
Di kafe tak jauh dari penginapan Alya menikmati makan malamnya. Wahyu Steak dengan mushroom sauce, di lengkapi tumis sayur dan mashed potato. Ketika ingin meminum infus water menyegarkan, ponsel Alya berdering. Seseorang memanggilnya.
"Halo Theo, aku baru saja makan malam. Maaf tidak menunggumu, aku sangat lapar tadi." Seharusnya Alya tidak bersikap egois pada Theo.
"Tidak masalah, aku sudah disini. " Saking fokusnya menikmati makanan, Alya tidak sadar jika Theo sudah berada di dalam cafe.
"Kau mau aku pesankan? " Tawar Alya, dia baru selesai menikmati potongan terkahir daging premium itu.
"Biar aku saja." Sebleum pergi ke kasir Theo menyempatkan menyeka sudut bibir Alya, di sana terdapat sisa saus jamur pelengkap steak.
"Ah, thanks. " Ucap Alya kikuk, Theo malah mengecup ibu jarinya kemudian berlalu.
Dan adegan romantis itu di potret seseorang, sama seperti lima tahun yang lalu. Kedekatan Theo dan Alya semakin terasa nyata, membuat seseorang tidak Terima akan hal itu.
Malam semakin larut, Theo mengajak Alya langsung pulang ke penginapan. Mereka berhenti di depan pintu masing-masing.
"Ini, untukmu Al. " Memberi Alya paperbag, Theo tadi pergi hanya untuk mencari barang tersebut.
"Dream catcher? " Alya menunduk melihat isi di dalamnya.
"Aku dengar jika kau menggantungnya, itu akan menyaring mimpi buruk. Semoga kau berhenti mengalaminya. " Theo mengusap rambut Alya sebelum masuk ke kamarnya.
"Kenapa kau selalu baik padaku Theo, aku semakin tidak bisa mengabaikan mu." Lirih Alya. Perasaan yang seharusnya berkembang menjadi suka atau sayang, Alya malah mengasihani Theo.
Berulang kali Alya mencoba tidur, matanya malah meminta terjaga. Sudah miring ke kanan, ke kiri, tidur terlentang bahkan tengkurap sudah ia coba. Alya memang kesulitan mendapatkan tidur yang berkualitas. Jika tengah malam mimpi buruk menyerangnya, hingga pagi Alya tidak akan bisa tidur kembali.
Kalaupun bisa dengan mudah tertidur, ia akan bergadang dalam waktu yang cukup panjang seperti sekarang.
"Baby, maafkan mommy." Kembali mengingat kehilangan yang ia alami, Alya terisak pelan. Rasa sakit seakan bertambah ketika Christian pergi meninggalkannya dengan kebencian.
Lambat laun, Alya bisa tertidur tanpa bantuan obat yang selalu ia konsumsi sesuai resep dokter.
***
Pagi harinya, para tamu penginapan berkumpul untuk santap sarapan. Alya sudah segar dengan penampilan gothic nya. Celana cargo dengan kaos krop oversize, tidak lupa mengenakan sepatu Caterpillar. Semua serba warna hitam, hanya bibirnya saja ia poles dengan merah tomat.
"Good morning everyone, did you have a good sleep? " Pengurus penginapan menyambut tamu yang datang satu persatu ke meja makan.
"Ah nona Shamare, sepertinya kau mengalami mimpi buruk semalam. Suaramu sedikit terdengar ke kamarku." Tetangga Alya yang berada di sebelahnya menyapa dengan sebuah komplen.
"Maafkan aku tuan, aku harap kau bisa memaklumi. " Alya sedikit menundukkan kepalanya tak enak hati. Pria itu hanya mengangguk pelan, dia yakin Alya memiliki masalah tidur.
"Jadi tidak berhasil ya? " Bisik Theo, mereka duduk berdampingan menunggu giliran mendapat piring.
"Sedikit membantu, mungkin aku harus membiasakan diri. " Alya tersenyum getir meratapi nasibnya.
"Mungkin akan sembuh saatnya tiba." Theo menepuk pelan pundak Alya.
Hari itu sebelum menghadiri acara penghargaan, Alya memiliki jadwal kunjungan ke salah satu media sosial kenamaan. Sementara Theo berencana menemui kakaknya di tempat kerja.
Alya tidak tahu alamat yang ia tuju akan membawanya ke tempat yang dulu sering ia datangi. Beberapa tahun ternyata semua sudah mengalami perubahan. Selain gedung seni di sana juga menjadi pusat perkantoran yang di sewakan.
"Oh God,,, apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya, Alya baru saja keluar dari taksi yang ia pesan lewat aplikasi online.
