My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
kegiatan masing-masing


__ADS_3

Usai membersihkan wajahnya Alya mengikuti mata kuliah dengan lancar. Dosen meminta anak didiknya mengumpulkan hasil lukisan digital mereka melalui email. Entahlah, mungkin karena kurang fokus Alya bahkan tidak memeriksa hasil yang ia kirim pada dosen.


"Nona Shamare, are you sure about this?" Mendengar namanya di panggil sontak Alya mendongak ke arah dosen. Screen di depan berubah menjadi wajah Christian yang tampan. Para teman sekelas Alya bersorak ria menggoda Alya. Ternyata dia malah menjadikan Christian sebagai model lukisan digitalnya.


"Sial, kenapa Christian mengganggu pikiranku? " Gumam Alya dalam hati kecilnya selalu membayangkan kata-kata Christian yang menyukai dirinya.


Luke saat itu memang sekelas dengan Alya, dia memperhatikan Alya sejak dosen menayangkan hasil tangan gadis yang sudah mencuri hatinya.


"Bukankah dia pria yang menjemput Alya?" Ya, Luke masih mengingat wajah Christian. Mungkin secepatnya Luke harus mengungkapkan perasaannya pada Alya agar tidak di dahului oleh orang lain.


"Luke, apa kau sudah siap mengikuti lomba? " Tanya dosen, tak lain ialah Sir Alex. Semua mata tertuju pada laki-laki tampan di pojok ruangan.


"Yes sir, tapi aku sangat membutuhkan bantuan Alya. " Alya menghela nafas pelan, padahal dia juga tengah sibuk mempersiapkan materi lomba.


Alya sudah mendaftar sejak sebelum kuliah di kampus seni London. Jadi secara langsung Luke merupakan pesaingnya. Namun Alya mendaftar menggunakan nama orang lain seperti biasanya.


Sejak mendalami seni lukis secara profesional di usia nya menginjak empat belas, Alya sudah menjual sekitar sepuluh koleksi lukisannya. Harga tertinggi yang pernah ia dapatkan yaitu sekitar tujuh ribu dolar Amerika. Sangat fantastis untuk ukuran amatir.


Bakatnya berawal dari kegemaran Alya menggambar desain pakaian ketika tinggal di Piana. Karena merasa bosan menjahit Alya pun merambat mencoba menuang hobinya diatas kanvas. Dan berhasil menariknya menuju dunia yang ia impikan. Menjadi seorang pelukis terkenal tanpa dunia tahu jati dirinya.


Daddy Rodrigo bahkan memberi fasilitas sebuah studio di Paris agar Alya fokus menjalani kegiatannya. Jika di bandingkan dengan kakaknya jelas Alya lebih berbakat. Maka dari itu tuan Rodrigo sangat mendukung cita-cita Alya meski berat untuk melepasnya pergi jauh.


Setengah dari pendapatan nya Alya selalu menyumbangkan nya ke sebuah panti asuhan maupun jompo. Tentu saja keluarganya tidak ada yang tahu, Alya sudah berhasil menjual lukisannya di black market. Ia lakukan semua secara diam-diam, karena Tuan Rodrigo tentu akan marah besar jika tahu kemampuan Alya di hargai murah.


"Alya, apa kau tidak dengar? Lekas bantu tugas penting Luke! " Suara bariton sir Alex membuyarkan lamunan Alya. Alya yang tersentak kaget kemudian mengangguk.


"Yes sir. " Jawab Alya pelan.


Selain seni lukis, Alya juga mengambil mata kuliah lain seperti desain grafis, fashion business dan digital marketing. Total empat mata kuliah ia jalani dengan penuh semangat. Alya berencana membangun bisnisnya sendiri, ia harus berdiri di atas kakinya. Mungkinkah Alya butuh pengakuan seseorang bahwa dia bisa sukses tanpa embel-embel ayahnya?


Alya menyelesaikan jadwal kuliahnya di sore hari. Perutnya benar-benar meronta meminta jatah, sejak pagi belum terisi dengan benar.


"Ya Tuhan, lapar sekali. " Alya melirik jam tangannya, dimana ia harus membeli makanan cepat saji? Untuk berjalan saja Alya berasa lemah.


"Kau kenapa Al? " Luke menghampiri melihat Alya memegangi perutnya.


"Aku sangat lapar, dimana tempat makan terdekat? " Tanya Alya karena Luke memang berada di tingkat tujuh, lebih senior dan pastinya mengetahui lokasi sekitar kampus.


