My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
people change, come and go


__ADS_3

Menghabiskan waktu untuk belajar dan berkarya demi lari dari sebuah kenangan buruk di masa lalu, Alya akhirnya merampungkan pendidikannya. Meski harus meneruskan kuliah di negara sendiri tak menyurutkan semangatnya. Alya bahkan sudah merintis usahanya di bidang penjualan melalui sebuah website. Mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, hingga koleksi barang-barang antik.


Dan hobinya tetap menghasilkan pundi-pundi dolar. Kali ini Alya lebih fokus menerima pesanan pribadi. Misalnya, seorang klien yang ingin di buatkan potret wajahnya atau keluarganya.


"Selamat ulang tahun Auntie Al... " Ucap Dylan dan Yuna bersamaan. Usia Dylan sekarang hampir sepuluh tahun dan Yuna menginjak lima tahun. Tak terasa, Alya bisa menyelesaikan pendidikannya yang sempat tertunda.


"Terima kasih keponakan auntie, wah kenapa angkanya menjadi empat puluh dua? Apa auntie setua itu ? " Alya mengerucutkan bibirnya, dia merasa sedang di goda oleh mereka.


"Haha karena penampilanmu sekarang terlalu gothic Al." Tak tahan, Grace menertawakan Alya yang memang semakin hari bertingkah lebih berani.


"Tapi anak-anak mu menyukainya, benarkan Dy, Yuna? " Kedua anak itu mengangguk setuju. Karena Alya seolah menjadi pribadi yang berbeda di mata mereka.


Alya kadang berpakaian serba hitam dalam kesehariannya. Namun saat menghadiri acara formal dia akan menyesuaikan gaya berbusana nya.


Seperti saat wisuda sekarang. Alya mengenakan dress nude press body berbahan satin dengan area dada yang terbuka. Kalau saja seseorang melihatnya, dia akan sangat marah Alya terbuka seperti itu.


"See,,, kau hanya takut kalah saing dariku Grace." Alya menyombongkan diri.


"Haha,,, hey kau bahkan jomblo Al, cobalah kau mulai serius menjalani hubungan asmara. Mataku sakit setiap kali kau berganti kekasih." Gelengan kepala Grace menandakan betapa frustasi nya dia terhadap sang adik.


Alya berubah menjadi seorang playgirl, gonta-ganti teman kencan hanya untuk bersenang-senang dalam arti sebagai status belaka.


"Mommy, uncle Theo baru saja mengajaknya berkencan. Aku mendengar mereka bicara lewat telepon." Pura-pura berbisik, padahal suara Yuna bisa di dengar oleh semua anggota keluarganya.


"Hei nona kecil, kau sangat tidak pandai menjaga rahasia." Alya yang duduk di sebelah Yuna menggelitik keponakan perempuannya.


"Ampun auntie, ampun." Semua ikut tertawa melihat keakraban mereka.


"Kau jadi pergi Al? " Suara berat tuan Rodrigo mengisyaratkan pembahasan akan beralih ke mode serius.


"Ya, aku harus menghadiri undangan itu dadd. Theo akan ikut bersama ku, kebetulan dia ada pekerjaan di sana." Jawaban Alya membuat mereka bisa bernafas lega.


"Maaf apa aku terlambat? " Seorang pria gagah dan matang tiba di ruang VIP sebuah restoran hotel. Dia mengecup ujung kepala Alya dengan sayang.


"Kami menunggumu untuk mulai, aku bahkan menahan lapar karenamu." Gerutu Alya mencebik.


"Sorry Al, the meeting was going hard. Aku minta maaf. " Ucapnya pada anggota keluarga Alya yang sudah menunggunya.


"Bukan masalah besar Theo, Alya memang selalu over. " Bibi Patricia tersenyum hangat menyambut Theo. Pria yang selalu ada di masa-masa sulit Alya.


"Ayo kita makan, jangan sampai Alya di larikan ke rumah sakit karena asam lambung. " Ajak Liam, mereka akhirnya menikmati makan siang sebagai perayaan kelulusan Alya.


Selepas acara makan-makan, Alya mampir sebentar di kantor Theodor. Dia sudah resmi menjadi CEO di perusahaan Oliver. Perusahaan yang bergerak di bidang produk makanan olahan maupun cepat saji. Selain menjadi pria tampan dan gagah, Theo juga memiliki bentuk perut enam pak. Membuat semua karyawan wanita nya terpesona. Bagaimana tidak, setiap pagi dia akan datang ke kantor dengan berlari sambil bertelanjang dada.


Apartemen Theo memang dekat dengan kantor jadi dia sengaja melakukan rutinitas itu.


"Theo, aku seperti seorang pencuri. Kenapa mereka menatapku tajam sekali? " Pandangan Alya tertunduk ke bawah, dia tidak berani di serang secara bersamaan.

