
Grace selesai membersihkan diri, kini ia masih duduk di depan meja rias mengamati pantulan wajahnya. Tak terasa tanpa bisa tertahan, air mata jatuh membasahi pipi. Liam kembali muncul dalam ingatannya. Bagaimana kerasnya tuan Rodrigo menghalangi Liam membuat Grace merasa kasihan padanya. Grace memang kecewa tapi ia sedih melihat Liam terluka.
Suara ramai di luar berhasil menghentikan rasa gelisah nya. Grace buru buru menghapus air matanya lalu berjalan keluar. Menyusuri koridor selebar kamar, Grace menangkap pemandangan mengejutkan, ia berbalik setelah melihat seorang pria bertelanjang dada.
"Hey Jack lekas pakai kaosmu, kau membuat nona Grace tidak nyaman." Bibi Pat menepuk punggungnya hingga menimbulkan bunyi. Pria berbadan tegap dengan warna kulit sawo matang hanya meringis menerimanya. Mungkin karena sering berjemur di pantai pria itu memiliki warna kulit eksotis, apa lagi keringat mendominasi dada bidangnya.
"Maaf nona, paman Jack memang terlalu santai." Alya juga baru keluar kamar, dia melihat pipi Grace yang merona.
"Sebaiknya kau cepat mandi, kita akan makan malam bersama." Perintah bibi Pat mendorong tubuh Jack.
Jack menaiki tangga tanpa memperdulikan kehadiran Grace. Baginya kedatangan Grace malah menyusahkan, dia harus memenuhi semua kebutuhan bahkan di tuntut mendampinginya kemanapun Grace pergi.
"Nona kemari lah, bibi sudah memasak menu kesukaan nona." Tercium aroma lezat beef lasagna di hidung Grace, mungkin bibi Pat tahu dari ayahnya.
"Wah, ini pasti enak sekali bi." Grace duduk hati hati di kursi kayu, ia sedikit mengelus perut nya agar tetap nyaman.
Tak berselang lama Jack kembali turun dengan aura lebih segar. Ia hanya mengenakan celana bahan dan kaos oversize. Siapapun pasti akan terpesona melihat ketampanan Jack. Grace hanya menunduk menghindari bersi tatap dengan mata coklat Jack.
"Sebelum makan lebih baik kita berdo'a dulu. " Alya memimpin do'a. Grace merasa hangat berada di tengah mereka walau reaksi Jack seperti tidak menyukai kehadirannya.
Makan malam berjalan lancar tanpa suara. Grace menikmati makanan buatan bibi Pat, tapi ia belum bisa menghabiskan porsinya. "Nona apa masakan ku ada yang salah?" Tanya Bibi Pat hati hati takut menyinggung perasaan Grace. Bibi Pat masih terlihat cantik dan segar meski usianya sudah menginjak kepala empat. Tubuhnya masih ramping terjaga, mungkin karena pekerjaan nya banyak menggunakan tenaga.
"Ini enak bi, aku hanya kurang berselera." Jawab Grace menunduk sambil memainkan garpunya.
"Masih banyak orang susah di luar sana, kau beruntung bisa makan enak. Jadi jangan pernah membuang makanan." Jack akhirnya bersuara, dia merebut piring milik Grace lalu mulai menghabiskan untuknya. Grace tersenyum kaku menanggapi omelan Jack.
__ADS_1
Usai acara makan malam, Grace memilih duduk menyendiri di balkon kamar. Bintang bintang terlihat menerangi gelapnya langit malam. Coklat panas di genggamnya membuat tangan Grace hangat di tengah dinginnya angin pantai.
"Baby, kenapa mommy malah merindukan daddy mu... " Lirih Grace menyentuh perut ratanya.
Di ambang jendela besar ruang keluarga Jack juga berdiri menatap langit. Ia melirik sedikit saat mendengar seseorang berbicara. Ternyata wanita itu memang sedang dalam pelarian. Jack meringis mengingat sikap dinginnya pada Grace. Tidak seharusnya Jack memperlakukan wanita hamil seperti itu.
Tanpa ragu Jack keluar lalu berjalan menuju balkon kamar Grace yang memang terhubung dengan balkon ruang keluarga.
"Maaf atas sikapku tadi. " Ucap Jack tulus. Grace tersenyum tipis mengangguk tak masalah.
"Besok aku akan mengantarmu jalan jalan kalau mau, jangan sungkan. Tapi aku akan bekerja pagi dan sore hari. Sisanya kau bebas memerintah ku." Kini Jack bisa tersenyum ramah tanpa harus menunjukkan kekesalannya. Grace tahu Jack orang baik hanya saja pria itu berusaha mengabaikannya.
"Berapa usiamu Grace? " Jack duduk tanpa permisi di sebelah Grace namun dia malah memilih duduk di lantai kayu.
"Tahun ini dua puluh tiga." Jawab Grace. "Wah masih muda, kita terpaut satu dekade ternyata. " Jack merasa dirinya cukup tua untuk bisa mendekati Grace. Grace terkekeh geli mendengar keluhan Jack. "Kau kerja apa Jack? " Hanya sekedar basa basi Grace bertanya.
