My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 17


__ADS_3

Bagaimanapun situasi dan kondisi suatu perusahaan di dalamnya, proses jual beli tetap harus berjalan lancar. Di lantai satu gedung La collection mereka menerima beberapa tamu VIP yang sudah melakukan reservasi jauh hari. Mereka datang memilih koleksi tas, sepatu maupun baju untuk menunjang gaya hidup dan status sosial. Harga fantastis sebuah barang akan menunjukkan posisi mereka berada.


Grace tiba di carpot dan langsung menuju lift khusus staf, supir memberikan kartu akses pemberian Liam. Ternyata di ruang kerjanya pria itu sudah menunggu kedatangan Grace. Grace mendapat sambutan kurang enak dari para karyawan. Mereka tahu kalau dia mantan asisten pribadi Liam.


"Aku dengar tuan Arthur Junior kehilangan posisinya karena dia." Bisik bisik itu masih bisa Grace dengar dengan jelas.


"Ya kau tahu, Grace membawa pengaruh buruk sejak dulu di kehidupan bos." Tambah yang lain.


"Grace sengaja mendekati tuan agar naik daun." Dan cemoohan lainnya terlontar begitu saja untuk Grace.


Liam kehilangan posisinya , apa maksud perkataan mereka? Grace melangkah cepat ingin segera tiba di ruang kerja Liam. Pintu terbuka menampilkan pria itu tengah sibuk berkemas, memasukan barang pribadi ke sebuah kotak berwarna coklat. Pas seperti seseorang baru saja di pecat.


"Kenapa, apa aku membuatmu dalam masalah lagi? " Grace mematung tanpa berniat mendekati meja Liam.


"Aku hanya di berhentikan Grace, bukan jatuh miskin. Aku masih bisa menghidupi mu dengan hartaku." Liam menanggapi kekhawatiran Grace dengan santai, berbeda dengan perempuan yang ia tiduri semalam. Grace mulai di penuhi amarah. "Hentikan omong kosong mu Liam! Kau pikir aku peduli pada uangmu? Sejak dulu kau memang selalu memandang rendah diriku." Yah, lagi lagi Grace kecewa akan sikap Liam. Dia memang dingin dan tak berperasaan terhadap siapapun. Grace salah mengira pria yang kini berjalan kearahnya sudah berubah lebih baik.


"Grace tenanglah, aku tidak bermaksud menyakiti mu." Liam ingin meraih lengan Grace namun segera di tepis.


"Aku bodoh berpikir kau berbeda dari yang dulu, aku pergi Liam jangan paksa aku tinggal di rumah mu lagi." Grace mendorong dada Liam sebelum keluar membawa kekecewaan yang di ciptakan nya.


Ingin tahu siapa yang benar-benar peduli padamu, lihatlah mereka yang berdiri mengulurkan tangan membantu di masa sulit mu. Grace berlari memeluk Sia dimana mereka sejak tadi setia menunggu Grace. Berharap perempuan itu mau pulang ke apartemen nya.


"Cepat pergi dari sini! " Ajak Grace pada Sia dan Hecan saat ia sadar Liam dari dalam mengejar dirinya bersama sang supir juga Josh tentunya.


Mobil melaju tepat setelah Liam tiba di tempat Grace tadi. Usai sudah usahanya membuat Grace bertahan di sisinya.


"Cepat hubungi tuan Rodrigo dan atur pertemuan." Perintah Liam tentu pada Josh tangan kanannya.


"Baik tuan." Gerak cepat Josh mencoba menghubungi ayah Grace saatim itu juga.


Di dalam mobil Grace memainkan ponselnya mencari berita seputar bursa saham. Dimana ia menemukan nama pemegang saham baru di La Collection, Peter Marcus. Jadi ini alasan mereka menyekap Grace dan menjadikannya kelemahan Liam. Grace harus bertindak lebih demi menyelamatkan posisi Liam. Apa pun resikonya harus Grace hadapi, Liam terpuruk karena berusaha melindungi dirinya.

__ADS_1


,,,,,,,


Liam bertandang ke rumah Tuan Rodrigo untuk pertama kalinya. Di beberapa sudut terdapat bingkai beberapa potret Grace sejak bayi hingga tumbuh menjadi wanita tangguh. Tuan Rodrigo menuruni anak tangga tanpa menyambut tamu tak di undang nya. Saat Josh meminta jadwal pertemuan Tuan Rodrigo menolak karena enggan melihat wajah Liam.


"Kau masih punya nyali menemuiku? " Sarkas Tuan Rodrigo memperhatikan air wajah pria penakluk hati anaknya.


