
Karena mereka akan bepergian cukup jauh, Jack tidak berniat membatalkan acara hanya karena takut Grace bertemu dengan Liam. Lagi pula rencana piknik memang sudah di buat jauh hari. Jack tidak ingin keluarganya kecewa.
Kali ini Jack menggunakan mobil jenis SUV untuk membawa mereka ke daerah perbukitan. Di sana mereka ingin menikmati matahari terbenam dari dataran tinggi.
Suasana perjalanan menjadi riang karena celotehan Grace mengajak ngobrol baby Dylan. Alya yang duduk di tengah antara ibu dan kakaknya juga ikut menggoda keponakannya.
"Bibi, bolehkah aku mencoba naik AVT di sana? " Tiba-tiba Grace ingin merasakan sensasi naik kendaraan memacu adrenalin. "Coba tanya Aby, bibi pikir seharusnya jangan dulu Grace." Mengingat kondisi Grace yang belum lama pulih dari melahirkan ibu sambungnya sedikit khawatir.
"Boleh asal jangan di jalur curam." Jawab Abigail datar tanpa menoleh ke belakang. Sejak tadi pagi Grace merasa sikap Abigail berubah jadi lebih dingin padanya.
"Lihatlah Dy, auntie tua mu sepertinya marah pada mommy." Selalu saja Grace menggunakan anaknya untuk menegur orang-orang di sekitarnya. Jack dan bibi Pat hanya tersenyum menanggapi kedua wanita itu.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam akhirnya mereka mulai memasuki area Corsica quad. Kawasan yang di lindungi sebagai objek wisata alam. Selain melakukan kegiatan ATV para pengunjung juga sering di suguhkan penggembalaan kambing. Mereka tiba setelah jam makan siang, Jack segera memarkirkan mobil di tempat nyaman untuk menggelar tikar. "Wah,,, di sini indah sekali." Alya berlarian kesana kemari sambil merentangkan tangannya.
"Selamat ulang tahun adik kecil ku... " Teriak Grace yang masih setia menggendong Dylan. Tubuh bayi laki-laki nya semakin hari terus bertambah. Dylan juga jago menyusu dan itu membuat Grace bersemangat menjalani peran sebagai ibu.
"Terima kasih kak, aku sayang kalian." Alya mendekat berhamburan memeluk Grace lalu ibunya bibi Pat.
"Kita makan siang dulu." Tak lama semua hidangan buatan bibi Pat berjejer rapi di atas tikar motif kotak kotak.
Ada sandwich, sate buah, roasted chicken kesukaan Alya tentu beef lasagna favorit Grace.
Usai makan siang Grace langsung menyusui baby Dylan, dan kini tengah terlelap di dalam mobil bersama bibi Pat. Grace mengajak Abigail berjalan menyusuri bebukitan kecil untuk menikmati suasana piknik.
"Kau ada masalah dengan pamanku? " Grace tidak pernah basa basi pada Abigail maupun Jack. Baginya mereka sudah seperti keluarga sendiri.
"Dia menyukaimu Grace, aku tidak bisa terus berharap pada Jack." Abigail menunduk, kakinya menghentak bebatuan kecil di tanah.
"Kau kan tahu bagaimana keadaanku Bi, justru karena aku mengenal Jack aku ingin kau bisa membahagiakan nya. Berhenti merengek dan terus berjuang, aku yakin pamanku akan menerimamu suatu saat nanti." Ucap Grace memberi rasa percaya diri pada Abigail. Memang benar apa yang di katakan Grace, hanya saja Abigail menjadi lemah setiap melihat Jack memperdulikan Grace.
Mata Grace membulat sempurna ketika seseseorang tengah mengendarai ATV menuju kearah mereka dengan gagahnya. Kaca mata hitam bertengger di hidung pria yang bertelanjang dada. Tak ingin pria itu melihatnya cepat cepat Grace meraih bahu Abigail untuk memeluknya erat dengan posisi Grace membelakangi jalur ATV.
__ADS_1
"Aku kesulitan bernafas,,, " Abigail memberontak berusaha melepaskan diri. "Sebentar saja Bi, aku takut." Malah terdengar isak tangis Grace yang membuat Abigail khawatir.