"Kau hebat Jack." Puji Grace tulus. "Tidurlah, kalau kau butuh sesuatu tekan nomer sembilan empat itu nomer kamarku." Jack berdiri kemudian kembali ke dalam lewat jendela ruang keluarga. Grace pun mulai merasakan kantuk hingga ia memilih berbaring di tempat tidur lebih awal.
,,,,,,,
Nyenyak.
Satu kata itu yang baru saja Grace rasakan. Ternyata berada di tempat asing bukan berarti dirinya kesusahan untuk tidur. Grace bangun dengan wajah ceria dan juga full energy. Saat dirinya hendak ke kamar mandi terdengar suara ribut di luar kamar. Mungkin saja itu Jack yang sedang menggoda Alya. Penasaran, Grace memilih keluar sebentar sebelum membersihkan diri.
Terlihat dari depan pintu Jack sedang mengangkat ayam kalkun yang sudah bersih dari bulu untuk menakuti Alya. "Hentikan paman, kau selalu saja mengganggu ku. " Teriak Alya sambil mengibaskan tangannya menahan serangan Jack.
__ADS_1
"Kau aneh Al, ayam ini sudah mati kau masih saja takut. Tapi giliran makan roasted chicken kau yang selalu menghabiskan nya." Gelak tawa begitu nyaring dan renyah, spontan membuat Grace tersenyum menyaksikan tingkah mereka.
Jack yang menyadari kehadiran Grace ia berdehem menghentikan keusilannya. Jack malah terpaku memperhatikan Grace dari atas sampai bawah.
Cantik.
Meski Grace hanya mengenakan daster putih lengan panjang, rambut sedikit berantakan namun wajahnya tetap cerah seperti mentari pagi.
"Nona, selamat pagi." Alya mengikuti arah pandangan sang paman lalu menyapa Grace yang masih berdiri mematung. "Bersiaplah Grace, aku akan menjemputmu dua jam dari sekarang." Jack lalu mendekati bibi Pat untuk memberikan ayam kalkun, mereka akan menyambut hari thanks giving nanti malam.
"Al, pamanmu akan pergi? " Grace berjalan menghampiri Alya, gadis menginjak remaja itu cekatan merapikan sofa dan meja ruang keluarga.
"Iya nona, paman akan menyembuhkan orang-orang sakit. Dia bekerja secara sukarela di sini. Di bayar ataupun tidak paman selalu sigap melayani pasiennya. " Alya bercerita tanpa menghentikan aktifitas nya.
"Kau sekolah kan? " Grace heran kenapa Alya sangat santai menjalani paginya. "Tentu nona, aku bercita-cita ingin menjadi perancang busana. Di kamarku ada satu dress yang berhasil aku jahit. Jika nona berkenan maukah menjadi model ku? " Alya selesai, kini ia menatap Grace intens. Tangannya mengulur ingin mengajak Grace melihat maha karyanya.
"Sure." Grace meraih tangan mungil itu lalu mengikuti Alya di belakang.
Bibi Pat mengamati kedekatan Alya juga Grace. senyum mengembang merasa senang mereka bisa akrab dengan cepat. Ia kembali mengingat pesan tuan Rodrigo lewat telpon. "Grace sedang rapuh, tolong bantu dia menjalani hari harinya. aku akan sangat berterima kasih jika kalian mau membantu." Bagi bibi Pat Grace sudah seperti anak sulung nya. merasa cukup memikirkan tuan Rodrigo dan putrinya bibi Pat kembali melanjutkan cuci piring, ia harus mulai memasak setelahnya.
Di Kota Paris, seseorang masih saja menatap kosong ke luar jendela. hatinya kosong merasa kehilangan amat dalam. dulu tidak sama, dia masih bisa bertemu wanitanya meski dari jarak jauh. sudah seminggu lebih dia benar-benar kehilangan jejak.
"Tuan, rapat pemegang saham La Chambre akan segera di mulai." asisten pribadi bos berwajah sendu itu datang menghentikan lamunannya.
"baiklah. aku harus kembali pada realita." bangkit dari kursi kebesarannya, pria itu kini berjalan gagah sembari mengancingkan jasnya.
__ADS_1
kepemimpinannya sudah kembali, semua staf merasa tenang berada di bawah naungannya. Bos sepertinya memang memiliki wibawa dan juga ketegasan. walau terkesan dingin tapi tetap menjunjung tinggi sikap profesionalisme.
"Josh tolong siapkan keberangkatan ku ke kota tujuan. aku ingin sedikit berlibur di sana setelah pekerjaan ku selesai." Kata bos yang tak lain adalah Liam. Josh hanya menunduk patuh, mungkin mulai hari ini dirinya tidak akan di sibukkan dengan urusan pribadi atasan. Liam sudah bertekad akan fokus pada bisnis bisnisnya.