
Saat itu salju kembali turun, sepasang kekasih merindukan kehangatan satu sama lain. Sampai kapan mereka harus berpisah lagi dan lagi, mengapa takdir begitu kejam ? Rasa rindu membuncah seakan menggerogoti nya secara perlahan. Tidak, hari ini mereka harus bertemu atau hidup harus berhenti karena nafas mereka sudah terenggut jarak dan waktu.
Jantung Grace mendadak berdebar begitu kencang, ada apa ? Apa sesuatu buruk terjadi atau akan datang? Terdengar suara gaduh di atas dan mulai membuatnya cemas. Apa Ethan akan memindahkannya lagi entah kemana seperti sebelumnya.
Brak,,,
Pintu atas seperti sedang di buka secara paksa. Grace memeluk tubuhnya ketakutan. Terlihat seseorang muncul menuruni anak tangga.
"Gracia,,, " Panggilnya, pemilik nama itu hafal suara siapa yang sedang menuju ke arahnya. Semakin mendekat, Grace meremas ujung dress panjangnya. Meski ingin ia tetap takut menghadapinya. Apa akan ada penolakan darinya saat Liam mengetahui Grace hamil di situasi seperti ini.
Mereka sudah bertemu, Liam suaminya datang menjemput Grace setelah sekian lama dirinya di kurung. Grace mundur beberapa langkah sebagai bentuk penghindaran. Liam mengangkat alisnya bingung melihat sikap Grace yang melakukan perlindungan.
"Baby,,, " Lirih Liam mendekat perlahan ingin meraih lengan sang istri.
"Tidak, jangan mendekat please... " Di luar dugaan Liam Grace malah menolak kedatangannya. Ada apa sebenarnya dengan wanita yang wajahnya pucat itu. Tuan Rodrigo menyusul masuk ke dalam kamar yang sudah mengurung putrinya.
Grace berjalan melewati Liam begitu saja, ia memeluk Tuan Rodrigo mengharap perlindungan. Isak tangis mengisi keheningan ruangan itu. Tuan Rodrigo mengusap punggung Grace berkali-kali. "Aku ingin pergi dari sini." Sesaat tuan Rodrigo melirik ke arah Liam yang mengedikkan bahu sebelum mereka naik ke atas. Helaan nafas Liam menandakan rasa tidak paham nya atas sikap Grace. Ia harus menepikan perasaan itu karena yang lebih penting adalah rasa bahagia atas di temukan nya Grace. Selain itu Liam juga harus bersiap membuat Ethan di tahan selama mungkin.
Di perjalanan menuju rumah Grace lebih banyak melamun menatap ke arah jalanan. Banyak sekali hal yang ia pikirkan, Grace bingung apa harus ia mengatakan kondisinya pada ayah dan suaminya? Bagaimana kalau kali ini Liam meragukan darah dagingnya mengingat Grace selalu di kurung oleh Ethan.
"Grace apa kau membutuhkan sesuatu? " Tanya daddy yang sejak tadi melihat perubahan Grace. Putrinya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak dadd, aku hanya ingin bertemu Dylan." Jawab Grace dengan nada lelahnya. "Apa terjadi sesuatu sweety? " Mungkin Ethan pernah memperlakukan Grace secara tidak sopan sehingga Grace terlihat terpukul. Bukannya bahagia bisa bebas dari penyekapan yang di lakukan Ethan. Grace menggeleng lemah sebagai jawaban singkatnya.
Liam sangat ingin menyusul Grace ke rumah mertuanya, namun ia harus mendatangi kantor polisi untuk dimintai keterangan. Josh mengatakan hal mengejutkan di telepon dan mungkin saja itu alasan kenapa Grace ketakutan saat bertemu dengannya.
"Tuan dia,,, " Josh belum selesai berucap Liam berjalan dengan menahan segala emosinya masuk ke dalam. Terlihat Ethan duduk dengan borgol di tangannya sedang di interogasi oleh polisi.
"Bajingan kau Ethan." Liam meraih bahu Ethan lalu memukul wajahnya hingga tersungkur ke lantai. Tak puas, Liam menindih tubuh Ethan dan tanpa henti melayangkan tinjunya. Wajah Ethan benar-benar tertutup darah segar karena Liam membabi buta. Polisi segera menahan Liam untuk tidak membunuh pria itu.
"Kau tahu Liam, ternyata istri mu sangat memuaskan. Dan kini di rahim Grace sudah ada benih milikku." Ethan kembali memancing emosi Liam. Darah di sekujur tubuh Liam semakin mendidih, rasanya ingin sekali Liam membunuh Ethan dengan tangannya sendiri.
