
Di restoran hotel Alya begitu menikmati menu makan malamnya. Bagaimana tidak, ia dengan lahap menyantap beef Wellington yang menjadi favorit para tamu. Meski hatinya masih jengkel melihat sosok menyebalkan di hadapannya.
Pertemuan pertama Alya dengan Christian yaitu di kedai kopi sebrang rumah sakit. Kedua, di halaman rumah Theo. Dan pria itu malah mencuri ciuman pertama Alya. Tapi sepertinya Christian belum mengenali Alya, secara penampilan nya sekarang jauh berbeda.
"Jangan melihatku terus, kau akan tersiksa karena menyukai ku. " Christian menangkap basah Alya yang beberapa kali menatapnya intens.
"Percaya diri sekali anda. Aku bahkan muak melihat wajahmu, sayang kau kakaknya Theo kalau bukan,,, " Ucapan Alya menggantung, Christian segera menyela
"Kalau bukan kau akan apakan? " Tanyanya penuh tantangan.
"Sudahlah. Lebih baik kau pikirkan aku harus tinggal dimana, besok aku sudah harus ke kampus." Untung saja makanan Alya sudah habis, jika belum ia akan kehilangan selera makannya dan menyia-nyiakan menu enak yang di pesan kan Christian.
"Aku tidak punya tempat tinggal, kau bisa memakai kamar tamu yang tadi kau kunjungi." Christian tidak masalah menampung Alya, dia tidak akan mengganggu kehidupannya pikir Christian enteng. Belum tahu saja Alya sudah memendam kekesalannya.
"Oke, dengan senang hati. " Alya tersenyum sinis penuh arti menerima tawaran Christian. Selagi pria itu belum mengenalinya Alya akan melancarkan aksinya satu persatu.
Daniel tiba di restoran dengan membawa koper besar milik Alya sesuai perintah Christian. Pria itu sendiri heran kenapa gadis culun seperti Alya membawa begitu banyak barang. Padahal penampilan nya biasa saja.
"Thanks tuan Daniel, semoga kita bisa bekerja sama." Senyum Alya bisa di bilang sebagai tanda peperangan di mulai. Daniel hanya bisa memandang ke lain arah, gadis licik ini pasti akan menyusahkan hidupnya.
"Kau makanlah dulu, nanti kita lanjut ke klub. " Chris menepuk pundak Daniel meninggalkannya di restoran sendiri, sementara ia akan bersiap sekaligus mengantar Alya ke kamar.
Alya mulai merapikan pakaiannya, ia menata ke dalam lemari kaca transparan. Selain baju, ia juga membawa laptop dan peralatan melukisnya. Tak mau di ketahui orang asing, Alya memilih menyimpannya di bawah tempat tidur.
"Hah,,, aku masih harus menyamar. Tapi tidak masalah, aku harus membuat Christian merasakan kekesalan menghadapi ku. " Tak butuh waktu lama, Alya sudah siap untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Tadinya ia ingin berendam, mengingat rencana kedua pria itu Alya mempercepat ritualnya. Ide terbesit untuk ikut bersama mereka ke klub malam, tempat yang pantang ia kunjungi.
Alya keluar kamar bertepatan dengan Christian, kamar mereka bersebrangan terpisahkan oleh ruang televisi. Christian memalingkan wajahnya tak ingin bertatapan dengan gadis yang di sukai adiknya.
"Ck,,, Theo apa buta matanya, menyukai gadis seperti itu. " Gumam Christian pelan namun Alya bisa mendengar dia menggerutu.
"Tuan, aku ingin ikut bersama kalian. " Perkataan Alya berhasil menghentikan langkah tegap Christian.
"Are you kidding me? Untuk apa aku mengajakmu? " Jelas Christian menolak permintaan Alya, baginya Alya hanya anak kecil yang tidak mengerti apapun urusan orang dewasa.
"Kau bisa menurunkan ku di supermarket terdekat yang kita lalui. Aku janji tidak akan menyusahkan mu. " Tangan Alya terangkat memberi tanda sumpah. Mengingat dirinya yang baru tiba Christian mengerti Alya perlu membeli kebutuhannya.
