My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
tentang Christian


__ADS_3

Di lobby, Alya bertemu dengan Daniel yang sedang mengamuk memarahi kedua receptionist. Kedua wanita bertubuh semampai itu hanya bisa menunduk takut.


"Dengarkan baik-baik! Kalian beruntung memiliki kemampuan, kalau tidak Christian akan dengan senang hati mendepak kalian ke jalanan." Jari telunjuk Daniel bergantian menuding wajah mereka.


Alya tahu, Daniel seperti itu demi membela harga dirinya. Ia tidak menyangka pria berwajah oriental di hadapannya sangat memperdulikan perasaan Alya.


"Niel,,, " Panggil Alya dengan suara lemahnya. Daniel berbalik, memperhatikan wajah pucat Alya dengan hoodie tebal milik Christian.


"Nona, biar aku antar pulang. " Alya menggelengkan kepalanya.


"Aku pinjam mobil Christian saja. " Tangan Alya menengadah meminta kunci mobil yang tadi ia tinggalkan di pinggir jalan.


"Tapi nona, bagaimana kalau Chris mencari nona? " Meski ragu Daniel tetap merogoh saku jasnya, memberi Alya kunci.


"Dia sedang beristirahat Niel. Christian tahu aku akan pergi. " Sedikit berdebat sebelum Alya benar-benar keluar dari hotel dengan mobil milik Christian.


"Ada apa dengan Alya? " Gumam Daniel menatap kepergiannya.


**** Alya Pov ****


Pandanganku seakan kosong lurus ke depan, aku masih tetap memegang kemudi dengan kaki menancap gas cukup kencang.


Kemanapun, aku akan pergi asal bisa mendapat ketenangan.


Ya Tuhan,


Aku telah tersesat sekarang.


Seperti kehilangan jati diri, aku muak pada diriku sendiri. Percuma memegang prinsip hidup sekuat apapun pada akhirnya aku lah yang melanggarnya.


Ku putuskan untuk pergi sementara waktu, mengingat jadwal kuliahku tidak terlalu padat. Aku bisa mengikuti kelas online atau menerima tugas absen dari dosen. Untungnya aku sudah mempersiapkan diri, karena sebelumnya aku memang berencana untuk pergi berlibur.


Menyetir sendiri mengingatkanku pada Theo. Kami pergi pulang berdua saat berziarah ke rumah duka Ethan. Mendadak aku rindu temanku.


Maafkan aku Theo, jika saja aku bisa memilih lebih baik aku menyukaimu dibanding kakakmu Christian.


Lima jam perjalanan,


Kini aku tiba di kawasan Newquay Cornwall. Aku akan menginap di hotel dekat Watergate bay, katanya di sana langit malam begitu indah. Bisa di saksikan tepat di jendela kamar.


Urusan administrasi selesai, aku mematikan ponselku sejak berangkat. Semoga Christian maupun Daniel tidak bisa menemukanku.


Di sini menenangkan, membuatku sejenak berhenti memikirkan rumitnya hidup. Berganti pakaian sebelum pergi ke pantai, aku mengenakan dress putih panjang tanpa lengan. Rasanya aku ingin mengajak Dylan bermain pasir di sini.


"Apa kabar kalian? " Gumamku seakan bertanya pada keluargaku.


"Aku merindukan mu Dy,,, " Lanjut ku. Debar ombak menyambut ku, angin lumayan kencang di sore hari ini.


Christian,


Kau hanyalah sebuah kesalahan dalam hidupku. Sekarang dan kedepannya aku harus memperbaikinya. Kau benar, aku menikmati setiap kebersamaan kita. Kau begitu gigih menjagaku, melindungiku dan memastikan aku tidak bisa lari darimu.


Tak bisa ku pungkiri, sentuhanmu, belaianmu, maupun permainanmu di atas ranjang begitu gagah dan memabukkan.

__ADS_1


Aku sudah merasainya, jadi aku tidak membutuhkan mu lagi.


Christian, ku harap kita menjadi orang asing saat bertemu nanti. Please, forgive me.


Dalam keadaan tubuh polos, Christian yang baru saja bangun dari tidurnya merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merem as secarik kertas yang berisi tulisan singkat Alya.


"Alya Shamare,,, " Menggeram kesal Christian segera bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dari sisa percintaan panas mereka.


Alya memang tidak pernah menolak atau merasa terpaksa, dia begitu menikmati hingga tanpa sadar Alya menjerit nikmat berulang kali. Adalah kepuasan bagi Christian berhasil melakukan nya.


