My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 20


__ADS_3

Grace sungguh-sungguh ketika ia bilang akan mengundang Peter ke apartemen miliknya. Peter malah melongo ternyata di sana Grace tidak sendiri, wanita itu menunjukkan senyum ramah sekaligus mengejek. Peter pasti sudah berpikir akan bisa menyentuh tubuh Grace disana.


"Kau ingin minum sesuatu? " Tawar Grace pada Peter, laki-laki itu duduk dengan kaku di sofa ruang tamu.


"Apa saja yang dingin." Jawabnya singkat. Sia dan Grace saling tatap se frekuensi menyiratkan kepuasan mengerjai pria genit itu. Hecan dan Sia jelas di beri penjelasan oleh Grace, bahwa dirinya hanya akan menjebak Peter untuk mengembalikan saham La Collection.


"Aku tidak enak badan, mungkin lain waktu kita bisa mengobrol secara pribadi." Grace mengusir Peter secara halus saat dirinya bahkan belum meminum jamuan dari tuan rumah.


"Ok, kali ini aku membiarkanmu. " Peter bangkit dari duduknya karena ia harus segera pulang.


"Thank you Pete, kau sudah mengantarku pulang." Grace sudah berdiri di ambang pintu mempersilahkan Peter pulang.


Selepas kepergian Peter, Sia dan Grace tertawa puas melihat wajah cengo seorang Peter. Mereka senang bisa mengerjai pria brengsek itu.


"Kau harus tetap berhati-hati Grace, mengingat dia berani menculik mu dulu sepertinya Peter memang bukan orang baik." Sia tahu Grace sangat peduli pada Liam, memaksakan diri menggoda Pria yang sangat ia benci dan hindar demi mengembalikan kedudukan seorang Liam Athur.


"Dia cukup sulit dihadapi. Mungkin hanya dengan memberinya satu malam aku bisa mendapatkan apa yang ku mau." Grace meringis mengingat betapa menjijikkan nya sikap Peter terus menggoda dirinya.


"Nah bagaimana kalau sekarang kita bersiap, bukankah nanti malam ada konser band kesukaanmu? " Sia kembali mengingatkan Grace karena mereka sudah membeli tiga tiket masuk pertunjukan musik. Sebenarnya hanya Grace yang menyukainya, Sia dan Hecan hanya menemani sekaligus cuci mata gratis. "Hampir saja aku lupa. Aku akan memilih pakaianku dulu." Semangat Grace meningkat saat mendengar konser musik.


,,,,,,,

__ADS_1


Konser di mulai setelah matahari terbenam. Para penonton mulai memadati taman kota place de la concorde. Tempat umum itu sengaja di sulap untuk sebuah konser band lokal kebanggaan. Selain menikmati alunan musik bernuansa cinta, mereka juga bisa menikmati keindahan bianglala raksasa disana. Para pedagang kaki lima berjajar rapi siap menjajakan menu kudapan andalan setiap kota di Prancis.


Grace benar-benar merasa gembira bisa datang ke acara tahunan itu. Dimana band lokal favoritnya akan tampil membawakan lagu hitsnya.


"Kau tahu Sia, aku sangat senang malam ini." Ucap Grace merangkul Sia penuh semangat, Hecan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Grace. Dia sudah seperti remaja sekolah yang baru datang ke sebuah konser musik. "Jangan kemana-mana, aku akan membeli minuman untuk kalian." Kata Hecan memberi ultimatum agar mereka tidak meninggalkannya.


Grace sangat cantik saat itu meski tanpa make up, mengenakan croptop hitam tanpa lengan di padu padan kan dengan boyfriend jeans warna abu. Tak lupa topi hitam untuk menghindari tatapan orang-orang yang ia temui. Terbilang model baru namun wajahnya cukup di kenal khalayak umum. "Besok kau ada pemotretan dengan Ethan, bagaimana perasaanmu saat tahu tuan Rodrigo berencana menjodohkan kalian?" Sia sangat penasaran hingga dirinya bertanya terus terang.


"Ayahku memang kuno terkait perjodohan, tapi aku suka caranya karena dia berusaha melindungiku." Sekarang Grace mulai bisa memahami sifat protektif sangat daddy. "Aku ingin kau bahagia Grace, siapapun berani menyakitimu akan berhadapan dengan Hecan tentunya." Grace dan Sia terkekeh geli mendengar ancaman yang terlontar dari mulut sahabatnya.


Bertepatan kembalinya Hecan pembukaan konser di mulai. Teriakan penonton memekik telinga kalau band lokal General Elektriks memainkan lagu pertama yaitu you dont listen. Grace begitu hanyut menghayati setiap makna yang tersirat di setiap liriknya. Bahkan ia tak sadar seseorang sudah berdiri di sampingnya. Tiba-tiba tangan Grace di genggam olehnya, dia melirik ke sebelah kiri dimana sudah ada Liam bersamanya.


Grace menarik lengan Liam menjauh dari kerumunan barisan paling depan. Suasana konser begitu asik sehingga Hecan dan Sia tidak menyadari Grace menghilang diantara lautan manusia.


