
Alya berjalan penuh percaya diri meski ia harus mengenakan masker dan topi berwarna hitam. Mendampingi Jeni agar merasa nyaman menghadapi juri yang tak lain adalah Christian.
"Nona, sepertinya tuan juri sangat mengagumi lukisan itu. " Bisik Jeni, kini gadis belia di samping Alya berubah drastis. Tampil cantik dan elegan meski dengan gaun sederhana di tubuhnya.
"Dia bahkan menyukai tubuhku,,, " Gumam Alya pelan.
"Maksud nona? " Sedikit tidak jelas ucapan Alya di telinga Jeni.
"Lupakan. Aku akan berperan sebagai asisten mu Je. Tetap lakukan tugasmu dengan baik ok? " Perintah Alya, Jeni mengangguk patuh. Demi mendapat imbalan agar dirinya bisa kembali sekolah Jeni harus melaksanakan tugas dari Alya.
Ruangan begitu terlihat mewah dan menyegarkan mata. Jamuan makan malam yang cukup intim, terbilang private karena hanya di hadiri pengurus galeri seni dan juga ketiga kandidat juara.
Di meja VIP Christian tengah berbincang serius di dampingi sang tunangan. Tangannya bahkan merangkul pundak Sera. Mendadak Alya merasakan panas menjalar di tubuhnya.
"Sial." Batin Alya menggeram kesal. Nyatanya dia masih terbakar api cemburu kala melihat Christian bersama tunangannya.
Alya dan Jeni duduk di round table yang terhalang satu baris dari tempat Christian duduk. Ia melirik ke sekeliling mencari keberadaan Luke, kompetitor nya.
Daniel mendekat ke arah Christian, sedikit membungkuk untuk membisikkan sesuatu di telinga tuan sekaligus sang sahabat.
"Nona Jeni sudah tiba Chris." Info Daniel, Christian menengok ke belakang untuk memastikan.
"Aku akan kesana sebentar. " Bisik Christian pada Sera, wanita itu hanya mengangguk membiarkan. Senyumnya tak pernah pudar merasa bangga bisa mendampingi Christian di acara penting.
Christian berdiri dengan tangan kembali mengancingkan jasnya. Ia begitu gagah berjalan ke arah meja Alya dan Jeni.
"Semoga mereka tidak mengenali ku. " Harap Alya penuh rasa gugup.
"Selamat malam nona Jeni, senang bisa bertemu kembali dengan anda. " Keduanya mendongak menatap Christian, tampan dalam balutan tuxedo.
"Ya tuan, Terima kasih. " Balas Jeni singkat tak lupa senyum tipisnya.
"Boleh aku duduk? " Christian meminta izin terlebih dulu.
"Silahkan tuan, bukankah and tuan rumah disini. " Jawab Jeni lugas.
"Sepertinya anda tidak sendiri nona? " Sedikit melirik ke arah samping Jeni, Christian merasa ada pergerakan aneh pada matanya. Meski tertutup masker dan topi jelas Christian bisa melihat manik mata itu.
"Ah ya, dia saudariku. Aku sengaja ingin di temani olehnya. " Seperti rencana yang sudah mereka susun, Jeni melakukan dengan cukup baik sejauh ini.
"Begitu rupanya. Bukan karena lukisanmu hasil karyanya? " Mendapat serangan pertanyaan menohok, tenggorokan Jeni seolah tercekat.
"Ma,, maksud tuan apa? " Terbata-bata ucapan Jeni, Christian menyeringai puas menangkap basah kegugupan nya.
"Ah lupakan. Aku terlalu banyak menemui pelukis dengan hasil karya yang ia beli dari orang lain. Atau pelukis yang meminjam nama seseorang karena ingin bersembunyi." Christian tersenyum lebar menjelaskan pemikirannya.
Alya mengepalkan tangannya di bawah meja. Ternyata Christian sedang mempermainkan mental Jeni. Jeni mulai berkeringat di keningnya menandakan ia di landa ketakutan.
"Nikmati makan malamnya nona, aku permisi. " Setelah puas mengganggu Jeni Christian pun kembali ke tempat duduknya.
Alya bisa melihat Sera tersenyum bahagia Bergelayut manja di lengan kokoh Christian. Kenapa sekarang Alya malah cemburu? Bukankah bagus jika Christian bisa moveon darinya.
