My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 51


__ADS_3

Karena belum sempat keduanya membeli rumah baru, Grace menerima saja jika Liam mengajaknya pulang ke rumah pribadinya bersama tuan Arthur. Di sana ada Bibi Wen dan Bibi Jill yang sudah akrab dengan Grace, jadi ketika Liam pergi bekerja Grace ada temannya.


"Besok aku akan ikut rapat Liam. " Kata Grace yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam di bantu kedua nanny. Sementara Dylan dan Liam sibuk bermain teka teki di notebook milik anak mereka.


"Kau tidak masalah baby? " Tanya Liam bersimpati.


"Ya meski aku kesal, bisa bisanya aku kalah dari mereka. " Grace mengedikan bahunya, pasalnya ia akan di berhentikan sebagai CEO di perusahaan ayahnya.


"Kau memang lebih cocok jadi ibu rumah tangga Grace." Liam berkata jujur karena setiap pekerjaan yang Grace ambil selalu berjalan singkat. Mulai dari menjadi seorang dealer, asisten pribadi, model hingga pemimpin perusahaan. Hanya satu yang bertahan cukup lama yaitu asisten fotografer.


"Aku tahu aku sangat handal memerankan tugas seorang ibu dan istri. Tapi kalau kau membutuhkan seorang sekretaris aku siap melamar. " Grace mengeluarkan daging panggang dari oven yang harumnya menyeruak.


"Akan aku pikirkan, kau bisa bekerja sambil mengasuh Dylan. " Grace terkekeh mendengar pernyataan konyol sang suami. "Tidak, itu bukan profesional namanya. Dylan sudah cukup pintar bila di titipkan pada nanny nya. Oh ya, kapan dia akan datang? " Liam merekrut seorang baby sitter untuk menjaga Dylan. Dia bertugas mengantar dan menjemput serta menemani Dylan di rumah.


"Besok sepertinya. " Jawab Liam lalu mengajak Dylan ke meja makan untuk menyantap masakan mommy tercintanya.


Besok paginya mereka sudah siap untuk mengantar Dylan ke sekolah terlebih dulu. Seseorang tiba dengan menarik kopernya, Liam dan Grace tak jadi masuk ke mobil karena harus menyambutnya.


"Selamat pagi nyonya, tuan. Saya Samantha nanny untuk tuan muda Dylan. " Perempuan yang sepertinya seusia dengan Grace itu sedikit menunduk menyapa atasannya. Dia menguncir kuda rambutnya dengan Kacamata yang bertengger di hidung minimalis nya.


"Bibi Wen akan menunjukkan kamarmu, pukul sebelas nanti kau jemput Dylan di sekolahnya bersama driver." Titah Liam menjelaskan tugas dan tanggung jawab Sam.


"Baik tuan. " Tanpa banyak bicara Liam menggandeng Grace menuju mobil mereka dimana Dylan sudah masuk sejak tadi.


Di perjalanan ketiganya bercengkrama membahas hal kecil.


"Mommy apa auntie tadi yang akan menjagaku? " Tanya Dylan penasaran. "Benar sayang, namanya Auntie Samantha. Maaf karena mommy belum bisa sepenuhnya menjaga kamu sayang." Kalau bukan urusan mendesak Liam juga melarang Grace keluar rumah. Abigail menyarankan Grace beristirahat total agar cepat pulih. Keduanya ingin segera ikut program anak kembar demi mewujudkan tim basket impian.


"Aku ragu dengan nanny nya Dylan, kenapa pihak yayasan merekomendasikan anggota keluarga nya. Bukankah seharusnya pengasuh resmi bersertifikat." Liam tidak suka melihat sosok Samantha, tatapan perempuan itu seperti sengaja ingin menggodanya.


"Mungkin dia sedang membutuhkan pekerjaan ini. Kita bisa lihat progres ke depannya Liam." Grace menyentuh bahu Liam mengajaknya positif thinking.


"We'll see... " Liam menghela nafas.


"Baik, dengan ini kami sepakat mencopot jabatan CEO yang di duduki nona Grace. Sebagai gantinya kami menunjuk salah satu pemegang saham yang sangat kompeten di bidang fashion yaitu tuan Liam Arthur Junior." Rapat pun di tutup setelah mendapat keputusan yang tepat dan di setujui. Semua orang berdiri bertepuk tangan menyambut Liam. Sejak Grace menghilang dia memang banyak membantu mertuanya di kantor.