Daniel sudah menunggu di depan kamar ketika Christian keluar dengan rapi mengenakan pakaian casual.


"Nona Alya sempat bertemu Sera tunangan mu Chris. Pasti dia mengatakan sesuatu yang membuat Alya pergi."


Menjelaskan hasil rekaman CCTV, membuat Christian semakin marah meski ia sudah bisa menebaknya.


"Lacak keberadaannya melalui GPS ponsel ataupun mobil. Aku akan pergi menemui Sera, sepertinya sudah terlalu lama aku mengabaikan nya. " Daniel mengangguk patuh. Keduanya berpisah di lobby.


Di sebuah perusahaan furniture, Christian menerobos masuk begitu saja. Mengabaikan larangan para staf. Dia membuka pintu ruang kerja wanita yang bergelar sebagai tunangannya.


Terlihat wanita berdarah timur Tengah itu masih fokus membaca laporan sebelum mendongak melihat kedatangan calon suaminya.


"Oh Christian, akhirnya kau mau menemuiku. " Sera meletakkan kaca mata bacanya, beranjak dari Kursi lalu menghampiri Christian yang berdiri menahan amarah.


Ketika Sera merentangkan tangan untuk memeluknya, Christian menghempaskan begitu saja. Tatapannya tajam begitu menusuk siapapun, tidak bagi Sera tentunya.


"Ada apa honey, apa kau menginginkan ku?" Senyum lebar Sera merupakan pemicu sikap arogan Christian yang tersembunyi.


Dia mencengkram dagu Sera kencang membuatnya meringis menahan sakit.


"Sakit Christian, lepaskan aku! " Christian menurut, dia menghentakkan Sera begitu saja.


Sera memegangi dagunya kemudian balas menatap nyalang Christian.


"Aku hanya memintanya memberimu nasehat agar sedikit peduli padaku. Dimana kesalahan ku? Mungkin Alya menyadari statusnya yang hanya simpanan mu Christian. Ingatlah, kau yang datang sendiri padaku mengajak bertunangan. Jadi jangan salahkan aku jika semua kekacauan ini terjadi. Harusnya kau tidak bermain api Christian, kaulah yang membuat Alya pergi darimu. "


Bagai sebuah tamparan, perkataan Sera memang tidak salah. Christian mengusap wajahnya kasar, dia memilih pergi dari pada harus menyakiti seorang wanita.


"Good Girl, I know you're a smart girl Alya." Sera terkekeh puas mendengar Alya pergi meninggalkan Christian. Baru juga mempengaruhi pikirannya, Sera berhasil menjadi pemenang.


Malam menjelang, Alya memilih makan di dalam kamar. Menonton acara televisi mengusir kesunyian. Ternyata sendiri pun tidak membuatnya lebih baik. Alya tiba-tiba ingin sekali melihat wajah Christian. Tapi kembali dia teringat akan satu hal.


"Luka apa yang Christian miliki? Apa kah aku hanya mempersulit dirinya? " Pertanyaan itu menguasai Alya, dia pun mencari sesuatu di dalam tasnya di saat makanannya masih tersisa setengah.


Setelah mendapatkannya, ia meraih gagang telepon di atas nakas. Meminta bantuan petugas operator membuat panggilan keluar.


"Ya, masukkan saja tagihannya Terima kasih." Bukan sebuah fasilitas, Alya menyetujui jika panggilan yang ia buat akan masuk ke dalam bill kamarnya.


Tersambung, Alya harus menunggu beberapa saat hingga seseorang di sana mengangkat panggilan nya.


"Halo nona Viona, ini aku Alya. Maaf mengganggumu. " Ucap Alya pelan menyiapkan pertanyaannya.


"Bicaralah Alya, apa yang ingin kau dengar dariku tentang Christian? " Seolah mengerti maksud dan tujuan Alya menelepon, Viona menolongnya langsung.

__ADS_1


"Soal trauma Christian di masa lalu, bisakah kau ceritakan nona? Aku hanya penasaran, kami sudah berpisah. " Benar bukan apa yang di katakan Alya, dia merasa sudah mencampakkan Christian.


"Di usia dua puluh tiga, Christian pernah dekat dengan seorang wanita penghibur. Mereka melakukan hubungan terlarang atas dasar saling menyukai. Ketika dia hamil Christian siap bertanggungjawab, Christian mengenalkannya pada orang tuanya. Namun mereka menentang hubungan itu, karena Angel adalah wanita penghibur. Dan tanpa sepengetahuan Christian, orang tua Christian menyuruh Angel menggugurkan kandungannya. Alya, Angel meninggal akibat pendarahan. Dan itu membuat Christian trauma.


