My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
perginya Alya


__ADS_3

Alya pov


Gila, memang sepertinya aku sudah gila. Aku begitu menginginkan sentuhan Christian, berharap dia bisa memberiku kenikmatan. Mungkin setan telah menguasai hati dan pikiran ku saat itu. Bagaimana aku menampakkan wajahku di hadapan Christian nanti? Dia pasti berpikir aku gampangan.


Ku tatap kepergian mobil Christian lewat jendela kamar. Ternyata benar, dia masih menghargai ku dengan tidak menyusulku masuk ke rumah nya sendiri.


"Halo Ell, maaf mengganggumu. " Kataku setelah Hellen mengangkat telepon. Terdengar suara serak khas bangun tidur.


"Ada apa Al? Kau baik-baik saja bukan? " Hellen bisa menebak pasti aku sedang dalam masalah mengingat waktu sudah hampir pagi.


Ya, Christian menunggu di luar hampir dua jam. Mungkin dia takut aku kabur. Dan benar aku ingin sekali segera pergi dari sini.


"Ell bolehkah aku menginap di tempatmu sementara sampai aku menemukan tempat tinggal? " Meski ragu aku harus meminta bantuan Hellen. Hanya dia teman yang aku punya di kota ini.


"Tentu Al, dengan senang hati. Datanglah pada ku di alamat yang akan ku kirimkan." Aku bernafas lega mendnegar suara gembira Hellen. Aku pikir gadis itu akan risih menampung ku.


"Thanks Ell. " Ucapku berharap Hellen tulus membantuku.


Ku kemasi semua barang milikku, rasanya berat meninggalkan tempat nyaman ini. Christian menorehkan kenangan indah di waktu yang singkat. Karena barangku hanya sedikit maka tak butuh waktu lama, aku juga memesan taksi online tadi.


Sekitar lima belas menit mobil sudah tiba di depan flat yang terlihat sepi dan sedikit terbengkalai perawatannya. Nyaliku mendadak menghilang dengan kesunyian di sekeliling.


"Terima kasih pak. " Supir taksi sejak tadi menanyakan apa benar alamat tujuanku di sini, mungkin dia juga ngeri melintas ke area perumahan ini.


"Hati-hati nona. " Ah semakin takut rasanya, supir taksi sudah menghilang dari pandanganku. Aku bergegas naik ke lantai tiga menggunakan tangga. Lift sedang dalam perbaikan menurut kertas pengumuman yang tertempel.


Flat Hellen berada di ujung koridor, setiap langkahku di iringi suara-suara ******* dari dalam flat. Aku bingung kenapa tempat ini begitu aneh.


Tok tok tok,,,


Pintu ku ketuk tiga kali namun pelan. Aku takut mengganggu orang-orang yang masih beristirahat di pagi buta.


"Masuklah Al. " Hellen tersenyum menyambut ku, aku masuk dengan membawa koper besarku. Untungnya meski sederhana tapi flat Alya bisa di bilang rapi dan bersih.


"Maaf aku merepotkan mu Ell. " Ucapku, kami duduk berdampingan di sofa berukuran kecil yang mua untuk dua orang.


"Aku senang bisa membantu mu Al. Istirahat lah sebelum kita pergi ke kampus. Gunakan saja kamarku. " Hellen begitu baik padaku, aku malu selalu bergantung padanya.


"Thanks Ell. " Karena sangat mengantuk aku kembali mencoba memejamkan mata. Meski bayangan adegan intim tadi masih berputar di kepalaku.


Saking kesal mengingat nya, aku menutup wajahku menggunakan bantal agar bisa sedikit melupakannya.


"Sial,,, aku malu Sekali padanya. " Teriakku dalam bantal untuk meredam nya. Dan benar, aku tidak bisa tertidur kembali. Aku memilih memainkan ponsel demi mencari tempat yang cocok untuk di tinggali.


Pov end


Christian benar-benar di buat tidak mengerti oleh sikap Alya. Gadis pendiam dan tertutup itu dengan mudahnya menyerahkan tubuhnya untuk ia nikmati. Bukankah terlalu bahaya jika Alya berhasil menggodanya ?


Christian merupakan tipe pria berkomitmen. Ia akan menjadikan perempuan yang di cintainya sebagai ratu.


"Kenapa kau melakukan itu Al ? Apa sebenarnya yang kau rencanakan hem ?" Christian bertanya tanpa bisa mendapatkan jawabannya segera.

__ADS_1


Hingga mentari mulai menampakan wujudnya, Christian masih terjaga. Ia memutuskan untuk mandi sebelum menjemput Alya ke rumahnya. Ia berniat meminta penjelasan dan bicara baik baik dengannya.


Christian sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ketika keluar dia sudah di tunggu oleh Daniel yang celingukan mengintip ke dalam.


