dan istirahat." Perintah Tuan Rodrigo pada Liam dan Jack. Mereka memang belum beranjak sedikitpun semenjak tiba di rumah sakit.


"Baiklah, aku juga ada jadwal praktek hari ini. Jangan lupa kasih kabar saat Grace sadar." Jack memilih pamit mengingat tugas dan tanggung jawabnya. Tuan Rodrigo mengangguk melepas kepergian. "Liam sebaiknya kau isi perutmu dulu dengan makanan, kalau kau memang masih ingin di sini menunggunya." Perhatian tuan Rodrigo terdengar cukup hangat untuk seorang Liam. Pria yang sudah menorehkan luka di hati putrinya.


"Lebih baik tuan saja dulu. Aku tidak ingin meninggalkan Grace sendirian." Saran Liam, tuan Rodrigo menghela nafas dan mengalah. Dia juga sudah merasakan lapar sejak tadi malam. Mungkin mengganjal perut bisa menambah energi untuk menjaga Grace.


"Tuan, nona sudah sadar." Seorang perawat keluar dan memeberi kabar baik, Liam pun bergegas masuk tak sabar. Setelah mengecek keadaan Grace perawat meninggalkan mereka berdua saja.


"Grace,,, " Lirih Liam, dia duduk di sebelah brankar lalu menggenggam tangan Grace. "Dylan,,, " Suara Grace masih lemah mencari keberadaan putra kecilnya. "Istirahat lah dulu, cepat sembuh dan temui Dylan. Aku bilang padanya kau sedang bekerja di luar kota. Untungnya Dylan mengerti karena aku yang memberinya pengertian." Liam menyombongkan diri atas keberhasilan nya menenangkan Dylan, bocah gemas itu sempat menangis merengek meminta bertemu dengan Grace. "Dia milikku Liam,,, " Grace mencibir sikap Liam, membuat pria itu terkekeh mendengar kecemburuan. Liam mengelus pipi Grace yang masih terlihat pucat. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi Grace, aku tersiksa tanpa mu." Ucap Liam penuh pengharapan.


"Kau memang ayah dari Dylan, tapi kita telah usai Liam." Grace masih belum bisa melupakan kenangan menyakitkan yang Liam ciptakan.


"Jangan dulu bahas masalah kita, anggap saja aku ingin menebus waktu yang aku lewatkan saat kau mengandung, melahirkan dan membesarkan anakku. Dylan juga berhak mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. " Liam tersenyum getir menanggapi penolakan Grace. Meski dalam hati ia berharap bisa bersama lagi, namun terpenting sekarang adalah kesembuhan ibu dari anaknya.


"Aku haus,,, " Grace mengalihkan pembicaraan karena memang tenggorokan nya terasa mengering. Liam mengambilkan minum dan membantu Grace menyedot nya.


"Kau yakin? " Melihat diamnya Grace membuat Liam sedikit curiga Grace menutupi sesuatu.


"Ya, dia memakai masker dan kacamata hitam saat itu. Kepalanya juga tertutup hoodie." Terang Grace meyakinkan Liam. Tuan Rodrigo muncul di balik pintu baru kembali dari cafe yang sama dengan Alya kemarin.


"Grace,,, " Tuan Rodrigo mendekat ke sisi lain dan langsung menggenggam tangan Grace yang terpasang selang infus. Menghujani kening Grace dengan ciuman rasa syukur.


"Maaf membuatmu khawatir dadd. " Tangan Grace bergerak menghapus air mata di ujung mata sang ayah. Baru kali ini Grace melihat tuan Rodrigo menangis.


"Nah Liam, kau bisa istirahat sekarang karena Grace sudah sadar. Aku tidak ingin kau sakit dan tambah merepotkan." Meski kesal dengan pengusiran tuan Rodrigo, Liam bangkit dari duduknya kemudian mengecup ujung kepala Grace dengan berani.


"Get well soon, Grace. " Ucapnya seraya tersenyum simpul, kakinya melangkah keluar ruangan meninggalkan sepasang ayah dan anak.


"Lihatlah dia, sejak membawamu ke rumah sakit dia tidak pernah beranjak sedikitpun." Grace tertegun, Tiba-tiba ayahnya seolah membanggakan Liam di hadapan Grace. "Dia begitu karena aku ibunya Dylan, darah dagingnya. " Grace menolak tak mau salah mengartikan ketulusan Liam.

__ADS_1


"Tidurlah, kau harus cepat sembuh. Dylan sudah merengek minta bertemu. " Tuan Rodrigo membiarkan Grace kembali beristirahat agar pemulihannya lebih cepat. Dia bahkan meminta dokter memberinya pengobatan terbaik.