"Itu hanya balapan ATV Grace, kenapa kau cengeng sekali." Pikir Abigail mungkin Grace terkejut mendengar suara berisik dari knalpot kendaraan itu. Rombongan pria berbadan tegap memang sempat melewati mereka. Saat tak terdengar lagi suara kendaraan bising memekik telinga, Grace merasa kakinya lemas hingga merosot ke tanah. Abigail berusaha menahan namun terlambat, mereka kini duduk saling berhadapan.
"Ada apa Grace, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali." Tanya Abigail mulai khawatir. "Bi kita harus segera pulang, aku takut dia mengambil Dylan. Ayo Bi." Grace menangis tersedu sedu mengguncangkan tubuh Abigail.
"Iya Grace, kau harus tenang. Kita akan kembali ke mobil lalu pulang."
Perasaan Grace semakin takut membayangkan Liam mengenali Dylan anaknya. Grace belum siap menerima keadaan itu di saat status Liam yang sudah bertunangan dengan Veronica. Ia mempercepat langkah kakinya menuju tempat mereka memarkirkan mobil. Jack melihat Grace menangis dari jauh, ia menahan lalu memegang kedua bahunya. "Ada apa Grace, kenapa kau menangis hah?" Jack melirik pada Abigail namun wanita itu menggelengkan kepala tak mengerti.
"Aku ingin pulang sekarang juga, please." Akhirnya demi kenyamanan Grace mereka memilih menyudahi acara piknik. Bahkan belum mencoba mengendarai ATV dan menyaksikan sunset, kini mereka harus segera pulang.
Suasana di mobil menjadi hening melihat Grace begitu kacau. Tadi sampai di bukit Grace masih terlihat bersemangat, namun kembali dalam keadaan menangis histeris. Abigail mengambil alih Dylan karena khawatir dengan kondisi mental ibunya. Grace mencoba tertidur untuk meredam rasa takutnya.
Di sebuah camp, rombongan perusahaan ternama La Company tengah asik bercengkrama sambil beristirahat. Menikmati minuman segar penghilang dahaga. Liam yang masih setia nangkring diatas ATV tak sengaja melihat sosok Grace di dalam mobil yang baru saja lewat. Kaca memang transparan sehingga Liam bisa melihat sosok penumpangnya dengan jelas.
Wajah Damai itu yang selalu ia rindukan, Grace sangat cantik ketika terlelap. Tapi kali ini Liam melihat kesedihan di wajahnya. Grace tidak sendiri, mereka sepertinya menjadi keluarga bahagia.
"Ya, berkat seseorang. Aku akan kembali ke Paris nanti malam, kalian bisa melanjutkan liburan sampai hari minggu." Mendengar kebaikan bosnya mereka tersenyum gembira.
, , , , ,
Grace memilih berbaring sambil terus memandangi Baby Dylan yang terlelap. Sepulang dari piknik anaknya menangis tanpa jeda. Apakah ikatan batin mereka sangat kuat? Grace mencoba mengusir jauh jauh pikiran buruk tentang Liam yang bisa saja merebut Dylan darinya.
Grace tahu Liam tidak memiliki urusan di kota ini, mungkin dia datang hanya untuk berlibur. Siapa tahu besok atau lusa mereka sudah pergi dari kehidupannya.
Lamunan Grace terhenti ketika pintu kamarnya di ketuk pelan oleh seseorang. Tak ingin membangunkan Dylan, susah payah Grace beranjak dari tempat tidur. Tak lupa ia juga mengelilingi tubuh mungil itu menggunakan bantal dan guling.
"Ada apa bi? " Setelah pintu di buka Grace melihat wajah ketakutan ibu sambungnya. "Di luar ada seseorang Grace, dia mencarimu." Kata bibi Pat, kedua tangannya meremas ujung celemek membuat Grace ikut cemas.
Kalau memang benar dugaan Grace, dia sudah tidak bisa bersembunyi lagi darinya. Sebisa mungkin Grace mengendalikan perasaan sebelum berjalan mendekati pintu rumah.
__ADS_1
Saat pintu terbuka benar saja, punggung itu sangat Grace kenali. Grace pernah mencengkram nya kuat ketika dia berhasil dikuasai oleh pemiliknya. Dia berbalik, mata mereka akhirnya saling bersi tatap.