__ADS_1


"Haha, mereka cemburu Al karena aku membawa wanita untuk pertama kalinya ke kantor." Bukannya melindungi, Theo malah menggenggam tangan Alya dengan sengaja.


Bersama Theo Alya bisa melalui semua kesulitan dan pahitnya hidup. Theo seolah menggantikan peran Christian yang pergi meninggalkannya. Meski Alya selalu merasa tidak enak mendapat perhatian Theo. Dia sabar dan mau menunggu hingga Alya akhirnya bisa menerima perasaan tulusnya.


"Duduklah Al. " Kata Theo, mereka tiba di ruang kerja yang sudah di sambut oleh asistennya.


"Nona mau minum? " Tawar sang asisten ragu-ragu, sekilas melirik ke arah Theo yang sudah fokus membaca laporan sebelum menandatangani nya.


"Tidak perlu uncle, aku tidak akan lama." Jawab Alya sedikit sungkan. Biasanya para CEO mengangkat asisten atau sekretaris seusianya, namun Theo malah memperkerjakan pak Ben. Yang notabene mantan penjaganya.


"Kau terkejut Al? Aku mendapatkan pak Ben susah payah, akhirnya pak Ben mau mendampingi ku. " Theo memang mengetahui sepak terjang asisten nya dari tuan Rodrigo. Dia selalu curhat membutuhkan seseorang yang kinerjanya luar biasa cekatan.


"Ini sedikit canggung, apa uncle Ben akan melaporkan kita ke daddy." Saat berhenti menjadi bagian dari perusahaan Rodrigo, Alya memanggil Ben dengan sebutan uncle.


"Ofcourse he won't, will you? " Keduanya menatap tajam pak Ben, dia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Hahahaha... " Alya dan Theo tertawa puas menggoda Ben, dia akhirnya mengerti dan ikut tersenyum malu.


"Nah, pekerjaan ku sudah selesai pak Ben. Jadi sampai jumpa minggu depan di hari senin." Meski kadang sering bergurau ketajaman Theo tidak pernah diragukan dalam hal pekerjaan. Dia menyelesaikan tugas dengan baik sebelum pergi bersama Alya.


"Selamat bersenang-senang tuan dan nona." Pak Ben melepas kepergian keduanya dengan perasaan lega. Karena mereka semakin dekat, harapannya Alya bisa bahagia bersama Theo nantinya.


Alya akan menghadiri sebuah acara penghargaan untuk para pengusaha era milenial. Sebagai pendatang baru dalam bidang electronic commercial Alya di percaya sebagai penerima kategori best youth new influencer. Alya bahkan menciptakan lapangan kerja bagi pemuda yang gagal bersekolah atau harus berhenti di tengah jalan. Dan keluarganya sangat mendukung cita-cita Alya, dia ingin mendirikan Yayasan Pendidikan jika tabungannya sudah terkumpul.


Sedangkan Theo, dia ada pertemuan penting untuk melanjutkan pembukaan anak perusahaan di sana. Theo berhasil di proyek pertamanya tanpa kendala berarti. Keduanya selalu bertukar pikiran saat bertemu di waktu senggang.


"Hem,,, aku rasa tidak." Jawab Alya yakin. Lalu Theo merangkul Alya menuju gate keberangkatan.


Di pesawat selama perjalanan Theo selalu fokus menatap IPad miliknya. Sementara Alya tertidur karena begitu lelah setelah acara kelulusan.


"Nona,,, "


"Hush,,, let her sleep." Pramugari yang berniat menawarkan Alya minuman langsung di hentikan oleh Theo. Padahal pramugari itu memang sengaja mencari perhatian pria di sebelah Alya.


"Jangan tinggalkan aku,,, aku mohon. Kembalilah, aku tahu aku salah." Alya mengigau di sela tidurnya, Theo menghela nafas. Alya pasti melupakan sesuatu.


"Hey,,, bangunlah Al. " Menepuk pipi Alya lembut, Theo membangunkan Alya yang mulai berkeringat.


"Apa aku ketiduran? " Segera Alya membetulkan posisi tidurnya, dia hilang kendali di saat kantuk melanda.


"Kau tidak membawanya Al, apa kau sengaja melakukan hal itu? " Theo menatap Alya intens, membuatnya salah tingkah.


"Aku ingin cuci muka. " Segera melepas sabuk pengaman, Alya berjalan menuju toilet di barisan paling belakang.


Sejak Alya kehilangan calon anaknya, dia selalu di hantui mimpi buruk akibat rasa bersalahnya. Hanya dengan bantuan obat tidur Alya bisa dengan tenang tanpa bermimpi. Rasanya Alya ingin berhenti meminumnya, ia rela meski selalu mengigau atau bahkan menangis tersedu-sedu ketika tidur.


"Kau harus kuat Al, aku yakin kau bisa. " Lalu Alya segera membasuh wajahnya dengan air di wastafel. Sedikit lebih segar agar tidak kembali tertidur.

