My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
My Lovely PA season 2 ( private Artist )


__ADS_3

Alya POV


Aku mengingatnya. Dia pria yang sama saat kami berebut antrian kopi di cafe depan rumah sakit. Dia yang memakai seragam pasien tapi bebas berjalan-jalan keluar.


Perasaan benci ku semakin besar kala dia merenggut sesuatu yang seharusnya aku beri untuk seseorang istimewa.


"Alya, sejak tadi kau melamun. " Suara Theo menyadarkan ku. Kami sedang menikmati kopi di kedai tak jauh dari sekolah.


"Ah tidak, aku sedang memikirkan kepergian Ethan. Apa kau mau menemani ku untuk mengucapkan bela sungkawa?" Ya, hanya Theo teman yang ku miliki. Kami seperti saling membutuhkan satu sama lain, padahal dalam kamusku aku harus berdiri diatas pijakan ku sendiri.


"Tentu, ayo kita berangkat sekarang." Theo bangkit dari duduknya, begitupun aku. Kami keluar dari kedai menuju mobil Theo yang terparkir di sisi jalan.


Perjalanan menempuh waktu sekitar satu jam. Ethan akan di kebumikan tak jauh dari peternakan sapi milik ayahnya. Theo bahkan mengajakku memakai baju berwarna gelap untuk menghormati keluarga yang berduka.


"Al, kau di sini juga? " Kami bertemu dengan Liam, suami kakak ku. Dia pria tangguh sekaligus bodoh yang pernah aku kenal. Kalau dia mencintai Gracia seharusnya sejak pertama mereka memutuskan untuk berbagi ranjang, nikahilah dia. Bukannya terjebak trauma masa lalu perpisahan orang tuanya. Aku selalu ingin mengumpat nya, sayang dia pria yang sangat kakak ku cintai.


"Ya, I'm sorry to hear that. Semoga bibi Coco tabah. " Liam mengangguk kemudian kami memberi setangkai bunga mawar putih di atas peti Ethan.


"Thanks Theo, kau sudah mengantar Alya." Daddy menepuk lengan Theo singkat, Theo tersenyum tak merasa di repotkan olehku.


"Al, pulanglah temani kakak mu dan juga Dylan. Kita bahas soal kuliah mu saat keadaan membaik. " Sepertinya daddy dan mommy akan tinggal lebih lama di sini.


Setelah menikmati jamuan di rumah duka kami memutuskan untuk pulang kembali. Hanya segelas arak saja berhasil membuatku setengah mabuk. Untung saja Theo masih terjaga.


"Al, kau lemah dalam hal ini. Aku takut malah menyakitimu. " Meski mataku terpejam aku masih bisa mendengar ucapan Theo dengan jelas. Akupun sama, khawatir Theo akan menggunakan kelemahanku.


Kring,,,


Ponsel Theo berbunyi nada panggilan. Ia segera merogoh saku celana untuk mengangkatnya. Hari kebetulan sudah menjingga. Ia menepikan mobil takut terjadi kecelakaan lalu lintas ketika teleponan sambil menyetir.


"What's up bro,,, " Mungkin kakaknya yang menghubungi Theo.


"Aku akan terbang sebentar lagi, bisakah kau carikan identitas pelukis itu? Aku sangat ingin mendapatkan karyanya." Terlihat Theo melirik ke arahku, aku penasaran apa yang mereka bicarakan.


"Someday maybe, tidak sekarang Chris. " Tak lama, mereka sudah mengakhiri perbincangan singkat.


"Aku tahu, kau yang melakukannya,,, " Theo bergumam dengan terus menatapku.


"Kau bilang apa Theodor? "

__ADS_1


Tanyaku, dan perlahan aku terbang ke alam mimpi.


Kicau burung beo milik daddy begitu mengganggu. Aku masih mengantuk dan dia terus membangunkanku. Seolah paham aku memang orang yang susah bangun pagi.


