
Alya melepaskan diri dari Christian. Dia mundur beberapa langkah sampai menyentuh pagar balkon. Ia tersenyum nanar mendengar ucapan Christian.
"Kau berkata seolah aku sengaja melakukannya. Kau tidak ada di saat aku melalui hari-hari berat ku ketika dia tumbuh di dalam perutku. Aroma apa yang ku benci, seberapa banyak makanan yang harus ku keluarkan lagi.
Kau menghakimi ku Christian, tanpa tahu betapa besarnya rasa sakit ku kehilangan dia.
Aku mengerti alasanmu, kau benar. Aku sempat berpikir itu adalah kesalahan, tapi setelah aku mendengar detak jantungnya aku sadar. Tuhan mengujiku dengan kehadirannya.
Kau benar Christian, semua ini karmaku. Dan aku minta maaf karena kau harus terlibat dalam rasa sakit ini. "
Kata demi kata Alya keluarkan dari dalam hatinya. Dia menyesali kekeliruan hatinya ketika Christian berusaha meyakinkan Alya. Karena keegoisannya mereka harus merelakan kepergiannya.
Christian hanya diam, mengalihkan pandangannya. Dia menahan sekuat mungkin untuk tidak menangis.
"Puas kah kau menghukum ku Christian? Kau pergi di saat aku terluka dan membutuhkan kehadiranmu. Christian, sekarang kita sudah memilih jalan masing-masing. Aku mohon, lepaskan beban yang menghimpit dadamu. Kau berhak bahagia, aku selalu mendoakan itu untuk mu." Setiap sebelum Alya memejamkan mata, nama Christian selalu ia sematkan dalam baris do'a nya. Meski Alya tahu kebencian Christian tidak akan pernah padam padanya.
Tidak ada jawaban, Alya akhirnya memilih meninggalkan Christian. Secepatnya Alya harus pergi dari sana. Ia meraih tas di atas nakas lalu mengenakan high heels nya.
Berjalan menuruni anak tangga, Alya mencoba keluar dari rumah besar milik Christian. Rumah yang ia siapkan untuk keluarga kecilnya di masa depan.
"Nona, sarapannya... " Pelayan senior mengejar langkah cepat Alya. Pelayan bingung melihat kepergian Alya dia berencana melapor pada tuannya.
Namun Christian terlihat santai berdiri di pelataran tangga.
"Biarkan dia, aku akan menyusulnya." Kata Christian datar.
"Sial, aku harus berjalan cukup jauh." Selain mulai merasakan pegal, Alya di sibukkan dengan bunyi perutnya yang menagih jatah.
"Ya Tuhan, aku lapar sekali. " Gumamnya memeluk perut sendiri.
Sebuah mobil mini Cooper berwarna hitam dengan roof terbuka berjalan pelan mensejajarkan langkah Alya. Pengemudi mengenakan kaca mata hitam menghindari silau mentari pagi yang mulai meninggi.
"Butuh tumpangan? " Tawarnya bernada ejekan.
"No, thanks. " Jawab Alya ketus menolak ajakannya. Ada rasa gengsi di diri Alya untuk menumpang di mobil Christian.
"Are you sure? Di sekitar rumahku tidak ada taksi yang kebetulan lewat." Bagaimana bisa ada taksi lewat, rumah Christian terletak di kawasan swallow fall yang memang bukan pemukiman warga. Jika ada kendaraan lewat itu artinya mereka menuju objek wisata tersebut.
Bruk,,,
Tiba-tiba Alya terjatuh ke depan, Hak dari sepatunya tanpa sengaja menginjak batu cukup besar mengakibatkan dirinya tergelincir.
"Alya,,, " Terkejut, Christian segera menghentikan laju mobil. Ia bergegas menghampiri Alya yang berusaha berdiri.
"Are you okay? " Membantu mengangkat bobot Alya, Christian malah mendapat penolakan darinya. Alya menghempaskan pegangan Christian.
__ADS_1
"Kau sengaja mengerjai ku Christian, apa kau benar-benar harus balas dendam padaku? " Teriak Alya kesal melihat sikap Christian.
Christian hanya bisa memijat pelipisnya, dia heran kenapa Alya bisa berpikir seperti itu. "Alya, aku tulus membantumu. Lagi pula kau adalah kekasih adik ku. Aku yang sudah membawamu ke sini, jadi aku bertanggungjawab untuk mengantarmu pulang." Mencoba bersikap sabar dan tenang, Christian luluh ketika mendengar isi hati seorang Alya tadi.
