
Mendapat penanganan intensif, Grace masih terbaring lemah di ranjang pasien. Tuan Rodrigo meminta anak buahnya berjaga di depan kamar untuk menghalangi Liam masuk. Sementara tuan Rodrigo di minta menemui dokter di ruangannya untuk menyampaikan kondisi Grace.
"Usianya kira kira delapan minggu. Sangat lemah dan bisa saja membahayakan nyawa sang ibu jika kembali mengalami pendarahan. Kami harus melakukan tindakan atas persetujuan wali pasien. Mengangkat janinnya atau memberi obat penguat kandungan. " Dunia tuan Rodrigo seakan runtuh menimpa dirinya. Harusnya sebuah kebahagiaan mendengar kabar tentang kehamilan anaknya. Tuan Rodrigo malah di hadapkan dengan pilihan yang sulit. Grace pasti memiliki alasan kenapa ia tidak memberitahu siapapun soal kehamilannya. Ya, Grace ingin memiliki sebagian diri Liam.
,,,,,,,
Selepas mendapatkan tindakan, Grace akhirnya sadarkan diri. Tuan Rodrigo di temani Hecan dan Sia selalu menunggu dan menjaganya.
"Grace, syukurlah kau sudah siuman. Kami sangat khawatir." Hecan dan Sia duduk di kedua sisi ranjang tersenyum hangat menatap Grace.
"Dadd, the baby,,, " Mata Grace tertuju pada tuan Rodrigo yang sedang duduk di sofa menanyakan keadaan bayinya. Sia terpaku tak menyangka jika Grace ternyata sedang hamil. Hecan sendiri sudah bisa menebak dari tanda tanda yang Grace tunjukan.
Belum sempat menjawab terdengar suara ribut dari luar. Sepertinya seseorang memaksa masuk menerobos penjagaan. Grace tahu Liam pasti sangat mengkhawatirkan dirinya, tapi ia sudah mati rasa tak ingin bertemu dengannya lagi. Tuan Rodrigo bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Grace.
"Istirahat lah Grace, biar daddy yang bicara pada Liam. Hecan dan Sia tolong siapkan segala sesuatunya." Tangan tuan Rodrigo mengusap ujung kepala Grace memintanya tidak perlu memikirkan hal lain selain kesehatannya.
"Ada apa Sia ? Hecan tolong jelaskan padaku? " Grace mendesak mereka untuk menjelaskan rencana yang akan di lakukan sang ayah.
"Kita akan pindah Grace, maksudku hanya kamu saja. Kami sudah tidak bisa menemanimu lagi, maaf." Hecan terpukul saat tahu tuan Rodrigo akan mengirim Grace menjauh tanpa ada dia dan Sia menjaganya. Mungkin tuan Rodrigo sudah sangat kecewa karena Hecan dan Sia gagal menjaga Grace.
"Aku Terima soal pindah, tapi aku ingin tetap bersama kalian. Kenapa aku harus sendiri lagi? " Air mata Grace akhirnya tumpah, berat membayangkan kehidupan seorang diri tanpa ada seseorang di sampingnya. Grace butuh sandaran dalam kondisi seperti ini.
"Kamipun sangat sedih Grace. Tapi Tuan Rodrigo mengizinkan kami untuk berkunjung sesekali. Kita masih bisa video call Grace." Sia menggenggam tangan Grace, mereka bukan hanya sekedar rekan kerja namun sudah seperti saudara. Kebersamaan kini terputar kembali dalam ingatan, banyak hal di lalui mereka dalam senang maupun susah.
Di luar, Liam yang sengaja datang sendiri malah di seret keluar rumah sakit oleh para pengawal Tuan Rodrigo. Dia hanya bisa pasrah tanpa ingin melawan. Yang paling penting adalah meredakan emosi ayah dari wanita yang sangat ia cintai.
