My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 45


__ADS_3

Setiap langkah gontai Grace ia mengisinya dengan pemikiran logis dan naluriah. Apa lagi yang menjadi masalahnya menolak permintaan orang-orang tentang pernikahan? Liam sudah mengatakan bahwa dia mencintainya. Pria itu bahkan setia menunggu Grace selama beberapa tahun. Mungkin benar apa kata daddy, Grace perlu mengesampingkan ego nya. Saat mereka tiba di tengah-tengah ruangan, terlihat Dylan begitu asik menikmati makan siangnya. Tuan Arthur tertawa bisa menyuapi sang cucu.


"Dadd,,, " Suara berat Liam menghentikan tawa ayahnya yang menatap ke arah Grace. "Kenapa kalian bersama? Apa sudah ada keputusan? " Serang tuan Arthur menagih jawaban Grace tentunya.


"Sudahlah dadd,,, " Potong Liam,


"Aku bersedia. " Jawab Grace lantang dan pasti. Mereka menganga tak percaya wanita itu akhirnya menyerah. Sendok di ambil alih bibi Jill sementara tuan Arthur berjalan ke arah keduanya dan langsung memeluk Grace, calon menantunya.


"Terima kasih Grace, uncle bahagia mendengarnya. " Uncle mengusap usap punggung Grace, dia tahu betapa beratnya kehidupan yang harus di lalui olehnya. Mendapat perlakuan hangat tuan Arthur Grace malah terisak dalam pelukannya. "Menangislah Grace, uncle tahu ini sulit bagimu. Maafkan uncle yang tak bisa mendidik Liam. " Grace menggeleng tak memikirkan hal itu .


"Apapun akan aku lakukan untuk Dylan uncle." Ucap Grace. Liam bernafas lega akhirnya Grace luluh.


"Nanny, mommy ku kenapa? " Dylan berbisik pada bibi Jill di sampingnya. Ia takut grand pa akan memisahkan mereka lagi.


"Selamat tuan muda kecil, mommy dan daddy akan segera bersatu kembali. " Bibi Jill tak kalah berbisik pelan, takut mereka tertangkap basah membicarakan kejadian itu. Dylan bersorak tanpa suara mendengarnya, akhirnya rencana grand pa Arthur berhasil juga. Dylan memang sempat ketakutan saat di bawa oleh tuan Arthur, di jalan kakeknya memberi penjelasan kalau semua ini agar mommy dan daddy nya bersama kembali. Dylan yang cepat tanggal akhirnya berhenti menangis malah mudah akrab dengan tuan Arthur.


"Kalian pasti lelah, beristirahat lah. Daddy akan menyuruh Josh mempersiapkan pernikahan kalian besok." Tuan Arthur melepaskan pelukannya.


"Apa, besok? " Teriak Liam dan Grace bersamaan.


"Tapi dadd, apa itu tidak terburu-buru? " Tuan Arthur menggeleng cepat lalu memukul pundak Liam.


"Kau mau Grace berubah pikiran? " Bisik sang ayah di telinga Liam, lalu tuan Arthur berjalan mendekati meja makan. Tampak Dylan mengajaknya beradu tos.


"Aku di jebak." Gumam Grace pelan melihat persekongkolan mereka. Liam terkekeh mendengar ucapan Grace.

__ADS_1


"Aku akan meminta bibi Wen memasak makanan kesukaanmu." Sebelum pergi Liam mengusap ujung kepala Grace gemas.


Grace mondar mandir menelpon keluarganya di balkon kamar pribadi Liam. Ia mengabarkan akan menikah besok di gereja dekat rumah Liam. Mendengar kabar bahagia dari Grace membuat mereka bergembira. Akhirnya petualangan cinta mereka akan berlabuh di altar pernikahan. Grace teringat janjinya dengan tuan Ibra Sozonov. Ia harus tetap profesional meski besok adalah hari pernikahannya. Liam masuk membawa sepiring steak lengkap dengan mashed potato dan rebusan sayur.


"Terima kasih." Masih terasa kecanggungan diantara mereka. Sekian lama menahan diri membuat rindu semakin membuncah. Grace meletakkan piring di atas sofa. Mendadak Grace kesetanan mengecup bibir Liam tiba-tiba. Meski kaget Liam langsung sigap membalas pagutan bibir Grace. Mereka memberi jarak ketika kehabisan oksigen, Liam menangkup pipi Grace menatapnya penuh hasrat.


"Manis,,, " Liam merasa senang Grace berani mengekspresikan perasaannya. "Nanti malam aku harus menemani client dari Rusia. Biarkan aku pergi, ini perjanjian penting. " Liam memutar bola matanya malas, ternyata wanita di hadapannya sedang merayu demi mendapatkan izin. "Kau memang licik, aku bisa memberimu segalanya Grace. Kau tak perlu merayu pria lain untuk pekerjaan. " Grace mencebik, lagi lagi cemburu Liam tak berdasar.


"Ini bukan soal merayu Liam. Aku harus membuktikan kalau aku juga bisa memimpin. " Untuk itu Liam setuju, Grace harus bisa membungkam mulut orang-orang yang sudah meremehkannya. "Aku antar, dan tidak ada penolakan." Pasrah saja, yang penting Grace bisa menepati janji pada tuan Ibra.