__ADS_1
"Nona, maafkan aku. Sepertinya tuan juri mencurigai ku. " Jeni tertunduk lesu menyadari kesalahannya.
"Tenanglah Je, sebentar lagi tugasmu akan selesai. Kau tidak perlu takut. " Karena Alya yakin Christian akan lebih memilih lukisan milik Luke menjadi pemenangnya. Terlalu dangkal pikiran Christian bisa di tebak olehnya.
Namun dugaan Alya ternyata salah besar. Saat pengumuman berlangsung, koleksi dirinyalah yang di tunjuk Christian sebagai sang juara. Jeni naik keatas panggung dengan kikuk bercampur gemetar. Itu artinya Alya harus menjadi pengisi galeri seni milik Christian.
"Kau memang licik Chris." Umpat Alya kesal hingga ke ubun-ubun. Lebih baik Alya pergi sekarang, kalau tidak Christian maupun Daniel akan lebih curiga dengan kehadirannya.
Ketika hendak naik taksi seseorang mencegat lengan Alya kasar. manik mata keduanya beradu cukup lama,Christian sangat mengenali pemiliknya.
"Bernainya kau menipuku Alya Shamare, pelukis dari kota Piana." Ungkapnya, Alya terkejut karena rahasia yang ia tutupi selama ini akhirnya terbongkar di tangan Christian.
"Lepaskan aku tuan Oliver. Kau selalu menyakitiku. " Suara Alya begitu dingin namun terdengar jelas penuh penekanan.
"Benarkah? Aku merasa tidak pernah melakukannya, apa kita saling mengenal sebelum nya hah? " Kata-kata kejam Christian bagai sebilah belati menusuk hatinya.
Jadi Christian benar-benar akan melupakan dirinya? Tapi kenapa, kenapa Alya tidak bisa menerima, Alya takut Christian menjauhinya.
"Oh maaf, aku hanya melakukan kesalahan. Bagiku kau mirip seseorang yang sangat ku sesali kehadirannya. " Tak mau kalah, Alya pun menyerang batin Christian. Membuatnya menghentakkan kasar tangan Alya.
Meski ingin mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah, Alya menahannya.
"Ikuti peraturan yang berlaku, atau aku akan membuat Jeni merasakan dinginnya jeruji besi. " Ancam Christian, dia tahu Alya akan terus memakai nama orang lain.
Arghh,,,
Alya meradang dalam hati, dia tidak mungkin membiarkan Jeni menderita.
"Cepat Katakan! " Pintanya tak sabar. Jika lama-lama bersama Alya bisa menggoyahkan keputusannya.
"Jangan pernah menggangguku saat aku menjadi Seniman pribadi galerimu."
Sebenarnya sulit Christian mengabulkan permintaan Alya mengingat ruang lingkup keduanya berpusat pada galeri seni.
"Deal... " Setuju, mau tak mau sementara ini Christian akan menurut.
Alya pulang ke apartemen dengan perasaan jengkel sekaligus khawatir. Kini mereka malah terikat kontrak di saat ingin melepaskan satu sama lain. Mondar-mandir memikirkan bagaimana bisa Christian mengetahuinya.
"Sial, dia pernah membawakan canvas ku. Aku selalu menandainya sebelum memulai pekerjaan ku. " Alya teringat kembali dirinya pernah menyimpan peralatan melukis di bawah tempat tidur. Dia memang berniat mengerjakan proyek perlombaan. Namun kesibukan bersama Christian menghalanginya.
Di kamar pribadi Christian, dia sudah bersiap untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Sera yang memaksa menginap tak hentinya menggoda Christian. Padahal tunangannya sudah menolak berulang kali.
"Chris, aku bisa membuatmu puas honey." Terus mencoba peruntungan, siapa tahu Christian tergoda oleh rayuannya.
"Stop it! " Christian menahan tangan Sera yang hendak bermain diatas pusakanya.
"Why? " Tanya Alya frustasi.
"Karena aku tidak mau." Jawab Christian santai. Diapun berbalik memunggungi Sera.
"Awas saja Christian, aku akan memberimu pelajaran." Batin Sera geram, memikirkan cara agar Christian mau menyentuhnya. Ia pikir hubungan ranjang sebelum nikah bukanlah hal tabu. Tapi kenapa Christian selalu menolaknya.
__ADS_1
Karena jelas, Christian hanya dan ingin melakukannya dengan Alya seorang. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi perempuan itu.