Alasan Christian cukup masuk akal, Alya akhirnya menerima tawaran Christian. Dia langsung duduk di kursi kemudi. Mulai menyalakan mesin, Christian yang masih bingung semakin kaget saat Alya meninggalkannya begitu saja.
"Alya Shamare! " Teriak Christian, namun Alya malah tertawa melihat wajah Christian yang menurutnya lucu.
"Rasakan pembalasanku Christian hahaha." Alya merasa puas bisa membuat Christian kesal.
Meski tadi malam keadaan jalan sangat gelap Alya masih percaya diri berkendara tanpa bantuan aplikasi peta.
Sayangnya rasa lapar Alya memaksanya berhenti di sebuah kedai kecil di tengah perjalanan. Untungnya ada penjual makanan di pinggir jalanan yang sepi penduduk. Alya masuk ke dalam bangunan berbahan kayu jati setelah memarkirkan mobilnya.
"Selamat datang,,, " Sambut nyonya pemilik kedai.
"Nyonya bisakah aku mendapat makanan, perutku terus berbunyi." Alya duduk di kursi dekat jendela yang sengaja di buka agar ruangan menerima udara segar.
"Tentu nona, aku akan membuatkan sandwich untukmu." Tak masalah dengan menu yang di sajikan, Alya menunggu sarapan pagi yang sedang di buat oleh pemilik kedai.
Tibanya makanan di atas meja bersamaan dengan munculnya seseorang dari luar. Alya hanya bisa menghela nafas pelan melihatnya. Lantas pria itu duduk di kursi berhadapan dengan Alya.
"Nyonya tolong buatkan yang sama untukku. " Katanya penuh sopan santun. Berbeda dari kebiasaan buruk nya yang hanya di ketahui oleh Daniel dan mantan istrinya.
"Alya, mari lupakan masa lalu kita. Aku hanya ingin kau menjaga Theo dengan baik. Jangan pernah kau menyakiti nya seperti apa yang kau lakukan padaku. Atau aku benar-benar akan murka." Mendengar peringatan dari Christian Alya melemas. Itu artinya dia tidak memiliki kesempatan untuk bersama Christian lagi.
"Kau benar Christian, aku rasa urusan kita sudah lama selesai." Senyum getir Alya berikan pada Christian. Perih di hatinya biar Alya yang simpan rapat-rapat.
Dan mungkin ini semua kesalahan Alya. Dia terlalu terlambat menyadari perasaannya terhadap Christian. Bahwa Alya juga mencintanya, memimpikan hidup bersama pria yang selalu mencintainya dalam keadaan apapun.
Ketika Christian mengatakan menyerah , hati Alya seakan sakit dan berat menerimanya.
Mereka menyantap sarapan dengan penuh kedamaian. Alya berulang kali susah menelan makanannya di saat Christian tak sengaja menatapnya.
"Ok, aku akan memulainya dari awal. Menciptakan momen menyenangkan yang bisa membuatnya goyah." Gumam Christian dalam hati, ia menyunggingkan senyum tipis melihat Alya salah tingkah.
Alya mengerutkan keningnya ketika Christian akan mengantarnya pulang. Bukankah seharusnya Christian membawa mobil untuk menyusulnya?
"Cepatlah naik, jangan membuat Theo menunggu." Perintah Christian, Alya hanya berdiri mematung di sebelah mobil.
Terpaksa kali ini Alya harus semobil dengan Christian. Mobil pun kembali membelah jalanan untuk kembali ke Cambridge. Selama perjalanan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bisa menjadi topik pembicaraan.
Setibanya di dekat penginapan, Alya meminta Christian berhenti agak jauh. Ia tidak ingin Theo salah paham jika melihat mereka bersama.
"Sebentar,,, " Christian menahan Alya yang ingin turun dari mobilnya. Menengok ke sebelah, Alya menunggu Christian mengambil sesuatu dari sakunya.
__ADS_1
"Ini ponselmu. " Mengembalikan ponsel Alya yang sempat Christian tahan. Alya menerimanya lalu di masukkan ke dalam tas. Bahkan pakaian Alya belum sempat ia ganti padahal Christian sudah menyiapkan untuknya di lemari.