"Hey,,, " Sapanya penuh rasa gugup. Grace hanya berdiam mematung menahan pintu agar tidak terbuka. Lidahnya keluh tak mampu mengatakan apapun.
"Tolong pergilah, jangan datang menemuiku lagi Liam." Dari sekian banyak kalimat yang tersusun di otak Grace ia hanya bisa mengucapkan pengusiran pada ayah dari anaknya.
"Kau perlu tahu sesuatu Grace,,, "
"Maaf, tapi aku tidak ingin mendengar apapun." Grace segera memotong perkataan Liam.
"Aku dan Ve,,, "
"Aku tidak peduli Liam. Kita tidak terikat hubungan jadi kau bebas melakukan apapun." Grace hendak menutup pintu, namun tangan Liam segera menahannya sekuat tenaga.
"Apa kau sudah memiliki pengganti ku? " Serang Liam menggunakan tatapan tajamnya untuk mengintimidasi Grace. "Benar, sebentar lagi dia akan pulang. Aku tidak ingin calon suamiku salah paham." Terpaksa sekali Grace berbohong. Demi apapun ia tidak tega membohongi siapapun apa lagi Liam. Perlahan dorongan tangan Liam mulai melemah. Mungkin usahanya kini benar-benar harus berhenti.
"Semoga kau berbahagia Grace, aku sungguh-sungguh." Ucap Liam lesu lau berbalik pergi.
Suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring di telinga Liam. Wajah Grace mulai pucat pasi penuh rasa khawatir Liam akan curiga. Tatapan mereka kembali beradu, kerutan halus di dahi Liam jelas menunjukkan rasa penasarannya.
"Abigail,,, bayimu menangis! " Teriak Grace sebelum menutup pintu. Ia segera mengunci nya agar Liam tidak bisa masuk. Hati Liam merasakan sesuatu yang aenh, setetes cairan bening jatuh melewati pipinya. Perasaan apa ini, kenapa Liam selalu sedih beberapa kali terakhir.
Setelah terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah, Grace ambruk terduduk di lantai. Ia menangis sejadi-jadinya seraya memegangi dadanya. Sakit, perih dan bingung harus berbuat apa terhadap hubungan mereka. Bibi Pat segera mendekat mendekap erat tubuh Grace. "Dia jahat bi, Liam meninggalkan kami. Aku membencinya, bawa aku pergi jauh dari sini bi aku mohon." Grace dan Dylan menangis saling bersahutan melepas kepergian Liam. Bibi Pat juga ikut merasakan sakitnya perasaan Grace.
mobil Liam berpapasan dengan kedatangan Jack. ia heran siapa yang habis bertamu di rumahnya. buru buru Jack memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan.
tidak ada siapapun di rumah, hanya terdengar suara tangis Dylan dari arah kamar Grace. pintu terbuka menampakkan pemandangan membuat Jack emosi. ia melangkahkan kakinya cepat menggendong Dylan yang masih menangis. sementara Grace dia malah sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. "kau sudah gila Grace? Dylan kehausan tapi kau malah sibuk dengan kegiatanmu. sadarlah Grace! " untuk pertama kalinya Jack berteriak membentak Grace. wanita itu sudah seperti kesetanan mengeluarkan isi lemari memindahkannya ke dalam koper besar.
"Liam mengetahui keberadaan ku Jack, aku tidak ingin dia menemukan Dylan. aku harus segera meninggalkan kota ini." Grace menutup wajahnya menahan tangis, setelah cukup tenang ia mengambil alih Dylan dari gendongan Jack. duduk di sofa biasa ia menyusui.
"Biar aku pikirkan solusinya Grace, untuk sementara kau jangan keluar rumah dulu sebelum Liam benar-benar pergi." setelah bertemu Liam di bar seharusnya Jack bertindak cepat agar mereka tidak saling bertemu. berkat kekuasaan Liam bisa menemukan Grace dengan mudah. Satu-satunya cara ialah meminta bantuan tuan Rodrigo. Jack keluar dari kamar Grace untuk menghubungi kakak iparnya.
__ADS_1