My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 57


__ADS_3

Merasa urusan pekerjaan nya sudah selesai Liam memutuskan pulang lebih awal menuju kamar pribadinya di hotel. Karena sudah ada staf ahli Liam tidak terlalu repot di kantor La collection. Masih di dalam lift Liam sudah resah dan gelisah tak sabar ingin menyerang Grace. Ketika lift terbuka tangannya langsung menarik Grace, sedikit berlari menuju kamar di ujung koridor. Liam menciumi Grace tanpa ampun di seluruh permukaan wajah hingga lehernya.


"Liam,,, " Grace meminta jeda untuk menghirup udara dengan mendorong dada bidangnya.


"Treat me! " Lirih Grace menatap Liam penuh damba. Senyum menyeringai Liam tunjukkan karena itupun yang akan ia lakukan. Liam mendorong tubuh Grace hingga terjatuh di atas tempat tidur. Keduanya melepaskan pakaian masing-masing, Liam mengangkat kedua kaki Grace agar ia bisa memasukkan kepalanya diantara celah. Mulutnya mulai sibuk mencicipi sesuatu di bawah membuat pemiliknya menggeliat tak tahan.


"Kau suka? " Liam mendongak menggantikan tugas mulutnya dengan jarinya, Grace terlihat mengangguk.


"I want to pee,,, " Lirih Grace merasakan sesuatu akan keluar.


"Do it baby! " Setelah memastikan puncak istrinya Liam lantas memulai menu utamanya. Grace tersentak merasakan sesak di bawah sana.


"Liam, it's hurt... " Liam tidak mengerti kenapa ia selalu kesulitan memasuki Grace padahal mereka sudah beberapa kali melakukannya. Mungkin karena quantity time peraduan mereka terbilang sedikit. Liam menarik tangan Grace memintanya duduk di atas pangkuannya. Tubuh Grace naik turun menjaga ritme permainan membuat Liam tak karuan dengan perasaan panas. Grace menatap Liam dengan tangannya tak berhenti menjambak rambut suaminya. Sementara Liam tak pernah absen memainkan dua gundukan di hadapannya. Dan untuk menapaki puncak Liam kembali menindih Grace, mengangkat kedua kakinya keatas ia terus mendesak dan menekan lebih dalam sehingga gerbang itu mulai terbuka.


"Grace,,, " Teriak Liam ketika ia sudah berhasil menyiram benih di rahim Grace. Grace merasa gila bersamaan kedutan di bagian bawahnya. Peluh keringat membasahi badan keduanya.


"I love you Grace... " Liam mengecup kening Grace merasa bahagia karena kepuasan yang Grace berikan. Sementara istrinya langsung terlelap akibat kelelahan. Aktifitas tadi cukup menguras tenaganya. Liam menarik selimut tebal untuk menutup tubuh polosnya, sementara ia ingin membersihkan diri terlebih dulu.


Bagi keduanya, hidup bukan lagi soal perasaan melainkan komitmen akan seperti apa kehidupan kedepannya. Jika di tanya soal cinta jelas mereka memperjuangkan semuanya hingga titik ini atas dasar cinta. Namun mereka sadar akan ada saat dimana mereka jenuh oleh keadaan, merasa penat dengan segudang pekerjaan tapi Liam akan terus membuat Grace dan Dylan nyaman serta bahagia. Akan Liam tebus waktu yang ia lewatkan dulu. Semakin hari Liam sadar jika ia merasa beruntung dicintai Grace. Wanita itu begitu sabar, penyayang dan mampu mengerti dirinya. Tanpa banyak menuntut Grace bahkan selalu memberi Dylan pengertian saat daddy nya sedang sibuk.


Melihat Grace masih memejamkan matanya, Liam memilih keluar kamar mengenakan kaos hitam dan celana pendek berwarna cream. Ia ingin membuat menu makan malam menggunakan kemampuannya sendiri di dapur hotel. Ketika berjalan menuju restoran seseorang melihat sosok Liam dari jauh. Tapi karena urusan mendesak dia mengambil arah berlawanan. "You're here... " Gumamnya di iringi senyum terpukau.


"Bri, cepatlah! " Brigitte berlari menyusul ayahnya yang sudah berdiri di samping mobil.


"Daddy, Liam ada di sini tadi. Aku harus bisa menemuinya. " Brigitte berteriak kegirangan bisa bertemu dengan Liam tanpa sengaja. Mungkin mereka berjodoh pikirnya.


