
Namaku Alya Shamare, berarti keturunan yang siap berjuang dan berperang. Sejak lahir aku hanya tinggal bersama mommy dan uncle Jack. Awalnya aku kira daddy sudah pergi meninggalkan kami. Hingga saat kedatangan seorang perempuan cantik tengah hamil datang ke rumah kami.
She is Grace, kakak perempuan ku. Aku adalah anak kedua dari pria paruh baya bernama Rodrigo. Penguasa pasar berlian dan penjual jam tangan mewah.
Tiga belas tahun, waktu yang sangat lama mereka mengabaikan kehadiranku. Aku tidak marah sama sekali, namun jangan paksa aku untuk bisa se terbuka itu pada keluarga baruku. Tiga tahun setelah hidup dan mengenal ayah juga saudariku aku mengerti, mereka tidak bermaksud mengasingkan aku. Kakakku begitu baik dan perduli padaku.
Hanya saja aku masih belum ingin bergantung pada siapapun kecuali diriku sendiri. Pengalaman pahitnya tentang kisah percintaan membuatku membenci yang namanya pria ataupun kata cinta.
Aku pikir Theo tulus berteman denganku, kenyataannya dia malah menyatakan perasaannya untuk ku. Aku di permalukan di acara ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Daddy dan mommy bahkan menyetujui hubungan kami karena orang tua Theo merupakan sahabat sekaligus kolega daddy.
Jika dulu daddy menentang keras hubungan Grace dan Liam, aku dengar sendiri dari kakak ku, maka lain halnya bagiku. Daddy membebaskanku memilih siapapun yang bisa membuatku tersenyum bahagia.
Ingatanku kembali ke malam pesta milik Theo, seseorang yang setengah mabuk berjalan sempoyongan menuju kediaman Theo. Mungkinkah dia salah satu tamu mereka?
Dylan yang meninggalkan tab nya mengharuskan ku kembali ke mobil untuk mengambilnya.
Sial, aku sangat sial bertemu dengan pria bertubuh tinggi dengan sorot mata teduh. Kami berpapasan, dia malah mencekal tanganku kemudian berbisik
"Let me kiss you,,, " Dia meracau. Aku tak ingin mengambil resiko. Sayangnya aku terlambat, dia sudah menarik ku hingga bertatapan dengannya.
Cup,,,
****,,, dia mengambil ciuman pertama ku yang sangat berharga. Aku mendorong dadanya sekuat tenaga, tubuhnya limbung terperosok ke taman kecil di sepanjang jalan setapak.
"Kau gila! " Teriak ku memakinya.
Ku putuskan untuk menyetop taksi di depan rumah megah Theo. Di perjalanan aku terus mengusap bibirku menghilangkan jejak pria sialan itu.
***
Hari ini Di sekolah aku mengajak daddy, ada rapat orang tua mengenai acara kelulusan kami. Ketika aku masuk elementary school usiaku memang masih sangat muda, dan sebentar lagi aku sudah bisa meninggalkan senior high School ku.
Rencananya aku ingin kuliah di luar negeri, hidup mandiri jauh dari keluarga. Aku butuh kebebasan, rasanya terkekang tinggal bersama orang tuaku. Mereka terus memantau apa saja yang ku lakukan selama ini.
"Al,,, " Seseorang memanggilku, aku hafal suara itu adalah Theo. Daddy mengangguk kemudian menuju ruang pertemuan.
__ADS_1
"We need to talk Al." Lanjutnya, aku membuang wajah malas. Theo menghela nafas kemudian memegang pundakku.
"What? " Sarkas ku menatap Theo yang merasa bersalah, dia menggaruk tengkuknya entah gatal atau tidak aku tidak peduli.
"Jika kau tidak menyukainya, maka lupakanlah. Aku masih ingin berteman baik denganmu Al." Harusnya aku tidak mengasihani Theo, sayangnya hanya Theo teman yang aku punya di sekolah.
"Ok, kita tetap berteman. " Kataku singkat. Kami berjalan menuju ruang pertemuan bersama.
Acara belum mulai bahkan, daddy sudah keluar dan bertemu dengan kami. Aku melihat raut cemas di wajahnya, ada apa lagi sekarang?
"What's wrong dadd? " Tanyaku penasaran.
"Samantha, dia di tusuk Ethan di sekolah Dylan." Bisiknya pelan tak ingin menarik perhatian orang-orang yang lewat.
"Bagaimana Dylan? Gracia? Mereka baik-baik saja kan dadd? " Yang ada di pikiranku hanyalah keselamatan mereka, aku tidak peduli orang lain. Jahat bukan? Ya, karena aku sangat menyayangi Dylan.
"Mereka tidak apa-apa. Daddy akan menjemput Dylan di sekolahnya. Kau langsung pulang saat pelajaran selesai." Perintah daddy, aku mengangguk patuh.
Mengenai keselamatan keluarga, daddy adalah orang pertama yang berdiri memasang badan. Dia selalu menjaga kami dari para musuh tersembunyi. Theo memperhatikan kekhawatiran ku. Aku membalas menatap nya.
"Ayo ke kelas. " Ajakku, Theo mengekor di belakang.
"Apa aku harus sedih atau senang ? Aku di perintahkan belajar mengurus perusahaan ayahku. " Theo pasti sangat menyukai ku, dia memang tidak dekat dengan anak-anak lain selain diriku.
