
Sesampainya di kediaman Liam Grace mematikan mesin mobil lalu melepas Seatbelt. Ia menengok ke sebelah kanan dimana Liam sudah tertidur dengan wajah damainya. Tangan Grace tergerak mengelus pipi yang ditumbuhi bulu bulu halus.
"Kenapa sulit luluhkan hatimu Liam? " Gumam Grace, ia terkejut ketika Josh mengetuk kaca mobil memintanya membukakan kunci.
Josh memapah tubuh bosnya menuju rumah di susul Grace.
Ini terburuk, biasanya Liam tidak mabuk sampai tak sadarkan diri. Grace mengerti keadaan hatinya sedang kacau balau. "Selamat malam Pak Josh." Liam sudah berada di atas tempat tidur jadi Grace berniat pergi, urusannya selesai menjemput dan membawa Liam pulang.
"Maaf nona, saya rasa sebaiknya nona menginap saja di sini. Bagaimana kalau tuan bangun mencari keberadaan nona ? " Dia jelas tidak mau di buat repot oleh bosnya. "Aku akan menemaninya sebentar sebelum pergi." Akhirnya Grace terpaksa tinggal lebih lama untuk memastikan Liam baik baik saja. Josh keluar memberi nona muda kesempatan berdua saja dengan Liam.
Grace memilih duduk di sofa merebahkan diri mencari kenyamanan. Akhir akhir ini ia mengalami situasi sulit dan membuat tidak nyaman. Biar Grace urutkan satu persatu permasalahannya. Pertama, Grace baru tahu jika Liam dan dirinya sempat di jodohkan kedua ayahnya tidak suka dia dekat dengan Liam. Berikutnya Ethan sebenarnya merupakan orang terpandang, terakhir Liam kehilangan posisi CEO karena berusaha melindunginya. Belum lagi Hecan yang semakin posesif menjaga dirinya.
Pikiran dan tubuh lelahnya menuntun Grace tertidur cukup lama. Batal sudah kepulangan yang ia rencanakan sebelumnya. Sementara itu Liam terbangun dini hari merasakan pengar di kepalanya. Ia menangkap sosok wanita tertidur di sofa sebelah tempat tidur.
"Ternyata dia tetap tinggal." Terukir senyum di bibir Liam mengetahui Grace menjaganya dengan baik. Merasa kasihan akhirnya Liam memindahkan Grace ke tempat tidur dengan hati hati.
Banyak sekali pemikiran Liam tentang wanita di sebelahnya. Apa ia benar benar sudah jatuh hati padanya? Mampukah Liam melangkah ke jenjang pernikahan bila sewaktu waktu Grace menuntutnya ? Sepertinya Liam belum siap menghadapi semua itu. Ia masih nyaman seperti ini bersama Grace. Ucapan Liam selalu berakhir menyakiti perasaan Grace, rasanya dia tidak pantas menjadi pendampingnya. Grace terlalu baik untuknya yang tidak ingin berkomitmen.
"Apa aku membangunkan mu?" Melihat pergerakan Grace Liam menyentuh pipinya dengan telunjuk. Grace menggeleng karena ia memang ingin bangun.
"Aku harus pulang Liam." Suara serak khas bangun tidur begitu seksi di telinga Liam. "Aku akan mengantarmu saat matahari muncul, tidak sekarang Grace. " Liam kembali menahan kepergian Grace, ia betah berlama-lama dengannya meski sadar tidak memiliki hak memintanya tetap tinggal.
"Aku minta maaf,,, " Ucap Liam, dirinya memang sedikit sulit mengungkapkan perasaan kepada orang lain apa lagi itu Grace.
"Untuk? " Tanya grace bingung tiba-tiba Liam meminta maaf. Liam menopang kepalanya menggunakan tangan kanan, memiringkan badan menatap Grace yang masih setia berbaring menatapnya.
"Karena aku sudah mengatakan hal hal buruk tentang dirimu, aku menyesal." Tangan Liam membelai pipi Grace kemudian mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Ia sedikit luluh melihat Grace begitu memperdulikan nya.