"Aku ingin menikahi Grace secepatnya, tolong beritahu dia kalau perjodohan tetap berjalan." Keberanian besar ditunjukkan Liam untuk mendapatkan Grace. Grace hanya Dia yang ia butuhkan. Kepuasan, status sosial juga modal investasi masa depan tentunya. Grace jelas akan mewarisi bisnis berlian dan jam tangan ayahnya. "Lancang sekali kau Liam. Kau bahkan tidak pantas bermimpi mendapatkan putriku. Kemampuanmu menjaga perusahaan saja nihil apa lagi melindungi Grace." Penolakan lebih jelas kini di arahkan pada Liam. Dulu tuan Rodrigo sempat mempercayai pria di hadapannya menjadi pendamping sekaligus pelindung Grace. Kini ia sungkan memberi restu.


"Tuan kau akan berhadapan dengan putri mu sendiri Grace. Karena dia sudah tergila-gila padaku." Penuh percaya diri Liam menantang orang yang menentang dan menghalangi keinginannya.


"Aku tidak peduli, Grace akan aku jodohkan dengan anak temanku. Jelas mereka sudah lama saling mengenal, lagi pula Ethan jauh lebih baik darimu." Mendengar nama itu di sebut di tambah sebagai calon pasangan Grace Liam naik pitam. Kedua tangannya mengepal ingin melampiaskan dengan segera. Tapi ia sadar siapa lawannya sekarang, ia bertindak bodoh makan Grace akan semakin sulit di gapai.


"Akan ku pastikan untuk mendapatkan putrimu tuan. Dia akan bertekuk lutut mengemis cintaku, lalu mencampakkan nya setelah mendapat apa yang aku mau." Batin Liam mengancam Tuan Rodrigo dengan kejam.


"Baiklah, kita lihat saja nanti tuan. Aku harap kau tidak menyesali pilihanmu."


Liam memperingati tuan Rodrigo penuh makna, sepertinya harga diri Liam benar-benar sudah di injak oleh pengusaha kaya itu.


Memilih klub malam sebagai tujuan pelampiasan kemarahannya, Liam meratapi nasibnya sekarang. Kehilangan posisi juga sumber kepuasan nya. Bagi Liam Grace sebatas teman penghilang rasa bosan, tidak lebih. Bersama wanita itu Liam nyaman dan ingin terus di manjakan oleh sifat dan sikap Grace. Grace berhasil di pikat olehnya sehingga rela menyuguhkan keperawanannya.


Hal baru juga bagi Liam karena sejak menjadi pria dewasa dirinya sama sekali belum ingin melakukan hubungan badan dengan siapapun.


Seperti saat ini, dirinya sudah beberapa kali di dekati pengunjung wanita. Menggoda, merayu dan menjanjikan kenikmatan pada seorang Liam. Dia menolak, bayangan percintaannya dengan Grace masih teringat jelas. Liam tidak bernafsu pada wanita lain selain Grace. Ini aneh, kenapa dia seakan menginginkan Grace lagi dan lagi.


"Bos, anda sangat kacau. Lebih baik saya antar pulang." Josh sebenarnya enggan menjadi tangan kanan Liam tapi rasa hormat nya begitu tinggi untuk seorang Arthur Louis. Terpaksa dirinya harus menjaga Liam dalam keadaan apapun. "Diam Josh, aku harus memanggil Grace." Saat mabuk pun Liam masih mengingat nama wanita itu. Tangannya susah payah mencari ponsel di saku celana, lalu saku dalam jas.


"Kau dimana Grace? Datanglah pada ku! " Teriak Liam usai panggilan tersambung. "Berisik sekali Liam dan kau mabuk. Pulanglah segera karena aku tidak akan datang." Di kamar tidurnya Grace duduk di sofa sambil menutup telinga kirinya. Suara musik begitu keras memekik di telinga. "Grace aku butuh kamu sekarang juga! Kemarilah atau aku akan,,, " Belum selesai berbicara Liam menatap layar ponselnya, Grace mamutus sambungan begitu saja. Ia terkekeh miris.


"Hecan please, sekali ini saja bantu aku. Aku akan meninggalkannya di waktu yang tepat. Sekarang Liam dalam keadaan kacau." Di dekat pintu Grace memohon agar Hecan mengizinkan nya menjemput Liam. Hecan melarang keras Grace pergi apa lagi dia tak mau di temani olehnya.