__ADS_1


"Congratulations... " Ucap Grace mengajak Liam berjabat tangan.


"Thank you baby, and congrats cause you're my new personal assistant. " Bisik Liam di telinga Grace. Mereka terkekeh pelan.


Joshua memutuskan untuk bekerja di kasino milik Liam lagi. Ia sudah merasa tenang meninggalkan Liam yang berbahagia dengan istri dan anaknya. La Collection tetap di pegang staf ahli, dan kini sepasang suami-istri itu memutuskan mengurus perusahaan berlian tuan Rodrigo. Tentu mereka akan sangat sibuk menjalankan beberapa bisnisnya.


"Apa perlu kita melakukan akuisisi dan penggabungan? " saran Liam ketika mereka duduk berhadapan di ruang kerja. Keduanya sibuk memeriksa beberapa laporan keuangan.


"Aku belum setuju. Mengingat bagaiman kerasnya kehidupan kita aku ragu, bisa saja terjadi sesuatu diantara kita. Aku memiliki adik dan dia juga berhak atas ini. " Liam paham apa yang di katakan Grace, mungkin ada cara lain supaya mereka bisa bekerja sama.


"Ini membuatku pusing, ternyata tidak gampang mengurus semuanya secara bersamaan. " Liam menyandarkan tubuhnya di kursi putar nya.


"Kita atur jadwal saja, senin selasa di Miracle, rabu kamis di La Collection, jumat LG sporty sabtu minggu di La chambre sekaligus menghabiskan weekend bersama keluarga. " Grace memberi option yang menyegarkan, jadi Liam tidak perlu bolak balik ke beberapa perusahaannya dalam sehari hanya untuk mengecek kondisi perusahaan.


"Kau memang handal menjadi asisten ku Grace." Liam menyetujui ide cemerlang istri nya.


"What would you like to drink sir? " Grace bangkit dari kursinya menawarkan Liam minuman.


"Oh come on baby, kau tidak perlu melakukannya." Liam terkekeh melihat tingkah sang istri.


"Give me your black card! " Grace menyodorkan tangannya menagih uang nafkah dari suami.


"AS your Wish baby. " Sebelum mengeluarkan kartunya Liam mengecup bibir Grace singkat. Meski sudah menikah intensitas aktifitas ranjang mereka masih sangat terbatas. Liam akan sabar menunggu hingga Grace siap secara fisik maupun mental.


"Maaf membuatmu menunggu Liam. " Grace sadar kekurangannya, ia merasa bersalah dan kasihan pada Liam. Liam memeluk Grace erat membelai rambutnya. "It's gonna be alright baby, I love you... " Lirih nya membuat Grace merasakan kehangatan.


"I love you too hubby. "


Seorang perempuan bersandar di pagar besi sebuah sekolah sambil menghisap rokoknya. Kalau bukan karena terpaksa Ia enggan menjalankan tugas ini. Lebih baik dia hidup bebas tanpa beban dari pada harus tinggal di rumah orang asing.


Ketika anak anak playgroup berhamburan keluar di jam pulang sekolah Samantha segera membuang rokoknya.


"Apa kau pengasuh Lim Dylan? " Miss sekolah menyapa Samantha dengan menggandeng Dylan.


"Ya, it's me. " Ini pertama kalinya Sam berinteraksi dengan anak kecil, sungguh Sam bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


"Come on Dy, we go home." Sam mengambil alih tangan Dylan dari miss. "See you tomorrow miss . " Dylan melambaikan tangannya pamit pada guru pembimbing. Di usianya Dylan sudah menguasai bahasa Perancis dan juga Inggris dalam hal kosakata. Untuk tulisan Dylan sedikit kesulitan spelling bahasa negara kelahirannya. Sehari-hari orang tuanya memang mengajak Dylan berbicara bahasa Inggris. Berbeda ketika dia bersama kakek nenek dan auntie Al, Dylan lebih nyaman menggunakan bahasa Perancis.


"Nanny, kenapa kita jalan kaki? Bukankah ada driver pribadi." Mereka sedang berjalan menyusuri trotoar, kediaman Liam dan sekolah Dylan tidak begitu jauh. Karena hanya berbeda satu blok dan perlu waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai.


"Karena nanny sudah terbiasa berjalan kaki. Nanny mual kalau harus naik mobil. " Sam tersenyum menatap Dylan yang berada jauh di bawahnya. Ternyata Dylan bukan tipe anak yang rewel membuat Sam mudah akrab dengannya.


