
Satu persatu anggota keluarga tiba di kediaman tuan Rodrigo. Grace dan Dylan menjadi yang pertama karena jarak mereka memang lebih dekat di banding kota Piana. Tuan Rodrigo merasa sangat bahagia karena ia tidak akan kesepian lagi di rumah besar nya.
Para nanny juga ikut sibuk menyambut kedatangan anggota keluarga. Selama ini mereka harus terpisah jarak karena beberapa alasan.
"Grace apa Dylan akan tidur sendiri lagi ?" Tuan Rodrigo menemani putri sulung nya membongkar isi koper di kamar lantai bawah.
"Aku rasa tidak dulu dadd, dia mulai menanyakan ayahnya." Pengakuan Grace lantas membuat tuan Rodrigo menyesali perbuatannya.
"Maafkan daddy Grace, ini semua salahku. Seharusnya dulu aku tidak membohongi Liam." Tangan tuan Rodrigo terulur mengusap pundak Grace.
"Apa yang daddy lakukan sudah yang terbaik, aku takut Liam menolak Dylan karena dia memang belum siap menjadi ayah. Sekarang ketakutan itu semakin besar, apa lagi tadi Dylan dan Liam bertemu. Sepertinya mereka memang pernah mengobrol sebelumnya." Terang Grace.
"Apa maksudmu Grace? " Tuan Rodrigo mulai cemas mendengar kabar cucunya. "Mobil kami kehabisan bensin, Liam membantu tapi aku berhasil menyembunyikan diri. Dylan sepertinya menyukai Liam, dia bahkan berjanji akan mengundang nya ke rumah. Aku takut Liam akan mengambil Dylan dariku dadd, atau bisa saja Liam tidak mau mengakui Dylan sebagai darah dagingnya. Untuk saat ini aku berusaha menutupi kenyataan kalau Dylan adalah anakku." Panjang lebar Grace mengungkapkan perasaan terdalamnya pada sang ayah. Tuan Rodrigo memeluk putrinya yang sudah semakin dewasa. Waktu memang berjalan begitu cepat, dulu dia masih gadis remaja yang memaksa tinggal sendiri hanya karena menghindari perjodohan. Sekarang Grace bahkan sudah menjadi ibu tunggal, caranya mendidik Dylan luar biasa sabar dan penuh kasih sayang.
"Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu Grace, kau harus bersiap untuk segala kemungkinannya." Grace mengangguk dalam pelukan ayahnya. Mereka sama sama sadar, bahwa tak berkata jujur pada Liam adalah kesalahan terbesar dalam hidup.
"Mommy,,, " Dari arah luar terdengar suara Dylan menggema memanggil Grace. Yang punya namapun bergegas keluar mencari keberadaan anaknya.
"Ada apa Dy, jangan berteriak seperti itu." Tentu Grace akan menegur jika Dylan melakukan kesalahan, kadang ia merasa terlalu keras padanya namun Grace perlu menerapkan tatakrama yang baik pada Dylan.
"Maaf mom, Dy hanya ingin pergi jalan jalan bersama Tan tan di halaman depan." Kening Grace mengkerut mendengar Dylan menyebut nama asing.
"Tan tan siapa Dy? " Jangan jangan Liam, secepat itu mereka berkomunikasi?
"Tan tan itu toy podle milik Grand pa momm, dia kecil, warna coklat, bulunya kriting. Aku sangat menyukai nya." Grace bernafas lega mendengar siapa itu Tan tan.
"Baiklah, asal kau jangan berani keluar gerbang rumah." Pesan mommy merupakan ultimatum untuk Dylan, dia mengangguk patuh lalu berlari ke depan. Di sana sudah ada Alya yang memegangi Tan tan.
Alya dan Dylan bermain bersama Tan tan, mereka berlari kesana kemari seolah saling mengejar. Para penjaga rumah juga ikut tersenyum mslihat tingkah tuan muda kecil dan nona muda. Dari kejauhan sebuah mobil hitam berhenti di luar gerbang. Di posisinya dia bisa melihat Dylan dan Alya bermain bersama Tan tan.
"Siapa mereka, apa rumah itu sudah di jual?" Tanya nya pada pengemudi di depan. "Sepertinya belum tuan, menurut informan kita keluarga tuan Rodrigo dari Piana dan Le Havre berkumpul di sana. Apa perlu saya carikan informasi anggota keluarganya ?" Sedikit menengok ke belakang meminta pendapat tuannya.