"Ok, setelah selesai kau harus segera kembali ke sini. " Perintah Christian, Alya mengangguk patuh meski dalam hati ia akan mengingkarinya.
Di perjalanan Daniel tak hentinya menghela nafas kesal, melihat sosok gadis di sampingnya berisik mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Bisakah kau diam sebentar, aku pusing melihatmu seperti itu. " Bukan Daniel yang berucap melainkan Christian, ternyata sejak tadi dia juga memperhatikan tingkah Alya.
__ADS_1
"Aku sedang mencari tempat tinggal yang cocok di sekitar kampusku. " Alya menanggapi ocehan kakak laki-laki Theo dengan acuh.
"Turunlah nona, di depan sana ada supermarket. " Daniel memelankan laju mobilnya untuk berhenti di tepi jalan. Alya memfokuskan pandangannya sesuai arah yang Daniel tunjuk.
"Aku tidak mau, di sana sepi sekali. Aku takut ada orang iseng mengganggu ku. " Kilah Alya menolak turun. Terdengar tawa sinis dari kursi belakang, Christian meremehkan ketakutan gadis culun di samping Daniel.
"Kau sedang mengejek ku tuan? " Alya menoleh untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Kau terlalu percaya diri nona Alya Shamare. Di kota ini mana ada yang tertarik padamu. " Rasanya Alya ingin meremass mulut lancang Christian. Bukannya sombong, Alya hanya malas menunjukkan wajah aslinya pada orang asing seperti kedua pria di mobil itu.
"Jangan menghina penampilan ku. Kita buktikan saja, aku bisa menarik perhatian seseorang di klub yang akan tuan kunjungi."
Tantang Alya pada Christian tanpa melirik ke belakang lagi.
Suara dentuman musik begitu memekik telinga seorang gadis. Malam ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat syahdu bernama klub malam. Matanya terus saja mengedarkan ke seluruh sudut bangunan.
Bukan hanya tempat mabuk, di sana juga menjadi tempat pelampiasan hasrat para lelaki hidung belang. Bahkan ada yang berani bertransaksi barang ilegal jika mereka menyadarinya.
"Kau yakin tidak akan mundur? " Tanya Christian memastikan ketika melihat raut cemas di wajah Alya.
"Tentu tidak. " Alya berjalan mendahului, membuat Christian tersenyum menyeringai melihat keberanian gadis polos yang ternyata sudah melancarkan aksinya.
Posisi Alya membelakangi Daniel maupun Christian. Seperti sengaja membiarkan mereka tidak melihat tindakan Alya. Ya, dia melepas kacamata miliknya, menampilkan dengan jelas bola mata biru keabuan yang sempat ia sembunyikan dari orang asing. Alya pada dasarnya cantik, hanya saja cara berpakaian dan penampilan nya jauh lebih sederhana di banding status dirinya.
Mata Christian membelalak sempurna kala mendapati lengan dan bahu Alya terekspos. Mulus, seputih susu.
"Sial." Umpat Christian, dia menganga menyadari Alya hanya mengenakan dress press body berwarna hitam tanpa lengan.
Buru-buru langkah kaki Christian menghampiri Alya sebelum laki-laki hidung belang menerkam nya.
"Enough! " Lengan Alya di cengkram cukup keras ketika gadis itu hendak mendekati pria setengah mabuk di depan meja bar.
Mata Christian tak henti memperhatikan wajah Alya, menurutnya tak asing namun entah dimana mereka pernah bertemu.
"Kau,,, " Gumam Christian, Alya menepis nya segera.
"Cepat pulang, kita batalkan saja taruhan gila tadi. Aku tidak mau ayahmu membunuh ku jika tahu anaknya menjadi liar karena ku." Alya mengkerut kan keningnya heran, kenapa mendadak Christian memperhatikan sorot mata khawatir padanya.
"Chris.. " Daniel segera menyusul bos sekaligus temannya. Dengan cekatan Christian memasangkan kembali cardigan di tubuh Alya.
"Niel, tolong antarkan Alya ke unit apartemen milikku. Aku masih harus mengurus sesuatu di sini. " Bagi Daniel apapun yang Christian minta adalah satu tugas mutlak. Meski ia sebal dalam hatinya karena harus berada di dekat gadis yang sudah memakai kembali kaca mata besar dan tebal berwarna hitam milik nya.