"Argh,,, can you stop it? " Teriakku, biasanya aku tidak semarah ini. Hanya saja pembahasan kuliahku jadi tertunda akibat masalah yang terjadi.


"Alya, bangunlah! Bukankah hari ini kau ada ujian? " Mommy menggedor pintu kamar entah ke berapa kalinya. Aku berjalan malas menghampiri, membukakan pintu dan membiarkan mommy masuk.


"Ya Tuhan, kau masih belum bersiap ? Kau akan terlambat Al. " Ayolah, baru pagi ini aku bangun agak siang dan mommy sudah memarahi ku. Aku sudah besar dan seharusnya mommy berhenti menganggapku anak kecil terus.


"Momm, pelan kan suaramu. Aku malu pada Dylan. " Perintahku, mommy hanya menggelengkan kepalanya kesal. Lebih baik aku cepat mandi.


Dylan adalah jelmaan malaikat yang paling aku cintai melebihi siapapun. Sejak dia bayi aku yang sering membantu Gracia menjaganya. Dia sangat menggemaskan, aku berat meninggalkannya suatu saat nanti.


"Auntie Al,,, " Belum sempat pantatku menyentuh kursi, bocah mungil itu sudah berlari menyambut ku.


"Hai Dy, kau sudah sarapan? " Kami berpelukan singkat, mereka tersenyum melihat keakraban ku dan juga Dylan.


"Sudah. tapi tidak ada nanny Sam hari ini." Wajah murung Dylan membuat kami merasa iba dengan apa yang terjadi beberapa hari lalu.


"Hem,,, bukankah masih ada aku di sini? Kau sedang tidak menginginkan ku Dy? " Pura-pura merajuk agar Dylan melupakan kesedihannya adalah senjataku paling ampuh. Terbukti, dia langsung tersenyum menggelengkan kepala.


"Ayo Al, sarapan dulu. Kau hampir terlambat. " Mommy mengingatkan ku lagi soal sekolah.


Alya hanya menikmati dua potong roti yang di olesi selai nanas. Tak lupa secangkir kopi pahit untuk menjaga matanya tetap terbuka. Bel rumah berbunyi, nanny yang bertugas langsung berjalan keluar untuk membukakan pintu.


Tak lama sosok pria yang tak asing mendekat ke arah meja makan.


"Kau rupanya, ayo sarapan bersama." Daddy tersenyum ramah menyambut tamu tak di undang itu.


"Thanks uncle, aku sudah. " Tolak nya sopan, matanya tetap tertuju padaku. Ingin rasanya aku mencongkel keduanya.


"Terima kasih Theo, kau sudah banyak membantu Alya. " Dan pujian itu pasti akan membuat Theo semakin senang. Tapi bagiku tidak masalah selagi dia bisa menyadari batasannya saat bersama ku.


"Sama-sama uncle, aku senang berteman dengan anak uncle. Alya juga selalu menjagaku di sekolah." Ku putar bola mataku jengah mendengar Theo menyanjung ku di hadapan Daddy.


"Dadd, mom, aku dan Theo pergi sekolah dulu. Setelah kelulusan aku akan langsung terbang ke London, aku memberitahu bukan meminta izin. " Tanpa melihat dan menunggu reaksi mereka aku menarik tangan Theo keluar dari rumah.


"Lihatlah kelakuan Alya, aku melihat sifat Grace menurun padanya. " Tuan Rodrigo menghela nafas kasar melihat sifat keras kepala Alya. Nyonya Patricia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.

__ADS_1


"Semakin di kekang Alya akan menentang kita. Bukankah kakaknya Theo ada di London, kita titipkan saja padanya. Semoga Chris bisa menjaganya dengan baik." Saran Patricia mengingat sosok kakak laki-laki Theo waktu di pesta.


"Hah,,, laki-laki seperti dia apa bisa di titipkan tanggung jawab? Datang ke pesta adiknya saja mabuk-mabukan." Selepas kepergian mendadak Alya, pesta ulang tahun Theo sempat memanas akibat kehadiran kakaknya yang selalu membuat onar.