"Tuan, tolong izinkan saya menemui Grace. Dia mengandung anak ku bukan, demi Tuhan aku siap untuk menikahinya tuan." Tuan Rodrigo hanya menatap Liam nanar, coba saja ucapan itu dia dengar sejak dulu mungkin Grace tidak akan menderita seperti ini.
__ADS_1
"Terlambat Liam, kau sudah kehilangan calon anakmu." Kata kata Tuan Rodrigo bagai sebuah pedang menghunus jantungnya. Liam menggeleng tak percaya atas apa yang ia dengar. Dia baru saja mengetahui kalau Grace hamil anaknya, kenapa secepat itu Tuhan mengambilnya. "Tidak mungkin, anda bohong tuan. " Liam berlari kembali ke dalam namun sekelompok pengawal tuan Rodrigo menahan lalu memukulinya hingga tak sadarkan diri.
"Ingat, jangan pernah biarkan dia masuk atau menemui putriku lagi." Titah Tuan Rodrigo penuh ancaman. Para pengawal mengangguk patuh menerima perintah.
,
,
,
,
,
Tuan Rodrigo memegang ucapannya, kini Grace dalam perjalanan menuju tempat tinggal barunya. Perlu waktu satu minggu untuk memulihkan keadaan Grace, perjalanan memang cukup panjang yaitu sekitar empat jam dari kota Paris. Grace sangat lelah karena harus naik kereta dua kali dan terakhir naik pesawat untuk sampai di kota terpencil Piana.
Perasaan menyesal mendera hati Tuan Rodrigo, ini demi kebaikan putrinya juga merupakan sebuah pelajaran untuk Liam. Kau akan tahu seberapa berarti seseorang setelah di tinggalkan olehnya.
Tuan Arthur Louis kini memberanikan diri bertemu dengan Tuan Rodrigo dalam keadaan kepala dingin. Bukan untuk memohon mempertemukan Liam dan Grace, melainkan meminta maaf atas kesalahan putranya.
"Aku memang gagal memberi contoh pada Liam sebagai seorang laki-laki. Pernikahan ku yang gagal bersama ibunya menjadi momok menakutkan bagi Liam. Tolong maafkan Liam. Aku berjanji dia tidak akan mengganggu Grace lagi." Karena hubungan kedua anaknya mereka juga merenggang sebagai seorang sahabat. Tuan Arthur pamit dari cafe sekitar rumah Tuan Rodrigo. Dirinya harus kembali ke rumah sakit menengok keadaan Liam.
"Maafkan aku Liam, seharusnya aku memberitahu mu lebih cepat. Grace mendengar semua percakapan kita saat di klinik." Ve setia mendampingi Liam saat dia di rawat di rumah sakit.
"Ini semua salahku, kau tidak perlu merasa bersalah Ve. Aku akan tetap menemukan Grace walau ke ujung dunia sekalipun." Tak lama tuan Arthur tiba di ruang rawat inap Liam. Veronica tersenyum ramah menyapanya.
"Terima kasih Ve, sudah mau menjaga Liam. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, biar uncle yang menemani Liam." Tuan Arthur mengusap kepala Veronica merasa terharu akan ketulusan mantan kekasih Liam itu. "Kalau begitu aku pulang, get well soon Liam." Akhirnya Veronica pamit pulang setelah ada tuan Arthur yang menjaga Liam.
__ADS_1
Tuan Arthur duduk di kursi bekas Veronica. Di tatap nya wajah penuh lebam anaknya. Menghela nafas mempersiapkan apa saja yang perlu Liam dengar.
"Ada laporan dari petugas imigrasi bandara, tercatat Grace naik pesawat ke Istanbul." Liam tersenyum sinis mendengar kepergian Grace dari ayahnya.
"Tuan Rodrigo tidak akan gegabah mengirim Grace kesana, itu hanya sebuah pengalihan dadd." Terang Liam membeberkan ketegasan seorang Tuan Rodrigo. Bukan tuan Arthur tak tahu, dia hanya bingung harus membahas dari mana. "Aku sudah berjanji di hadapan tuan Rodrigo bahwa kau tidak akan pernah mencari bahkan menemui Grace lagi." Pengakuan tuan Rodrigo jelas membuat Liam emosi. Dirinya baru akan berjuang tapi sudah di patahkan oleh ayahnya sendiri.
