My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 13


__ADS_3

Butiran lembut seperti kapas mulai turun bertebaran dari langit. Menghiasi jalanan dan pepohonan yang sudah tak berdaun. Hangat mentari pagi beriringan dengan dinginnya musim saat ini.


Sesosok perempuan menggeliat meregangkan otot-otot nya berusaha membuat dirinya bangun. Suasana sangat nyaman sehingga ia merasa malas untuk beranjak. Tidak ada kegiatan hari ini, ia ingin bersantai saja di rumah menghabiskan waktu dengan menonton, membaca buku mungkin belajar masak.


"Grace bangun! " Satu teriakan menghapus semua daftar keinginannya. Ah Hecan kenapa giat sekali membuatnya jengkel. "Buka pintunya atau aku memaksa masuk." Setiap hari libur Grace seakan mendapat teror dari pelatihnya, kegiatan rutin hari libur telah menunggu.


"Shut the fuk up Hecan, give me five minutes. " Tak kalah nyaring suara Grace dari tempat tidur, ia sering adu tarik suara dengannya.


Grace menggerutu ketika mencuci muka dan gosok gigi. Bisakah ia libur sekali saja untuk berolahraga? Tapi Grace jadi ingat malam tadi, dia butuh pelampiasan. Grace sangat iri ketika ia melirik kamar di sebelahnya, Sia masih nyaman tertidur pulas sementara ia harus bangun lebih awal.


Grace kini tinggal di apartemen Résidence Charles Floquet tak jauh dari menara Eiffel berada. Setiap libur bekerja Grace memiliki jadwal latihan kebugaran bersama Hecan. Kini mereka tengah serius berlari menyusuri trotoar jalan di jantung kota Paris.


"Ada apa kau dengan bos besar itu? " Tiba-tiba Hecan bersuara sesudah mensejajarkan diri dengan Grace.


"Dia mantan bos ku, kau tidak perlu mencurigai ku seperti itu. Daddy juga mengenalnya." Hecan dalam mode menginterogasi dan Grace peka.


"Kau menyukai nya? " Pertanyaan Hecan menghentikan langkah Grace seketika. "Apa terlihat jelas? "


Grace sesungguhnya enggan menyatakan dirinya menyukai Liam. Sepertinya orang-orang sudah bisa menebak hanya dengan melihat gelagatnya. Ah Grace merasa malu tertangkap basah oleh Hecan.


"Kau ini,,, " Hecan berdecak sebal pada Grace. "Kalau rindu kenapa malah menghindar saat sudah bertemu? " Benar, ego Grace masih belum berkurang. Dia ingin di kejar bukan mengejar.


"Sudah lah, aku malas membahasnya." Kemudian Grace kembali berlari cepat meninggalkan Hecan, tujuan mereka adalah pusat kebugaran milik pria itu.


Di pusat latihan Grace berlatih begitu keras dengan berbagai macam alat bantu. Hecan memang hadir diperuntukkan khusus Grace. Ia tidak akan melatih siapapun di sana meski banyak member wanita menginginkannya jadi PT mereka.


Sementara itu di sebuah cafe yang menyediakan menu brunch kedua pria berbeda generasi tengah berbincang sambil menikmati secangkir kopi. Sejak tadi keduanya terlibat percakapan serius. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus berhasil menggeser posisi Liam di La collection. Aku yang akan membuka jalan." Perintah pria paruh baya bertubuh gembul, stok rambutnya semakin menipis layaknya seorang profesor.


"Kali ini aku sudah mendapat ide bagus dad, sekian lama aku mengamatinya." Dia Peter, orang yang selalu ingin mengalahkan Liam musuhnya.


"Good, aku sudah muak harus patuh pada setiap perintahnya." Ayahnya Peter bernama Marcus memang tidak sempat Liam pecat, dirinya kekurangan bukti untuk menjebloskan Peter ke penjara meskipun Grace sempat bersaksi.


Tak jauh dari tempat mereka, seseorang mendengar dengan seksama apa saja yang mereka bahas. Sepertinya kedua orang itu tidak akan pernah puas mengganggu bosnya. Setiap kata yang mereka ucapkan di ketik lalu di kirim ke bersangkutan. Penerima pesan hanya terkekeh sinis menanggapinya. Ada hal lebih penting dari pada mengurus cecunguk itu, matanya tak henti memandang pergerakan aduhai di depannya.