Alya berendam di dalam bak mandi dengan busa beraroma buah. pikirannya terus saja tertuju pada malam dimana Alya bermimpi Christian menemaninya setelah kecelakaan. begitu nyata, dan jika benar artinya Christian sudah merelakan perpisahan mereka. bahkan dia juga bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.
"Aku bisa gila membayangkan reaksi bibi Aline jika tahu aku tidur dengan anak pertamanya, disaat si bungsu menyukaiku." Alya bergidik ngeri.
lebih tepatnya Alya tidak ingin terjebak dalam masalah rumit. padahal bisa saja Alya bersama Christian jika dirinya mau menjalani sebuah ikatan bernama pernikahan.
"Lihatlah, baru awal saja sudah merepotkan." lanjut Alya terus saja bermonolog. benar kata Daniel, Alya dan Christian sama-sama bebal dan keras kepala.
Besok Alya berniat pergi ke sebuah panti asuhan sepulang kuliah. dia sudah berjanji akan membantu mereka dalam acara Paskah. Setidaknya Alya bisa sedikit membantu menggunakan tenaganya.
****
kekalahan Luke di ajang kompetisi melukis menjadi perbincangan hangat. banyak yang kecewa namun tak sedikit dari mereka terus mendukung hasil karyanya.
demi menyelamatkan Alya dari Cindy, Luke juga harus terbiasa menjadi orang asing baginya. sungguh dilema, kalau saja Luke bisa meraih Alya yang semakin terasa menjauh.
selain itu ada juga kabar tentang Hellen. dia di drop out karena menunggak bayar semester. lebih parahnya lagi, Hellen terjerat kasus asusila. dia memaksa menodai seorang gadis yang tidak terima di perlakukan tak senonoh.
"hei, apa kau juga mantan partner Hellen?"
"Alya kau menjijikkan. "
"dia bahkan tidak memperdulikan temannya yang selalu ada untuknya. "
"ya, Alya Shamare hanya memanfaatkan Hellen."
"pantas saja mereka selalu akrab, sama-sama freak. "
Dan Alya harus menerima konsekuensi berteman dengan Hellen, gadis penyuka sesama. itulah kenapa Alya malas bersosialisasi dengan orang-orang. dia hanya akan terjerat masalah akibatnya.
"Alya,,, " suara bass Luke memanggil Alya di depan pintu masuk kampus.
"ada apa Luke? " Melihat sekeliling, Alya takut lebih tepatnya malas jika Cindy akan mengganggu nya lagi.
"bolehkah aku mengantar mu? sebagai ucapan Terima kasih atas bantuanmu, juga salam perpisahan." terlihat kerutan di kening Alya mendengar kalimat perpisahan.
"nanti ku jelaskan. " Menyadari kebingungan Alya Luke meyakinkan agar Alya mau menerima tawaran nya.
"baiklah. tapi aku harus pergi ke suatu tempat. " Luke hanya mengangguk tak masalah, senyum tipis kini yang bisa Alya Terima. Laki-laki di hadapannya sudah membuat benteng pemisah.
tak ingin membuang waktu, Alya dan Luke segera masuk ke dalam mobil menuju tempat tujuan Alya.
"Aku akan sekolah seni di Yunani. Christian memberiku beasiswa. Aku tahu disini aku sudah tidak memiliki harapan. kedua orang tuaku lama berpisah, karirku hanya akan stuck, dan juga kau Alya. aku sakit melihatmu tanpa bisa menggapai mu. " Alya hanya diam, membiarkan Luke mengeluarkan isi hatinya.
"Terima kasih Alya, dan maaf atas semua kejadian yang kau alami karena ku. " lanjutnya lagi.
"baiklah, baiklah. kita masih bisa jadi teman Luke, asal tidak di lihat Cindy. " terkekeh geli, Alya mencoba menghibur Luke dari kesedihannya.
"itulah alasanku menyukai mu Alya. kau sangat tenang, penguasaan emosimu menjadikannya sebuah pesona." tersenyum lebar, Alya berhasil meredam kan sedikit sendu di hati Luke.
__ADS_1
"Kau harus mengenal Theo. kalian itu memiliki karakter yang mirip. " Bahkan Alya sendiri baru menyadari, berteman dengan Theo dan Luke sebenarnya akan menyenangkan jika mereka tidak main hati.