"Aku mungkin tidak akan bertemu denganmu lagi Liam, semua orang seakan menginginkan kita berpisah." Lirih Grace mengingat betapa gigihnya Hecan membantu sang ayah.
"Kau bebas, aku juga tidak bisa menjanjikan apapun untuk masa depan kita." Liam tetap teguh pendirian, baginya sebuah ikatan terlalu membelenggu kehidupannya.
__ADS_1
"Baiklah, anggap saja ini perpisahan kita." Grace mengukir senyum terindahnya, ia sadar percuma berusaha mendapatkan hati pria itu. Mungkin benar kalau ia harus mulai sadar dari mimpinya, Liam tidak menginginkan dirinya menjadi seorang pendamping hidup.
Sejurus kemudian keduanya saling menyatukan bibir, merasai, terbuai akan hasrat masing-masing. Grace mengambil alih permainan panas mereka, akan ia tunjukkan betapa Grace mengharapkan Liam mau menerimanya. Akan Grace buat Liam hanya bisa bercinta dengannya.
Mereka mendesah memanggil nama lawan mainnya, ini merupakan hal yang sangat nikmat bagi Liam maupun Grace.
"Di dalam, aku mohon Liam." Pinta Grace seraya menggenggam lengan Liam erat, mereka sebentar lagi mencapai titik teratas. "Tidak Grace,,, " Liam menggeleng, nafasnya mulai terengah-engah ketika pergerakannya mulai cepat. Tentu Liam tidak ingin Grace mengandung benih dari dirinya, itu akan semakin mempersulit keadaan.
"Please,,, " Entahlah, Grace malah memaksa Liam sepertinya ia sengaja menginginkan hal itu. Grace memimpikan mendapat sebagian diri Liam di hidupnya. Bukan untuk mengikatnya, hanya saja rasa cinta Grace di luar batas kendalinya.
Merasa tidak tega akhirnya Liam mengabulkan permintaan Grace, semburan hangat memenuhi rahim wanita yang kini menitikan air mata saat Liam mengecup keningnya hangat.
Kondisi Liam belum sepenuhnya hilang dari pengaruh alkohol. Dia kelelahan sehingga dengan mudah terlelap kembali setelah melakukan penyatuan terakhir mereka. Grace memungut pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi setelah memejamkan matanya sebentar. Ia harus segera pergi agar tidak kembali luluh. Sebelum pulang Grace menyempatkan diri mengecup pipi Liam yang tertidur.
"Akan ku kembalikan milikmu, tunggulah sebentar lagi." Ucap Grace, tekadnya sudah bulat yaitu mendekati Peter untuk membalas dendam dan merebut kembali La collection.
,,,,,,,
Salju semakin menebal bertengger di beberapa atap maupun jalanan. Suasana hangat lampu temaram seakan menuntunmu kembali ke alam mimpi. Hari ini pekerjaan begitu banyak menanti, namun perasaan seorang wanita yang patah hati malas melakukan hal apapun. Meski matanya masih terpejam ia mendengar sayup-sayup kegaduhan di luar kamar. Hecan dan Sia pasti sedang ribut memilih menu sarapan mereka.
"Akhirnya kau bangun juga Grace,,, " Sia menatap wajah sendu itu lagi, ia berdiri bersandar pada pintu dengan kedua tangan di lipat di bawah dada.
"Aku butuh secangkir kopi." Kata Grace ambigu.
"Aku akan membuatkannya untukmu." Hecan bergegas mencari cangkir di lemari atas.
"Tidak perlu, aku ingin menikmatinya di kafe perempatan jalan. " Grace kembali ke dalam untuk mengambil jaket tebal dan dompet. Sia dan Hecan melihat Grace kembali ke masa awal pertemuan mereka lagi, menjadi pendiam.
Grace berjalan menyusuri trotoar, tangannya ia masukan kedalam saku jaket menghindari udara dingin kota Paris. Di lampu merah Grace hendak menyebrang namun ia mendapati sosok pria tengah duduk di dekat jendela menyeruput secangkir minuman hangat. Sepertinya latte, atau bisa saja hot americano. Yang pasti Grace tidak ingin bertemu dengannya. Grace berbalik namun ia malah menabrak seseorang dengan cukup keras.