"Tuan muda, boleh aku bertanya sesuatu?" "Tentu." Jawab Dylan, tatapannya terus lurus ke depan.


"Apa kau bahagia memiliki orang tua seperti mereka? " Sam tiba-tiba menanyakan hal itu pada Dylan entah apa maksudnya.


"Ya, sangat. Mereka saling mencintai dan juga mencintaiku. Untuk bisa bersama seperti sekarang daddy dan mommy berjuang sangat keras. Apa lagi saat ini mommy sedang bersedih karena kehilangan calon adikku. " Dylan menunduk ke bawah merasakan kesedihan yang mendalam untuk anak seusianya.


"Really? I'm sorry to hear that." Sam juga terkejut dan tak menyangka mendengar kabar duka yang di alami nyonya rumah. "It's ok, mommy wanita kuat. Aku sangat kagum padanya, dia bahkan membesarkanku seorang diri sebelum aku bertemu daddy." Obrolan mereka pun berlanjut membahas seputar keseharian Dylan. Dylan berhasil mengubah sudut pandang Samantha terhadap anak kecil. Dulu dia tidak menyukai dekat lama lama dengan anak-anak, sekarang dia malah betah mengobrol lama dengan majikan kecilnya.


dan tak terasa mereka sudah tiba di dalam rumah megah Liam. driver yang memiliki tugas menjemput Dylan mendatangi keduanya dengan setengah berlari.


"Samantha, seharusnya kau pergi bersamaku. aku bisa di marahi tuan besar. " Zen supir tampan itu berhasil membuat Samantha kikuk karena di marah di depan anak kecil. seumur umur baru kali ini dia di perlakukan seperti itu.


"Itu menjadi urusanku. kau tenang saja dan tak perlu marah marah padaku. " sahut Samantha tidak kalah ketus.


"Nanny, Uncle Zen itu,,, " ucapan Dylan mengambang karena di tatap oleh Zen. "sebaiknya kau cepat ajak Dylan masuk ke dalam, sebentar lagi waktu makan siang." perintah Zen pada Samantha.


"hey kau siapa berani mengatur ku? kita sama sama pekerja di sini." Samantha mendengus kesal pada Zen. lalu ia menarik lembut Dylan menjauhi pria sombong yang tengah berkacak pinggang.


"nanny, Sebenarnya uncle Zen bukan driver. dia kepala pekerja di semua perusahaan Daddy. uncle Zen itu adik sepupu daddy." Hah, Samantha cukup kaget mendengar penuturan Dylan. jadi Zen berada di atas dirinya? bagaimana kalau Sam malah di pecat oleh kepala pekerja angkuh itu? bisa bisa Sam terkena masalah.


"hehe biarlah tuan, aku sangat kesal padanya. seenaknya saja membentak ku. " kemudian Samantha mengajak Dylan cuci tangan dan kaki serta mengganti pakaiannya sebelum pergi ke meja makan. Hari pertama bekerja cukup mudah bagi Sam, kecuali berhadapan dengan Zen.


"Samantha kita perlu bicara! " perintah Zen ketika Sam ingin menaruh nasi dan lauk di piring Dylan. karena sudah tahu posisi Zen mau tak mau Sam harus menurutinya. Sam mengikuti langkah tegap dan lebar Zen, wajahnya sudah seperti karakter pangeran tampan di manga toon.


"Maaf sebelumnya,,, " Sam menunduk mengakui kesalahan.


"Dengar, kita bekerja bukan untuk orang sembarangan. Tuan Liam dan nona Grace merupakan pengusaha sukses. siapa saja bisa menjadi musuh dan kapanpun mereka mau mereka mungkin akan menyerang keduanya atau bahkan anggota keluarga lain. Jadi ini bukan sekedar protokol, aku di tugaskan langsung oleh tuan Liam untuk menjaga Dylan. jadi lain kali kemanapun Dylan pergi harus aku yang menemaninya." Panjang lebar Zen menjelaskan pada Samantha, perempuan itu meringis dalam hati mendengar bagaimana berkuasanya seorang Liam.


"baik, aku tidak akan mengulanginya lagi." Sam menanggapinya dengan patuh dan membuang egonya demi bersikap profesional.

__ADS_1


"Lanjutkan tugasmu. " Titah Zen menggunakan dagunya mengusir Samantha.


__ADS_2