Alya berjalan dengan ragu, dia bingung harus bertanya pada siapa. Sialnya seseorang yang ia kenali baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Nona Alya, sudah lama sekali. " Sapanya terdengar santai dan hangat, namun Alya hanya bisa tersenyum tipis menanggapi.
"Apa kabar tuan Daniel? " Tanyanya berbasa-basi.
"Aku baik, tapi temanku tidak." Jawab Daniel ambigu, membuat Alya mengernyitkan dahinya halus.
"Apa anda sedang ada pekerjaan? " Lanjut Daniel. Alya mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Aku harus menemui pimpinan the Link, aku tidak tahu ruangannya di sebelah mana." Tidak, Alya hanya membenci satu orang. Daniel sama sekali bukan bagian yang ingin Alya hindari.
"Kalau begitu mari biar ku antar, kebetulan aku juga harus menemui seseorang di sana." Ajak Daniel, dia berjalan terlebih dahulu menuntun Alya.
Mereka menuju bangunan baru yang berada di sebelah gedung seni. Daniel mempersilahkan Alya masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai tiga. Dimana perusahaan the Link yang mengundang Alya bernaung.
Tidak ada waktu mengobrol karena lift sudah tiba di lantai yang mereka tuju.
"Selamat datang nona Shamare." Sapa pemimpin The Link, pengusaha tampan yang sebaya dengan Daniel maupun Christian.
"Terima kasih tuan Malvin." Alya membalas jabatan tangan Malvin.
"Apa ada yang menahanmu Niel? " Karena Daniel masih berdiri diantara mereka Malvin terpaksa mengusirnya secara halus.
"Itu,,, " Ucapan Daniel menggantung, membuat Alya merasa gugup tanpa alasan.
"Dia datang untuk menjemput ku." Suara bas terdengar, seorang pria yang rambutnya cukup panjang tidak seperti biasanya dia berjalan keluar dari ruang kerja Malvin.
Deg,
Deg,,
Jantung Alya berdegup lebih kencang dari biasanya. Dia tidak berani mengangkat kepala, menghindari bersitatap dengan pemilik suara yang tak asing itu.
"Ah kau ini Chris, kenapa kalian betah sekali mengganggu ku. Aku sibuk menyambut tamu spesial ku, cepatlah kalian pergi." Malvin terdengar kesar dan menggerutu menyuruh kedua temannya keluar.
"Oho,, jadi kau punya mainan baru Malv? I guess, kau mendapat mangsa yang lumayan." Bisik Christian mencemooh kehadiran Alya.
"Shut the fak up Chris, dia kolegaku dalam bisnis. Maafkan mulut lancang temanku nona Shamare, dia memang membutuhkan banyak obat. Dia menjadi gila karena seseorang."
"Tidak masalah, bisa kita mulai sekarang tuan? Sepertinya anda terlihat sibuk sekali. Jadi aku tidak ingin membuang waktumu." Secepat mungkin Alya ingin menghilang dari hadapan Christian maupun Daniel.
"Mari silahkan, kita ke ruangan ku saja." Akhrinya Malvin mengajak Alya meninggalkan mereka. Alya bisa bernafas lega untuk sesaat. Pertemuan itu tentu tidak bisa ia hindari mengingat Alya memang datang ke tempat Christian.
"Chris, adikmu sudah menunggu di kantor." Info Daniel, memaksa Christian harus kembali ke hotel. Padahal dia masih ingin berlama-lama di sana.
"Kita pergi." Perintah Christian. Meski begitu Christian tetap menyuruh anak buahnya mengawasi Alya tanpa sepengetahuan Daniel. Dia tidak ingin Daniel mengetahui bahwa dirinya masih memperhatikan Alya.
Di perjalanan menuju kantor, Daniel menangkap kegelisahan Christian yang lebih banyak diam setelah bertemu Alya.
Benar, cinta dan benci beda tipis sehingga Christian tidak bisa membedakannya. Selama ini ia menutup rapat pintu hatinya untuk Alya. Sayangnya pertahanan Christian harus runtuh saat takdir kembali mempertemukan keduanya.
"Niel, aku sudah lama tidak bermain-main." Tiba-tiba Christian bersuara, sayangnya itu merupakan sebuah ancaman bagi korban selanjutnya.
"Aku akan mencarikan nya untukmu, kau mau berapa wanita? " Melirik Christian lewat kaca Daniel melihat matanya di selimuti kabut hasrat tertahan.
"Tidak perlu, aku sudah mendapatkan targetku." Jawab Christian sesantai mungkin. Daniel tidak boleh sampai tahu niat jahatnya atau dia akan melarangnya.