"Ini hidupku Dadd, aku yang berhak memutuskan." Dada Liam naik turun menahan emosi, demi apapun dia mencoba untuk bersabar menghadapi ayahnya. "Hentikan Liam, kau hanya terobsesi pada Grace. Kalau kau memang mencintainya harusnya kau menikahinya." Liam menggeleng cepat membantah tuduhan orang-orang yang menganggap dirinya mempermainkan Grace.
"Kalian menekan ku untuk menikahinya segera. Aku pun mau dadd, siapa yang tidak ingin menjadi pendamping Grace. Aku hanya belum siap, aku takut akan menyakiti Grace dan berujung berpisah dengannya." Untuk pertama kalinya dalam kehidupan mereka, tuan Arthur melihat Liam begitu putus asa. Bahkan saat perpisahan orang tuanya Liam seakan acuh.
"Maafkan daddy, ini semua pasti karena rasa trauma mu menerima perpisahan kami." Tuan Arthur bangkit dari duduknya lalu merangkul pundak Liam untuk memberi ketenangan.
"Aku mencintai Grace dadd, sangat. Aku menyesal." Lirih Liam menahan tangisnya. Sebagai laki-laki dia tidak boleh lemah dan harus tetap kuat, agar Grace bisa mengandalkan nya.
akhirnya Grace tiba sebelum matahari terbenam. Tuan Rodrigo menyiapkan sebuah rumah sederhana tak jauh dari bibir pantai. pemandangan sunset akan selalu menghiasi hari harinya hingga entah kapan Grace pun tidak tahu. yang terpenting sekarang ia perlu menenangkan diri, mengistirahatkan jiwa dan raganya.
"selamat datang nona,,, " gadis kecil berusia sekitar tiga belas membukakan pintu menyambut kedatangan Grace. meski tanpa tuan Rodrigo namun Grace sangat di bantu eh orang-orang suruhannya. seperti sekarang, sepertinya Grace tidak akan tinggal sendirian. "hay,,, siapa namamu lil girl? " Grace tersenyum melihat gadis kecil berambut keriting berwarna gelap di ambang pintu. "namaku Alya, aku anak dari nyonya Patricia penjaga rumah. mari ku bantu membawakan barangmu. Kata tuan besar nona tidak boleh terlalu lelah." keceriaan Alya membuat Grace menyukainya, mereka akan akrab dengan cepat tentunya.
sementara di dapur yang menyatu dengan ruang keluarga Bibi Patricia baru menyelesaikan masakannya. tepat waktu nona muda bisa langsung makan malam pikirnya.
"Nona, selamat datang. panggil saja aku bibi Pat. kami akan menemani nona selama nona di sini. selain itu ada adikku juga yang akan membantu pekerjaan rumah." Bibi Patricia dengan celemek nya mendekati Grace menyapa.
"senang berkenalan dengan kalian. aku ingin istirahat sebentar sebelum makan malam." pinta Grace memberi isyarat untuk segera ke kamarnya.
"Alya, antarkan nona ke kamarnya." Alya mengangguk semangat meraih tangan Grace menuju kamar di ujung koridor. di lantai satu terdiri dari satu kamar utama yang akan di tempati Grace, dan kamar Alya di depannya. untuk lantai atas di pakai bibi Pat dan adiknya. mereka memang sudah menempati rumah itu sejak Alya lahir. Tuan Rodrigo sengaja menitipkan Grace di sana dengan suatu alasan.
"paman Jack akan pulang dari pasar, kau pasti akan kaget saat bertemu dengannya. beristirahat lah nona, kami akan menunggu di meja makan setelah paman tiba." Alya berucap sebelum dirinya menutup pintu kamar Grace. Grace tersenyum merasa akan nyaman selama tinggal di sini.
__ADS_1