"Baiklah, aku akan kembali setelah selesai." Daniel memberi gestur untuk Alya melangkah lebih dulu. Keduanya keluar meninggalkan Christian di klub sendirian.
__ADS_1
"Pantas Theodor sangat tergila-gila padanya. " Umpat Christian mengusap Tengkuknya, dia memilih memesan minum di meja bar. Penatnya pekerjaan, sekaligus kegagalan kisah cintanya membuat Christian melarikan diri pada minuman. Hanya minuman yang bisa mengalihkan perasaan kacaunya kapanpun dan bagaimanapun kondisinya.
"Sial sekali, tidak ada ciuman semanis itu." Christian mengingat kembali sosok perempuan di halaman rumahnya. Ia ingat, hanya kurang jelas memperhatikan wajahnya.
Christian Oliver, usianya hampir dua puluh delapan. Dia lebih menyukai tinggal jauh dari orang tuanya. Bermodalkan tanah warisan dari sang kakek, Christian membangun usaha pertamanya yaitu sebuah hotel di usianya menginjak delapan belas. Bermodalkan nekad dan pinjaman berjumlah besar di bank, juga dibantu penanaman modal oleh ayahnya Oliver Christian berhasil menikmati jerih payahnya selama lima tahun terakhir.
"Selamat kak, kau hebat sekali. Aku sangat mengagumi kerja kerasmu. " Pujian dan sanjungan dari Theo adiknya membuat Christian semakin semangat menjalankan bisnis yang kadang membuatnya bosan.
Christian merasa kosong dan hampa di kehidupan nya, seolah menanti seseorang yang bisa melengkapi lubang di hatinya.
Christian pernah hampir menikah, sayangnya sang calon istri malah membatalkan secara pihak. Beralasan belum siap melepas kebebasannya. Membuat Christian semakin sulit menjalani hubungan ke jenjang lebih serius. Ia takut akan kecewa lagi.
Christian memiliki sifat hangat pada siapapun yang sudah dekat dengannya. Satu hal kekurangan nya yaitu, penerimaan kadar alkoholnya sangat rendah. Meski baru beberapa tenggak dia sudah mabuk dan akan meracau tak karuan jika terus di biarkan minum.
Ia sempat di larikan ke rumah sakit akibat menabrak pembatas jalan, dalam keadaan mabuk dia memaksa mengemudi. Terpaksa Christian di rawat di rumah sakit. Bukannya beristirahat dia malah kelayapan keluar seenak hati. Dan di kedai kopi lah pertama kali pertemuannya dengan Alya.
"Kau rupanya,,, " Christian mengingat itu, ia tertawa dengan mata tertutup.
Alya di apartemen milik Christian berdecak kagum. interior bergaya minimalis modern bernuansa putih menyegarkan pandangan. hanya ada satu kamar di sana, Alya merasa Christian orang yang sangat rapi terlihat dari tata letak furnitur nya.
"apa Christian sering tidur di sini? " Alya mengambil alih koper miliknya dari tangan Daniel.
"hanya saat lelah, dan di waktu week end. lebih sering di hotel. " Daniel memperhatikan wajah Alya, dia penasaran apa yang membuat Christian terperangah kaget di klub tadi. padahal menurutnya Alya biasa saja.
"Terima kasih tuan Daniel, kau sudah mau aku repotkan. " Alya tersenyum getir namun tetap berusaha bersikap sopan pada asisten Christian.
"sudah tugasku. selamat beristirahat. " Alya mengangguk melepas kepergian Daniel.
"wah, apa kakaknya Theo sangat mapan? apartemen nya sebagus ini. " Alya memasuki kamar milik Christian. seperti di kamar hotel, di sana juga ada barang pribadi milik Christian.
"Aku malah terjaga, kapan aku akan mengantuk lagi? " Gumam Alya, tangannya sibuk membuka koper untuk menempatkan pakaiannya di dalam lemari. besok banyak yang harus Alya kerjakan tentunya.
visual
Alya Shamare
Christian Oliver
__ADS_1