
Seorang pesakitan berjalan dengan borgol di tangannya, ia di tuntun oleh petugas menuju ruang kunjungan. Pria itu sudah seperti psikopat karena tak sedikitpun merasa takut akan hukuman yang harus di jalaninya. Ketika sampai di ruangan dengan skat jendela transparan kedap suara dia duduk di hadapan seorang perempuan muda berpakaian minim. Keduanya bersamaan mengangkat gagang telepon sebagai alat komunikasi.
"Kau sudah memulai rencanamu? " Tanya pria dengan seragam tahanan berwarna orange. Perempuan itu memutar bola matanya jengah langsung di todong pertanyaan olehnya.
"Apa kabarmu foster brother? Apa kau tidak merindukan ku Ethan ? " Setidaknya dia masih peduli pada pria yang ia panggil saudara asuh.
"Aku tidak ingin berbasa-basi Sam. Apa kau sudah masuk ke dalam keluarga Liam? " Ternyata Samantha adalah adik asuh Ethan yang di angkat dan di biayai ayahnya. Karena merasa hutang budi Sam terpaksa menerima permintaan tolong Ethan. Baginya Ethan adalah kakak yang baik sebelum pria itu berbuat menyimpang. "Please, aku tidak bisa Ethan. Lebih baik aku menggantikan posisi mu di dalam sana dari pada harus menyakiti seseorang. Grace begitu baik memperlakukan ku. Aku tidak tega melihatnya terluka. Hentikan ambisi gilamu, kau hanya terobsesi padanya itu bukan cinta. " Sam terdengar tulus dan berapi-api menasehati kakak asuhnya yang sekarang malah tersenyum mengerikan. "Look! Jika kau tidak bisa maka aku akan mengirimkan orang lain untuk melakukannya. " Ethan menghela nafas seperti kecewa pada Samantha karena tidak bisa membantu dirinya.
"Terserah kau Ethan tapi aku jelas menolak permintaan mu. Grace kehilangan bayinya, dia tampak tegar namun rapuh di dalam. Kau tahu bukan alasannya ? Kau meninggalkan trauma mendalam padanya." "Diam Sam, kau tidak berhak menilai Grace. Liam jelas tidak pantas mendapatkannya." Ethan tetap bersikeras menjalankan rencananya untuk memisahkan Grace dari Liam apapun caranya.
"You're Psycho! " Rahang Ethan mengeras mendengar kata itu keluar dari mulut adiknya. Adik yang selalu ia sayangi dan jaga sejak usianya tiga tahun. Tak masalah jika orang lain mengatakannya namun kemarahan Ethan semakin menjadi mengingat Liam juga menyebutkan kata itu.
"Kau akan jadi saksi bagaimana aku menghancurkan Liam Sam. " Ancam Ethan. "Waktu sudah habis, kembali ke sel. " Petugas menarik paksa Ethan, Sam hanya menahan ketakutan nya. Jelas Ethan sudah berubah dan bukan lagi pria yang ia jadikan panutan dan patokan untuk mencari pasangan hidup.
"Poor you Ethan. " Lirih Samantha, iapun meletakkan kembali telepon lalu berjalan keluar ruangan.
"Terima kasih sudah mengajakku dan mommy makan siang Grand ma. Lain kali kita bertemu lagi. " Dylan tersenyum lebar saat perutnya penuh, nyonya Coco sampai berjongkok untuk bisa mengusap pipi lembut Dylan.
"Cuti pie, kau sangat menggemaskan. Grand ma love you so much boy. " Dylan memeluk leher nenek dari ayahnya sebelum mereka berpisah.
"Jaga dirimu baik baik Grace, kau harus berbahagia. " Keduanya berpelukan sebentar lalu Nyonya Coco masuk ke mobil meninggalkan Grace dan Dylan di depan gerbang.