"Ayo ikut aku, di belakang kampus ada tempat makan enak. Tapi harus berjalan kaki, kau masih kuat bukan? " Alya meringis tersenyum mendengar kekhawatiran Luke. Jadi malu sendiri rasanya ketahuan lapar oleh orang lain.


"Tentu, cepat kita pergi sekarang." Alya refleks menarik tangan Luke yang masih saja berdiam diri. Sebuah senyum gembira terukir di wajah tampan Luke.

__ADS_1


Mereka berjalan keuar kampus kemudian berbelok ke arah kiri dimana ada gang sempit.


Meski hanya bisa di lalui pejalan kaki di gang tersebut berjejer tempat nongkrong kaula muda kampus fakultas Seni. Alya pertama kalinya datang ke tempat itu. Ia berdecak kagum meski sudah sore dan jam kampus berakhir masih banyak mahasiswa di sana.


"Ayo duduklah, di sini pasta nya sangat enak. " Luke menarik tangan Alya untuk duduk di kedai nyonya paruh baya.


"Aku ingin pesan aglio e olio nyonya, minumnya cola. " Tanpa memilih menu Alya menyampaikan pesanannya.


"Samakan saja bibi Sin. " Bibi Sin mengangguk kemudian kembali ke dapur, membuatkan pesanan mereka.


"Aku dengar Cindy menyiram wajahmu, I'm sorry about that. " Luke menggenggam kedua tangannya diatas meja, dia merasa bersalah karena dirinya Alya mengalami kesulitan.


"Bukan salahmu Luke, dia memang gila. Tenang saja aku bisa menghadapi nya. " Keduanya hening, tak ada lagi percakapan hingga makanan tiba di atas meja.


"Bon Appetiet Alya... " Ucap Luke, Alya mengangguk dan langsung melahap makanannya.


Makan malam,


Christian merasa gerah terlihat dari caranya melonggarkan dasi beberapa kali sejak tadi. Di sampingnya ada Aline ibu nya, dan di hadapan mereka ada sepasang ibu dan anak gadisnya juga. Christian kesal karena Aline selalu memaksakan kehendaknya. Contohnya dengan mencarikan Christian jodoh.


"Christian sangat tampan, beruntung sekali yang akan menjadi pasangannya. " Pujian di lontarkan sang ibu gadis yang sejak tadi mencoba menggoda Christian dengan kakinya bermain di area pahanya di kolong meja.


"Ah Sera bahkan lebih sempurna di banding putra sulung ku nyonya Hani. Aku jadi tidak sabar, jika keduanya bersatu pasti banyak orang-orang yang iri melihat pasangan sempurna seperti mereka. " Kedua wanita paruh baya itu tertawa puas hanya membayangkan nya saja.


"Baiklah momm, ayo Se kita pergi. " Ajak Christian. Keduanya beranjak dari Kursi setelah menikmati dessert.


Christian, adalah tipe pria yang sangat menghargai makhluk bernama wanita. Meski jelas menolak bentuk perjodohan, Christian tidak pernah merendahkan calon pasangan yang ibunya kenalkan. Itulah alasan dia di sukai banyak ibu-ibu, mereka akan berlomba-lomba mendekati orang tua Christian agar mau melakukan perjodohan.


Christian duduk di bangku tepi kolam, suasana temaram berhasil membuat Sera gencar melakukan aksi menggoda nya.


"Christian, aku bisa memberimu kepuasan diatas ranjang. " Sera bahkan berani bergelayut manja pada lengan Christian.


"Nona Seraphina, tolong jaga sikap anda. Aku sudah memiliki kekasih saat ini. " Mendengar hal itu Sera melepaskan diri, dia malu pada Christian karena sudah menggodanya.


"Ah maaf Christian, aku sungguh tidak tahu." Sera membenarkan posisi duduknya, kini keduanya sama-sama menatap ke arah kolam renang.


"Lalu kenapa kau tidak bilang pada bibi Aline? " Benar, Christian terkesan tidak menolak di pertemukan dengan Seraphina, wanita sebaya dengannya.


"Aku sedang mempertimbangkan, apakah harus menerima perjodohan ini atau memperjuangkan cintaku. " Sera tersenyum mendengar kejujuran Christian, dia semakin kagum pada pria di sampingnya.


"Cobalah dulu perjuangkan cintamu Chris, jika memang kau menyerah aku siap menerimamu. " Ternyata Sera merupakan perempuan berpikiran terbuka, tidak menuntut apapun dari hubungan mereka.

