
Keadaan mulai kacau saat Tuan Arthur Louis mengetahui runtuhnya kepemimpinan sang Putera kebanggaan. Tiga puluh persen saham di lepas Liam begitu saja. Padahal saham tersebut merupakan hadiah dari tuan Arthur untuk Liam karena mau melakukan perjodohan dengan putri dari teman lamanya. Untungnya tuan Arthur masih memiliki sisa saham atas nama dirinya sebanyak dua puluh.
Pagi buta sekali akan diadakan rapat pemegang saham darurat dengan agenda pemecatan CEO Liam Arthur Junior.
"Bodoh sekali kau Liam! " Teriak tuan Arthur memaki kelakuan anak semata wayangnya. Liam hanya menunduk menyadari kesalahan yang ia perbuat.
"Seharusnya kau berpikir cerdas, aku mempersiapkan jodoh terbaik untuk masa depanmu. Pernikahan bukan sekedar tentang perasaan dan kepuasan di atas ranjang Liam." Terlihat jelas dada sir Arthur yang badannya besar dan tinggi, naik turun menahan emosi.
"Kau ku jodohkan dengan Grace agar mendapat dukungan dari ayahnya. Kita bisa saja melebarkan bisnis dengan terjalinnya suatu ikatan." Lanjutnya lagi mengingat kembali serentetan kekacauan yang di perbuat Liam.
"Pantas saja kau meminta aku memindahkan saham itu buru-buru, kau malah mengirim sekretaris mu untuk menggantikan posisimu Setelah berhasil mendapatkannya. " Jangan tanyakan nasib sekretaris culun namun jenius itu, kini dirinya sudah di pindahkan ke toko cabang luar negeri jauh di belahan dunia lain.
"Aku salah Dad, tapi jangan khawatir karena aku akan merebutnya kembali bagaimana pun caranya." Penuh percaya diri Liam menekankan janjinya pada tuan Arthur. "Lupakan, paling kau hanya di pecat dan di gantikan oleh Peter. Bagaimana nasib La collection ditangan pecundang itu." Tuan Arthur berkacak pinggang memikirkan nasib maha karyanya.
"Tuan, sudah waktunya." Josh tiba tanpa aba aba memberi informasi mengenai rapat gawat darurat di sebuah ruang pertemuan milik hotel La Chambre. Saham tuan Arthur juga bertengger di sana, dia sangat gemar bercocok tanam di tempat-tempat menjanjikan masa depan.
"Dengar, apapun keputusannya tetap tenang jangan bertindak gegabah." Titah sang daddy tak ingin di bantah oleh siapapun sekaliber Liam. Tanpa menunggu jawaban anaknya tuan Arthur berjalan mendahului kedua pria itu. Kecewa tentu terlihat jelas dimata daddynya, Liam hanya mampu berusaha kuat dan memilih langkah selanjutnya.
Pintu ruang rapat di buka petugas menampilkan wajah wajah pemegang saham La collection. Ada Marcus dan Peter jelas duduk paling depan bersiap menerima singgah sana dari raja terdahulu. Tatap mata Liam datar tanpa ekspresi membuat Peter jengkel karena gagal menindas nya. Harusnya Liam membabi buta tak Terima, mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang-orang.
,,,,,,,
Salju kembali turun membuat Grace merasakan udara semakin dingin menusuk pori-pori kulit. Terpaksa tubuhnya bangun dari tidur menatap mesin panjang tertempel di dinding. Air conditoner memang dinyalakan usai pergulatan diatas ranjang untuk menghapus keringat Liam maupun Grace. Buru buru Grace meraih remote dan mematikannya.
Saat ingin bangun dari tepi ranjang Grace meringis pelan merasa perih pada bagian intinya. Ia baru ingat harus melakukan peragaan busana untuk salah satu brand pesaing Liam. Liam sama sekali belum pernah meminta jasanya, baru hanya sebatas di pilih sebagai brand ambassador pakaian olahraga milik Liam pribadi. Liam sengaja melebarkan sayapnya di luar La collection. Tentu untuk berjaga-jaga siapa tahu nasibnya akan seperti pagi ini.
