
Setelah berpisah di depan kamar masing-masing, Alya memilih duduk termenung di dekat jendela kamar. Memikirkan beberapa hal yang sedang mengganggu pikirannya.
Ia teringat sesuatu, Alya pun mendekat ke arah meja nakas di mana telepon berada.
"Halo, apa aku bisa mendapatkan nomer ponsel sekretaris Daniel? " Tanya Alya pada salah satu operator hotel, ia menunggu beberapa saat karena petugas seperti tengah berpikir.
"Aku kerabat Tuan Christian Oliver, bahkan kamarku berada di sebelahnya. " Setelah mendengar penuturan Alya, akhirnya operator pun memberinya kontak pribadi Daniel. Alya mencatatnya di memo yang tersedia di sebelah telepon.
"Terima kasih nona. " Ucap Alya, ia menaruh kembali gagang telepon.
"Gila saja kalau aku harus hamil di usiaku sekarang. " Alya menghela nafas berat, ia membayangkan perutnya buncit dan harus tetap kuliah dengan status single mother.
Memilih berendam sejenak, Alya memainkan busa beraroma buah di telapak tangannya layaknya anak kecil. Ia menggelung rambutnya agar tidak basah.
Cek lek,,,
Pintu kamar mandi di buka seseorang, Alya melotot tajam ke arahnya.
"Christian, jangan mendekat! Pergilah. " Usir Alya kasar, dia menyipratkan banyak air ke arah Christian yang acuh.
Pria yang di selimuti hasrat itu malah melepaskan pakaiannya di depan Alya.
Alya menelan saliva nya dengan penuh perjuangan, ketika Christian menyetubuhi nya pertama kali Alya bahkan tidak bisa berpikir jernih. Sekarang Alya melihat tubuh polos Christian, dia ikut masuk ke dalam bath tub.
"Jangan gugup Al, bukankah kau senang melakukannya tanpa memikirkan kelanjutan hubungan kita. " Christian meraih tangan Alya yang mengerucutkan bibirnya, kemudian dia menghirup dan mengecup telapaknya.
"Gosok punggungku Al. " Seperti tersihir, Alya mengangguk menerima perintahnya.
Lalu Christian berbalik membelakangi Alya.
"Jangan salahkan aku jika aku menjadikan mu kekasih rahasia ku. Kau sendiri yang menolak lamaran ku. Aku tidak pernah melakukan hubungan ranjang dengan sembarang wanita. " Ungkap Christian, dalam hati kecilnya ia menyebut satu nama lain selain Alya.
"Christian, berhentilah bicara. Aku ingin mendengar alasanmu bersikeras menikah. Sama seperti ku, ceritakan. Aku tidak suka mendengarnya dari orang lain. " Tangan Alya kini mulai berani bermain di area sensitif Christian.
Pria itu memejamkan matanya, merasakan getaran hebat mendapat sentuhan sensual.
"Hem,,, Al kau nakal. " Parau suara Christian menandakan dirinya sudah terbuai.
"Tell me Your secret. " Bisik Alya persis di daun telinga Christian membuat pemiliknya merinding.
"Then treat me! " Christian berbalik dan langsung mencium bibir basah Alya yang mulai membiru. Tangannya bergerilya di atas dua gundukan kembar, merem as nya bergantian.
"Eungh,,, Christian" Alya melenguh ketika Christian menghisapnya seperti bayi kehausan. Alya duduk di pangkuan Christian, ia merem as rambut Christian sebagai penyaluran kenikmatan.
Mereka melakukannya di dalam kamar mandi dengan beberapa kali mengalami puncak.
Setelah puas keduanya memilih membersihkan diri.
__ADS_1
Di bawah guyuran shower Alya memeluk Christian dari belakang.
"Terima kasih kau sudah mau mengerti keinginan ku. " Christian menyeringai mendengar kata-kata naif dari mulut Alya.
Christian berlutut kemudian dia memegangi pinggang Alya, membenamkan sebuah ciuman di perut Alya. Alya terkekeh geli, tangannya mengusap kepala Christian.
