
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari hari di lalui dengan penuh perjuangan. Berjuang menyembuhkan luka di hati, di samping harus menjalani kehidupan dalam kesendirian. Grace mulai kesusahan berjalan dengan keadaan perut besarnya. Jack selalu setia mendampingi Grace, mulai dari mengantarnya memeriksa kandungan, berbelanja buah dan sayur untuk nutrisi bayinya, hingga membelikan pakaian bayi. Grace sangat berterima kasih Jack sudah merelakan waktu dan tenaganya untuk menjaga calon anaknya.
Bibi Pat dan Alya membantu melipat pakaian bayi yang baru kering di jemur. Grace masih duduk menikmati salad sayur dengan mangkuk besar.
"berita eksklusif, seorang pengusaha sukses yang kini memimpin hotel nomer satu di Paris resmi bertunangan dengan seorang dokter cantik. Akhirnya Liam Arthur memilih Veronica sebagai calon istrinya. Rencana pernikahan mereka sudah tersusun rapi. Sekian berita dari dunia bisnis." Suara televisi menghentikan acara ngemil ibu hamil yang duduk di kursi goyang.
Hatinya bagai tertusuk ribuan jarum, perih tak tertahan. Susah payah Grace melupakan Liam kini ia malah mendengar kabar menyedihkan.
"Kak, sudah ku bilang jangan menonton televisi saat Grace di sini." Jack buru buru mematikan Televisi melihat ekspresi sedih Grace. Ia baru saja tiba dari klinik dan sedikit mendengar berita mengenai Liam di luar rumah.
"Tadi kami hanya menonton telenovela Jack. Entah kenapa berita malah muncul." Bibi Pat bingung kenapa Jack datang dan langsung memarahinya.
"Alya cepat kerjakan PR sekolahmu." Perintah Jack pada Alya yang kini mengerucutkan bibirnya, ia terpaksa menuruti pergi ke kamar.
"Jack aku bosan di kamar terus, kau tidak perlu marah pada bibi Pat." Grace meletakan mangkuk kaca di meja sebelahnya. Saat ingin bangun Jack sigap membantu menahan lengannya.
"Kau butuh sesuatu? " Sejak tadi Jack menyelidik wajah Grace, takut wanita itu stres mendengar kabar pertunangan ayah dari anaknya. Karena mereka sudah sangat dekat Grace tak sungkan menceritakan kehidupan pribadinya pada Jack. Termasuk soal Liam.
"Aku ingin jalan jalan sebentar di luar." Grace meninggalkan Jack dan bibi Pat, ia hanya ingin pergi sendiri saja tanpa di dampingi Jack.
"Kak, pria yang di berita itu merupakan ayah dari anak yang di kandung Grace. Sekarang dia pasti sangat sedih dan kecewa." Setelah memastikan Grace benar-benar keluar Jack menjelaskannya pada bibi Pat.
"Oh God, aku tidak tahu Jack. Aku merasa bersalah sekali, cepat kau ikuti nona Grace. Aku khawatir." Bibi Pat menyuruh Jack segera mengikuti kemanapun Grace pergi, apa lagi persalinan nya tinggal menghitung hari.
Sebentar lagi musim salju tiba, hawa dingin mulai menusuk lewat pori-pori kulit. Grace hanya mengenakan sandal jepit dengan celana khusus ibu hamil. Baju rajut mampu memberinya kehangatan. Ia memang di anjurkan untuk sering berjalan kaki agar proses melahirkan lancar.
"Kau mau kemana? " Teriak Jack dari arah belakang menghentikan langkah berat Grace.
"Aku ingin beli donat di kedai nyonya Elsa." Jack terkekeh geli melihat selera makan Grace, padahal sejak tadi wanita chubby itu tak berhenti menikmati cemilan apapun. Bibi Pat bahkan kewalahan menyiapkannya. "Aku akan menemanimu, aku takut kau melahirkan di jalanan sepi." Ucap Jack menggoda Grace, bibir itu mencibir ledekan pria yang makin hari makin gagah dan tampan. Grace sering mendapat tatapan tajam dari para gadis desa karena terlalu dekat dengan Jack.