"You're PSHYCO! " Umpat Liam berteriak, tubuhnya sampai di halangi dua orang polisi. "Aku tidak akan pernah mempercayai kebohonganmu. Kau menyedihkan, mengakui milikku sebagai milikmu. Kau akan membusuk di penjara Ethan sampai kau berpikir men diskon nyawamu adalah pilihan terbaik." Liam menunjuk wajah Ethan meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
"Aku akan kembali sampai kau tidak bisa tidur melihat kehadiranku. " Ancam Ethan menyeringai menatap Liam. Untuk menjaga ketertiban polisi terpaksa membawa Ethan untuk di masukan ke jeruji besi padahal penyelidikan belum selesai.
"Tuan, apa perlu aku mencari tahu kebenarannya? " Josh berbisik ketika Liam sedikit lebih tenang.
"Tidak, aku akan meminta Abigail memeriksa Grace. Kita akan tahu kebenarannya bersama sama. Liam pergi dari sana untuk segera pulang. Josh harus mendampingi tuannya agar dia tidak menggila seperti sebelumnya. Bisa saja Liam meragukan kesetiaan Grace tapi ia tidak ingin kehilangan Grace lagi seperti dulu dia mengandung Dylan.
" Persidangan akan di jadwalkan minggu depan tuan. " Di mobil Josh memberi informasi yang ia Terima dari kepolisian. Liam memijit pelipisnya merasa masalah hidupnya tidak pernah usai.
"Carikan tim pengacara hebat berapapun biayanya. Aku ingin dia membusuk di penjara." Perintah Liam mutlak, dan itu harus terjadi sesuai keinginannya. Josh belum menjawab, ia berhadapan bukan dengan orang sembarangan. Bisa saja Ethan di lindungi ayah dan bahkan ibu kandung Liam sendiri.
"Apa kau tidak dengar Joshua? " Liam menendang bagian belakang Kursi kemudi untuk mendengar kesiapan Josh menjalankan tugasnya. Josh tersadar, ini kali pertama Liam memarahinya.
"Aku akan berusaha tuan, kita harus bersiap mencari bukti kuat agar Ethan tersudut." Bukan Liam tidak paham, ia tahu betul Ethan akan melakukan perlawanan sengit apa lagi keluarga mereka cukup berpengaruh di kota nya. Tapi Liam bertekad agar Ethan membalas perbuatan jahatnya pada keluarga kecil Liam.
Memikirkan kembali kondisi Grace yang tengah hamil membuat Liam semakin gusar hingga tak terasa mobil sudah memasuki pekarangan rumah tuan Rodrigo. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung mengingat perjuangan nya mencari keberadaan Grace. Tampak keluarga sedang bercengkrama membuat Grace nyaman karena sejak menginjakkan kakinya kembali di rumah sang ayah Grace seperti orang linglung.
"Mommy, akhirnya kita bisa kumpul bersama lagi. Aku sangat merindukan mommy." Dylan tak pernah melepaskan dirinya dari pangkuan sang ibu. Padahal Liam sangat khawatir Grace kenapa kenapa.
"Mommy juga sayang, mommy sayang kamu." Grace mengecup kening juga pipi Dylan. Liam mencari Abigail tapi tidak ada. Mungkin dia masih sibuk bertugas di rumah sakit.
"Terima kasih Al, tapi aku ingin ke kamar saja. " Alya mengambil alih Dylan karena Grace akan ke kamarnya, Grace jelas menghindari Liam dan keluarganya menyadari itu.
Setibanya di kamar Grace memilih duduk di tepi ranjang. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Rasanya ingin mengadu, namun Grace takut Liam meragukannya. Kenapa setiap Grace mengandung begitu banyak cobaanya? Liam masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu membuat Grace belum menyadarinya hingga Liam bersuara.
"Grace,,, " Panggil Liam namun Grace belum mau menengok ke belakang. Ia malah meraba perutnya dengan meringis pelan menahan nyeri. Hingga tak bisa ia tahan dan Grace tersungkur ke lantai beralas karpet permadani. Liam yang terkejut langsung mendekat meraih tubuh kurus Grace.
"Kau ini kenapa Grace? Kalau kau sakit bilang, katakan apa yang membuat pikiranmu kacau hah? " Liam tak sadar kemarahannya malah membuat Grace menangis.
"Perutku kram. " Di sela isak tangisnya Grace mengeluhkan rasa sakit di perutnya. Lantas Liam segera membawa Grace ke rumah sakit. Dia memang seharusnya menjalani tes kesehatan karena.
"Grace kenapa Liam? " Tuan Rodrigo terkejut melihat Liam membopong Grace. "Dia harus di rawat dadd. Grace tidak baik baik saja." Melihat reaksi mertuanya Liam menebak Grace tidak mengatakan apapun soal kehamilannya.
