
Sedikit sulit mempercayai pepatah jodoh pasti bertemu dengan sendirinya. Seberapa keras mereka menolak dan mengingkari pada akhirnya akan bersatu kembali entah kapan pun itu.
Mereka terlalu modern untuk meyakini hal menggelikan. Dan ternyata pikiran nya pun salah ketika keduanya bertemu secara tanpa sengaja.
Seorang pria berbadan tegap, matanya tajam memindai seluruh sudut bar yang semakin ramai menuju tengah malam. Untuk memastikan satu hal dia melakukan panggilan pada satu nomer, teman chating nya beberapa bulan terakhir.
Nada tersambung, dering handphone masih bisa terdengar di tengah alunan musik instrumen.
Salah satu alisnya terangkat ketika melihat seorang wanita mengangkat telpon.
"Halo,,, " Sapanya lembut, membuat detak jantungnya cepat merasakan kegugupan. "Apa kau mrs. Lim? " Tanyanya penuh ragu. Ini untuk pertama kalinya mereka saling mendengar suara masing-masing.
Tunggu, mereka sedikit tak asing dengan suara itu meski belum banyak kata terucap. Keduanya saling mencari keberadaan hingga mata mereka saling bertemu di satu titik.
"Tuan diktator? " Kerutan halus di dahi Grace memperjelas ketidak yakinan akan kebetulan ini. Pria dengan julukan tuan diktator berjalan tegap menuju kursi di sebelah Grace. Sungguh ini benar-benar di luar nalar, kenapa bisa dari sekian banyak pria Grace kembali terjatuh kedalam pesona seorang Liam lagi.
"Nyonya Kim Dylan? " Keduanya tertawa ringan mendapati diri mereka terhubung tanpa sengaja.
"Aku kira kau pria gendut dan botak, atau anak sebaya Alya. " Grace menggeleng masih belum menyangka.
"Kenapa aku tidak berpikir itu kau Grace, dari nama, kehidupan mu, ah aku sangat senang kau bukan ibu paruh baya." Liam menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Grace.
"Karena aku sudah tahu, aku akan kembali ke kamar sekarang. Dylan pasti terbangun di tengah malam." Grace turun dari kursi namun pijakannya tidak sempurna dan hampir terpeleset. Beruntung Liam segera menahan lengannya.
"Hati hati Grace." Kata Liam menatapnya intens.
"Thanks." Jawab Grace tersenyum simpul. Dan mereka pun berjalan bersama menuju kamar. Banyak cerita yang keduanya ingin dengar tentang bagaimana menjalani kehidupan saat berpisah satu sama lain.
"La collection masih atas namamu Grace. Bagaimana kalau kita barter saja, kau memimpin butik dan aku menjadi staf ahli di perusahaan mu." Canda Liam di selingi kekehan kecil.
"Itu mustahil Liam. Harus ada perkawinan untuk menyatukan kedua bisnis." Grace menutup mulutnya tak sengaja mengeluarkan kata keramat untuk seorang Liam.
"Akan ku pertimbangkan, mungkin kita harus mengadakan rapat secara pribadi." Tanggapan Liam tentang pernikahan membuat Grace terperangah, pasalnya pria itu dulu sangat menghindari yang namanya pernikahan.
__ADS_1
"Aku akan menunggu undanganmu." Tak terasa mereka sudah berada di depan pintu masing-masing.
"Good night Grace." Ucap Liam.
,,,,,,,
Grace baru tiba di kantor dan para pemegang saham beserta jajaran atasan sudah menunggunya di ruang meeting. Ada apa ini? Grace belum siap mendapat kritikan pedas di awal kepemimpinan nya. Asisten Grace memberi peringatan untuk segera masuk. Dengan gugup Grace melangkah ke dalam.
"Kami sangat mengerti keadaan nona, tapi kami juga butuh kepastian. Apakah anda memenuhi syarat untuk memimpin perusahaan ini atau hanya akan berlindung di bawah payung tuan Rodrigo? " Sejak pertemuan pertama Grace tidak menyukai mimik wajah pria di samping kirinya.
"Saya mampu, dan saya juga sudah menyiapkan trobosan baru untuk lebih meningkatkan kualitas produk kita. " Grace dengan lantang menjawab tantangan mereka.
"Jujur kami ingin memiliki sosok pemimpin laki-laki, bagaimana kalau anda segera menikah dan menjadikan pasangan anda pemimpin. Kami belum terbiasa mendapat komando dari wanita."
Brak,,,
Grace menggebrak meja lalu menatap pria muda di sebelah kanannya. "Lancang sekali anda mengatur hidupku. Kau hanya duduk manis tanpa mau berpikir dan tinggal menunggu transferan saja sudah banyak mencela kredibilitas ku. " Serang Grace mematahkan niatan nya mengintimidasi dirinya.
"Tapi menurut kami, saran itu cukup mind blowing nona. Coba pikirkan lagi, atau kau mungkin perlu staf ahli." Sialan, mereka terang terangan mendepak Grace di rumahnya sendiri.
