My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 29


__ADS_3

Setelah mencoba dress rancangan Alya, Grace memilih berjalan di sekitar bibir pantai. Gadis remaja itu sudah berangkat sekolah bersama pamannya Jack. Angin pantai yang sejuk memberi udara segar kalau mentari mulai menaik.


Grace kembali mengingat awal pertemuannya dengan Liam. Liam memang jago dalam mengintimidasi tapi Grace malah menyukai hal itu.


"Baby, kau tahu kan mommy sangat mencintai daddy mu. Kita harus berjuang meski tanpanya. " Sejak mengetahui dirinya hampir kehilangan calon anaknya Grace jadi sering mengajak janin dalam perutnya mengobrol. Kata dokter kebahagiaan sang ibu akan berpengaruh untuk calon bayinya.


Tepat waktu, Jack sudah kembali darin klinik untuk menjemput Grace. Mereka akan ke pusat kota untuk sekedar jalan jalan menaiki mobil pickup milik Jack. Grace seperti biasa memakai sepatu kets dan misi dress berwarna merah jambu. Jack membukakan pintu untuk Grace, memegangi tangannya membantu Grace naik ke mobil.


"Aku pikir kau sibuk Jack, Terima kasih sudah mau mengajakku." Mobil sudah meninggalkan area rumah bibi Pat. Grace membuka obrolan ringan agar tidak merasa canggung.


"Kesibukanku tidak berpengaruh, aku memang di beri tugas untuk menemanimu." Ya, Jack memang berhutang budi pada Tuan Rodrigo karena sudah memberinya beasiswa sekolah kedokteran. Jadi apa salahnya sekarang giliran Jack membantu putrinya.


"Apa kau sudah memiliki kekasih Jack ? " Pertanyaan Grace membuat Jack tersedak salivanya sendiri. Buru buru ia menggeleng seraya melambaikan tangannya.


"Itu jauh dari pikiranku, aku masih ingin bebas." Jawabnya ringan. Grace menunduk menanggapi pendapat Jack.


Apakah setiap lelaki memang memikirkan hal itu? Mungkin alasan logis bagi Liam ataupun Jack untuk tidak memilih memiliki kekasih atau istri. Tapi Grace sangat memimpikan hidup bersama dalam satu ikatan pasti.


"Jangan murung, tidak semua laki-laki sepertiku. Ada yang berubah pikiran setelah mereka menemukan cinta sejatinya." Merasa ucapannya menyinggung perasaan Grace, Jack memberi sudut pandang lain. "Kau benar, orang berubah seiring waktu berlalu. Akupun menjadi enggan memiliki hubungan dengan pria." Grace memang sempat berniat untuk tidak jatuh cinta lagi pada pria lain. Cinta pertamanya begitu membekas hingga sulit ia lupakan.


"Bagaimana dengan pria seperti ku? Kau akan menolak juga? " Canda Jack mencairkan suasana, Grace mulai terbawa emosi dengan obrolan mereka.


"Akan ku pikirkan kalau kau bisa menjaga anakku. " Grace menanggapi santai pertanyaan Jack.


Baru sebentar mengenal Grace, Jack merutuki pria yang tega menyakiti perasaannya. Grace cantik, berpendidikan, penyabar juga sangat lembut dalam berbicara. Sebelum kedatangan Grace Jack paling tidak nyaman berlama-lama di dekat perempuan. Bibi Pat dan Alya keluarganya saja membuat Jack pusing, belum lagi para gadis di desanya yang selalu mengejar Jack. Tapi kini Jack merasa betah mengobrol lama dengan Grace. Wanita yang tengah mengandung anak dari pria entah siapa.


Mobil berhenti di area parkir pertokoan. Grace sedikit kesulitan membuka seatbelt milik nya, Jack menyadari itu lalu membantu melepaskannya. Wajah mereka begitu dekat saling bertatap, jantung Jack berdetak lebih cepat dari biasanya. Grace hanya menyematkan lipstik nude namun memberi kesan cantik natural.

__ADS_1


"Breathe,,, " Perintah Jack melihat Grace menahan nafas sejak tadi. Ucapan Jack menuntun Grace mengingat Liam. Liam juga pernah melakukan hal sama saat dirinya sedang gugup.


"Terima kasih." Buru buru Grace turun dari mobil. Walau bersama orang lain, bayangan Liam terus saja menghantui kehidupan Grace.


"Aku akan pergi ke apotek sebentar, kau tunggu saja di dalam." Jack menunjuk sebuah cafe menggunakan dagunya. Grace mengangguk patuh karena ia memang tak bisa berjalan lama.


Memesan teh ekstrak buah peach, Grace memandangi jalanan di dekat jendela cafe. Ternyata sangat nyaman tinggal di kota kecil ini. Grace melihat seorang ibu yang sibuk menenangkan anak perempuannya, seperti tak sabar ingin membeli jajanan gulali di pinggir jalan. Senyum simpul terbit, ia mengusap kembali perutnya tak sabar menanti kehadiran the baby ke dunia. Mungkin setelah lahir Grace tak perlu merasa kesepian lagi.


Jack yang ingin masuk malah termenung menatap Grace. Senyuman itu terasa menghujam jantungnya. Jack menggeleng cepat menepis perasaan anehnya. Suara lonceng ketika pintu terbuka mengalihkan perhatian Grace. Jack datang membawa paper bagian berisi stok obat.


"Lihat apa? " Tanya Jack penasaran, ia mendudukkan pantatnya di kursi berhadapan dengan Grace.


