
"Alya,,, "
Seseorang menghentikan langkah Alya yang baru saja keluar dari toilet. Dahi Alya mengkerut menandakan tidak mengenali orang yang menyapa nya.
"Aku Viona, mantan tunangan Christian." Lanjutnya lagi, memperkenalkan dirinya agar Alya bisa tahu.
"Oh, kau nona kurator rupanya. Maaf ada perlu apa denganku? " Padahal Alya paham pasti ini ada kaitannya dengan Christian. Mungkin karena dia membawa Alya ketika malam itu.
"Kau harus tahu sesuatu tentang Christian dan keluarganya Alya. " Ucapan Viona membangkitkan rasa penasaran Alya. Hal apa lagi yang di tutupi Christian darinya?
"Ini kartu namaku, mungkin lain waktu aku akan memberitahu mu. " Secarik kertas Viona genggam kan di tangan Alya, ia bergegas menjauh karena melihat Christian semakin mendekat.
"Ada apa? " Tanya Christian mengagetkan lamunan Alya.
"Tidak ada. " Langkah kaki Alya terhenti saat Christian mencegat lengannya, mencengkram dengan kuat agar Alya tidak berontak.
"Menurutmu aku harus bertunangan atau jangan? " Sekali saja, Christian ingin mendengar Alya menahan dan memintanya tinggal di sisinya.
"Jangan gila Christian, kenapa kau menerimanya jika masih mengharapkan ku? Aku tidak bisa memberimu duniaku, kau bebas memilih Chris." Alya menghentakkan genggaman Christian sekuat tenaga. Ia kembali ke mejanya sebelum semua orang curiga.
Masih melanjutkan acara makan, kini mereka menikmati menu pencuci mulut. Kata-kata Viona terngiang-ngiang di telinga Alya, apa sebenarnya yang mereka tutupi dari orang-orang?
"Al, daddy akan mengantarmu pulang. Ayo." Setelah menutup acara dengan ucapan selamat malam, mereka akan berpisah di depan restoran.
"Daddy istirahat saja, aku akan naik taksi. Lagi pula ini masih sore. " Alya menolak tawaran tuan Rodrigo karena merasa kasihan, ayahnya pasti sangat kelelahan.
"Biar aku yang mengantarnya uncle, ayo Al." Christian menawarkan diri dengan santai, tentu orang-orang tidak ada yang mencurigai nya.
"Iya dad, Christian dan Niel akan mengantarku pulang. " Mendengar namanya di sebut Daniel mengernyit bingung.
Kali ini Christian mengalah, membiarkan Daniel ikut bersamanya mengantar Alya pulang.
Petugas parkir sudah berdiri untuk memberikan kunci mobil milik Christian. Alya memilih duduk di sebelah Daniel.
"Alya pindah ke belakang! " Perintah Christian, sementara Alya tetap diam tak menyahut.
"Turuti saja nona, atau kita akan diam seperti ini terus. " Saran Daniel membuat Alya menuruti keinginan Christian. Ia pun keluar dengan membanting pintu cukup keras.
"Mobilku,,, " Geram Christian tak Terima Alya memperlakukan mobil kesayangannya seperti tadi. Daniel malah terkekeh geli, Christian kesal perkara Alya membanting pintu.
Bugh,,,
Lagi Alya menutup pintu sangat kencang. Ia menghempaskan tubuhnya bersandar. Daniel dan Christian heran dengan sikap Alya, dia kenapa? Mungkin itu yang tersirat pada tatapan keduanya melalui kaca spion. Akhirnya Daniel bisa melajukan mobilnya keluar dari hotel.
"Apa kau tahu apa rencana nyonya Aline untukmu?" Christian bertanya mengenai ucapan ibunya, ia takut itu menyangkut nasib hubungan mereka.
"Tidak tahu, dan bukan urusanmu. " Ketus Alya menjawab. Hanya helaan nafas kasar terdengar dari Christian.
__ADS_1
Alya masuk ke dalam rumah setelah susah payah menahan Christian yang ingin ikut dirinya. Ia segera menggunakan double lock agar Christian tidak bisa seperti kemarin.
"Sial,,, " Christian meninju udara, sekarang akan semakin susah memiliki waktu berdua dengan Alya. Selain kehadiran orang tua Alya, kehadiran Theo menjadi ancaman baginya.