"Kau dengar Dy? Pamanmu selalu mengejekku gendut, aku Terima. Tapi saat kau sudah besar kau harus menghajarnya untuk mommy." Tangan Grace mengusap lembut perut besarnya. Mereka memang sudah mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan Grace. Dan Grace sudah menyiapkan nama jauh jauh hari.
"Haha, dia akan menjadi muridku dan tidak akan berani melawan ku Grace." Tawa Jack menyelimuti hawa dingin jalanan.
"Aw,,, " Grace meringis menggenggam lengan Jack.
__ADS_1
"Kenapa, kau mau melahirkan? " Jack refleks merangkul pundak Grace sambil mengusap perutnya.
"Dia menendang Jack, seperti nya sudah tak sabar ingin menghajar mu." Grace terbahak-bahak mengerjai Jack yang sudah khawatir.
"Kau ini,,, " Jack mencubit kedua pipi Grace gemas.
,,,,,,,
Raut kecewa mendominasi wajah pria paruh baya, dia bersandar di kursi menatap halaman luas rumahnya. Berita pagi ini semoga tidak sampai ke telinga putri kesayangannya. Tuan Rodrigo memutuskan untuk pergi ke kota Piana. Sudah selama itu dia belum mengunjungi Grace, rasa kecewanya karena Grace mengandung anak dari Liam selalu mengalahkan kerinduannya. Bahkan dia tega membohongi Liam kalau calon anaknya sudah tiada. Awalnya Grace sedih dengan keputusan ayahnya, namun setelah di pertimbangkan Grace memang setuju karena ia ingin menjauh dari Liam.
Perjodohan Ethan dan Grace masih belum putus, pria baik itu bersedia menunggu Grace sampai siap membuka hatinya lagi. Salut, tuan Rodrigo memuji ketegasan Ethan. Tapi ia lebih memilih mengutamakan kebahagiaan Grace. Jika Grace memang menolak maka ia akan berhenti menjodohkannya.
Saat tuan Rodrigo tiba di rumah, Grace saat itu sedang berjalan jalan dengan Alya. Mereka mengunjungi toko kain tak jauh dari rumah. Bibi Pat memeluk hangat Tuan Rodrigo menyambut kedatangannya. Mereka duduk di sofa melepas rindu. Sementara Jack harus keluar kota untuk membeli peralatan medis kliniknya.
"Minumlah dulu." Bibi Pat menyodorkan secangkir teh hangat untuk Tuan Rodrigo. "Terima kasih Pat." Meneguk sedikit sebelum lanjut berbincang.
"Grace dan Alya semakin akrab, aku sedikit takut jika Grace mengetahui kebenarannya." Bibi Pat memang sering membahas masalah itu lewat telpon. Tuan Rodrigo menyentuh pipi putih Patricia yang mulai berkeriput.
"Suatu saat nanti Grace harus tahu kalau Alya adalah adiknya. Biar aku yang bertanggung jawab jika sesuatu terjadi antara kalian." Tuan Rodrigo mencoba menenangkan Patricia.
Tanpa mereka sadari, Grace sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi. Alya menatap Grace bingung mendengar kenyataan yang mereka ucapkan. Grace merasakan sakit pada perutnya, tangannya mencari pegangan pada dinding rumah. Wajahnya mulai dibasahi keringat. Begitupun kakinya di basahi cairan bening.
"Nona,,, " Lirih Alya terkejut melihat kondisi Grace, kakak satu ayahnya.
"Al, tolong panggilkan bibi Pat." Suara Grace pelan karena harus menahan kesakitan. Ia tidak boleh panik, demi kelancaran persalinan Grace harus kuat. Sembilan bulan Grace menjaga bayinya dengan baik, ia tak sabar menanti kehadirannya.
"Mom,,, " Alya masuk ke dalam berteriak panik membuat Rodrigo dan Patricia bangkit secepat mungkin menghampiri pintu rumah.
"Grace,,, " Tuan Rodrigo membantu menopang tubuh Grace.
"Tuan, Grace akan segera melahirkan." Bibi Pat malah pergi ke dalam entah melakukan apa, Rodrigo memilih menuntun Grace menuju mobilnya dibantu Alya. Untung saja ia memerintahkan supir untuk tetap tinggal. Bibi Pat kembali dengan membawa tas berukuran besar.