__ADS_1


Satu jam lebih mengudara, Theo dan Alya tiba di negara tujuan. Rasanya kaki Alya begitu berat melangkah. Semua hal akan menariknya kembali ke masa lalu. Sekuat apapun ia berusaha melupakan, nyatanya bayang-bayang itu selalu menghampiri nya.


"Kau tenang saja Al, aku memesan hotel paling sederhana selama kita di London." Theo membantu Alya mendorong koper miliknya menuju mobil yang sudah ia sewa.


"Tetap saja, aku merasa tidak nyaman." Batin Alya, dia tidak mungkin membebani Theo dengan perasaan takutnya.


Apa yang dikatakan Theo sungguh-sungguh, mereka bahkan rela menginap di losmen agar Alya merasa nyaman. Karena beberapa hotel ternama sudah di akuisisi oleh seseorang.


"Tidak masalah bukan kita tidur di sini?" Tanya Theo memastikan, karena Theo takut Alya malah merasa sungkan berada di tempat sederhana.


"Kau bercanda Theo? Ini mengagumkan." Meski hanya sebuah penginapan, tapi pemiliknya merawat dengan baik bangunan maupun suasana di dalamnya. Di tengah-tengah bangunan dua lantai itu mereka bisa menikmati makan malam ataupun sarapan yang sudah di siapkan. Bahkan di area belakang terdapat kolam air hangat untuk rileksasi.


"Syukurlah kau senang, hampir saja aku harus mencari tempat lain." Theo mengusap dadanya lega.


"Istirahatlah Al, kamar kita bersebelahan. Aku ingin pergi keluar sebentar." Setelah mengantarkan Alya ke lantai dua, Theo hanya masuk ke kamar untuk meletakkan barang bawaan nya. Ia langsung bergegas ada urusan lain.


"Take care Theo. " Teriak Alya, Theo hanya melambaikan tangan saat menuruni tangga.


Di sini, memang jauh dari seseorang yang Alya hindari selama ini. Tapi itu tidak menutup kemungkinan mereka akan bertemu tanpa sengaja. Theo membantu Alya menutup akses di antara keduanya. Atas permintaan Alya sendiri tentunya.


"Aku lapar sekali... " Gumam Alya meraba perutnya. Jam makan malam masih cukup lama, dan Alya tidak bisa menunggu. Ia memutuskan untuk keluar berjalan-jalan di sekitar penginapan untuk mencari tempat makan.


Saat ingin menyebrang jalan Alya lupa menengok ke sebelah kanan, dimana sebuah mobil melaju dengan cukup kencang ke arahnya.


Ciiiiiiit,,,,


Untungnya pengemudi bisa mengerem dengan tepat sebelum mobilnya menabrak tubuh Alya.


"Maaf, aku minta maaf. " Alya mengatupkan kedua tangannya menyadari kesalahan yang ia perbuat. Namun pengendara hanya berdiam diri di dalam mobil.


Mungkin dia tidak akan memperpanjang masalah, Alya segera menepi ke sebrang jalan. Setelahnya mobil kembali melaju dengan sangat kencang.


*** Christian's pov ***


Di usianya yang baru genap tiga puluh empat, kehidupan Christian layaknya rollercoaster. Memutuskan menikah dengan Seraphina bukanlah pilihan yang baik. Dia berubah menjadi dingin, arogan dan suka memukuli Sera istrinya. Menjadikan Sera mainan, atau untuk sekedar memuaskannya tanpa penyatuan. Lebih parah dari pada tidak menyentuhnya sama sekali.


"Aku bersumpah untukmu Christian, kau tidak akan pernah bisa hidup bahagia." Ucapan selamat tinggal yang Sera lontarkan setelah resmi menyandang status janda seorang Christian Oliver.


Mereka menikah hanya dalam waktu dua tahun, Christian seolah menjadikan Sera pelampiasan semata. Tak ada belas kasih, orang tua Sera bahkan memohon dengan sangat agar dia segera melepaskan putri mereka yang berharga.


Tiga tahun sudah Christian menyendiri. Dia memang bukan seorang pemain, tapi itu lebih kejam dan menakutkan bagi para wanita penghibur. Menyiksa agar mendapat kepuasan batin. Padahal dia sendiri sadar, apa yang ia inginkan selama ini.


"Shiiit... " Makinya memukuli kemudi yang ia hentikan di tempat sepi. Beberapa tahun berusaha melupakannya ternyata Christian malah di pertemukan lagi dengan orang yang bertanggung jawab atas perangainya sekarang.


"Kenapa, kenapa kau muncul lagi di hadapan ku hah? " Matanya memerah menandakan Christian marah besar atas pertemuan tidak sengaja tadi. Christian masih bisa melihat kecantikan nya yang tertutupi dengan gaya busana serba hitam nya.


"Tunggu pembalasan ku Alya Shamare." Ancam nya dengan seringai menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2