__ADS_1


"Thanks Se, kalau begitu aku pergi. Masih ada pekerjaan lain. " Christian berdiri, dia mengulurkan tangannya ke hadapan Sera.


"Nice to meet you. " Ucap Christian, Sera menerima uluran tangan Christian seraya tersenyum simpul.


Di ruang kerjanya, Daniel memeriksa rekaman CCTV atas perintah Christian. Dia harus tahu dimana Alya tinggal. Atau tuan Rodrigo akan marah besar mengetahui Alya lepas dari pengawasannya.


"Bagaimana Niel? " Tanya Christian tak sabar, membuat Daniel berdecak kesal karena di buru-buru sejak tadi.


"Sabar sebentar bisa tidak? Aku masih berusaha. " Tangannya sibuk meng otak-atik mouse, mempercepat dan memperlambat tayangan.


"Gotcha." Daniel berteriak girang mengalahkan perasaan Christian. Pria itu kini mencengkram kerah kemeja Daniel.


"Apa kau menyukai Alya? Kau mau mati di tanganku Niel? " Pertanyaan itu sudah Christian simpan sejak Daniel merawat Alya yang terkena alergi.


"Tenanglah Chris. Aku hanya mengagumi nona Alya, dia sepertinya sangat membutuhkan kebahagiaan. " Jawaban Daniel mengetuk pintu hati Christian, ia pun melepaskan tangannya dari kerah Daniel.


"Apa maksudmu Niel? " Tentu Christian belum mengerti ucapan Daniel.


"Kau tahu Chris, kepribadian Alya yang terkesan dingin dan tertutup biasanya di sebabkan rasa trauma pada satu hal. Harus ada seseorang yang menyelamatkan nya dari kesendirian dan juga kegelapan. Coba pikir Chris, kenapa Alya malah menjauh dari keluarganya di usia muda padahal dia memiliki segalanya? Artinya dia menginginkan kebebasan, mungkin Alya merasa terkekang selama ini." Sangat masuk akal pemikiran Daniel, Christian pun menyadari sikap Alya melebihi kata introvert.


"Ya, kau benar Niel. " Ketika Christian meninggalkan Alya di pinggir jalan sebenarnya dia kembali untuk mengantarnya. Ia melihat pemandangan dimana Alya sedang menghisap sebatang rokok.


"Kalau kau memang menginginkan Alya, ikuti saja dulu permainannya. Siapa tahu pendirian Alya akan berubah seiring berjalannya waktu. Apa kau rela dia mencari pengalaman seksnya dengan pria lain? " Sepertinya Christian salah menceritakan semuanya pada Daniel, dia sangat frontal membahas hal sensitif mengenai percakapan dirinya dan Alya soal ****.


"Sudahlah, itu menjadi urusanku. Sekarang kau kirim orang untuk mengawasi Alya di pemukiman kumuh tempat temannya. Jangan sampai Tuan Rodrigo tahu hal ini." Titah Christian, Daniel mengangguk lalu menghubungi salah satu anak buahnya.


Paris,


Setelah menerima laporan dari pengawal yang di tugaskan memantau Alya dari jauh Tuan Rodrigo menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerja.


"Sepertinya aku salah menitipkan putriku pada pria itu. " Helaan nafas Tuan Rodrigo terdengar berat. Baginya kebahagiaan Alya memang penting, hanya saja dia belum siap membiarkan Alya terjerat hubungan dengan seorang pria di usia mudanya.


"Dadd, apa ada masalah? " Patricia masuk membawa secangkir teh herbal penunjang kebugaran fisik suaminya.


"Aku merindukan Alya honey, bagaimana kalau kita mengunjungi nya dalam waktu dekat? " Tangan Rodrigo merentang mengajak Patricia masuk ke dalam pelukannya.


"Tapi apa Alya mau menerima kita? Ini baru satu bulan dan kau sudah ingin menengoknya. " Patricia menaruh kepalanya di dada bidang Rodrigo.


"Aku menerima laporan, Alya keluar dari tempat milik Christian. Aku takut dia kesulitan mencari tempat tinggal baru." Mendengar kabar putrinya Patricia membenarkan posisi duduknya.


"Ayo kita pergi ke London, daddy putri bungsu mu itu tidak bisa di biarkan tinggal sendiri. " Sebagai ibu Patricia jelas sangat mengenal Alya. Sejak lahir Alya selalu nyaman dan bahagia di kelilingi keluarganya, apa jadinya dia jika hidup sendirian?

__ADS_1


"Ya, aku akan menyiapkan semuanya." Jawab Rodrigo menenangkan istrinya.


__ADS_2