Memilih mandi menggunakan air hangat pada bathtub Grace mengingat kembali peristiwa semalam. Ia menutup wajahnya dengan tangan, pipinya ikut merona membayangkan ekspresi keenakan seorang Liam.
Tidak ada yang berani mengetuk pintu kamar tamu spesial walau untuk memintanya sarapan di bawah. Lebih baik menunggu Grace turun dengan sendirinya. Liam juga berpesan agar menuruti semua keinginan Grace kecuali meninggalkan rumahnya.
Grace memakai pakaian hangat pemberian Liam bahkan label harga masih tertera di dalamnya. Rambutnya di biarkan basah tanpa di sisir, ia terlalu lapar dan ingin segera memakan apapun makanan di hadapannya.
__ADS_1
"Selamat pagi nona Grace. " Sapa bibi Wen di dekat meja makan. Bibi Jill masih sibuk memindahkan Scramble egg ke piring Grace, di sana ada juga roti bakar teflon dan salad sayuran.
"Pagi bi, wah menu nya luar biasa enak dan sehat." Mata Grace berbinar menyambut kedatangan piring di sodorkan bibi Jill. Grace enggan menyebut nama takut keliru. "Tuan Liam sengaja memberi pesan menu nona Grace harus empat sehat lima ideal." Grace terkejut karena Liam mau mengurus hal kecil untuknya.
"Dia dimana sekarang? " Tanya Grace mengedarkan pandangan mencari sosok pria pemutus pita kegadisannya. Di sana hubungan badan sebelum menikah bukan hal memalukan atau dianggap dosa. Grace buka tipe wanita suci yang mempersiapkan mahkota untuk sang suami.
Suami? Apa kelanjutan hubungan mereka berdua, Grace malah melamun menatap makanannya kosong. Bibi Jill menyenggol lengan kakaknya meminta Grace berhenti bengong dan cepat sarapan.
"Nona butuh yang lain? " Tanya bibi Wen mencari topik hangat.
"Nona lebih baik sarapan, jangan menunggu tuan karena tuan Arthur Senior dan junior ada rapat penting. " Kata bibi Wen memberi informasi.
"Dia tega meninggalkan aku setelah menyetubuhi ku? " Grace termenung tak percaya. Liam bertingkah seolah peristiwa semalam bukan hal luar biasa patut di bahas kelanjutannya.
"Nona, kalau nona ada kegiatan diluar seorang supir akan menemani namun setelah selesai tuan meminta anda kembali ke sini." Informasi bibi Jill kembali menciptakan helaan nafas Grace, dirinya sudah seperti tawanan saja.
"Iya, aku memang harus pergi ke suatu tempat." Grace menyahut dengan lemas.
"Nyonya coco sudah menanti anda di dalam. " Sekretaris pemilik perusahaan membimbing Grace menuju ruang CEO. Pintu di buka dan Grace dibiarkan masuk sendiri ke dalam sementara seorang perempuan berdiri menyambutnya.
"Selamat siang Grace." Mereka berjabat tangan di pertemuan pertama, biasanya pembahasan pekerjaan dilakukan lewat email.
"Suatu kehormatan bisa bekerja untuk anda nyonya Coco Cheryl. " Keduanya duduk berhadapan di sofa penerima tamu. Ruangan di penuhi beberapa koleksi tas handmade by Coco Cheryl. Wanita paruh baya yang sudah malang melintang sebagai pengusaha tas ternama.
"Kau sudah siap bukan melakukan yang terbaik? Anak laki-laki ku akan melakukan pemotretan bersamamu sebelum peluncuran." Waktu adalah uang, bagi nyonya Coco ia ingin langsung saja ke inti pembicaraan.
"Benarkah? Aku tidak tahu anda memiliki seorang anak laki-laki." Grace tersenyum ramah mengetahui informasi berbau rahasia.
"Dia anak dari suami ku, passion kami jelas berbeda aku dan suami tidak bisa memaksakan kehendak padanya." Terang Nyonya Coco, Grace mengangguk mengerti. Dirinya juga enggan mengikuti jejak karir sang ayah, untuk mengurus perusahaan saja Grace belum siap dan enggan belajar. Pintu di ketuk seseorang dari luar menandakan ada tamu selain Grace.
"Come in. " Perintah nyonya Coco mempersilahkan masuk.
