
"Makanlah dulu Grace, baru aku akan mengantarmu ke La collection. " Akhirnya Hecan berusaha mengabulkan keinginan Grace. Sejak tadi dia terus merengek ingin pergi ke sana entah untuk apa.
"Aku tidak berselera. Aku hanya akan berbelanja di sana setelah itu langsung pulang. Kalau perlu kalian juga ikut belanja, aku traktir." Masih terbilang pagi dan rasanya toko baru buka mungkin namun hasrat belanja Grace sudah menggebu. Padahal dirinya jarang sekali menghabiskan uang dalam jumlah besar.
,,,,,,,
Dan di sinilah mereka, di butik La collection. Bahkan para pelayan tergesa-gesa menyelesaikan tugas awal mereka demi menyambut kedatangan Grace dan kawan-kawan. Kabar mengenai usaha Grace mengembalikan posisi Liam sudah tersebar luas. Mereka dulu yang pernah mencibir Grace akhirnya tertunduk malu menyesali perbuatannya.
Grace mampu melakukan apa yang tidak bisa Liam perbuat. Bos mereka malah seakan pasrah kepemilikan nya di rebut secara paksa oleh Peter.
"Nona mungkin anda ingin di ambilkan beberapa koleksi terbaru kami? " Hati hati pelayan toko wanita itu menjamu Grace. Dia takut melakukan kesalahan, bukan hanya Grace seorang model, dia adalah seseorang istimewa bagi Liam bahkan pemegang saham sementara La collection. "Tidak perlu, aku memang mencari barang random." Senyum manis tak pernah hilang dari wajah Grace. Kini ia paham kenapa tiba-tiba dirinya ngotot ingin belanja, mungkin ini permintaan janin yang ada di dalam perutnya. Semacam acara ngidam.
Liam yang mendapat laporan dari Josh menghentikan kegiatannya memeriksa laporan perusahaan selama di tinggalkan olehnya. Ada Grace di bawah, tentu dia harus menghampiri untuk sekedar menyapanya.
Jalan Liam terburu buru menciptakan desas desus di kalangan staf, spekulasi kedekatan mereka bisa di validasi oleh sikap Liam. Sesampainya di area butik Liam mengedarkan pandangannya mencari sosok Grace.
"Dimana dia?" Tanyanya pada kasir yang selalu setia berdiri di tempatnya.
"Nona ada di section pakaian tuan." Info kasir tersenyum ramah mengerti siapa yang di maksud oleh bosnya.
"Grace,,, " Sapa Liam lembut saat berhasil menemukan keberadaannya. Hari itu Grace tampil cantik mengenakan dress floral selutut tanpa lengan berwarna dasar cream. Sneaker putih menjadi pijakan nya, padahal seingat Liam Grace selalu memakai high heels semenjak menjadi model. Grace kembali memakai sepatu seperti pertama kali mereka saling kenal.
"Kau harus berterima kasih padaku Liam, sepagi ini ada pelanggan yang akan memborong daganganmu." Canda Grace mencairkan suasana kaku di dalam butik. Pasalnya selain Sia dan Hecan, Liam juga di dampingi Josh dan beberapa pelayan butik lainnya.
"Tagihanmu atas namaku Grace,,, "
"Tidak, tidak." Potong Grace cepat. "Aku akan membayar sendiri, aku membutuhkan banyak koleksi perusahaanmu sebelum kehabisan. " Tentu Grace tidak ingin membebani Liam di tengah situasi perusahaan yang belum kondusif.
Liam bergerak maju mendekati Grace, ia tanpa rasa canggung memeluk wanita yang kedua tangannya sibuk memegang beberapa baju.
__ADS_1
"Maaf, aku minta maaf soal semalam. Dan Terima kasih Grace, karena kau sudah melakukan semua itu untukku. Lain kali jangan membahayakan dirimu lagi." Setiap perkataan Liam mampu memberi rasa hangat di hatinya. Grace kembali luluh akan sikap Liam yang selalu saja bisa menaklukkan hatinya.
"Aku tidak ingin terus menerus merasa bersalah Liam. Aku penyebabnya maka aku juga bertanggung jawab untuk memperbaikinya." Jawab Grace. Lalu matanya menatap sekeliling, buru buru Grace keluar dari pelukan Liam.
Ini tidak baik untuk Grace. Bisa saja Liam menggagalkan rencananya untuk pergi menjauh. Mendadak Grace ingat ucapan Liam yang belum siap menjadi seorang ayah. Dia takut Liam tidak mau menerima anak mereka, lebih parahnya Liam bisa saja meragukan bahwa janin dalam rahim Grace bukan miliknya. Membayangkan nya saja membuat Grace takut dan ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa Grace, kau baik baik saja kan? " Liam meneliti perubahan ekspresi wajah Grace.
"Aku rasa sudah cukup, aku akan membayar semuanya." Mencoba tersenyum meski getir Grace pamit pada Liam.
"Grace tunggu,,, " Cegah Liam pada Grace sebelum wanita itu benar-benar pergi dari butik. Grace berhenti hanya untuk mendengar apa yang ingin Liam sampaikan. "Kenapa Liam ? " Dalam hatinya Grace berharap Liam akan merubah keputusannya mengenai pernikahan dan keturunan. Grace tahu trauma masa lalu Liam selalu menghantuinya, namun Grace akan berusaha melakukan yang terbaik untuknya. "Maukah kau makan siang denganku? " Ajak Liam penuh harap. Grace melirik pada Hecan dan Sia meminta pendapat mereka, menerima atau menolak tawaran Liam. "Pergilah Grace, kami akan menjemputmu setelah selesai." Izin dari seorang Hecan jelas membuat Sia menatapnya tajam. Kenapa sekarang Hecan malah membiarkan Grace berduaan dengan Liam?