__ADS_1
"Hai kak,,, " Theo memeluk Christian sebagai bentuk rasa rindunya selama mereka tidak berjumpa. Christian tak ingin membalas pelukan itu, dia hanya berdehem menyambut Theo.
"Kau sudah lama di sini? " Tanya Christian berbasa-basi. Mereka duduk di lounge tak jauh dari lobby hotel. Sementara Daniel memesankan mereka minuman.
"Cukup lama, ku pikir kau sangat sibuk jadi aku akan mengerti." Theo menanggapi dengan santai.
"Kau datang sendiri ke London? " Sebenarnya Christian sudah tahu, dia sengaja memancing Theo.
"Selain kunjungan kerja, aku akan berlibur dengan kekasihku. Aku berniat memperkenalkan kalian malam nanti." Jawaban Theo menyulut api yang sudah lama padam di hati Christian. Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya.
"Kau masih memiliki perasaan itu Christian." Batin Theo tersenyum miring melihat reaksi kakaknya.
"Benarkah? Aku sangat penasaran ingin segera mengetahuinya." Balas Christian tak ingin terdengar kalah dari Theo.
"Sure." Gumam Theo.
Mereka bertiga menikmati kopi bersama sambil membicarakan bisnis. Bertukar ide untuk memajukan perusahaan keluarga.
Alya sendiri baru selesai mengadakan pertemuan dengan Malvin. Dia berencana melakukan kerja sama dengan perusahaan nya. Sebelum pergi, Alya ingin berkeliling di gedung seni yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Berjalan-jalan menyusuri setiap sudut yang di penuhi banyak hasil karya anak-anak berprestasi. Gedung itu semakin ramai, banyak yang tertarik untuk datang sekedar menikmati makanan dan minuman di cafe, membaca buku, atau para ibu-ibu sosialita yang sengaja datang untuk menikmati maha karya para pelukis terkenal.
"Wah lihat, dia wanita dalam lukisan itu."
"Aslinya lebih cantik. "
"Beruntung sekali dia, "
"Pasti pimpinan galeri sangat memuja dia."
Alya malah mendengar mereka membicarakan dirinya. Ia bingung apa sebenarnya yang sedang terjadi. Di dorong rasa penasaran, Alya naik ke atas dimana galeri berada.
Menaiki tangga menuju lantai atas, Alya langsung terperangah melihat lukisan dirinya terpampang nyata. Bukankah Christian tidak menginginkan wajah Alya di nikmati orang banyak?
"Sialan Christian. Dia menjual wajahku." Tak Terima, Alya mengumpat kelakuan Christian. Entah sejak kapan dia melakukan hal itu. Mungkin rasa bencinya pada Alya membuat Christian tidak memperdulikan lagi harga diri Alya.
Pergi meninggalkan gedung Alya berniat kembali ke penginapan. Namun betapa terkejutnya ketika Theo sudah menunggu di depan.
"Theo,,, " Pasti Theo akan salah paham karena Alya berada di tempat Christian.
"Malvin memberitahu ku kau mampir ke dalam, ayo kita harus ke butik untuk memilih pakaian." Tangan Theo terulur meminta Alya menggenggamnya.
"Baiklah." Kali ini Alya memberanikan diri membalas genggaman Theo. Sejak memutuskan untuk pergi bersama, Alya mulai membuka hati untuk Theo.
"Jadi kau berteman dengan tuan Malvin?" Tanya Alya saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Theo menjalankan mesin meninggalkan komplek OCompany.
"Teman dari teman." Jawab Theo mengelus ujung kepala Alya. Perhatian pria di sebelahnya membuat Alya selalu salah tingkah. Dia takut semakin mengecewakan Theo nantinya.
"Theo, Terima kasih." Ucap Alya tiba-tiba.
"Untuk? " Theo menautkan kedua alisnya bingung.
"Karena kau selalu ada untuk ku, memberiku kekuatan selama ini. Dan juga maafkan aku terlalu lama membuatmu menunggu." Alya menunduk, merem as kedua tangannya bersamaan.
"Alya,,, " Panggil Theo, dia menggenggam tangan Alya. Melirik sebentar ke sebelah sebelum kembali fokus ke depan. "Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak akan memaksa. Kita jalani saja secara perlahan ok? " Selalu sabar, dan itu membuat Alya kagum pada Theo. Alya mengangguk seraya tersenyum simpul.
__ADS_1
Mobil pun berhenti di depan sebuah butik kenamaan di pusat kota. Theo mengajak Alya mempersiapkan diri untuk datang ke acara penghargaan sesaat lagi.