Malam harinya Grace turun dari mobil Liam, ia memakai dress selutut berlengan panjang. Liam sendiri yang memilihkan pakaian untuknya, Grace tidak boleh tampil seksii di depan pria lain. Hanya Liam yang bisa menikmati keindahan tubuhnya.


"Jangan susul aku sebelum urusan selesai." Titah Grace mengancam Liam. Pria itu hanya membalas dengan gerakan hormat.


Ternyata tuan Ibra sudah menunggu Grace di kursi depan bartender. Saat melihat kedatangan Grace pria itu tersenyum ramah.


"Kau sangat menarik Grace, aku senang bisa mengenalmu." Puji Ibra ketika Grace mulai meneguk minuman memabukkan. "Aku bukan wanita seperti perkiraan mu tuan." Tolak Grace sungkan mendapat penilaian dari Ibra.


"Aku tahu semua tentangmu. Kau pikir aku tanpa alasan menerima kerja sama ini?" Grace menggeleng cepat kemudian menuangkan kembali minuman dari botol kedalam gelas. Ibra merebut lalu menuangkan untuknya.


"Hidupku cukup tragis, melahirkan anak tanpa suami. Aku harus mengasingkan diri hanya untuk menghindari ayahnya. Semua orang memaksaku menikah dengannya. Aku mau, tapi bukan karena paksaan." Grace sudah mulai mabuk ketika menceritakan kehidupannya. Ketika sadar ia lebih suka diam menutupi perasaannya.


"Aku ikut bahagia jika kalian bersatu. Sayang, aku datang sangat terlambat." Ibra tersenyum getir, untungnya ia segera di sadarkan kenyataan sebelum rasa tertariknya pada Grace semakin berkembang.


"Tuan, saat kau jatuh cinta nanti jangan biarkan wanita beruntung itu menderita. Beri dia kepastian, kalau anda tak sanggup biarkan pergi jangan menahannya. " Perintah Grace menunjuk wajah Ibra. Liam tak tahan lagi mendengarnya, Ia masih menyimpan penyadap di tas Grace dan segera menjemput calon istrinya ke dalam bar.

__ADS_1


"Your future husband is here Grace. " Bisik Ibra karena dia memang sudah menggali informasi pribadi Grace sebelum datang ke bar. Grace menengok ke belakang lalu terkekeh.


"Lihatlah, dia begitu posesif. Tuan jangan risih padanya, kerja sama kita harus tetap berlanjut atau aku akan di tendang oleh atasanku." Ancam Grace pada Ibra, ia turun dari kursi dan hampir tersungkur kalau Liam tak segera menangkap tubuhnya.


"Anda beruntung tuan mendapatkan wanita seperti Grace. Aku akan mengirimkan hadiah pernikahan kalian besok. Tolong sampaikan padanya, business is business." Ibra pergi lebih dulu meninggalkan Liam dan Grace. Pria keren itu membuat Liam terlihat cengo.


"Grace kau sudah mempermalukan aku." Gerutu Liam, ia memapah Grace menuju mobilnya di luar.


"Hem,,, maaf." Lirihnya.


"Tidak, aku hanya bergurau Grace." Mereka sampai di samping mobil dengan penuh perjuangan.


"Maaf karena aku tidak jujur padamu tentang Dylan. Aku takut kau menolaknya, aku takut kau tak akan mengakuinya. " Ucap Grace tulus, Liam menatap mata Grace yang sudah memerah.


"Sudah ku bilang bukan salahmu. Kau harus segar karena besok kita menikah." Liam mendudukan Grace di kursi sebelah kemudi. Grace langsung memejamkan matanya ketika mobil meninggalkan area bar.


Sementara di kediaman tuan Frankie Ethan melemparkan barang barang yang ada di kamarnya . ia tidak Terima mendengar kabar pernikahan Grace dan Liam, informan nya bisa saja salah menerima informasi itu. nyonya Coco mengetuk pintu berulang kali berharap Ethan mau membukakan.


"Ethan, bersabarlah. masih banyak wanita di luar sana yang mengagumi mu. jangan terpaku pada satu wanita saja. kau berhak bahagia Ethan." teriak nyonya Coco berharap Ethan mendengar dan mau menerima nasehatnya.


"kau senang kan anak kandungmu lebih beruntung dariku? Aku tahu kau bahagia atas pernikahan mereka." Ethan menggila, sebelumnya dia sangat baik dan sopan memperlakukan ibu sambungnya. ini mungkin kekecewaan terberat yang pernah Ethan alami.


"biarkan dia Cheryl, Ethan bukan menyukai Grace. dia sudah terobsesi. " sang suami mengajak Nyonya Coco pergi meninggalkan Ethan sendiri, membiarkan dia merenungi kesedihannya.


"temui lah Liam, kau pasti sangat merindukannya." tuan Frankie sudah sering mengingatkan istrinya agar memperhatikan Liam. dia tidak ingin hubungan ibu anak terputus hanya karena keluarga barunya.

__ADS_1


"akan ku coba. semoga Liam mau memaafkan ku. " Nyonya Coco mengusap kedua lengannya gugup.


__ADS_2