,,,,,
__ADS_1
Grace harus menerima perawatan intensif di ICU. Keadaannya sangat mengkhawatirkan. Beberapa dokter harus turun tangan mengecek kelainan yang Grace derita. Abigail sebagai dokter organ sejak tadi serius memeriksa keadaan sepupunya. Setelah menemukan titik terang ia mendatangi tuan Rodrigo dan Liam.
"Kita bicara di ruangan ku saja." Ajak Abigail pada mereka.
"Kau sempat bertanya bukan berapa usia kandungan Grace? " Tanya Abigail menatap Liam yang kemudian mengangguk. Tuan Rodrigo tampak terkejut namun ia ingin mendengar lebih lanjut dulu.
"Jelas Grace mngandung benih milikmu Liam. Janinnya berusia sekitar lima menjelang enam minggu, lebih pastinya aku harus menanyakan masa periode terakhir Grace. Karena usia kandungan di hitung dari hari pertama haid terakhir." Liam mengangguk, karena ia percaya kalau Ethan hanya menggertak nya saja. Lagi pula penyekapan berlangsung selama empat minggu jadi mustahil kalau Grace hamil anak Ethan.
"Tapi maaf, aku harus mengatakan ini. Grace harus secepatnya di kuret, karena janinnya tidak lagi berdetak. Kau tahu apa penyebabnya? Grace mengalami gizi buruk Stres dan darah tinggi, dia mengalami trauma karena penyekapan itu. Kau harus menandatangani surat persetujuan." Liam mengepal tangannya menahan rasa sakit di dada mendengar kabar buruk tentang kondisi Grace. Tuan Rodrigo menepuk pundak Liam memberi semangat.
"Mungkin ini memang yang terbaik Liam. Fokuslah pada kesehatan Grace. Dia pasti sangat membutuhkan dukunganmu." Ucap Tuan Rodrigo menasehati sekaligus menguatkan menantunya.
"Baiklah, lakukan yang terbaik. " Karena memang malaikat kecil mereka hadir hanya untuk menemani Grace namun karena merasa kotor Grace tak pernah menganggap ia hamil anaknya Liam. Ethan mungkin tidak menyiksa Grace secara fisik, tapi membunuh mental Grace secara perlahan.
Liam memandangi wajah Grace yang masih terlelap. Hatinya merasa perih dan sakit melihat penderitaan istrinya. Kalau boleh ia ingin Tuhan menghukumnya saja dari pada Grace yang harus sakit seperti ini. Perlakuan seperti apa yang Ethan berikan hingga Grace mengalami tekanan mental. "Liam... " Saat sedang menunduk mengecup punggung tangannya, Grace terbangun membuat Liam mengusap air matanya.
"Aku di sini Grace... " Liam sedikit membungkuk untuk mencium kening Grace. "Bagaimana bayinya? " Hati Liam berdesir mendapat pertanyaan menohok dari sang istri.
"Kita bisa bikin lagi anggota tim basket lainnya setelah kau sehat." Liam tersenyum getir mengatakan itu agar Grace tidak berkecil hati.
"Maaf, aku sendiri takut aku mengkhianati mu. Tapi dia meracuni pikiranku tentang bayi kita."
"Sust... " Liam menggeleng menempelkan ibu jarinya di bibir Grace. "Aku tahu dan aku percaya, kau tidak perlu membahasnya lagi baby. Aku ingin kau cepat sembuh. " Grace mengangguk patuh membiarkan Liam memeluknya.
Sebulan penuh bagai mimpi buruk bagi Grace. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak takut Ethan menyentuhnya saat ia lengah. Makan sekali sehari dan itupun hanya beberapa suap. Apa lagi tidak ada aktifitas lain yang Grace lakukan membuatnya stres. Ketika Ethan datang untuk berkunjung Grace selalu melampiaskan kekesalannya dengan menyakiti pria itu. Merusak apa pun barang yang ada di kamar nya. Untung saja ada bibi Aida yang selalu menemaninya.
"Apa kau bertemu bibi Alma? " Dia bilang padaku kalau Ethan sekalipun tak pernah menyentuh ku. Selain penyadap suara dia juga memasang kamera cctv. " Grace sudah lebih tenang dan mau bercerita pada Liam. Liam mendengarkan secara seksama sambil menyuapi nya makan.
"Ya, Josh sudah menemuinya. Bibi Aida akan bersaksi di persidangan." Kata Liam memberitahu Grace agar tidak perlu cemas lagi.
"Aku sudah kenyang. " Grace menolak suapan bubur selanjutnya.
"Baby please, kau baru makan sedikit." Liam memasang wajah memelas. Grace menggeleng sudah merasa kenyang.
__ADS_1
"Aku mau pulang Liam, aku rindu Dylan." "Nanti ya, setelah Aby mengatakan kau sudah sembuh total." Sejak menikah Grace memang selalu mematuhi apapun yang Liam perintahkan.