***
Selama beberapa hari ke belakang Alya akan di antar jemput oleh Tuan Rodrigo. Orang tuanya memutuskan untuk tinggal lebih lama sekaligus bulan madu.
"Mommy jangan ada adik , aku malu." Begitu kira-kira pesan berantai yang selalu Alya katakan pada ibu dan ayahnya.
Alya juga sangat sibuk menjalani aktifitasnya di kampus. Selain itu tugasnya membantu Luke menyiapkan materi lombanya.
Tidak seperti biasanya, tuan Rodrigo memberi kabar bahwa dirinya absen menjemput Alya siang itu. Alya pun berniat naik taksi saja. Namun ketika sampai di depan parkiran seseorang sudah berdiri di samping mobil menunggunya.
"Theo,,, " Entah kenapa Alya merasa senang melihat kehadiran temannya. Sudah lama mereka berpisah demi mengejar cita-cita.
Theo berjalan cepat mendekati Alya yang masih diam mematung, dia memeluknya erat.
"I miss you Al,,, " Bisik Theo, tangannya mengelus rambut merah Alya, menyampaikan betapa rindunya Theo pada Alya.
"Kau datang menjemput ku? " Alya segera mengurai pelukan mereka.
"Tentu, karena kuliah ku semakin padat aku baru bisa datang menemuimu. " Senyum Theo begitu manis bagi perempuan manapun yang melihatnya. Sayang, Alya tidak akan pernah bisa melihat itu.
"Ayo kita pergi. " Ajak Alya menuju mobil milik Theo. Begiu perhatian, Theo bahkan membukakan pintu untuk Alya.
Kedekatan mereka menjadi pusat perhatian. Alya gadis culun yang introvert, tidak memiliki teman, dekat dengan banyak pria. Pastinya menyulut emosi Cindy juga Hellen. Cindy sengaja memanas-manasi Luke agar dia membenci Alya.
"Mungkin kau hanya korban Alya Luke, berhentilah mengharapkan ja lang sepertinya. " Tangan Cindy merangkul lengan Luke namun segera di tepis olehnya.
"Aku merasa Alya tidak menggodaku, dia menjaga jarak denganku karena kalian." Tatapan tajam Luke membuat nyali Cindy menciut.
Hellen mengepalkan tangannya, obsesi dirinya untuk bisa menikmati keindahan Alya masih tersimpan dalam. Tapi melihat dia dekat dengan banyak pria semakin membuatnya marah dan membenci mantan temannya itu.
Di perjalanan,
"Al, kau semakin cantik dan dewasa. " Puji Theo. Ia melirik kesamping sekilas, menunggu reaksi Alya bertemu lagi dengannya.
"Hem,,, " Hanya deheman yang Alya lontarkan sebagai tanggapan.
"Kenapa kau memakai kacamata Al, apa matamu sakit? " Seperti biasa, di antara mereka akan selalu Theo yang lebih banyak bicara dan bertanya.
"Tidak. Theo, apa kau tahu mengenai pertunangan Christian? " Rasa penasaran Alya soal pria yang sudah meniduri nya muncul, siapa tahu Alya bisa menggali informasi dari Theo.
"Ya, setelah lima tahun berlalu akhirnya kakakku menjalin hubungan serius. Aku kasihan padanya, karena luka lama dia seperti trauma terhadap wanita. " Mobil berbelok ke kiri di perempatan jalan, artinya Theo akan membawa Alya menuju hotel.
"Apa maksudmu Theo ? " Tak sabar, Alya ingin segera tahu kisah seorang Christian.
__ADS_1
"Orang tua kami sempat menolak kekasih Christian, dengan alasan status sosial. Sejak saat itu Christian seolah menutup hatinya rapat-rapat. " Jawaban Theo masih menggantung menurut Alya. Kenapa bisa keluarga Oliver mempermasalahkan hal itu? Bukankah mereka sangat baik.
"Theo, lalu apakah Christian menerima perjodohan mereka? " Kini mobil mulai memasuki area hotel. Tangan dan pandangan Theo masih fokus sehingga mengabaikan pertanyaan Alya.
"Entahlah, kejadian itu membuat Christian membentengi diri untuk tidak terlibat hubungan mendalam. Prinsipnya, menikah setelah itu baru bebas melakukan apapun."
