My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 44


__ADS_3

Dylan tertidur pulas setelah cukup lama menangis. Grace hanya bisa menatapnya iba, dia sadar bukan ibu sempurna untuknya. Bagaimanapun Dylan mengharapkan memiliki keluarga utuh. "Maafkan mommy Dy, kau pasti sangat kecewa." Lirih Grace mengusap pipi Dylan lembut. Tidak, menikah dengan Liam akan menjadi cara terakhir untuknya membahagiakan Dylan. Ia masih trauma menjalin hubungan asmara dengan pria manapun apa lagi itu Liam lagi.


Tok tok,,,


Suara pintu di ketuk pelan karena tahu Dylan pasti sudah tertidur. Grace menghapus air matanya lalu berjalan membukakan pintu kamar.


"Kita bicara sebentar Grace,,, " Pinta tuan Rodrigo.


"Dadd, aku lelah sekali. Dylan membuatku berpikir ekstra hari ini." Grace tak ingin menambah beban pikiran ketika berdebat dengan ayahnya.


"Daddy hanya ingin bilang, jangan terlalu keras kepala. Pikirkan kondisi mental Dylan. Cobalah tanya hati kecilmu, apa sebenarnya keinginanmu sesungguhnya. " Kali ini tuan Rodrigo mengetuk pintu hati Grace yang sudah lama terkunci.


"Akan ku pertimbangkan dadd." Grace menanggapinya singkat.


"Istirahat lah, besok kau akan menjamu pembeli VIP di kantor. " Tuan Rodrigo mengecup ujung kepala putri sulungnya lalu pergi meninggalkannya.


,,,,,,,


Meninggalkan Dylan dalam keadaan saling marah membuat Grace tidak fokus dalam bekerja. Namun ia selalu di tuntut profesional, ia sudah siap menyambut kedatangan tamu penting.


"Selamat datang tuan Sozonov,,, " Grace mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pria berkebangsaan Rusia itu tersenyum menjabat tangan Grace.


"Panggil saja Ibra, namaku Ibra. Kau cantik nona Gracia. " Puji Ibra.


"Grace, just Grace." Mereka lalu duduk di ruang VIP dimana rencananya Ibra akan memesan beberapa koleksi berlian untuk di ekspor ke Rusia. Kerja sama ini terjalin karena inisiatif Grace yang mengajukan proposal lewat email resmi perusahaan Sozonov.


"Bagaimana kalau kita menikmati minuman di bar nanti malam? " Ibra memang sangat friendly dan menyenangkan. Membuat Grace tidak sungkan mengobrol hal di luar pekerjaan dengannya.


"Sure,,, " Jawab Grace menerima tawaran. Baginya ini kesempatan untuk mendapat kata sepakat, Grace rerla waktu luangnya bersama Dylan menjadi berkurang. Kalau saja para pemegang saham tidak mengusiknya, Grace lebih baik pulang tepat waktu.


Terlalu singkat pertemuan mereka saking asiknya mengobrol.


"Aku di Paris sampai besok siang. Aku harap kita akan sering bertemu nona." Ibra secara gentle mencium punggung tangan Grace. Sepertinya dia sudah terperangkap pesona ibu satu anak itu.

__ADS_1


"Semoga harimu menyenangkan tuan Ibra." Grace melepas kepergian Ibra yang di kawal beberapa bodyguard.


Saat sedang mengerjakan laporan Grace mendapat telpon dari rumah. Ia segera menerima panggilan, terdengar suara ribut di sebrang sana.


"Ada apa Al? " Ternyata Alya yang menelpon, Grace cemas mendengar kegaduhan di sana.


"Cepatlah pulang, ada seorang paman ingin mengambil paksa Dylan kak." Perkataan Alya sontak membuat Grace kalang kabut, ia mencari tasnya dan berlari keluar ingin cepat pulang. Tidak, siapapun tidak boleh mengambil Dylan darinya walaupun itu Liam ayah kandung nya.