Grace bosan terus terusan berbaring di rumah sakit. Badan dan kepalanya sudah sangat pegal hanya tidur dan duduk bersandar. Terhitung dua hari Liam tak menampakkan batang hidungnya, Grace menjadi gelisah tak menentu. Untung saja dokter memberinya izin pulang, dia akan melanjutkan pengobatan di rumah saja. Grace sangat merindukan Dylan. Apa lagi mereka hanya bisa bertatap muka lewat panggilan video. Seperti sekarang,


"Mommy, kapan pulang? " Entah ke berapa kali Dylan menanyakan hal yang sama setiap mereka mengobrol.


"Secepatnya Dy, ingat ya jangan nakal. Kalau kau nakal dan menyusahkan grandma, auntie dan uncle mommy tidak akan pulang." Grace menyentuh gambar Dylan menggunakan telunjuknya. Tak terasa ia menitikan air mata.


"Siap mommy, lagi pula uncle,,, ups maksudku daddy sering mengunjungi ku." Ucap Dylan polos. Dahi Grace mengkerut halus tak menyangka.


"Daddy membawa mainan banyak sekali untuk ku mom. Dia juga memasak cream soup makanan kesukaanku." Grace menutup mulutnya menahan isak tangis, akhirnya Dylan menunjukkan wajah bahagia walau tidak ada dirinya di samping Dylan. Grace takut hal ini akan terjadi, dimana Dylan sudah tidak memerlukannya lagi karena Liam sudah hadir dalam hidupnya. "Mommy tenang saja, kau urutan pertama di hatiku. Jadi jangan cemburu pada daddy." Seakan mengerti kegelisahan ibunya, Dylan mengatakan hal tak terduga. Diapun mencium wajah Grace di layar ponsel.


"See you soon Dy, mommy miss you so much." Panggilan pun berakhir karena Dylan harus les matematika di rumahnya.


Sementara di sebuah gudang terbengkalai pinggiran kota Paris, seorang pria terduduk tengah memberontak mencoba melepaskan ikatan yang melilit di sekujur tubuhnya. Sekitar lima pria termasuk Liam dan Josh mengelilingi nya menatap penuh amarah. "Sialan kau Liam, kalian berdua sudah menghancurkan hidupku." Teriaknya memaki tak takut sedikitpun.


Liam mengisyaratkan perintah pada Josh melalui gerakan kepala.


Josh lantas menampar pipi nya sekuat tenaga beberapa kali hingga meninggalkan jejak lima jari di kedua sisi. Mengabdi pada tuannya membuat Josh harus siap melakukan tugas apapun. Termasuk menyiksa orang yang sudah mengganggu ketenangan Liam.


"Aku sedang berpikir hukuman apa yang pantas kau dapatkan Peter. Beraninya kau menyakiti Grace." Liam memakai sarung tangan hitam yang di berikan Josh, mulai mendekat ke arah Peter.


"Dua hari kau baru bisa menangkap ku Liam, kemampuanmu tidak ada apa-apa nya bagiku. Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan wanitamu." Peter tak gentar, dia malah senang bisa memancing emosi musuh bebuyutan nya. Satu tinjuan mendarat di perut Peter, Liam mengerahkan segenap tenaganya.


"Tutup mulutmu brengsekk! Kau yang selalu mengganggu hidupku, kau terlalu pecundang menyerang seorang wanita." "Sepertinya Grace memang sangat mencintaimu, dia bahkan tidak memberitahu mu kalau dia melihat wajahku. Wajah yang berusaha menabraknya dan berhasil melukainya. Aku akui kau memang luar biasa Liam dalam hal menjerat wanita." Mendengar penuturan Peter membuat Liam sedikit goyah. Apa alasan Grace berbohong padanya?


"Tuan, sebaiknya anda ke rumah sakit karena nona akan pulang hari ini. Biar kami yang menyelesaikan semuanya." Josh tidak membiarkan Liam mengotori tangannya untuk membunuh cecunguk seperti Peter. Kali ini Liam melepaskan Peter, pertemuan berikutnya dia sendiri yang akan menghajar wajah menyebalkan itu.


Liam keluar dari gudang dan masuk kedalam mobil, menjalankan mesin menuju rumah sakit. Ia ingin mengantar Grace pulang dan bertemu Dylan. Tak jauh dari tempat itu tuan Rodrigo mengamati sejak tadi.


"Menurut informan, Peter Marcus bangkrut akibat transaksi saham La collection dengan nona muda. Sampai sekarang saham itu masih atas nama nona, tuan Liam menolak pemberian cuma cuma. Apa lagi mengetahui bagaimana usaha nona menjebak Peter. Jika membawa kasus ini ke pengadilan, nona juga akan bermasalah dengan tuduhan penipuan dan perampasan secara paksa." Tangan kanan tuan Rodrigo menjelaskan rincian masalah yang di hadapi Grace.

__ADS_1


"Dia bertindak gegabah, aku tahu dia hanya memikirkan pria itu. Awasi saja Peter, kalau perlu buat dia tidak bisa berjalan agar tidak berani menyerang keluarga ku lagi." Pria di balik kemudi hanya mengangguk patuh menerima perintah. Mobil Tuan Rodrigopun melaju dengan tujuan yang sama.


__ADS_2