"Kita bisa saling mengunjungi. Aku sudah mendaftar ke UAL (university of Art London) . Di sana aku bisa mengejar mimpiku. " Aku selalu terbuka pada Theo, dia memang pendengar yang baik dan kadang sarannya menyegarkan pemikiran ku. Itulah alasan kenapa aku tidak bisa membencinya ketika dia menyukai ku.
"London, kakak ku juga tinggal disana. Dia merintis usahanya dari nol, kau harus bertemu dengannya kapan-kapan." Ucap Theo, sejak aku mengenalnya sekalipun belum pernah bertemu dengan kakak Theo.
"Semoga dia tidak aneh sepertimu." Aku meledek nya, tapi Theo malah mengacak-acak rambutku. Sepertinya dia gemas sendiri menghadapi ku.
Guru sudah tiba di kelas, kami pun mulai membahas materi di akhir bab sebelum ujian mendatang.
"Samantha adalah adik angkat Ethan. dia sempat bilang kalau kakaknya meminta Sam mendekati keluargamu untuk memisahkan kalian. Ethan marah karena Sam tidak bisa di kendalikan. " nyonya Coco menjelaskan kondisi keluarga barunya pada Liam, anak kandungnya.
"aku tahu, aku sudah menyelidiki Sam. aku diam menunggu apa keputusan Samantha." bagi seorang Liam menelusuri kehidupan seseorang sudah menjadi bagian termudah. informasi apapun tidak bisa luput darinya.
__ADS_1
"Keluarga Ethan dan Samantha? " dokter keluar dari instalasi gawat darurat, kami bertiga berdiri menunggu kabar dari nya.
"maaf kami harus menyampaikan kabar duka, tuan Ethan tidak bisa di selamat kan. Untuk nona Samantha dia baik-baik saja meski kehilangan banyak darah." nyonya Coco terduduk lemas di kursi, bagaimana bisa Ethan pergi begitu saja? apa yang harus dia katakan pada suaminya.
"tenanglah momm, mungkin ini sudah menjadi takdir Ethan. " Liam merangkul pundak Nyonya Coco untuk memberinya dukungan.
"aku akan mengurus semuanya. " Zen bersuara, dia juga kaget dengan apa yang terjadi. syukurlah gadis itu selamat, mungkin dia akan sangat terpukul mendengar kakak asuhnya tiada.
Kabar duka tentang Ethan langsung tersebar luas di media. mengingat latar belakangnya jelas banyak media yang ingin meliput soal kematian mendadak fotografer muda dan sukses itu.
beruntung, kasus penculikan yang di lakukan Ethan bisa di sembunyikan. Ethan akan pergi meninggalkan dunia ini dengan tenang, tanpa ada yang menggunjing nya. Zen memberi klarifikasi kematian Ethan di sebabkan kecelakaan lalu lintas demi menyelamatkan nyawa orang lain. dan itu atas perintah Liam tentunya.
"kami yang kehilangan meminta maaf jika selama hidupnya Ethan memiliki kesalahan tak sengaja. Terima kasih." Zen meninggalkan para awak media yang meliput di luar rumah sakit. dia harus mempersiapkan pemakaman Ethan, sebelumnya Zen ingin melihat keadaan Samantha terlebih dulu.
"boleh aku masuk? " Zen meminta izin pada ibu Liam terlebih dulu.
"masuklah, tolong jaga dia sebentar. aku ingin mengunjungi Ethan." Zen mengangguk, dia membukakan pintu untuk Nyonya Coco yang akan keluar ruangan.
Zen duduk di kursi bekas ibu asuh gadis yang ia sukai. belum ada tanda-tanda Samantha akan siuman.
"Sam, bangunlah. kau harus cepat sembuh agar aku bisa mengganggu mu lagi. kau jelek saat diam seperti ini." Zen tidak mengerti kenapa ia tertarik pada Sam. padahal mereka baru saling mengenal.
kemampuannya mendekati Dylan dan akrab dengan cepat berhasil menjadi nilai plus. Sam memiliki jiwa keibuan dan Zen suka. ia berharap bisa nikah muda demi hadirnya anak-anak di dalam rumahnya kelak.
"Ethan,,, " lirih Samantha mulai membuka matanya. Zen membungkuk mendekatkan wajahnya pada Sam.
"kau sudah sadar Sam? aku akan panggil dokter. " Sam menggelengkan kepalanya lemah, Zen tidak jadi keluar dan lebih memilih menunggu Samantha di banding mengurus kepulangan Ethan.
"Dimana Ethan? tuan Liam dan nona Grace baik-baik saja bukan? " Zen di cecar pertanyaan oleh Samantha.
"mereka baik. Sam, kau harus tabah. " Ucap Zen tak bisa melanjutkan kata-kata nya.
"apa maksudmu tuan? Ethan mana, aku ingin bicara padanya. aku harus memberinya hukuman karena sudah mengganggu hidup orang lain." Sam hendak bangun namun perutnya masih terasa nyeri.
"Sam, Ethan sudah tenang di sana bersama ibunya. kau harus kuat menghadapi semua ini." pinta Zen, semoga Samantha tidak histeris mendengar kabar kematian kakak asuhnya.
__ADS_1
"tidak mungkin, dia seharusnya tidak melakukan ini semua. aku ingin melihat Ethan tuan. tolong bantu aku." Samantha menangis tersedu-sedu tak percaya bahwa kakaknya pergi meninggalkannya.
"tenanglah Sam, aku akan coba bicara pada dokter. " Zen mengusap kepala Samantha, menenangkannya dengan tulus.