"Ini aneh Josh, biasanya hanya ada Tuan Rodrigo dan Grace di dalam. Lihatlah, bahkan sekarang wanita paruh baya keluar." Liam mulai penasaran dengan keadaan keluarga Grace. Dirinya bahkan menyempatkan mengamati kediaman tuan Rodrigo setelah selesai meeting. Setiap seminggu sekali Liam memang sengaja lewat di daerah perumahan elit Nanterre. Siapa tahu dia bisa melihat Grace di sana.
Tiga tahun yang lalu dia sempat kembali ke Piana untuk bertemu Grace. Sayangnya anak buah Liam kehilangan jejak, Grace sudah berpindah ke tempat lain. Yang ia tahu Grace tinggal di tempat orang kepercayaan Tuan Rodrigo.
Saat fokus mengamati dari jauh, Liam mendapat sebuah pesan masuk. Karena jarak Liam memang tidak bisa melihat kalau anak kecil itu adalah Dylan.
__ADS_1
Dari mrs. Lim,
Mission complete, Paris sangat indah.
Liam tersenyum simpul lalu mulai mengetik,
Semakin dekat, mungkinkah aku meminta untuk bisa bertemu?
Seseorang di sana membalas,
Meet by accident, why not? Sedang apa,
Liam kembali mengetik cepat,
Hide and seek,
Balasanpun muncul kembali di layar,
Tadi aku juga bermain itu. Kita banyak kesamaan tuan.
"Maaf tuan, kita harus kembali ke hotel. Bukankah anda dan tuan Arthur akan menjamu tuan Rodrigo nanti malam? " Alarm pengingat dari Josh membuyarkan lamunan Liam, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Di perjalanan, Liam masih saja memikirkan dua hal yang mengganggu pikiran. Pertama, teman chatting yang entah usianya berapa tahun tapi dia memiliki anak. Mungkinkah dia istri orang atau seorang single mother? Satu hal pasti, Liam nyaman mengobrol ringan dengannya. Kedua, siapa orang-orang yang berada di kediaman tuan Rodrigo? Bertahun-tahun mengenal ayah Grace Liam baru tahu mereka memiliki anggota keluarga lain yang tidak di ketahui publik.
"Josh, sepertinya aku harus mulai mencari keberadaan Grace. Aku memberimu akses penuh untuk berburu." Mendengar perintah Liam Josh sedikit menyunggingkan senyumnya. Sejak dulu sekali dia memang sudah menyarankan itu pada Liam. Liam hanya tidak berani mengambil langkah, dia takut Grace malah semakin menjauh.
"Siap tuan." Jawab Josh singkat.
Tuan Rodrigo dan Jack tiba di lobby hotel yang kini saham nya dikuasai Liam. Mereka memang ada keperluan sehingga terpaksa bertemu dengan pemiliknya.
"Selamat datang tuan, silakan." Josh membimbing mereka ke arah restoran di tepi kolam renang tak jauh dari lobby.
Ke empat pria itu sudah duduk saling berhadapan, di meja juga sudah ada beberapa jenis anggur yang usianya puluhan tahun. Pelayan menuangkan ke dalam gelas masing-masing.
"Jadi, bagaimana saya bisa membantumu Rodrigo." Tuan Arthur membuka percakapan setelah semua pelayan keluar. "Aku ingin memesan tempat ini untuk pernikahan Jack dan tunangannya." Kata Tuan Rodrigo pada pemilik hotel. Liam dan Arthur saling Melirik sebentar lalu fokus pada Jack di sebelah tuan Rodrigo.
Apakah Grace akan menikah dengan pria bernama Jack? Tapi bukankah seharusnya dia sudah menikah sejak dulu, batin Liam berkecamuk menerka-nerka.
__ADS_1
Melihat ekspresi terkejut Liam, Jack memastikan kalau dia tidak mengingat kejadian di bar di kota Piana dulu.
"Tentu, kami akan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan sempurna. Oh ya, bagaimana keadaan Grace? " Tuan Arthur sebenarnya hanya basa basi agar suasana tidak terlalu tegang. Meski ia sadar pertanyaan itu sedikit sensitif.