Aku berhasil meyakinkan Christian selama ini, bahwa aku bisa menjalani pernikahan dengannya. Sialnya aku tidak tahan karena Christian enggan menyentuhku. "


Alya hanya bisa diam tak percaya mendengar penjelasan Viona tentang kisah masa lalu Christian. Jadi itulah alasan Christian memiliki prinsip ingin menikahinya. Dia berniat melindungi kekasih hatinya.


"Alya apa kau masih di situ? Kau tahu, tidak seharusnya kau menjalin hubungan dengannya. Atau kau akan menyesal, orang tua Christian benar-benar kejam." Ucap Viona menakuti Alya. Mungkin Sera tidak memberitahu dirinya kalau Alya merupakan kesayangan keluarga Christian.


"Terima kasih nona kau sudah mau menceritakan nya. " Alya langsung mematikan sambungan.


Mendadak Alya ketakutan, bagaimana jika uncle O dan bibi Aline mengetahui hubungan mereka? Apa Alya juga akan di usir seperti Angel? Belum lagi reaksi Theo, Alya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Apa yang kau lakukan sudah benar Al. Biarkan Christian memilih jalan hidupnya."


Lirih Alya.


Sayangnya, bukan Sera dunia yang Christian inginkan. Melainkan Alya sendiri. Setelah berhasil meyakinkan Alya Christian berjanji akan memutuskan pertunangannya dengan Sera. Lebih baik hancur sekarang dari pada nanti.


Christian mengendarai mobilnya menyusuri jalanan malam yang sepi. Dia sudah mendapatkan alamat dimana Alya berada. Daniel sudah menawarkan diri untuk menemani namun Christian menolak. Ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Alya tanpa campur tangan orang lain.


'Tunggu aku Al'


Ucap Christian.


sementara Alya, kini ia bersiap untuk keluar dari hotel. tujuan selanjutnya adalah kembali ke London. Alya ingin pulang ke Paris. biar dia kubur impiannya di sini. melanjutkan hidup tenang bersama keluarga nya.


"Dad, aku ingin pulang secepatnya. tolong bantu aku. " pinta Alya dalam sambungan telepon, tangannya masih sibuk memasukkan pakaian ke dalam tas jinjing.


"kenapa mendadak Al, kau baik-baik saja kan?" terdengar suara khawatir Tuan Rodrigo di sebrang sana.


"dad, hidupku berantakan di sini. selamatkan aku. " isak tangis Alya membuat Tuan Rodrigo mengerti, sesuatu besar telah menimpa putri kecilnya. untuk kali pertama Alya meminta bantuan dirinya, jelas Tuan Rodrigo akan melindungi Alya sekuat yang ia bisa.


"pertama kau pergilah ke bandara, di sana utusan daddy akan mengurus keberangkatan mu. ingat Alya, jangan percaya siapapun. kau harus bisa menjaga diri hingga tiba di rumah." Alya mengangguk mematuhi perintah ayahnya.


Kembali Alya mematikan ponselnya. ia bergegas menyelesaikan pembayaran di meja receptionist. terasa lama baginya, Alya berulang kali melirik kesana kemari takut seseorang yang ia hindari tiba-tiba ada di sana.


"thanks." Alya menerima nota pelunasan. ia pun buru-buru keluar menuju mobil. Alya sadar Christian pasti bisa menemukannya dengan mudah. maka dari itu dia akan terus lari menghindar darinya.


Alya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak sabar ingin cepat sampai tujuan.


ketika pikiran nya melayang entah kemana, Alya baru tersadarkan oleh bunyi klakson truk yang sangat nyaring. posisi mereka berada di jalur yang sama membuat Alya harus membanting stir ke arah kiri.


mobil Alya menabrak tebing menjulang dengan sangat keras. sementara truk berhenti untuk membantu korban.


"sial... " umpat supir truk merutuki kecerobohannya.


"nona sadarlah! " Dia mengetuk pintu mobil berusaha mengeluarkan Alya dari dalam. sayangnya terkunci. Alya berada di sebelah kiri terhimpit tembok bebatuan.


akhirnya supir menelepon ambulance dan juga petugas damkar, untuk membantu mengeluarkan Alya yang sudah tidak sadarkan diri.


harus menunggu sekitar lima belas menit, dua mobil datang mendekatinya.

__ADS_1


"tolong selamatkan nona itu. cepatlah." teriaknya tak sabar.


__ADS_2