Theo keluar lebih dulu untuk membukakan pintu Alya. Sementara Alya masih mencerna semua ucapan Theo.
"Apa yang dia sembunyikan? " Batin Alya. Ia tidak bisa terus mendesak Theo menceritakan semua tentang kakaknya. Bisa-bisa dia curiga.
Terlintas di pikiran Alya, Viona. Dia pasti mengetahui sesuatu penting.
"Nanti malam akan ada pertunangan sederhana Christian dan Sera. Sesuai keinginan Christian, dia ingin acara tertutup. " Ya, Christian memang sangat menjaga privasi kehidupannya. Tapi ketika dengan Alya dia seolah bangga menunjukkan nya pada dunia.
"Aku tidak bawa gaun Theo. " Rengek Alya, mereka berjalan beriringan memasuki area lobby.
"Tenanglah, nyonya Aline sudah menyiapkan semuanya. " Senyum Theo begitu tulus setiap berada di dekat Alya. Alya merasa bersalah sudah menolaknya dan malah terikat hubungan dengan sang kakak.
Alya juga melihat perubahan sikap Theo, dia bertambah dewasa dan berkarakter. Cara bicaranya seperti tertata rapi dan jelas.
Lagi-lagi kedekatan mereka membuat dada seseorang bergemuruh, merasa darahnya mendidih secara bersamaan.
"Niel, aku ingin sekali menghajar adik ku." Gumam Christian, menahan emosinya.
"Lalu kenapa kau malah menerima perjodohan ini? Seharusnya kau mengenalkan Alya sebagai perempuan yang kau cintai pada keluarga mu. " Saran Daniel yang jelas sudah terlambat.
"Aku pikir dengan begitu Alya akan marah dan cemburu, tapi dia malah bersikap acuh." Kedua tangan Christian mengepal saat menangkap interaksi mereka di depan lift. Theo mengacak-acak rambut Alya dengan tatapan gemas.
"Sialan." Umpat nya kasar.
"sudah ku bilang jangan bermain api Chris." Daniel menggelengkan kepalanya, Christian dan Alya sama-sama bebal juga keras kepala.
"kau sudah mengatur kamar Alya bukan? " Tanya Christian, keduanya berjalan menuju coffee shop di area kolam renang.
"ya, dia berada tepat di sebelah kamarmu." sayangnya Theo memilih sekamar denganmu dan nona Seraphina di sebrang kamarmu." mendengar penjelasan Daniel Christian memijat pelipisnya.
"ini membuatku gila. " rasanya Christian ingin berteriak melampiaskan kekesalannya. akan semakin susah Christian mendekati Alya jika begini.
"oh ya, soal pelukis anonim. aku mengecek beberapa data diri peserta, dan menemukan profil mencurigakan. bisa jadi pelukis itu diam-diam mengikuti lomba. " keduanya sudah duduk di dekat jendela, pelayan langsung menyajikan kopi kesukaan Christian. sementara Daniel memilih memesan jus strawberry.
"pantau terus, kalau bisa cepat ungkap jati dirinya. aku sangat ingin bekerja sama dengannya. " Daniel mengerti ambisi Christian, dia menyiapkan pembukaan galeri seni dengan sebaik mungkin. Usahanya ia dedikasikan untuk sang kakek yang amat mencintai seni lukis. kakek sangat berjasa dalam membentuk karir cemerlangnya.
"Baiklah Chris. apa kau gugup? " tanya Daniel pada Christian mengenai pertunangan malam nanti.
"tidak, aku hanya menyembunyikan hubungan ku dengan Alya melalui status ini. Sera merasa tidak masalah selagi dia memiliki ikatan ini. kami saling membutuhkan. " terang Christian penuh percaya diri. padahal dia tahu Sera juga sangat menyukainya.
"Kau menjadikan Alya simpanan Chris? lebih baik hentikan kegilaan mu. " terpancing emosi, Daniel menentang keputusan sahabat sekaligus bosnya.
__ADS_1
"Alya sendiri tidak masalah, terkesan dia menyuruhku begitu. " Christian menyeruput kopi hitamnya. mencari ketenangan dengan menghirup aroma khas biji kopi berkualitas tinggi.