"Al, kau harus menjaga rumah. Pergilah ke rumah sakit bersama pamanmu saat ia tiba nanti." Sebelum menyusul masuk ke mobil bibi Pat memerintahkan Alya tetap tinggal. "Mom, aku takut nona Grace membenciku." Alya menangis ketakutan entah karena fakta mereka atau keadaan Grace.
"Apa maksudmu Al? " Tanya Bibi Pat bingung di tengah kepanikan.
__ADS_1
" Kami mendengar semuanya tadi, karena itu juga nona Grace menjadi sakit. " Keterkejutan jelas di rasakan Bibi Pat, ia mengusap rambut Alya anaknya.
"Al, kakakmu sakit karena akan mengeluarkan keponakanmu. Berdoa semoga mereka baik baik saja." Alya mengangguk patuh, dia memang anak yang penurut.
"Jalan pak, ke klinik di pusat kota. " Bibi Pat akan menjadi penunjuk arah sementara tuan Rodrigo fokus memberi kekuatan untuk anaknya.
"Dadd, sakit sekali... " Grace memejamkan matanya berharap rasa sakit di tubuhnya berkurang. Cengkraman nya pada lengan tuan Rodrigo semakin kuat.
"Kau harus kuat Grace, demi Dy anakmu juga demi daddy." Tuan Rodrigo mengecup puncak kepala Grace, ia sangat takut kehilangan harta paling berharganya.
Sakitnya bertubi-tubi, Grace mengingat berita pertunangan Liam dan Veronica juga kenyataan kalau ayahnya sudah memiliki keluarga baru tanpa memberitahu dirinya. Kecewa jelas, hanya saja ia perlu fokus melahirkan anak yang ia nanti. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di klinik milik Jack. Untungnya dokter Abigail cepat datang setelah bibi Pat mengabarinya.
"Grace tarik nafas, jangan biarkan rasa sakit mengalahkan mu. Aku harus memeriksa tingkat pembukaan nya. " Abigail ikut membantu memapah Grace. Mereka sudah menjadi teman baik berkat Jack. Yang Grace tahu Abigail sangat menyukai Jack, entah kenapa pria itu enggan menerima ungkapan cintanya.
"Ini sudah sempurna, kau hanya perlu mengejanya beberapa kali maka akan selesai." Saat tangan Abigail memasuki area inti Grace seketika Grace merasa semakin sakit.
"Dadd, pergilah! Aku ingin di temani bibi Pat." Tuan Rodrigo mengangguk cepat menuruti keinginan Grace. Setelah keluar lalu bibi Pat mendampinginya menggenggam tangan Grace.
"Tarik nafas, lalu keluarkan Grace,,, " Grace mengikuti instruksi Abigail dengan baik, tak lama suara teriakan bersahutan dengan tangis bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Grace menitikan air mata bahagia sudah berhasil melahirkan baby Dy.
"Selamat Grace, bayimu sehat dan sangat lucu." Abigail membersihkan sebentar baby Dy lalu menaruhnya di atas dada Grace untuk melakukan skin to skin.
"Oh God, Terima kasih." Grace memeluk dan mengecup kepala Baby Dy.
"Selamat nona, kau sudah menjadi seorang ibu." Bibi Pat ikut menangis haru menyambut kelahiran cucunya.
"Say Hi to Grand Ma, Dylan... " Kata kata Grace begitu menghangatkan hati bibi Pat yang di landa kepanikan. Naluri nya menuntun bibi Pat mengecup kening Grace sayang.
"Grace, anakku. " Lirih bibi Pat, ia tak menyangka Grace akan menerimanya dengan baik.
"Nama yang bagus nona, Dylan berarti lautan yang luas." Kata bibi Pat mengamati wajah tampan bayi mungil.
"Lim Dylan, aku sangat menyukai nama itu bi." Tak hentinya Grace menggenggam jemari kecil putranya. Tuan Rodrigo menangis haru melihat kebahagiaan tersirat di wajah lelah Grace.
"Maafkan daddy Grace, kalian harus menderita karena keputusan ku." Nasi sudah menjadi bubur, Tuan Rodrigo berjanji tidak akan ikut campur atau melarang Grace dekat dengan siapapun lagi. Demi kebahagiaan Grace tuan Rodrigo ingin menurunkan egonya.
__ADS_1