"Next time Bri, kita harus bertemu teman daddy dulu. " Mereka memang sedang di kejar waktu sehingga tak ada kesempatan untuk sekedar menegur Liam.

__ADS_1


Grace membuka matanya ketika rasa lapar mulai menyerang. Ia mendudukan diri dengan bersandar, tubuhnya masih polos tanpa busana membuat ia harus segera membersihkan diri. Tak ada Liam di sekeliling kamar maupun balkon, artinya pria itu sedang pergi. Di bawah guyuran air Grace mengingat kembali pertemuannya dengan Noel. Kenapa pria itu bersikap seolah tidak mengenal dirinya. Mungkin dia menjaga hubungan baik pekerjaan mereka. Grace sadar Liam akan murka jika dia tahu pernah terjadi sesuatu di antara Noel dan dirinya.


Setelah mandi Grace mengenakan pakaian yang sudah Liam siapkan di lemari, membiarkan rambut basahnya begitu saja. Ia terlalu malas menyisir. Tak ada yang bisa ia makan di kamar mewah itu, Grace terpaksa keluar untuk sekedar ke mini shop di dekat lobby.


Ketika ingin naik lift Grace tak sengaja beriringan dengan seorang pria. Mereka masuk secara bersamaan.


"Noel,,, " Sapa Grace menyadari dirinya mengenal pria yang menekan tombol huruf L.


"Hem,,, " Noel menyahut dengan singkat. "Kenapa kau seperti ini? " Grace langsung menanyakan perubahan sikap Noel. "Menurutmu aku harus bagaimana? Aku terkejut melihat mu lagi dan ternyata sudah bersuami bahkan memiliki anak. " Jawabnya tanpa meleleh sedikitpun ke arah Grace. Tersirat kekecewaan di wajah Noel mengingat status Grace, wanita yang ingin ia jadikan pendamping hidup. Dirinya begitu terlambat datang di kehidupan Grace. "Maafkan aku, seharusnya aku terbuka sejak dulu. Noel, jangan membenciku hem? Aku sudah menganggapmu brother. Aku berharap kau menemukan wanita lebih baik dari ku. " Tangan Grace tergerak untuk menyentuh lengan Noel namun pintu lift berbunyi tanda mereka sudah sampai di lobby.


Pintu lift terbuka menampilkan sosok pria bersama pelayanan yang mendorong troli berisi makanan.


"Grace,,, " Suara itu cukup mengejutkan hingga Grace melepaskan tangannya takut Liam menangkap interaksi mereka. Noel mencoba bersikap biasa saja bertemu Liam di hotel yang sama.


"Hey,,, aku mencarimu Liam. " Noel keluar membiarkan pengguna lain menaiki lift. "Silakan tuan Liam, istri anda mengira saya sebagai anda. " Noel tersenyum tipis kemudian pergi dari sana. Kemudian Liam masuk diikuti pelayan hotel dengan troli nya. "Are you okay Grace? " Tanya Liam memperhatikan Grace sedikit terlihat gugup.


"Ya, aku hanya lapar dan berniat mencarimu. Aku tak sengaja malah satu lift dengan tuan Noel. " Jawab Grace sejujurnya pada Liam. Liam mengangguk tanda mengerti meski ia cukup curiga kalau Noel sempat menggoda istrinya selama di dalam lift.


"Uhuk uhuk,,, " Liam menggelengkan kepala, memberinya segelas air mineral dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


"Apa kau masih merasa sakit di bekas lukamu? " Liam menatap Grace intens, menanyakan kembali rasa sakit yang pernah Grace alami karena dirinya. Grace di benci Peter sialan itu karena igin mengembalikan milik Liam.


"Sudah tidak, obat dari uncle Jack benar-benar ampuh. Jadi jangan cemas lagi. " Pinta Grace tersenyum manis yang berhasil membuat Liam ingin menerkam nya.


"Setelah ini kau istirahat, aku ada pertemuan kecil dengan staf. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. " Titah Liam bangkit dari duduknya, mencium kening Grace sebelum pergi. Grace menelpon orang rumah namun nanny yang bertugas di sana memberitahu jika tuan Rodrigo mengajak keluarga menghadiri pesta.


"Pesta siapa? Apa aku mulai di lupakan sebagai anak mereka... " Grace bergumam sambil mengunyah makanannya. Ia jadi merindukan si cantik Alya dan tentu jagoan kecilnya Dylan.