Di kediaman tuan Rodrigo masih terjadi perdebatan antara dua kakek Dylan. Tuan Arthur yang sudah mengetahui semua nya ingin Dylan tinggal bersama Liam. Karena menurutnya Liam lebih berhak mengasuh anaknya. Tuan Rodrigo yang tak Terima bersikeras menahan Dylan. Kasihan Dylan, dia sangat ketakutan melihat kakeknya saling adu argumen.


"Aku tidak menyangka putri mu tega menutupi semua ini dari anakku. Sekarang Grace pun memisahkan anak dan ayah tanpa memikirkan perasaan mereka. " Ucap tuan Arthur berapi-api menunjuk wajah mantan calon besan nya.


"Bukan salah Grace. Aku sendiri yang membohongi Liam. Aku mengatakan janin Dylan tak bisa di selamat kan dulu. Kau tahu apa alasanku? Itu karena ulah putramu Liam. Dia tidak berani menikahi Grace, bahkan rencana jahatnya ingin membuat Grace patah hati dan meninggalkannya karena dulu Grace pernah membatalkan perjodohan mereka." Meski terkejut tuan Arthur enggan mengendurkan tekanan. Bahkan dua kubu pengawal mereka sudah siap siaga. Tuan Arthur datang tanpa memberitahu Liam, putranya sedang sibuk melakukan meeting internal. Jadi tuan Rodrigo tahu kalau pria sebayanya melakukan ini tanpa persetujuan Liam.


Mobil terparkir masih di dekat pintu gerbang, supir bahkan terpaksa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi atas perintah nona muda. Grace berlari cepat masuk ke dalam dimana ia melihat orang-orang saling menatap ke arahnya. "Uncle, tolong lepaskan Dylan. Jangan sakiti dia. " Pinta Grace memohon dengan sangat. "Dia juga cucuku Grace. Aku juga ingin merawat dan menjaganya." Lirih tuan Arthur. Grace mengangguk mengerti menanggapi keinginan ayah Liam.


"Kita bisa menjaganya sama sama. Dylan akan takut jika uncle memaksa." Sejenak tuan Arthur melirik Dylan yang sudah menangis di gendongannya.


"Tidak, aku tidak bisa. Itu bukan prioritas ku uncle. Kami bisa membesarkannya meski tanpa pernikahan." Grace menolak mentah-mentah saran yang pasti semua orang harapkan dari mereka.


"Kalau begitu, kita akan bertemu di pengadilan Grace. Aku akan memperjuangkan hak asuh Dylan." Bukannya melunak, tuan Arthur malah menantang mereka secara legal di meja hijau. Darah Grace mendidih mendengar hal itu keluar dari mulut uncle yang ia segani.


"No no no, please kembalikan Dylan." Grace berusaha mengejar tuan Arthur namun langkahnya di halangi beberapa bodyguard yang di bawa kakeknya Dylan.


Keluarga tampak menatap pilu Grace yang susah payah menerobos hadangan penjaga suruhan Tuan Arthur. Grace terduduk di lantai menyaksikan Dylan meronta menangis. "Dy,,, " Lirih Grace merasakan sesak di dadanya. Dunia yang selalu ia tempati kini menghilang dari dekapannya. "Grace, ini tidak akan terjadi kalau kau tidak egois." Tuan Rodrigo menyalahkan sikap keras kepala Grace yang tidak memikirkan nasib Dylan.


"Dadd,,, " Sela nyonya Patricia, ia meraih tubuh Grace mengajaknya berdiri.


"Cobalah bicara pada Liam. Mungkin dia bisa membantu. " Bisik ibu sambungnya. Grace nampak menimbang, mungkinkah Liam tidak tahu soal ini?


Grace bergegas keluar rumah dan menemui supir tadi, ia meminta kunci mobil secara


Paksa. "Tapi nona, tuan akan marah. " Ucapnya menunduk takut.