Tak lama setelah mobil mertuanya datang Samantha masuk dan berjalan di belakang Grace juga Dylan. Grace yang menyadari kehadiran seseorang pun akhirnya berhenti, ia memutar tubuhnya.
"Sam, kau dari mana? " Tanya Grace melihat Sam datang dari luar.
"Maaf nona seharusnya aku meminta izinmu terlebih dulu. Tadi aku menengok saudara yang sedang sakit. " Sam menunduk sadar akan kesalahannya pergi tanpa memberitahu majikannya.
"Ah aku tidak memarahi mu Sam, aku cuma ingin tahu. Lain kali kau bisa memberitahu ku. Setidaknya aku bisa mengantarmu atau sekedar membawakan sesuatu untuk saudara mu yang sakit. " Ucap Grace tersenyum hangat, Sam paling tidak bisa melihat itu karena hatinya selalu merasa bersalah telah masuk dengan rencana jahat pada awalnya.
"Maaf nona, dan Terima kasih sudah peduli." Jawab Sam membalas senyuman Grace. "Ayo masuk, Dylan harus tidur siang karena sudah menguap sejak tadi." Ajak Grace pada Sam untuk masuk ke rumah.
__ADS_1
"Liam! " Teriak Grace terbangun dari mimpi buruknya. Keringat membasahi keningnya, Grace mengusapnya menggunakan tangan. Kenapa ia mengalami mimpi buruk? Apa Liam baik baik saja di sana ? Sejak berangkat sang suami belum memberinya kabar lagi. Padahal dari negaranya ke Swiss hanya memakan waktu satu jam lebih perjalanan udara. Grace pun berinisiatif menelpon Liam untuk menanyakan kabarnya.
Tersambung,,,
Grace masih menunggu Liam mengangkat panggilannya. Namun dia belum juga mendengar suara Liam membuat Grace semakin khawatir saja.
"Kau dimana Liam? " Grace membanting ponselnya ke tengah kasur, ia memeluk kedua lututnya mencoba berpikir positif siapa tahu Liam memang sedang sibuk sekali hingga tak sempat menghubungi nya. Ketika sedang menunduk ponsel Grace berbunyi, mata Grace berbinar ketika mengira itu Liam. Senyumnya menghilang saat nama pemanggil merupakan ayah mertuanya.
"Halo Grace, apa daddy mengganggumu sweety? " Terdengar suara tuan Arthur seperti sedang tergesa-gesa. Grace jadi semakin khawatir terjadi sesuatu pada Liam.
"Tidak dadd, aku baru saja menghubungi Liam tapi tidak di angkat. "
"Itu dia Grace, dari pihak sana belum bertemu Liam sampai sekarang. Aku kira dia ada mengabarimu. Tapi jangan khawatir daddy akan menyuruh orang untuk mengecek keadaannya. " Benar saja, tuan Arthur juga mengkhawatirkan keadaan putranya. Grace tambah takut dan cemas bagaimana jika Liam terluka atau bertemu orang jahat.
"Dadd, Liam baik baik saja kan? Aku takut." Lirih Grace,
"Tenang Grace. Semua akan baik baik saja, mungkin Liam tersesat atau ada kendala lain. Aku akan menelpon jika dia sudah memberi kabar. " Grace mengangguk pasrah sembari berdoa semoga Liam tidak sedang dalam kesusahan.
"Halo Grace, ini aku. "Suara yang sudah sangat amat Grace rindukan akhirnya bisa ia dengar dengan jelas. Tak terasa ia menitikan air mata merasa lega Liam baik baik saja.
" Kau kemana saja? Aku sangat cemas menunggu kabarmu Liam. " Grace menahan diri untuk tidak menangis agar Liam tenang di sana Tanpa memikirkan dirinya yang bersedih.
"Maaf Grace, aku kesulitan menemukan ponselku yang hilang. Ini aku baru bisa memakainya. Dylan mana? " Grace mengerucutkan bibirnya karena malah sang anak yang di cari Liam.