"Hadirlah di dalam sini. " Lirih Christian namun tidak terdengar jelas oleh Alya akibat percikan air.
Ironis memang,
Christian bertunangan dengan wanita lain namun bercinta bersama Alya. Sera yang akan menjadi nyonya Christian tapi dia mengharapkan Alya mengandung benihnya.
Alya tentu tidak ingin dirinya sampai hamil, meski dalam hati ia mulai merasa takut kehilangan Christian.
Christian dan Alya memakai pakaian masing-masing untuk turun makan malam sebelum acara tukar cincin. Alya tampak merajuk entah apa alasannya membuat Christian gemas sendiri.
"Ada apa Al? Kau tidak cemburu bukan melihatku bertunangan. " Tawa Christian semakin membuat Alya jengkel.
"Rambutku Chris, seharusnya aku tidak membasahi nya. " Mendengar jawaban Alya Christian pun berinisiatif membantunya.
"Berikan padaku, biar aku yang mengeringkannya. " Alya duduk di depan meja rias, membiarkan Christian mengambil alih tugasnya.
"Jangan dandan cantik, ada Theo di sana." Suara Christian cukup keras berlomba dengan suara hairdryer.
"Hem,,, " Jawab Alya singkat.
Setelah selesai, Alya memoles sedikit wajahnya dengan make up natural sementara Christian menyisir rambutnya.
Mendadak suara ketukan pintu membuat Alya gugup. Bagaimana tidak, masih ada Christian di dalam kamarnya. Alya berdiri dan bergegas menuju pintu, mengintip siapa yang ada di luar.
"Theo,,, " Mulut Alya bercuap tanpa suara ke arah Christian yang malah bersikap cuek. Alya mengepalkan kedua tangannya geram.
Christian malah tersenyum jahil melihat Alya ketakutan. Mengalah, Christian kembali masuk ke kamar mandi meski sudah ingin menunjukkan pada adiknya bahwa dia berhasil menaklukkan hati Alya.
"Alya, kenapa lama sekali? " Theo mendongak ke arah kamar barangkali ada yang tidak beres.
"Tadi aku sedang memakai gaun ku. Ayo, kita berangkat. " Lebih baik mengajak Theo pergi menuju tempat acara di banding harus menyuruh nya duluan. Alya akan terus terjebak bersama Christian.
****
Tak banyak tamu undangan, hanya orang tua, keluarga, kerabat serta teman dekat menghadiri acara pertunangan Christian dan Seraphina. Jamuan makan malam tersuguh dengan sangat mewah nanti elegan. Alya sejak tadi menatap ke arah raja dan ratu malam ini.
"Kenapa aku tidak suka seseorang berada disamping Christian sedekat itu. Tadi kami bercinta, tapi sekarang Christian bertunangan dengan orang lain. Apa aku sudah terjebak dengan permainanku sendiri? " Dan apa yang di lakukan Alya bisa di rasakan oleh Christian. Mata mereka beradu cukup lama hingga Patricia menyentuh pundaknya.
"Alya,,, " Tersentak kaget, Alya reflek menyenggol gelas anggur miliknya hingga terjatuh dan pecah.
Prang,,,
__ADS_1
Semua mata tentu tertuju ke sumber suara. Christian memejamkan matanya mengerti perasaan Alya sekarang ini. Dia pasti kecewa dengan keputusan yang Christian ambil. Christian akui, terlalu gegabah mengambil langkah buru-buru. Hanya demi memancing perasaan Alya dia mengorbankan begitu banyak hal.
"Kau sejak tadi melamun Al, ada apa? " Patricia sedikit berbisik tidak ingin merusak suasana pesta.
"Mom, aku sangat lelah. Boleh aku ke kamar lebih dulu? "
"Alya,,, " Belum sempat Patricia melarang, Tuan Rodrigo suaminya berdiri di samping Alya.
"Yes dad? " Alya mendongak menunggu ayahnya berbicara.