"Aw,,, " Ia cukup terkejut meringis mengusap perutnya yang membentur lengan pria kokoh di hadapannya.
__ADS_1
"Are you okay Grace? " Tangan itu memegang bahunya meneliti ekspresi wajah Grace.
"Ya, aku baik. Ethan? " Tentu Grace terkejut bertemu Ethan di lingkungan tempat tinggalnya sepagi ini. Interaksi keduanya berhasil di tangkap oleh sepasang mata dari dalam cafe.
"Aku tinggal di daerah ini, apa kau ingin sarapan? Kalau begitu pergilah bersamaku." Tanpa menunggu jawaban Grace Ethan menarik tangan wanita yang sudah lama bersemayam di hatinya.
Kecanggungan terjadi ketika ketiga orang terlibat perasaan yang sama. Grace menguatkan hati untuk berhenti peduli pada pria itu, dia jelas memperhatikan gerak gerik dirinya.
"Kau suka hot americano bukan Grace? Aku pesan toast juga untukmu." Ethan tidak menganggap keberadaan Liam, dia fokus mengajak Grace mengobrol di depan kasir. "Aku berhenti minum kopi, aku ingin coklat panas saja." Bahkan minuman kesukaan mereka sama, Grace meringis mengingat Liam juga sangat menyukai kopi hitam di pagi hari.
Menunggu pesanan di buatkan, Ethan menyuruh Grace duduk lebih dulu di meja bersebrangan dengan Liam yang terhalang pintu masuk. Saat pesanan jadi Ethan segera duduk di hadapan Grace menghalangi pandangan keduanya.
"Aku tidak sabar untuk bekerja sama denganmu besok Grace." Ethan terus menarik Grace agar berbincang dengannya dan mengabaikan kehadiran Liam.
"Ya, akupun sama Ethan. Bagaimanan kabar nyonya Coco? " Sorot mata Grace beralih menatap Ethan.
"Dia sangat antusias menyambut kerja sama ini. Nyonya Coco sangat mengagumimu Grace."
Bukan ibunya, tapi kau Ethan. Batin Liam mengumpat kemunafikan seorang Ethan. Ternyata pria itu bisa menguasai diri dalam menarik perhatian Grace.
"Kau tidak lupa kan acara makan malam kita nanti? " Kembali mengingatkan Grace soal jadwal yang di tentukan Tuan Rodrigo, Ethan sengaja membahasnya di depan Liam.
"Aku ingat Ethan, Terima kasih sudah mengundangku." Ethan beralasan ibunya ingin mengundang anak dan ayah itu makan malam secara pribadi di sebuah restoran. "Sebaiknya aku pulang Ethan, Sia dan Hecan pasti sudah menungguku. " Hanya sedikit minuman dan roti panggang yang masuk kedalam perut Grace. Ia tidak berselera.
"Aku antar? " Ethan ikut berdiri namun Grace menahan dengan tangannya. "Lanjutkan saja sarapan mu." Mencoba memahami Grace, Ethan membiarkan wanita itu pergi sendiri tanpa mau memaksanya.
Setelah kepergian Grace Ethan berjalan mendekat ke arah meja Liam. Tatapannya begitu mengintimidasi pria yang kini lebih banyak diam.
"Semoga kau tidak menyesal tuan Liam karena memilih meninggalkan Grace." Cicit Ethan seakan memancing emosi Liam, sejak tadi dia menahannya demi Grace.
"Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan hatinya Ethan." Seringai Liam muncul menandakan dirinya memang berkuasa dan memiliki kekuatan.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah dirimu yang gagal mempertahankan Grace? Aku akan dengan mudah memilikinya, karena aku akan menjanjikan status pasti untuknya. Kau hanya seorang pecundang Liam." Ethan menghina seorang Liam secara berani. Baginya kini Liam bukanlah apa apa.
Ethan benar, Liam merasa kehilangan separuh hidupnya setelah Grace memutuskan meninggalkannya. Dirinya memang pengecut tak mampu menjanjikan dunia Baru seorang Gracia.