My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 26


__ADS_3

Dokter memeriksa keadaan Grace setelah dirinya sadar. Tatapannya datar menatap langit langit kamar Liam. Di sanalah tempat mereka melakukan hubungan badan hingga Grace mengandung benih milik Liam. Bibi Wen menangkap kesedihan di manik mata Grace.


"Nona sebaiknya anda,,, " Ucapan dokter pribadi Liam menggantung.


"Aku tahu, tolong jangan katakan apapun pada Liam. Biar aku yang memberitahunya." Seolah mengerti kemana arah perbincangan dokter Grace segera melarangnya mengatakan keadaannya pada Liam.


"Baiklah kalau begitu saya permisi. Semoga lekas membaik nona Grace." Dokter pria berusia lima puluh undur diri dari kamar Liam. Menyisakan bibi Wen yang duduk di tepi ranjang, spontan Grace duduk bersandar pada sandaran.


"Nona, bibi siap mendengarkan jika memang nona membutuhkan tempat untuk bercerita." Dari dulu bibi Wen mengabdi di keluarga tuan Arthur Liam hanya pernah membawa Veronica sebagai kekasih. Itupun sebentar karena wanita itu harus pergi studi ke luar negeri. Hanya Grace yang memang terlihat jelas istimewa di hati Liam. Bibi Wen bisa memastikan kalau tuan muda Liam memang mencintai Grace.


"Hem,,, aku sebenarnya sangat lapar bi. Kalau boleh aku ingin makan steak." Sejak pagi Grace belum mendapat asupan makanan, tadi dia bahkan melewatkan Croquette yang lezat karena harus bertengkar dengan Liam. Bibi Wen hanya terkekeh gemas melihat Grace yang masih malu malu.


"Bibi akan buatkan untuk nona, jangan sungkan kalau memang nona Grace membutuhkan sesuatu." Bibi Wen segera pamit untuk pergi ke dapur, jangan biarkan nona muda menunggu terlalu lama.


Grace mengamati sekeliling kamar, dia melihat sebuah buku tergeletak di bawah bantalan sofa. Rasa penasaran begitu menggelitik menuntun Grace mendekatinya. Di ambilnya buku itu oleh Grace lalu dengan ragu mulai membukanya.


Liam sangat modern namun masih saja mencatat beberapa hal penting dalam sebuah buku agenda.


Grace tersenyum membaca setiap tulisan tangan Liam. Dia bahkan menempelkan foto mereka di pagelaran pertama Grace.


Matanya mulai berembun saat mulai membaca kalimat yang berada di bawahnya.


"Buat dia jatuh cinta padamu, lalu patahkan hatinya."


Sepenggal kalimat berhasil meluluh lantahkan pertahanan Grace. Jadi ini semua memang rencana Liam dari awal? Apakah karena pembatalan perjodohan alasan Liam menyakitinya? Grace semakin merasa hatinya di peras berkali-kali oleh pria itu. Grace ingin segera kabur dari rumah seperti penjara milik Liam.


Pikirannya kacau tak mampu berpikir jernih. Grace menyambar tas miliknya di nakas sebelah ranjang. Jemarinya bergetar hebat mengetik beberapa angka.

__ADS_1


"Dadd, tolong aku... " Hanya itu kata yang mampu Grace ucapkan kala tenggorokannya bagai tercekat. Grace keluar dari kamar lantai dua, dia meringis saat harus menuruni anak tangga. Bibi Jill yang melihat Grace terburu-buru dengan cepat menghampirinya.


"Nona, sebaiknya anda kembali ke kamar." Pinta bibi Jill takut Liam akan marah jika Grace pergi.


"Tolong biarkan aku pergi dari sini bi. Liam sangat jahat padaku. " Grace menangis terisak isak tak tahan lagi ingin segera meninggalkan rumah Liam.


"Kalau begitu biar bibi telpon tuan muda, tuan muda akan mengantarkan nona pulang." Grace menggeleng cepat melarang bibi Jill melakukannya. Dia melepaskan genggaman wanita paruh baya di hadapannya dan berjalan ke luar.


Untung saja tuan Rodrigo berada di sekitar apartemen Grace berniat mengunjungi putrinya. Dari Hecan dan Sia yang baru kembali tuan Rodrigo tahu jika Grace pergi bersama Liam dan belum pulang. Kecepatan mobil lebih dari biasanya, suara Grace terdengar menangis seperti sedang terjadi hal buruk.


Sempat di halangi penjaga keamanan rumah, tuan Rodrigo membuka kaca mobil untuk menunjukkan siapa dirinya. Penjaga yang mengetahui identitas tuan Rodrigo sebagai ayahnya Grace pasrah menunduk lalu membukakan gerbang.


Kegagahan dan aura kepemimpinan tuan Rodrigo begitu mengintimidasi para penjaga rumah. Mereka di tuntut untuk tidak membiarkan Grace meninggalkan rumah, tapi kedatangan ayahnya benar-benar membuat mereka mundur.


Bibi Wen yang mengetahui rencana Grace untuk pergi segera menghubungi tuan muda tanpa sepengetahuan nya. Grace bahkan masih tertahan oleh bibi Jill. "Ayahku sudah datang bi, aku harus pulang." Terjadi tarik menarik antara bibi Jill dan Grace sampai tuan Rodrigo masuk ke dalam rumah.