"Christian,,, " Panggil Alya lirih, entah dorongan dari mana Alya seakan menginginkan sesuatu dari mantan kekasihnya itu.
"Alya, keluarlah! Theo sudah menunggumu." Mata Christian memerah ketika melihat Theo nampak uring-uringan menunggu kepulangan Alya.
"Aku hanya ingin mengatakan maaf, maaf karena dulu aku sudah sangat mengecewakan mu. " Setelah puas mengatakan isi hatinya Alya benar-benar keluar dari mobil Christian.
Berjalan cepat menghampiri Theo yang sejak tadi mencoba menghubungi Alya. Saat mereka saling bersitatap Theo lantas berlari kecil menyusul Alya. Dia memeluknya erat sekali, melepaskan rasa khawatir sejak semalam kehilangan jejaknya.
"Alya kau kemana saja? Aku sangat cemas setelah menyadari kau menghilang." Tangan Theo mengusap punggung Alya berulang kali.
"Aku minta maaf Theo, semalam teman kuliahku dulu memaksaku ikut ke rumahnya saat pergi ke toilet. Ponselku habis daya." Jawab Alya mengarang cerita, karena tidak mungkin dia berkata jujur.
Pelukan pun terurai, keduanya mengalihkan pandangan demi menguasai diri. Theo lantas menggenggam lengan Alya.
"Ada pekerjaan mendadak, aku harus pulang lebih awal. Kau bisa ikut bersamaku, atau menghabiskan sisa waktumu untuk berlibur di sini." Mendengar berita rencana kepulangan Theo, Alya berpikir sejenak. Dia seharusnya ikut bersama kekasihnya namun hati Alya menginginkan hal lain.
"Bolehkah aku tinggal sampai jadwal keberangkatan ku? Aku masih ingin berjalan-jalan. " Tanya Alya hati-hati. Theo tersenyum simpul menanggapinya.
"Hey, this is your life Al. You can choose what you want. But you have to protect your self here, okay? " Alya nengangguk mengerti, kemudian Theo kembali menarik Alya ke dalam dekapannya.
Christian masi di sana dan ia melihat pemandangan kedua insan di mabuk cinta. Ia menanyakan pada hatinya, apakah Alya sudah melupakan Christian dan mulai mencintai adiknya Theo?
Ia pun memilih pergi dari tempat itu. Christian tidak akan memaksa Alya lagi seperti dulu. Sementara Alya mengantar Theo yang sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke bandara.
"Kenapa kau mengepak barang ku juga Theo? " Alya bertanya heran karena koper Alya juga sudah siap.
"Ini darurat Al, aku akan menitipkan mu di tempat Christian. Di sini terlalu sepi aku takut kau kesulitan. " Penjelasan Theo membuat Alya berpikir keras. Ia takut mengalami hal yang sama ketika dirinya
'di titipkan' pada Christian seperti halnya dulu.
Keduanya kembali turun dan taksi yang Theo pesan sudah ada.
"Theo, aku bisa menjaga diriku baik-baik. Aku rasa itu bukan saran yang bagus untuk ku? " Tolak Alya secara halus.
"Kenapa? Jangan katakan Kau takut dirimu goyah oleh kehadiran Christian" Serang Theo tepat sasaran.
"Theo,,, " Lirih Alya.
"I trust you Al, everything's gonna be ok." Sebuah kepercayaan besar Theo berikan pada Alya meninggalkan nya bersama Christian. Berbeda dengan Alya yang masih belum bisa menerima.
"Masuklah." Perintah Theo setelah dia menempatkan dua koper ke dalam bagasi. Alya menurut saja, mungkin setelah Theo pergi dia akan mencari tempat lain saja.
dan mobil menurunkan Alya di depan hotel milik Christian sebelum mengantar Theo kemudian bandara.
__ADS_1
"aku akan memberi kabar saat sudah tiba di Paris." kata Theo, Alya tersenyum simpul melepas kepergian Theo. dan tepat setelah taksi yang membawa Theo tidak terlihat dari pandangannya Alya langsung pergi dari sana.
"bukankah itu nona Alya Shamare? " seseorang memperhatikan Alya dari dalam mobil yang ia tumpangi. tadinya berniat masuk ke dalam lobby, namun sekarang dia memutuskan untuk mengikuti Alya.