"Terima kasih, Hecan." Ucap Liam tulus.
Hecan memang ingin memberi kesempatan pada Liam untuk memperbaiki sikapnya. Siapa tahu setelah sering menghabiskan waktu bersama Liam bisa berubah. Dia akan mengikat Grace dalam satu ikatan suci bernama pernikahan.
Liam menggenggam tangan Grace menuju mobilnya. Sementara kedua teman Grace memilih mencari tempat makan di sekitar La collection.
"Banyak yang harus dia kerjakan, aku hanya ingin berdua saja denganmu." Jawab Liam, Grace hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Mobil berhenti di cafe ternama yaitu Jardin du-Petit Palais. Cafe dengan bangunan mirip istana dengan kolam air mancur di tengah-tengahnya. Bahkan lantai nya menggunakan marmer menambah kesan elegan. Ini pertama kalinya Grace berkunjung, matanya memandang takjub menyusuri jalan setapak menuju meja yang kosong.
"Pilihlah menu yang kau inginkan Grace." Ketika pelayan datang membawa buku menu, Liam mempersilahkan Grace memilih. Grace sedikit bingung, pasalnya selera makan dia sedang menurun. Apa mungkin dia bisa menyantap hidangan tanpa mengeluarkannya lagi?
"Kenapa, kau tidak cocok dengan menunya? " Liam menyadarkan lamunan Grace.
"Aku ingin Croquette dan peach tea dingin." Grace memilih makanan ringan di banding menu utama.
"Buat dua porsi." Ternyata Liam mengikuti pesanan Grace. Pelayan tersenyum lalu meninggalkan keduanya.
__ADS_1
Grace mengedarkan pandangannya menutupi kegelisahan. Dia seharusnya berhenti bertemu dengan Liam berdua saja seperti sekarang. Grace khawatir Liam memergoki kondisinya.
"Kau kenapa Grace? Jika ada masalah mungkin bisa cerita padaku." Liam merasa banyak perubahan dari seorang Grace, dia seperti sedang menutupi sesuatu darinya. "Tidak, aku baik baik saja. Apa Veronica memintamu kembali bersama? " Grace merutuki mulutnya sendiri, bisa bisanya dia mengajukan pertanyaan itu.
Liam malah terkekeh mendengar pertanyaan Grace. "Tidak, dia tahu hubungan kita. Aku juga hanya ingin bersama mu Grace, bukan yang lain." Terang Liam berkata sungguh-sungguh. "Sebagai apa, teman tidur? " Serang Grace tak sabar. Ini saatnya memperjelas hubungan mereka kedepannya.
"Kau tidak perlu mementingkan sebuah status Grace, kau satu satunya dan paling spesial. Aku berjanji akan menjaga dan melindungimu." Grace menggeleng menatap Liam nanar. Bukan itu jawaban yang Grace inginkan darinya.
"Kenapa sulit untukmu Liam? Aku tidak bisa menjalin hubungan tanpa adanya ikatan. Aku bahkan sudah merelakan semuanya karena aku pikir kau mau menikahi ku. " Dada Grace naik turun menahan emosi demi kesehatannya.
"Cukup Grace, jangan menekan ku seperti ini. Aku hanya belum siap. Suatu saat nanti mungkin aku bisa mengabulkan keinginanmu. tapi bukan sekarang Grace, cobalah mengerti." Tanpa memperdulikan suasana ramai pengunjung di jam makan siang, Liam berteriak menghentikan perdebatan.
Grace menyerah, usahanya selalu gagal meyakinkan Liam. Dia memilih pergi dari tempat itu secepat mungkin. Liam kaget melihat kepergian Grace. Grace setengah berlari menjauhi Liam, dia tidak ingin di kejar olehnya. Sebisa mungkin Grace harus menghindarinya.
Keluar dari pelataran cafe Grace berusaha menyetop taksi yang lewat.
"Grace tunggu! " Liam akhirnya bisa mencegah lengan Grace yang ingin masuk ke dalam taksi.
"Lepaskan aku Liam. " Teriak Grace memberontak, namun kekuatan Liam jelas lebih diatas tenaganya.
Grace berhenti ketika kepalanya terasa berputar putar dan pandangannya mulai mengabur. Liam mendekap tubuh Grace yang terkulai lemas. Dirinya mengumpat dalam hati karena menyebabkan Grace pingsan seperti ini.
Bolehkah Liam sedikit egois? Dia memilih membawa Grace pulang ke rumah megahnya di banding rumah sakit atau apartemen Grace. Liam bahkan tidak memanggil dokter hanya untuk memeriksa keadaan Grace. Dia pikir Grace hanya kelelahan dan sedikit shock.
"Tuan memanggil saya? " Bibi Wen terpogoh pogoh mendekati Liam yang duduk di tepi ranjang.
"Aku harus kembali ke kantor, tolong bibi jaga Grace dan siapkan makanan setelah dia bangun. Jangan biarkan dia pergi dari rumah ini." Bibi Wen sedikit terkejut karena Liam tuan mudanya masih saja menawan Grace. Bibi pikir Liam akan mempersunting nya lalu membiarkan Grace tinggal di rumah itu.
"Apa tidak sebaiknya kita memanggil dokter tuan? Bibi khawatir nona Grace sakit." Saran Bibi Wen hati hati.
__ADS_1
"Aku akan memanggilnya, tolong bibi dampingi karena aku harus pergi sekarang." Mau tidak mau Liam menuruti nasehat nanny senior, demi kebaikan Grace tentunya.