__ADS_1


"Dia memberiku izin. " Sejurus kemudian mobil meluncur meninggalkan halaman rumah Tuan Rodrigo dengan cepat. Grace pertama kali menyetir mobil sendiri, dia bisa tapi terlalu malas melakukannya. Selalu ada larangan dari sang ayah saat ia meminta mengendarai mobil sendiri.


Sebelum mobil semakin jauh Grace menelpon Liam, menanyakan posisinya sekarang. Ia bingung harus kemana, ke rumah pribadi, apartemen atau kamar super suite nya? Beberapa kali menelpon belum ada jawaban, tapi tersambung. Grace memukul kesal stirnya.


"Awas saja jika Liam ikut andil,,, " Maki Grace frustasi.


Sementara di kantor la collection Liam mengendurkan dasinya merasa meeting tadi berjalan alot dan lama. Ia sudah tak betah melakukan formalitas itu. Passionnya mendadak berubah, ia lebih suka menghabiskan waktu bersama Dylan. Apa lagi Grace mulai sibuk mengurus perusahaan, Liam tak ingin Dylan kurang perhatian. Peran mereka sepertinya sedang terbalik, Liam jadi terkekeh mendengarnya. "Tuan sejak tadi nona Grace menghubungi anda, mungkin mendesak." Info Josh pada bosnya, Liam tersenyum tipis mendengar hal itu. Ia menerima ponselnya dari tangan Josh lalu menelpon balik Grace.


"Hi Grace,,, "


"Cepat katakan dimana kau? " Buru buru Grace menodong posisi Liam, dia sedang malas berbasa-basi.


"Woo tenanglag Grace, kenapa kau marah marah. Apa terjadi sesuatu? " Liam menghentikan langkahnya mereka berada di lobby butik.


Grace menahan nafas mendengar pertanyaan Liam, benar pria itu tidak tahu soal kelakuan ayahnya sendiri.


"Uncle mengambil Dylan, aku tidak bisa berpisah darinya Liam." Ucapan Grace sontak membuat Liam kaget, ternyata tuan Arthur sudsh berbohong. Dia bilang hanya ingin melihat cucunya.


"Kita bertemu di rumah ku, daddy pasti membawanya kesana. " Karena setiap pulang ke Paris tuan Arthur memang selalu menginap di kediaman pribadi Liam. Di sana dia tak merasa kesepian. Grace langsung mematikan sambungan.


"Kita ke rumah." Perintah Liam, Josh bergegas membukakan pintu mobil belakang.


Di kediaman Liam, ternyata tuan Arthur bisa menaklukan hati cucunya Dylan. Mereka tampak bergembira dengan Dylan berada di atas punggung kakeknya. Tuan Arthur menjadi kuda yang di tunggangi Dylan. "Grand pa aku lapar... " Dylan menghentikan laju kakeknya karena perutnya sudah mulai berbunyi.


"Baiklah kita makan sekarang Dy, nanny sudah menyiapkan chicken cream soup kesukaanmu." Bibi Jill membantu menurunkan Dylan dari atas punggung tuan besarnya. Dylan menggandeng tuan Arthur menuju ruang makan.


Grace datang lebih dulu dan menunggu kedatangan Liam. Ia pasti akan di larang masuk oleh para penjaga pintu. Padahal dulu Grace di perlakukan istimewa di rumah megah itu. Tak lama mobil Liam tiba di sebelah milik Grace.


"Ayo masuk! " Liam secara reflek menggenggam tangan Race mengajaknya masuk ke dalam.


"Uncle akan menuntut ku atas Dylan, aku tidak mau dan kau harus membujuk nya menghentikan ini semua." Kata Grace dengan tatapan lurusnya ke depan. Liam menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah.


"Kalau ada yang bisa membujuk nya itu kau seorang Grace. Daddy meminta aku menikahimu demi Dylan,,, " Terang Liam. Grace meringis dalam hati, jadi Liam memperjuangkan nya hanya karena ingin membahagiakan Dylan ?

__ADS_1


__ADS_2