"Bos, dimana nona Alya? " Christian bukannya menjawab dia malah menatap Daniel tajam.


"Dia pulang ke flat. Antar aku ke sana sebelum kita pergi ke kantor. " Perintah Christian, Daniel hanya mengangguk patuh tanpa banyak bertanya lagi.


Di perjalanan Christian lebih banyak diam di banding membahas pekerjaan maupun soal Alya. Sepertinya Christian sedang banyak pikiran, tapi Daniel tetap harus memberitahu nya.


"Bos, nyonya Oliver sedang dalam penerbangan menuju London. " Christian yang duduk di sebelah Daniel pun akhirnya menoleh.


"Untuk apa mommy mengunjungi ku? Seharusnya kau cegah dia Niel. " Sedikit marah, Christian paling tidak suka ibunya datang karena itu hanya akan membuatnya pusing saja.


"Kau ini Chris, bagaimana mungkin aku tega melarang bibi Aline untuk menemui anaknya sendiri. " Daniel menggelengkan kepalanya heran pada Christian.


"Apa dia bersama Theo? " Mendadak Christian takut Alya bertemu dengan adiknya. Bagaimanapun mereka mungkin akan bersaing mendapatkan Alya.


"Tidak, tuan Theo sedang di sibukan kuliah dan pekerjaan kantor. Tapi yang aku dengar, bibi Aline akan bertemu dengan temannya di London. " Mendengar penjelasan Daniel Christian hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Bagus itu, biar dia tidak menggangguku." Seringai terbit di wajah Christian.


"Apa kau tidak curiga Chris? Bagaimana jika Bibi Aline bertemu temannya untuk menjodohkan mu? " Sebenarnya memang benar, dan Daniel pun sudah tahu itu. Ia akan menunggu respon Christian terlebih dulu.


"Kalaupun iya jelas aku akan menolaknya Niel. Aku sudah jatuh hati pada Alya. " Mobil yang di kemudikan Daniel memasuki perumahan Camberwell Grove.


"Alya baru masuk kuliah Chris, apa tidak sebaiknya kau menyerah padanya? Dia bukan partner tepat untuk mu yang sudah ingin menikah. " Kali ini ucapan Daniel ada benarnya, Christian tambah pusing menghadapi permasalahan ini.


Setelah menekan kode kunci, Christian masuk ke dalam. Matanya menatap sekeliling, tidak ada tanda-tanda Alya di sana. Ia pun berjalan cepat menuju kamar, juga nihil. Jantungnya berdegup semakin kencang, ia sangat takut apa yang ada di pikirannya terjadi.


Tidak ada koper Alya di sudut kamar, membuat Christian memeriksa isi lemari.


"Alya,,, " Geram Christian menyebut nama Alya, dia keluar dengan terburu-buru hingga mengabaikan pertanyaan Daniel.


"Chris tenanglah! Biar aku yang mengantarmu, ingat kau tidak bisa menyetir dalam keadaan marah. " Daniel menahan pintu mobil sebelah kiri dimana Christian hendak menghidupkan mesin.


"Pergilah ke kantor Niel, biar aku sendiri yang mencari Alya. Aku janji tidak akan mengebut. " Melihat sorot mata tulus Christian Daniel pun membiarkannya pergi. Dia menyetop taksi untuk berangkat ke kantor.


Alya dan Hellen berangkat bersama ke kampus dengan menggunakan taksi. Padahal biasanya Hellen akan naik bis karena dia memang dari keluarga biasa saja. Di London Hellen juga menyewa flat, tinggal jauh dari orang tuanya.


“Kau sudah menemukan tempat baru Al ?” Tanya Hellen, keduanya beriringan memasuki kampus. Hellen mengambil jurusan kedokteran yang membutuhkan banyak biaya.


“Hah,,, sangat susah menemukan tempat yang cocok Ell.” Nampak jelas gurat sedih di wajah aAlya membuat Hellen merasa iba. Gadis tomboy itu merangkul bahu Alya.


“Kau bisa tinggal di tempatku Al, atau aku carikan flat kosong agar kita bertetangga.”


Mendengar tawaran Hellen Alya berpikir tidak ada salahnya memilih salah satu idenya.


"Baiklah, aku akan mencari flat kosong di tempatmu Ell. Nanti temani aku bertemu pengurusnya. " Keputusan Alya membuat Hellen berteriak girang. Alya hanya menggelengkan kepalanya, dia melihat sifat Hellen seperti anak-anak yang berhasil mendapatkan mainan.


Sebelum ke kelas mereka duduk di cafetaria untuk menikmati sarapan. Di rumah keduanya belum sempat karena Hellen memang tidak memiliki stok makanan di kulkasnya.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini kau sibuk Al, kemana saja?" Hellen menanyakan kegiatan Alya. Membuat Alya mengingat kembali kejadian semalam.