__ADS_1


Tok tok,,,


Tak lama berselang pintu kamar terdengar di ketuk, membuat Grace menghentikan acara makannya. Ia berjalan mendekati pintu, karena berpikir itu Liam Grace asal saja membukanya. Dan ternyata dugaannya salah, seorang pria menatap tajam kearahnya memaksa masuk meski Grace menahan pintu semakin kuat.


"Noel, jangan seperti ini! Kita bisa bicara baik baik bukan? " Grace menangkap kemarahan di mata Noel. Ia terus melangkah mundur.


"Kau jahat Grace. Aku kira kau polos dan tulus, ternyata kau membohongi ku. " Nada bicara Noel dingin menusuk ke hati, Grace meraba tengkuknya merasakan hal buruk akan terjadi.


"Noel, aku tidak mempermainkan mu. Aku juga sudah mengatakan tidak bisa menerimamu. Liam akan kembali tolong jangan buat dia salah paham hem? " Bukannya menimbang ucapan Grace Noel malah menarik pinggang Grace hingga tubuh mereka tak lagi berjarak.


"I want you Grace, it's hurt here.. " Noel meraih paksa tangan Grace menaruhnya di dada bidang Noel.


"Please,,, kau pria baik Noel, jangan kecewakan aku. " Grace menggelengkan kepalanya, Noel bukan orang yang dulu selalu mengerti keadaannya. Noel berubah hanya karena status Grace.


"Kau yang membuatku kecewa Grace. " Noel semakin menggila, dia mendekatkan wajahnya berniat ingin mencuri bibir itu, sayangnya Liam datang dengan rasa herannya pintu di biarkan Grace terbuka begitu saja.


"Apa apaan ini hah? " Bentak Liam menyaksikan Grace di sentuh pria lain di hadapan matanya sendiri. Segera Liam menarik lengan Noel dan melayangkan tinjunya di wajah partner bisnisnya. "Sialan kau Noel! " Maki Liam, dadanya naik turun menahan emosi.


"Liam please,,, " Grace menarik tangan Liam yang akan menghajar Noel kembali.


"Lepaskan Grace! Sudah ku duga dia memang kurang ajar padamu. Bahkan di restoran dia berani menatapmu di hadapan suamimu. " Liam menunjuk wajah Noel yang kini menyeka darah di sudut bibirnya.


"Liam, dia teman ku ketika di Le Havre. Dia tidak bermaksud melukaiku, kami berteman baik dulu, mungkin Noel hanya terkejut mengetahui statusku. Aku tidak jujur padanya saat itu. " Grace mencoba menenangkan Liam dengan berkata jujur padanya. Mendengar Grace yang seperti tidak sedang membohongi nya Liam mengusap wajahnya kasar.


"Sorry Noel, lebih baik kau pergi saja. Kau boleh membatalkan kerja sama kita jika memang tidak merasa nyaman. " Liam meluluh, belajar dari pengalaman kini ia tidak mudah percaya sebelum mengetahui kebenarannya langsung dari mulut Grace. "No, itu proyek penting bagimu Liam. Noel ku mohon jangan campur adukkan masalah kita dengan pekerjaan. " Pinta Grace namun Noel hanya memandang keduanya bergantian lalu keluar kamar tanpa sepatah kata terucap.


Liam menarik tangan Grace tiba-tiba mengajaknya masuk ke kamar mandi setelah Noel menutup pintu. Ia meraih gagang shower, menyirami seluruh tubuh Grace tanpa ampun.

__ADS_1


"Liam, stop it! " Grace berteriak marah mendapat perlakuan kasar dari suaminya. "Akan ku bersihkan sisa tangan pria breng sek itu Grace! Aku tidak sudi istri ku di sentuh orang lain. " Bahkan tangan Liam menggosok kedua lengan Grace tak peduli istrinya mulai menggigil dengan mata yang mulai memerah.


Grace paham kemarahan Liam, dia juga salah karena tidak bisa menjaga diri dan martabat suaminya. Biarkan Liam menghukumnya sampai puas. Melihat bibir Grace yang gemetar Liam lantas mematikan air dan meraih handuk yang menggantung. "Pakailah, bersihkan dirimu. " Liam menyerahkan handuk itu ke tangan Grace lalu keluar meninggalkannya.


__ADS_2