"Baik, dia akan mengurus segala bidang bisnis ku. Aku mungkin hanya akan fokus membuat karya-karya ku." Di luar dugaan, tuan Rodrigo bersedia menceritakan tentang wanita yang kini sudah keluar dari pengasingan. Liam sedikit tenang mendengarnya, mungkin bisa saja mereka bertemu sebagai kolega.
"Syukur lah kalau begitu. Silakan di nikmati." Merekapun menerima jamuan yang di sediakan tuan rumah.
,,,,,,,
Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Grace ke dua puluh tujuh, dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor bersama tuan Rodrigo. Tuan Rodrigo memang sudah memberi pengumuman pada seluruh staf bahwa Grace akan menjadi pemimpin baru menggantikannya.
Setibanya di perusahaan Grace berjalan dengan penuh percaya diri di samping ayahnya. Kini Grace siap menanggung beratnya beban putri mahkota. Demi masa depan Dylan dan Alya, Grace rela berjibaku di dunia bisnis.
Mengingat Alya, gadis itu mulai masuk sekolah barunya. Semoga saja Alya bisa beradaptasi dengan baik dan mampu mengejar ketertinggalan.
"Nah Grace, ini ruangan ku. Sekarang kau akan bekerja memeriksa laporan perusahaan di sini." Pintu di buka oleh asisten tuan Rodrigo, Grace mengamati desain interior tempat ayahnya mengadu nasib. Grace memang baru pertama kali datang ke kantor ayahnya. Sejak kecil dia belum memiliki ketertarikan pada dunia bisnis.
"Terima kasih dadd, bahkan nama Grace sudah terpampang nyata di papan berbahan dasar kaca bening diatas meja. " Istirahat lah sejenak, penyambutan akan di laksanakan setengah jam lagi." Grace duduk di sofa biasa untuk menerima tamu. Sementara ayahnya keluar entah pergi kemana.
Setengah jam berlalu,
Grace di tuntun oleh wanita paruh baya yang akan menjadi sekretarisnya. Sebelum masuk, Grace menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya. Ia harus siap, jangan mengecewakan tuan Rodrigo di hadapan para pemegang saham lainnya.
"Kalian mungkin akan meragukannya, tapi aku berani jamin dia tidak akan membuat kalian rugi. Silakan Grace." Tuan Rodrigo mempersilahkan Grace masuk.
Wanita dengan one set formal berwarna merah maroon berjalan dengan anggun, rambut tebalnya selalu saja di kuncir kuda. Saat berdiri di depan belakang podium tak sengaja matanya melihat sosok pria yang sudah menanam benih cinta di rahimnya.
Ya, Liam juga membeli sebagian saham di Miracle jewelry sejak satu tahun yang lalu. Tuan Rodrigo sempat kecolongan karena Liam memakai nama lain untuk membelinya. Tak ingin mempermalukan diri di hadapan undangan, Grace berusaha bersikap profesional.
"Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan nya, mohon bimbingannya sekian." Grace, pidatomu terlalu singkat membuat mereka mengkerut kan keningnya. Masih banyak yang ingin mereka dengar dari mu, apa pengalamanmu, visi misi mu untuk perusahaan. Tuan Rodrigo tahu Grace pasti terkejut melihat kehadiran Liam.
"Grace, silakan mengenalkan diri mu pada para petinggi." Titah Tuan Rodrigo, mau tak mau Grace berjalan ke arah mereka yang memang pria semua.
Tiba giliran Grace di hadapan Liam, mata mereka beradu saling tatap menyiratkan banyak makna. Rindu, hasrat ingin memadu kasih, bahkan rasa kebencian satu sama lain.
Liam benci dirinya yang selalu menyakiti Grace hingga mereka harus terpisah sangat lama. Grace pun merasakan hal sama, dia benci pada dirinya sendiri karena sudah menyembunyikan Dylan dari Liam. Kedua tangan saling berjabat, Liam tersenyum tipis begitupun Grace.
__ADS_1
"You look so beautifull... " Gumam Liam tanpa suara, Grace ingin melepaskan tangannya namun Liam malah semakin Erat menggenggamnya.
"Bagaimana kalau kita coffee break sebentar sebelum mengakhiri pertemuan ini? " Tuan Rodrigo yang menyadari interaksi mereka memecah keheningan. Semua orang setuju dan mulai pergi ke lounge. Grace bergegas menyusul sang ayah meninggalkan Liam sendiri.