"Kau terlalu kaku Grace. Apa karena ada aku di sini? " Tanyanya penuh nada sensual membuat telinga pendengarnya geli sekaligus ngeri.

__ADS_1


"Diam Liam, kenapa kau bisa ada di sini?" Gerakan melatih otot lengan ia hentikan, Grace kini menatap tajam pria di sampingnya.


"Kau mengabaikan kehadiranku, aku menjadi member sejak sebulan yang lalu Grace." Memang benar, Liam hanya datang di sore hari untuk berlatih sementara Grace pagi buta. Saat libur Liam juga tak pernah berkesempatan melihat sosok Grace. Dan hari ini merupakan sebuah kebetulan menyenangkan.


"Hecan,,," Grace berteriak memanggil, pria itu malah sengaja meninggalkannya bersama Liam.


"Yes nona,,, " Sahutnya tak nampak rasa bersalah.


"Aku sudah selesai dan ingin pulang." Grace meraih handuk kecil di bagian belakang kursi, ia mengelap keringat membandel. Tiba-tiba Liam mengambil alih benda itu dengan cepat, lalu mulai meneruskan kegiatan Grace.


"Brunch? " Ajakan berbau paksaan Liam lontarkan pada perempuan yang masih menatapnya tajam. Liam menghela nafas, kini ia sangat sulit menggapai Grace ketika mereka pernah terpisah jarak dan waktu. "Ok." Grace menerima karena memang ia juga merasa lapar. Banyak hal yang ingin Grace tanyakan pada Liam.


Tidak jauh dari pusat kebugaran terdapat sebuah restoran yang buka di waktu brunch. Menyediakan menu sehat, sejak menjadi model Grace terobsesi mengonsumsi makanan low fat high calcium. Ia memesan egg Benedict with beef bacon, tak lupa memesan satu porsi salad buah. Liam tak hentinya menyunggingkan senyum manis melihat Grace semangat melahap makanannya. "Kau bertambah seksi Grace." Puji Liam lantas membuat Grace tersedak. Segera Liam menyodorkan gelas berisi es mojito miliknya.


"Kenapa kau selalu blak-blakan setiap menilaiku?" Selesai minum Grace mulai mencibir kelakuan pria itu.


"Grace aku sangat merindukanmu, ma cheri. " Seakan berhak atas dirinya Liam memanggil Grace dengan sebutan sayang. Pipi Grace langsung merona, perutnya seakan memanen ribuan kupu-kupu. "Ceritakan pengalaman mu saat aku tidak ada di sisimu Grace." Liam menyentuh bibir grace berpura-pura ada sesuatu di mulut wanitanya, Grace salting mendapst perlakuan seperti itu.


"Tidak ada yang spesial, aku sibuk sekolah, melakukan pemotretan, fashion show dan menjaga bentuk tubuhku." Obrolan keduanya mengalir begitu saja seolah tak ada lagi pembatas bernama gengsi.


"I heard a rumor, you have a new Personal assistant Liam. Is that a girl? " Grace pernah mendengar selentingan kabar dari ajudan tuan Rodrigo bahwa setelah kepergian Grace Liam memilih mencari asisten baru.


"Lihat kearah sebrang! " Perintah Liam menggunakan dagunya, pandangan Grace mengikuti sesuai petunjuk. Berusaha merapatkan bibirnya karena malu sudah cemburu pada tuan Josh. Mantan mucikari di kasino Liam. Grace takut Liam berpaling darinya, dia bahkan belum memulai apapun dengan pria itu.


"Let's go, Cheri. " Liam bangkit dari kursi mengulurkan tangannya mengajak Grace pergi. Senang hati Grace menerima kemana saja Liam akan membawanya.


Baru semalam dirinya berkunjung ke rumah megah milik Liam kini Grace kembali kesana. Liam tersenyum memberi isyarat untuk segera turun. Saat baru keluar dari mobil ponsel Grace berbunyi tanda panggilan masuk.


"What? " Serang Grace pada pe nelpon. "Where are you Grace? Kau kabur dari ku." Terdengar panik suara Hecan di sebrang sana. Grace memutar matanya jengah sambil berusaha mencari alasan.


"Awas jangan pernah mengatakan apapun pada daddy, selagi dia tidak mencariku lebih baik kau diam saja." Ancam Grace penuh nada penekanan. Hecan bisa saja diluar dugaan tega mengadukan kegiatan Grace yang di larang ayahnya. Bermalam dengan seorang pria, sepertinya itu akan terjadi padanya sekarang.