"Tidak ada, hanya belajar di rumah saudara ku. " Alya tersenyum tipis menjawabnya.


"Aku cukup merindukanmu Al, ku pikir kau sudah melupakanku. " Rengek Hellen berpikir berlebihan pada Alya.


"Tidak Ell, mana mungkin. Hanya kau temanku satu-satunya. " Ketika Alya dan Hellen mengobrol tiba-tiba seseorang menyiram wajah Alya dengan segelas infus water.


"Hey apa yang kau lakukan? " Hellen berdiri mendorong dada perempuan berambut pirang sebahu. Make up nya begitu menor di usia nya yang masih muda.


"Jangan ikut campur! Heh kau Alya *****. Beraninya kau menggoda Luke, kau bahkan memaksanya menjadikanmu asisten dia." Alya mengepalkan kedua tangannya namun mencoba lebih sabar lagi. Ini terlalu dini untuk membuat onar.


"Sialan." Umpat Alya dalam hati.


"Heh, Alya itu dapat tugas dari sir Alex. Kalau kau mau protes sana pergi temui dosen langsung. " Alya sangat berterima kasih karena Hellen sudah membelanya.


"Sudahlah Ell, percuma kita membuang waktu dan tenaga. Aku pergi ke toilet dulu, mungkin langsung ke kelas setelahnya." Hellen mengangguk dengan tatapan ibanya. Sementara perundung Alya terlihat masih belum puas melakukan aksinya. Hellen berpikir dia akan pergi dan berhenti.


Sayangnya dia malah mengejar Alya, dia mendorong tubuhnya dengan keras hingga Alya jatuh tersungkur tepat di hadapan pria bertubuh tinggi dan tegap.


"Argh, sialan. " Kacamatanya bahkan pecah akibat terbanting. Alya bangun dari posisi tengkurap, secepat kilat tangannya menampar pipi perundung di hadapannya.


"Look, aku diam kupikir kau juga akan berhenti. Tapi kau sudah keterlaluan sialan." Alya menunjuk wajah gadis bernama Cindy, rupanya Cindy sudah lama menyukai Luke. Namun Luke berulang kali menolaknya dengan alasan memiliki kekasih hati.


Cindy akan membalas tamparan Alya, dengan cepat seseorang menahannya mencekal lengan Cindy sekuat tenaga.


"Jangan berani kau sentuh kekasihku. Atau kau akan hancur! " Tatapan Cindy yang tadinya tajam menusuk berubah menjadi rasa takut. Ia bahkan meringis merasa sakit di pergelangan tangannya yang terhempas begitu saja.


"Ayo Al... " Alya di tarik menjauh dari koridor kampus, ia di bawa menuju mobil yang terparkir di halaman VIP.


"Lepaskan aku Chris! " Alya berusaha memberontak namun tenaga Chris sangatlah kuat.


"Lututmu berdarah Al, aku akan mengobatinya. " Christian mendudukan Alya di dalam mobil secara paksa.


Christian mencari kotak obat di dalam dasbor. Setelah menemukannya ia mulai membersihkan luka di lutut Alya menggunakan alkohol dan kapas. Alya bahkan tidak meringis sama sekali membuat Christian beranggapan Alya gadis yang kuat. Setelah bersih dia memakaikan plester di atasnya.


Alya malah terkekeh melihat plester bermotif doraemon berwarna biru.


"Daniel yang membelikan plester ini, seharusnya aku buang saja sejak dulu." Christian mengerti apa yang membuat Alya merasa lucu.


"Aku harus kembali, ada mata kuliah penting. " Christian memberi jalan untuk Alya keluar dari mobil, tadi dia berlutut untuk mengobati luka Alya.


"Al, kau marah padaku? " Sebelum pergi Christian menahan langkah Alya.


"Tidak, kalau kau tidak bisa melakukannya aku akan mengajak orang lain. " Alya sengaja mengatakan hal itu agar Christian berhenti mengurus atau mendekati nya. Mereka tidak mungkin terus bersama.


"Al, I fallin love with you. Let's having a sexx after married. " Christian menatap Alya lekat dengan tatapan penuh damba.


"Hahaha,,, you're so funny Christian. Itu tidak akan pernah terjadi Chris. Aku membenci yang namanya cinta, sejak dulu sebelum mengenalmu aku memutuskan untuk tidak menjalani pernikahan. Kau datang ke alamat yang salah Chris. " Setelah puas mengatakan isi hatinya Alya pergi meninggalkan Christian yang hanya bisa diam mematung.


Perkataan Alya sungguh di luar batas kesabarannya.

__ADS_1


__ADS_2