"Kau gila Grace! Bagaimana kalau orang-orang menyadari kehadiran mu di sana. Reputasi mu akan hancur." Kepedulian Hecan memang sangat menyentuh hati Grace tapi ini haknnya juga untuk pergi.

__ADS_1


"Aku akan pergi meski kau melarang ku." Keras kepala Grace tak mengindahkan peringatan Hecan. Sia hanya bisa diam melihat Grace berubah tidak bisa di kendalikan siapapun bahkan ayahnya sendiri.


"Biarkan saja dia Can. Grace memang sudah tergila-gila oleh Liam. Setidaknya Liam bukan pria player." Sia semakin hafal fakta kehidupan seorang Liam Arthur. Dia di beri tahu oleh tuan Rodrigo langsung untuk memastikan Grace baik baik saja.


"Kita lihat saja bagaimana Liam mengurus Grace, dia saja enggan berkomitmen."


Hecan menatap pintu nanar menyesal karena gagal menahan Grace.


Liam, pria berusia dua puluh delapan gagah, bersikap dingin terhadap wanita, memutuskan tidak percaya pada suatu ikatan pernikahan. Sekalipun dia mencintai perempuan Liam memilih untuk tidak menikahinya. Dia pikir akan dengan mudah mendapatkan wanita manapun ternyata Liam malah sulit menemukan sosok pasangan yang pas. Hanya Grace, ia berhasil menjerat Grace dengan mudahnya.


Grace tiba di depan pintu masuk klub malam, dia mengenakan pakaian serba hitam di lengkapi topi. Melirik ke sekeliling mengamati siapa tahu ada paparazi mengikutinya. Kehidupan bebas seorang model tidak menjadi masalah tapi ini bersangkutan dengan reputasi orang tua mereka dan perusahaan. Grace bukan orang sembarang begitupun dengan Liam.


Meminta jasa valley Grace langsung masuk ke dalam. Langkahnya terasa berat menapaki tempat orang melampiaskan nafsunya. Grace suka pesta tapi bukan berarti ia hoby mabuk di klub, lebih baik menghadiri pesta secara formal.


"Liam,,, " Panggilan Grace dapat dikenali oleh pemilik nama. Liam yang tadinya menunduk menjadikan kedua tangannya penopang mendongak. Tersenyum manis melihat kedatangan Grace. Mulut nya berkata tidak tapi hatinya menuntun untuk menghampiri Liam.


"Baby, I miss you... " Lirih Liam merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan. Grace malah meraih tangan Liam menariknya menjauhi kerumunan. Josh bergegas mengikuti di belakang mereka. Dalam keadaan mabuk Liam masih mampu berjalan dengan baik.


"Kau mencintaiku Grace ? " Grace di serang pertanyaan menohok oleh Liam, alhasil langkah kaki mereka terhenti Grace berbalik menatap Liam tajam.


"Tidak, aku hanya kasihan padamu. Gara-gara diriku kau kehilangan La Collection, aku juga bersalah pada uncle Arthur." Mengatakannya sungguh-sungguh, padahal hati kecil Grace ingin mengatakan iya bahwa dirinya sudah jatuh hati pada Liam.


"Bohong! " Maki Liam, Grace terperanjat kaget melihat kemarahan pria di hadapannya.


"Kau selalu sama Liam, aku belum menemukan sisi kebaikan di dirimu." Penilaian Grace semakin menyulut emosinya, Liam meraih tengkuk Grace dengan kasar lalu mencium bibirnya rakus. Satu tangannya menarik pinggang merapatkan tubuh mereka. Sekitar sepuluh detik Grace tak mampu bernafas, ia mendorong dada bidang Liam kuat. "Hentikan Liam, kau menyakiti ku." Merasa bersalah kini Liam memeluk Grace dengan lembut dan hangat. Dia meringis tak tahan jika harus melihat Grace menangis. "Pulanglah bersamaku Grace." Bisik Liam memohon penuh harap. Grace mengangguk lemah menyetujui nya.


Tanpa mereka sadari sekalipun Josh, seseorang memotret adegan keduanya dari jarak cukup ideal. Wajah Grace dan Liam in frame dengan jelas di layar kamera.


Josh membimbing tuan dan nona muda menuju mobil yang sudah di ambilkan oleh petugas dari basement.


"aku akan naik mobilku, kalian duluan saja." Grace baru ingat kalau dia juga membawa mobil sendiri.

__ADS_1


"tidak, biarkan Josh membawanya. kau mengemudi bersamaku." titah Liam tentu tak mau di bantah oleh Grace. Grace hanya mampu menghela nafas mencoba bersabar.


__ADS_2