"Berhati-hatilah padanya Grace, aku hanya tidak ingin kau terluka." Hecan memberi nasehat sebelum membiarkan anak asuhnya mulai beranjak dewasa.


"Mercy Can." Ucap Grace tulus, dia beruntung Hecan peduli padanya.

__ADS_1


"Ada masalah? " Liam yang sejak tadi menunggu di teras depan kembali lagi saat menyadari Grace masih menelpon di dekat mobil.


"Hecan, dia mencariku." Jawab Grace singkat.


"Apa kalian dekat?" Liam menyelidik ingin tahu.


"ofcourse no. Dia supir, pengawal sekaligus pelatih ku, aku dia dan saudarinya kami tinggal bersama di sebuah apartemen tak jauh dari pusat kebugaran.


" Apa dia memang diutus tuan Rodrigo?" Sepertinya Liam tahu alasan Grace tinggal ramai-ramai dengan mereka. Mengontrol kehidupan harta tak ternilai milik pengusaha berlian itu. Grace mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita masuk. " Liam meraih tangan Grace lalu menggenggamnya menuntun ke dalam rumah istana miliknya.


Liam mengantar Grace ke kamar tamu yang sengaja ia siapkan bila sewaktu waktu dirinya akan berkunjung. Ternyata karakter Liam banyak berubah dimata Grace. Dia lebih tenang, murah senyum, bahkan di layani banyak orang di rumahnya. Bukan daun muda tentunya, Liam sengaja memilih bibi bibi yang usianya di atas empat puluh.


“Grace aku ada pekerjaan sedikit di bawah, kalau kau butuh sesuatu panggil saja nanny lewat telpon. Cukup tekan angka satu.” Liam menjelaskan setelah keduanya sudah berada di dalam dimana kamar mereka berdampingan.


“Jangan terlalu lama mengabaikan kehadiranku Liam.” Perintah Grace cukup kesal saat dirinya harus di kalahkan oleh pekerjaan. “I see.” Katanya pasti.


Grace berjalan mendekati lemari pakaian, entah kenapa perasaannya begitu menggelitik penasaran. Sudah terbuka kedua pintu kecil di pegangannya, senyum simpul Grace melihat beberapa koleksi pakaian yang pernah Grace pamerkan waktu penampilan pertamanya dulu.


"Apa dia sengaja menyiapkan semua ini untuk ku? " Pikir Grace merasa dirinya amat berarti untuk Liam.


Di apartemen milik Grace, kedua orang menunduk layaknya pendosa bersiap menerima hukuman. Algojo berdiri melipat kedua tangannya di dada plus tatapan tajamnya.


"We are so sorry sir, Grace benar-benar tidak memberitahu kami dia pergi kemana." Sia kembali berucap berbau kebohongan pada kalimatnya barusan. Hecan masih diam membisu, dia ingin berkata jujur namun saudarinya melarang karena sejak tadi dia yang menjawab semua pertanyaan tuannya.


"Hecan? " Dan akhirnya tuan Rodrigo ingin mendengar pengakuan anak dari tangan kanannya di galeri.


"Sorry Grace,,, " Permintaan maaf Hecan tujukan untuk Grace melalui bisikan hati. "Dia pergi dengan seorang pria, tapi aku tidak tahu dia siapa. Yang pasti pria itu pemilik brand olah raga baru bernama LG sporty." Dia mendelik kearah Hecan tak percaya pria itu mulutnya sangat ember. Tuan Rodrigo menghela nafas pelan, bukan Liam masalahnya melainkan pada diri Grace sendiri. Ayahnya mencium bau-bau kenakalan putrinya. Bisa saja Grace menolak ajakan pria kalau memang dia tak ingin. Kenyataannya mereka kembali bersama.


"ayo kita pergi." ajak tuan Rodrigo pada ajudan sekaligus bodyguardnya. jelas tuan itu masih membutuhkan pengawalan ekstra agar terhindar dari bahaya tak terduga.


selepas menghilangnya kedua sosok menakutkan, tinggal Hecan yang ketakutan menerima amukan dari Sia.


"aku bekerja untuk tuan Rodrigo, jelas aku harus berkata jujur." sebelum Sia berucap Hecan sudah melayangkan pembelaan berdasar. Sia tak menampik hal itu, tapi ia khawatir bagaimana nasib Grace kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2