"Aku juga ingin itu. " Grace menunjuk gerobak pedagang cotton candy. Mendadak Grace ngiler membayangkan rasa manisnya gula kapas.


"Ayo, aku yang akan mentraktir mu. " Tanpa sengaja Jack menarik tangan Grace keluar dari cafe. Hingga tiba di depan penjual tangan Grace masih saja digenggam oleh Jack.


"Maaf." Grace hanya tersenyum tipis tak masalah.


Di perjalanan pulang, Grace masih menikmati sisa permen kapas miliknya. Jack terkekeh geli melihat tingkah Grace layaknya teman seusia Alya. Alya saja sudah jarang jajan itu.


"Kalau kau ingin memeriksakan kehamilanmu, teman sejawat ku seorang dokter obgyn. Jangan sungkan saat kau merasa tidak sehat. " Jack berjanji dalam hatinya akan menjaga Grace dan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Canda tawa Grace dan Jack tertangkap oleh radar Bibi Pat. Ini bukan hal baik, bibi Pat tidak ingin Jack menaruh hati pada nona muda. Jelas tuan Rodrigo akan melarang hubungan mereka, apa lagi Grace mengandung anak dari pria lain. Selepas Grace masuk kamar, bibi Pat berbicara di luar rumah sambil mengumpulkan kayu bakar.


"Kau tahu kan Jack siapa Grace? Aku harap perasaanmu tidak lebih dari sekedar simpati. " Bibi Pat mulai menerobos batas privasi Jack untuk kesekian kalinya. "Tenang saja, kakak tidak perlu mengajariku. Aku memang melakukan semata karena tugas dan balas budi ku pada tuan besar." Bagaimanapun bibi Pat hanya mengkhawatirkan masa depan Jack adiknya. Bukan bermaksud menyinggung perasaan Jack, Jack pun mengerti itu. "Terima kasih sudah mau membantuku menjaganya." Ucap bibi Pat tulus, Jack tersenyum manis mengangguk tak masalah.


suara pecahan terdengar nyaring memekik di telinga. Jack dan Bibi Pat bergegas masuk ke dalam mencari tahu apa yang terjadi. tidak ada tanda tanda di dapur maupun ruang keluarga. Jack berjalan cepat menuju kamar Grace, ia mengetuk pintu tak sabar mulai khawatir sesuatu terjadi padanya.

__ADS_1


"Grace, buka pintunya! " teriak Jack terus menggedor pintu menunggu Grace membukanya.


"Jack dobrak saja pintunya, aku takut nona Grace terluka." Bibi Pat memang belum membuat duplikat kunci kamar Grace karena sebelumnya selalu kosong.


sementara di kamar mandi Grace masih susah payah mengeluarkan isi perutnya. Jack mendengar suara air mengalir, mungkinkah Grace pingsan di kamar mandi? dengan tenaga perkasa nya Jack mencoba mendobrak pintu. cukup dua kali mendorong akhirnya pintu terbuka. terlihat gelas pecah di dekat nakas, Jack mendekati Grace lalu membantunya memijat tengkuk dan memegangi rambut panjangnya.


"apa kau sering seperti ini? " Tanya Jack penuh nada cemas. Grace menggeleng karena memang tidak setiap hari ia mengalami morning sickness.


"Aku akan membawa suplemen nanti sore, itu bisa membantu mengurangi rasa mual dan menambah nafsu makan. " Merasa cukup Grace kembali ke tempat tidur di bantu oleh Jack yang memapahnya.


Di sebuah kamar mandi di tempat berbeda, seorang pria merasa lemas di sekujur tubuhnya. dia baru saja selesai menguras isi perutnya. Jelas bingung karena ia tidak salah makan tadi pagi.


"tuan apa perlu ku panggilkan dokter ? " melihat wajah pucat bosnya sang asisten sedikit khawatir.


"tidak perlu Josh, aku hanya butuh tidur sebentar. tolong kau periksa laporan yang tersisa." untuk pertama kalinya dia meninggalkan pekerjaannya. Liam memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mewah sebuah kamar hotel.


"bagaimana keputusan rencana perayaan jabatan CEO anda tuan? " sebelum pergi Josh kembali menanyakan hal yang di tunda oleh Liam.


"lakukan saja sesuai perintah ayahku." Josh menunduk patuh, ia pun keluar dari kamar Liam menuju kamar pribadinya di sebrang koridor.


Entah apa alasan kuat Liam, dia memilih mengurus hotel yang sahamnya baru ia beli. La Collection ia percayakan pada pengurus ahli. mungkin terlalu banyak kenangan bersama Grace di sana sehingga sebuah langkah besar dan penting harus Liam ambil. Tuan Arthur hanya bisa mendukung keputusan anaknya. bagaimanapun Liam berhak menatap masa depan tanpa harus terus terjebak dengan perasaan nya.


"halo Ve,,, " sapa Liam mengangkat telpon dari mantan kekasihnya.


"ku dengar dari Josh kau sakit, aku ada di sekitar hotel kau mau di belikan apa? " terdengar suara Veronica begitu bersemangat membuat Liam tersenyum simpul walau matanya terpejam menahan rasa pusing. "belikan aku permen kapas, aku sangat ingin memakannya." Liam menyampaikan pesanannya, di sana Veronica menyipitkan matanya heran.


"kau bukan bocah lagi Liam, akan ku usahakan mencarinya. " sambungan terputus begitu saja setelah Veronica menggerutu menyesali kebaikannya.

__ADS_1


__ADS_2