"Ikut ayah, kau belum menyapa uncle O. " Tangan Tuan Rodrigo terulur menandakan Alya tidak bisa menolak. Alya pun menautkan tangannya beranjak dari tempatnya menuju meja keluarga Oliver.
"Hi O, apa kabarmu? " Kedua pria paruh baya seumuran saling berpelukan, di Paris mereka juga jarang bertemu jika tidak merencanakan jadwal temu.
"Aku baik, oh sweety kau semakin cantik saja Al." Setelah memeluk ayahnya kini giliran anak bungsunya yang ia peluk.
"Thanks uncle O, uncle juga tetap tampan dan gagah hehe. " Pujian Alya berhasil membuat Oliver tertawa terbahak-bahak.
"Kau memang paling bisa. Pantas saja Theo meminta uncle melamar mu untuknya. " Christian yang tengah menenggak red wine langsung tersedak mendengar penuturan ayahnya.
"Duduk dulu Al, dengarkan saja penjelasan uncle O." Saran tuan Rodrigo, mereka pun duduk di meja dimana ada Christian bersama Sera, Theo dan juga nyonya Aline.
"Alya, uncle tahu ini sulit bagimu, kau masih terlalu muda dan memiliki impian dan tujuan. Theo ingin mengikat mu, tapi dia tidak memaksamu Buru-buru menerimanya." Tutur Oliver.
Christian geram dalam hatinya, adiknya itu sangat pengecut membiarkan daddy mereka yang berbicara pada Alya. Sementara Theo menunggu reaksi Alya, karena menurut uncle Rodrigo semua keputusan ada di tangan putrinya.
Sera sendiri hanya menjadi penonton karena dia tidak mengenal Theo maupun Alya. Tapi dia begitu iri anggota keluarga Oliver terlihat jelas sangat menyayangi Alya. Perempuan muda dan cantik tentunya.
"Uncle, Aku sangat menghargai Theo dan pertemanan kami. Aku minta maaf karena belum bisa mewujudkan keinginan Theo, Theo bukankah kau sudah menerima keputusan ku dulu? " Alya mulai berkaca-kaca, dia di hadapkan dengan sebuah pilihan yang membuatnya dilema.
Di bawah meja Theo dan Christian mengepalkan tangan mereka.
Perasaan berbeda mereka rasakan. Christian kesal karena keegoisan Theo membuat Alya tersudut kan, bahkan hampir menangis karenanya. Theo sendiri semakin bingung kenapa Alya keras kepala sejak dulu. Padahal Theo bisa memberi semuanya untuk Alya. Cinta, Kesetiaan, waktu dan pengorbanan.
"Baby, tenangkan dulu hatimu. Kita akan sabar menunggu hingga kamu siap. " Kebetulan Nyonya Aline duduk di sebelah Alya, mengusap punggungnya lembut.
"Apa kau sudah memiliki kekasih Al? " Dan akhirnya Theo bersuara, dia begitu dingin dan menghardik Alya.
"Theo! " Geram Oliver menatap tajam ke arah anak bungsunya.
"Maaf, aku tidak ingin merusak acara penting ini. Daddy aku ingin istirahat di kamar. " Alya bangkit dari duduknya meninggalkan semua orang dan pertanyaan Theo.
Patricia melihat Alya berjalan keluar, ia menyusul tanpa meminta izin dari sang suami.
"Theo, maafkan sikap Alya. Dia masih sangat labil. " Ucap Tuan Rodrigo terdengar penuh penyesalan.
"Tidak Tuan Rodrigo, Alya tidak salah." Bukan Theo menjawab, melainkan Christian. Semua orang jelas menunjukkan keterkejutan nya.
__ADS_1
"Theo hubungan itu bisa berlanjut atas kesepakatan bersama. Bukankah sejak awal Alya hanya ingin kalian menjadi teman? " Mendengar Christian membela Alya membuat Theo kesal juga marah. Dia pun pergi meninggalkan pesta pertunangan kakaknya.
"Sekali lagi maafkan kami O. " Tuan Rodrigo merasa sangat bersalah suasana menjadi kacau akibat penolakan Alya.