"We never know, mungkin dia hanya sedang dalam masalah." Gumam Patricia meski dengan rasa ragu di hatinya. Setidaknya di sana ada yang di kenal putrinya.


"Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan keluarga Oliver. " Akhirnya Rodrigo menerima saran dari istrinya. Tak lama Grace dan Dylan keluar dari kamar untuk pergi ke sekolah.


"Dadd, kami berangkat dulu. " Kata Grace sambil menggandeng tangan mungil Dylan.


"Hati-hati, biar anak buahku mengawal dari dekat." Perintah ayahnya mutlak tanpa bisa di tolak, padahal pada Alya Rodrigo tidak seketat itu menjaganya. Mungkin karena sudah ada Theo, dan juga Alya bisa jaga diri karena mengikuti latihan fisik.


"See you grand ma, grand pa. " Dylan melambaikan tangan nya pamit pada kakek dan nenek.


Senin sampai jumat sekolah benar-benar serius melaksanakan Ujian akhir. Bagi mereka yang duduk di tingkat senior bisa bernafas lega setelah semua beban hilang. Berganti dengan suka cita menyambut malam prom. Ketika teman-temannya memilih berpesta sebagai tanda keberhasilan, Alya lebih suka menyendiri duduk di bangku pinggir sungai Seine.


"Kenapa hidupku terasa hambar,,, " Lirih nya. Ia mengambil sesuatu di saku jaket denim nya, memandangi sejenak seraya berpikir.


"Come on, you're an adult since today." Alya menyemangati dirinya sendiri lalu membuka dan mengambil sebatang rokok. Menyalakan korek gas, ia pun mulai menghisap nya perlahan.


"Good Girl, tidak ada yang bisa mengaturmu." Alya memang memiliki perbedaan dengan Grace kakaknya.


Jika di hadapan orang-orang ia bersikap manis, menjadi anak penurut dan penyayang. Tapi ketika di luar rumah Alya adalah sosok menakutkan. Dia memiliki tatapan mengintimidasi, dagunya yang selalu terangkat tanpa di sadari, juga irit bicara.


Ting,,,


Satu pesan singkat masuk. Alya segera mengusap layar membukanya.


"Got it. " Pekik Alya kegirangan. Ia baru saja mendapat kiriman uang dari hasil penjualan lukisannya. Ia pun bergegas mematikan sisa rokoknya. Alya mencari minimarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan.


Cukup banyak sehingga Alya harus memegangi tiga karton berisi belanjaan. Para pengunjung lain bahkan memandanginya heran. Di pinggir jalan Alya menyetop taksi yang kosong. Pengemudi membantu Alya memasukkan barang bawaannya kedalam bagasi.


"Kemana nona? " Supir menanyakan alamat tujuan Alya.


"Rumah Kasih Sayang. " Jawab Alya, mobil pun melaju sesuai keinginan penumpang.


Sejak pindah ke Paris Alya beberapa kali mendatangi panti asuhan. Sekedar mengajar anak-anak membaca dan berhitung. Jika ada uang lebih Alya akan membelikan mereka jajanan bahkan pakaian layak. Perlu waktu dua puluh menit untuk sampai, kedatangan Alya di sambut baik oleh ketua panti. Anak-anak juga gembira melihat Alya bisa berkunjung lagi.


"You're so kind Al, thanks a lot. " Ucap wanita bertubuh tinggi dan kurus dengan celemek di perutnya. Dia menatap Alya tulus penuh rasa bangga. Meski masih sangat muda Alya memiliki jiwa sosial yang baik.

__ADS_1


"Aku sangat ingin pergi ke daerah perang untuk menjadi relawan, tapi itu mustahil mengingat siapa ayahku. Dan aku menemukan cara lain di sini." Batin Alya tersenyum hangat melihat kebahagiaan terpancar di wajah anak-anak di bawah usianya.


__ADS_2