__ADS_1
"Nah Grace, dia anakku Ethan dan dia akan menjadi fotografer mu." Grace terkejut mendapati fakta bahwa teman sekaligus mantan bosnya merupakan anak sambung nyonya Coco. Artinya Ethan bukan orang sembarangan, ayahnya pemilik peternakan sapi import nomer satu di Paris. Nyonya Coco merintis bisnisnya setelah mendapat sokongan modal dari sang suami.
"Nice to meet you Grace." Ethan mengulurkan tangan mengajak Grace berjabat.
"Ini mustahil, ternyata kau berhasil menutup diri dengan baik Ethan." Pujian atau sindiran Ethan paham kemana arah ucapan Grace. Dia memang enggan membuka identitas nya pada siapapun.
"Kalian sudah saling kenal rupanya, itu bagus karena aku suka." Nyonya Coco merangkul pundak Grace dan Ethan bersamaan.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? " Ethan memberanikan diri mengajak Grace, padahal ia juga tahu bagaimana hubungan Grace dan Liam ada sesuatu diantara mereka.
"Aku minta maaf karena tidak bisa, Aku ada pekerjaan lain bersama temanku." Menolak secara halus Grace tidak ingin menyinggung perasaan Ethan maupun ibunya.
"Next time maybe, Ethan Grace ini model terkenal pasti harinya cukup sibuk." Nyonya Coco menangkap kekecewaan di raut wajah Ethan. Bisa di tebak mungkin anak sambungnya menaruh hati pada Grace. "Terima kasih nyonya atas waktu anda, aku harap kita akan bertemu lagi." Kali ini Nyonya Coco memeluk Grace melepaskan kepergian nya. Ethan hanya tersenyum tanpa ada niat mengantarnya sampai lobby.
"Ada apa ini? " Selidik nyonya Coco ingin mendengar langsung cerita Ethan dan Grace.
"Dia pernah menjadi asisten ku selama tiga tahun mom. Aku pikir dia perempuan biasa dan aku berharap bisa terus dekat dengannya. Setelah mengetahui Grace ternyata putri tuan Rodrigo aku merasa semakin jauh dengannya." Masih berdiri menatap pintu ruangan Ethan mengingat kembali masa masa dulu ia habiskan bersama Grace.
"Aku bisa meminta ayahnya mengatur kencan untuk kalian. Kau pria hebat Ethan, kalau saja kau menyatakan isi hatimu mungkin Grace juga berpikir menerimamu." Nyonya Coco memberi semangat agar Ethan jangan berkecil hati, dia bahkan belum mencoba satu langkah pun mendekati Grace.
"Baiklah, aku ingin melakukannya. Aku mohon bantuannya mom." Kini rasa percaya diri Ethan meningkat setelah mendapat dukungan dari sang ibu.
Sia dan Hecan sudah menunggu di depan lobby Cheryl Co. Dengan ekspresi kesal baru bisa bertemu dengan Grace. Pasalnya dia tidak kembali sejak pergi berolahraga kemarin.
"Kau ini, aku dalam kesusahan karenamu Grace." Sia memukul lengan Grace pelan sebagai hukuman.
"Aw, kau melukaiku Sia." Canda Grace pura-pura sakit mendapat serangan. "Hentikan kekonyolan mu Grace, kemarin ayahmu datang mencarimu ke apartemen." Hecan curiga telah terjadi sesuatu antara Grace dan teman prianya. Dia menahan diri untuk tidak ikut campur.
"Kau tidak bilang aku pergi dengan Liam bukan? " Grace tak sabar mendengar jawaban Hecan karena ia pasti akan berhadapan dengan tuan Rodrigo.
"Siapa Liam, apa pemilik LG sporty itu?" Tanya Sia seperti tidak tahu menahu soal kisah percintaan Grace. Hecan saja seorang pria peka.
__ADS_1
"Kita bahas di dalam mobil saja, kau tidak boleh kemana-mana tanpa kami lagi." Hecan membukakan pintu belakang meminta Grace masuk. Grace bingung menjelaskan sementara tepat di belakang mobilnya ada urusan Liam menunggu. "Lain kali saja Hecan, maaf aku harus pergi." Grace berjalan cepat menuju mobil belakang sebelum Hecan berhasil menahannya.