Liam yang bahkan baru tiba di depan kantor terpaksa putar balik. Dia harus mencegah tuan Rodrigo membawa Grace pergi. Liam bahkan belum sempat mengutarakan niatnya untuk menjalin hubungan serius dengan Grace.


Mengendarai mobil dengan cepat untuk bisa sampai di rumah, pikiran Liam di penuhi rasa khawatir mendalam. Bisakah dia meyakinkan tuan Rodrigo dan Grace kali ini? Setibanya di halaman rumah Liam mendapati beberapa pengawal tuan Rodrigo dan miliknya saling bertatapan siap berperang.


Grace keluar bersama tuan Rodrigo saat itu, Liam bergegas keluar dari mobil dan mendekatinya.


Namun pengawal tuan Rodrigo menahan gerak langkah Liam atas perintah tuan mereka. "Minggir! Aku tidak ada urusan dengan kalian." Bentak Liam dengan tatapan datar tertuju pada Grace yang bersembunyi di balik tubuh ayahnya.


Tuan Rodrigo memberi isyarat untuk anak buahnya membiarkan Liam berjalan. Dia sadar kalau ini di rumah Liam, sebagai tuan rumah Liam berhak untuk berbuat semaunya.


"Tuan, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami." Lirih Liam berusaha menenangkan amarah Tuan Rodrigo yang tertahan.

__ADS_1


"Aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali Liam, tapi kau selalu menyakiti putriku." Nada bicara dingin seorang ayah membela anaknya, tuan Rodrigo merasa cukup membiarkan Liam bertingkah selama ini.


"Grace, maukah kau bersamaku lagi? " Liam sedikit memiringkan kepalanya untuk bisa melihat Grace di balik punggung tuan Rodrigo.


"Bisakah kita pulang sekarang dadd? " Tanya Grace enggan menanggapi permintaan Liam. Liam tak sabar hingga dia nekad ingin meraih Grace namun dengan cepat tuan Rodrigo mencekal tangan Liam lalu mendorongnya kasar.


Sepertinya cukup sudah Grace berharap pada Liam. Ia tidak mau sakit hati lagi, biar Grace merawat sendiri calon anak mereka. Liam tidak perlu mengetahui hal itu. Baginya Liam sudah sangat mengecewakan. Liam kembali ingin mendekati Grace namun pukulan tuan Rodrigo di perut Liam menghentikannya. Belum puas, dia kembali meninju perut Liam melampiaskan amarahnya. Jika dengan perkataan Liam tidak bisa di nasehati mungkin kekerasan fisik akan membantu menyadarkannya.


Perkelahian antar pengawal tak bisa di hindari lagi. Namun Liam tak pernah berpikir untuk melawan ayah dari wanita yang ia cintai. Liam membiarkan Tuan Rodrigo memukulinya sampai puas.


"Dadd,,, " Grace meringis memegangi perutnya, rasa sakit begitu mendominasi diri Grace. Bibi Wen berlari membantu menopang tubuh Grace. Melihat keadaan Grace tuan Rodrigo menghentikan aksinya. "Sakit dadd,,, " Lirih Grace merasakan sesuatu mengalir diantara kakinya.


"Nona,,, " Bibi Wen memekik terkejut melihat darah segar mengalir.


"Grace,,, " Teriak tuan Rodrigo dan Liam bersamaan. Segera tuan Rodrigo mengambil alih tubuh Grace dari dekapan bibi Wen. Membopong Grace meninggalkan kediaman Liam menuju mobilnya.


"Grace,,, " Liam berniat mengejar Grace namun kedua pengawal tuan Liam menahannya dengan cepat. Wajah Liam benar benar mengkhawatirkan di penuhi luka lebam. Sudut bibirnya bahkan robek mengeluarkan darah. Belum lagi rasa mual menyeruak dalam perutnya. Berkali-kali mendapat pukulan keras dari tuan Rodrigo. "Tuan, sepertinya nona mengalami pendarahan." Bibi Wen bersuara menduga kondisi yang di alami Grace.


"Apa maksud bibi? " Tanya Liam tak mengerti.


"Tuan, mungkinkah nona Grace sedang mengandung? " Mendengar penuturan Bibi Wen seperti petir menggelegar menyambar tubuhnya. Liam menggelengkan kepalanya berkali-kali tidak mempercayainya.


"Tidak mungkin, maksud bibi Grace hamil anak ku? Tapi kenapa dia tidak mengatakan apapun... " Untuk memastikannya Liam akan mengikuti mobil tuan Rodrigo dari kejauhan agar pengawal pribadinya tidak menghalangi.


di dalam perjalanan menuju rumah sakit Grace meremas pegangannya pada sang ayah. rasa sakit semakin menjalar, keringat memenuhi wajah pucat nya. tuan Rodrigo mendekapnya erat memberi kehangatan saat merasakan tubuh Grace menggigil hebat. "sebenarnya apa yang terjadi Grace? kenapa kau tidak memberitahu daddy? " batin Tuan Rodrigo tanpa ingin bertanya langsung pada putrinya.


"bisa lebih cepat lagi? " titah tuan Rodrigo tak sabar.

__ADS_1


"sebentar lagi sampai tuan." jawab tangan kanannya melihat gedung rumah sakit mulai tampak.


__ADS_2