Terus menuntun Liam membelah barisan sampai di titik paling belakang, Grace berbalik lalu menyatukan bibir mereka secara lembut. Liam yang sedikit terkejut lantas meraih tengkuk Grace untuk memperdalam ciuman mereka. Semusim kembali berlalu begitu saja memisahkan mereka. Rasa rindu jelas membuncah mengingat tak ada yang bisa mengisi kekosongan masing-masing.


"Kau cantik Grace,,, " Liam membelai rambut Grace setelah ritual temu kangen usai.


"Aku harus pergi." Selalu itu kata yang keluar dari mulut manis Grace. Liam kembali terbuang oleh keteguhan hati wanita yang mungkin saja memendam kekecewaan karena dirinya tak mampu memberi kepastian. Liam mengecup kening Grace sebelum dia benar-benar pergi ke tempat teman temannya.


Bukan tanpa sengaja Liam bertemu dengan Grace di konser itu. Dirinya bersama tim perusahaan membuka stand untuk mempromosikan brand mereka. Liam mampu menangkap sosok Grace meski dia berusaha tampil tertutup. Mengikuti kemanapun wanita itu pergi dan ternyata hatinya tergerak ingin mendekat.

__ADS_1


Lelah berteriak dan menari mereka memilih pulang cepat meninggalkan konser musik. Menyenangkan bisa melepas penat dari hiruk pikuk pekerjaan. Grace memandang ke arah jalanan sambil menopang dagunya. Banyak sekali hal yang harus ia lakukan. Tuan Rodrigo selalu menghubungi dirinya meminta bertemu, namun Grace masih malas menghadapi ayahnya.


"Grace, ayahmu sudah ada di apartemen. Kami hanya akan mengantar lalu pulang ke rumah masing-masing. Besok kita bertemu lagi." Sia menyampaikan rencana mereka, ternyata Tuan Rodrigo sudah menunggu di rumah.


"Apa dia mengakatan sesuatu? " Tanya Grace penasaran ada perihal apa hingga mereka harus mengosongkan rumah. "Seputar kegiatan mu saja, lebih baik kau menurut agar dia tidak terus terusan mengawasi mu. " Hecan menjawab dengan melirik sebentar ke kursi belakang. Terdengar hembusan nafas kasar wanita itu.


Grace membuka pintu malas badannya sudah terlalu lelah, ia kehilangan banyak energi saat di konser musik. Tuan Rodrigo sudah duduk di sofa menunggu kedatangan putri tercinta.


"Sweety,,, " Memeluk hangat Grace tuan Rodrigo melepas rindu, keduanya tidak berjumpa cukup lama akhir akhir ini. Grace sibuk dengan dunianya sementara Tuan Rodrigo mengurus bisnisnya. Grace menuntun ayahnya duduk di sofa depan televisi. Ia tahu pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan olehnya.


"Daddy ingin kamu dekat dengan Ethan, dia sudah jujur kalau sejak dulu menyukaimu Grace." Tidak pernah basa basi tuan Rodrigo langsung bicara ke intinya.


"Dadd, aku hanya menganggap Ethan teman. Jika ini menyangkut Liam daddy tenang saja, aku sudah memutuskan pergi darinya. Dan tolong berhenti mengawasi ku ataupun Liam." Pinta Grace berharap ayahnya akan mempercayai ucapannya. "Maaf, daddy hanya ingin kamu bahagia Grace. Dia bukan pria baik-baik yang bisa memberimu satu ikatan suci. Dia hanya terobsesi padamu karena kamu secara resmi membatalkan perjodohan kalian." Terang Tuan Rodrigo meyakinkan Grace. "Dadd, ada satu hal yang perlu daddy tahu." Grace menjeda ucapannya sebelum kembali melanjutkan. Tuan Rodrigo bersiap mendengarkan.


"Liam kehilangan posisi CEO karena diriku." Lanjut Grace.


"Apa maksudmu Grace? " Kebingungan jelas tergambar di wajah Ayahnya.


"Tua bangka Marcus dan anaknya Peter menggunakan aku untuk merebut posisi Liam. Kalau memang dia tidak peduli padaku, kenapa Liam rela melepaskan La collection dadd? Jangan salahkan Liam soal penyanderaanku, dia menjagaku dengan sangat baik. Hanya saja Marcus benar-benar niat melakukannya." Grace ingin kesalah pahaman antara Liam dan ayahnya mereda. Rasanya perih melihat kedua pria yang ia cintai berseteru.


"Aku sudah tidak peduli padanya Grace, lebih baik kamu mulai menata kehidupan barumu. Pelan pelan saja, aku ingin kau melakukannya bukan karena sebuah paksaan." Tangan Tuan Rodrigo menyentuh puncak kepala Grace seraya tersenyum. "Terima kasih karena kau selalu mementingkan hidupku dadd, aku tahu betul apa yang aku butuhkan." Grace tersenyum getir menanggapi nasehat ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2