"Ada, sebentar aku ke kamarnya. " Grace berjalan keluar menuju kamar Dylan dimana ada Sam yang sedang menemaninya menggambar.
"Dy, daddy ingin bicara denganmu. " Grace memberikan ponsel miliknya agar di pegang oleh Dylan.
"Hai dadd, bagaimana Zurich? Aku ingin sekali bermain salju di sana. " Dylan menempelkan benda pipih di telinganya kemudian merajuk karena Liam tidak mengajaknya berlibur. Padahal Grace sudah menjelaskan daddy pergi untuk bekerja bukan liburan.
"Next time Dy, kita pergi bertiga. Kau jaga mommy dengan baik ya, katakan daddy sangat merindukannya. Daddy akan segera pulang. " Dylan mengangguk patuh meskipun Liam tidak bisa melihat nya melakukan itu.
__ADS_1
"Mommy tidak bisa tidur karena merindukan daddy juga. " Grace langsung menutup mulut Dylan yang sudah membuat pipinya merah merona. Grace mengambil alih ponselnya dari Dylan.
"Eh bukan begitu, tadi aku sempat mimpi buruk. Aku takut terjadi sesuatu padamu." Segera Grace meluruskan maksud ucapan Dylan agar Liam tidak besar kepala dan menggodanya.
"Kau gugup, bukankah wajar sepasang suami istri merindukan pasangan mereka?" Liam terkekeh mendengar pembelaan Grace.
"Aku harus masak untuk makan malam, kau juga jangan lupa makan. See ya. " Sambungan terputus secara sepihak. "Yah,,,, mom. Aku belum selesai bicara pada daddy. Padahal aku ingin minta di bawakan oleh-oleh. " Dylan manyun merajuk pada ibunya.
"Daddy harus beristirahat dan juga makan, mengertilah Dy... " Grace mencium puncak kepala Dylan menenangkannya.
"Sam, aku akan ke dapur. Bawa Dylan ke bawah setengah jam lagi. " Perintah Grace pada Sam yang mengangguk. Sejak tadi Sam merasa kehangatan hanya dengan melihat interaksi keluarga kecil di hadapannya.
saat menuruni anak tangga Grace melihat Zen sedang fokus menatap laptop di sofa ruang keluarga. Ia menyapa kakak Ipar ketika tak sengaja menatap ke arahnya.
"Zen, tumben sekali datang di jam seperti ini?" Zen menghampiri Grace untuk bersikap sopan santun.
"aku di tugaskan Liam untuk menjaga kalian berdua. " Zen mengutarakan kedatangannya ke rumah kakak sepupu.
"Ah begitu, tunggu sebentar aku akan memeriksa makan malam. " Grace berniat mengajak Zen menikmati makan malam bersama.
"ah tidak perlu Grace, aku sudah makan sebelum datang kesini. " Zen merasa perutnya sudah tidak bisa menampung makanan lagi.
"baiklah, Dylan ada di kamar bersama Sam." setelah mengobrol sebentar dengan Zen Grace berjalan ke dapur, bibi Wen dan bibi Jill sedang menyiapkan bahan makanan untuk di masak oleh nyonya rumah.
"Terima kasih bi, aku sangat ingin makan spaghetti carbonara. " Grace berdiri di depan kompor memulai kegiatan masak memasak. "nona, aku bahagia karena tuan Liam dan nona sudah bersatu. jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan memberitahu kami." bibi Wen mendampingi Grace lalu memintanya terbuka pada mereka agar Grace merasa nyaman.
"baiklah bi, Terima kasih. "
Dylan dan Grace makan malam hanya berdua saat itu. merasa kesepian Grace memiliki ide agar suasana jadi ramai.
"Zen tolong panggilkan Sam dan bibi bersaudari. biarkan mereka makan bersama kami. " meski terdengar aneh tapi Zen tetap menjalankan perintah Grace. dan sekarang mereka makan bersama, Dylan juga terlihat gembira.
__ADS_1