Semenjak kejadian itu selama satu bulan penuh Grace bekerja keras. Dirinya sering lembur dan pulang terlambat. Untungnya Dylan tidak rewel karena menginap di kediaman Liam. Pria itu semenjak menjadi pengangguran malah semakin bebas hidupnya. Liam memang sudah mempercayakan La collection di tangan staf ahli, ia juga menginvestasikan kekayaannya di sebuah hotel mewah yang menjanjikan.
Peperangan mereda, Grace bisa bersantai sejenak dengan menjemput Liam di rumah pribadi Liam. Rumah penuh kenangan, dimana Dylan di produksi di sana. Mengingat usia kehamilan Dylan saat terdeteksi seperti nya itu terjadi di pertempuran pertama. Grace menutup wajahnya malu mengingat hal itu.
"Anda baik baik saja nona? " Tanya Josh sedikit khawatir melihat sikap Grace. "Tidak, aku sedang merasa gugup. Kenapa Liam memintaku datang ke rumah nya. " "Karena tuan Liam ingin menikmati makan malam keluarga nona." Jawab Josh penuh makna.
Dylan berlarian menyambut kedatangan Grace yang baru turun dari mobil. Mereka terpisah karena keadaan membuat rasa rindu semakin dalam.
"Dy, kau berat sekali sekarang." Grace menggendong Dylan lalu membawanya masuk. Di ambang pintu Liam sudah menunggu dengan setelan santainya. Kaos oversize dan celana bahan. Melihat Liam membuat pipi Grace merona, apa ini yang di namakan pubertas kedua?
"Selamat datang Grace,,, " Sambut Liam memberi jalan, keduanya beriringan menuju sofa ruang tamu dimana bibi Wen dan bibi Jill masih setia mengabdi untuk Liam. "Selamat datang nona, kami senang bisa berjumpa dengan anda lagi." Ucap bibi Wen tersenyum ramah menyapa Grace.
"Terima kasih bi, aku rindu masakan bibi." Kata Grace, ia menurunkan Dylan yang sejak tadi melingkarkan lengannya di leher Grace.
__ADS_1
"Kita pulang setelah makan malam ya Dy?" Grace mengajak Dylan kembali ke rumah keluarga Rodrigo. Dylan memanyunkan bibirnya sebagai penolakan.
"Momm, aku ingin kita berkumpul bertiga setiap hari." Lirih Dylan menunduk, ia mengerti kondisi orang tuanya yang masih belum bisa bersatu. Dylan memang sudah memiliki kepekaan sejak usia tiga tahun. Membuat Grace kewalahan menghadapinya.
"Hem,,, jadi kau lebih betah di sini? Baiklah, kalau begitu mommy akan pulang sendiri. Ah mommy akan sibuk menyiapkan pernikahan auntie Aby dan uncle Jack. Rumah pasti ramai dan seru." Grace terpaksa membuat Dylan memilih ingin tinggal dengan siapa.
"Grace,,, " Liam bersuara menjadi penengah. Ia berjongkok menggenggam tangan mungil Dylan.
"Daddy akan sering berkunjung. Kau harus nurut sama mommy." Titah Liam, biasanya Dylan akan mudah memahami penjelasan ayahnya.
"Tapi dadd, mommy selalu sibuk bekerja. Aku ingin keluarga lengkap seperti teman teman di sekolah." Dylan merajuk untuk pertama kalinya, dia berlari masuk ke dalam kamar.
Grace memijit pelipisnya, dia sudah pusing oleh pekerjaan sekarang urusan Dylan. "Lihat! Kau pasti sering memanjakan nya kan? Semenjak dia mengenalmu Dylan seperti anak yang berbeda. Dia selalu menuntut sesuatu. " Melampiaskan kekesalan Grace malah menyalahkan cara Liam menjaga Dylan.
"Grace kau melukai harga diriku, untuk apa aku meracuni pikiran anak ku sendiri? Dylan sudah bisa memperhatikan dan menilai sesuatu. Coba kau pikirkan, dia menderita karena keegoisan siapa? " Liam tak mau kalah mengingatkan Grace yang masih bersikap menolak Liam.
"Dylan juga anak ku Grace, dia berhak mendapatkan perhatian dan peranku sebagai ayahnya. " Tambah Liam membuat Grace terdiam karena tidak bisa menyangkal hal itu.
"Apa maksud semua ini? " Terdengar suara lantang menyela perdebatan mereka. Liam mengusap tengkuknya, ia lupa kalau hari ini daddy Arthur akan kembali dari perjalanan bisnisnya. Liam memang belum memberitahu sang ayah, bahkan menutupi rapat soal Dylan untuk sementara waktu. Melihat keterkejutan tuan Arthur Grace menyimpulkan satu hal,
"See, kau bahkan berusaha menutupi Dylan dari uncle. Enough Liam." Tidak ada makan malam keluarga, Grace bergegas menyusul Dylan ke kamar dekat tangga untuk mengajaknya pulang.
"Ada apa Liam, siapa Dylan? Kenapa kalian saling berseteru? "
"Momm, aku tidak mau. Aku masih ingin bersama daddy. Tolong biarkan aku menginap satu malam lagi. " Dylan berusaha menahan langkah kaki ibunya yang menggandeng tangannya. Tuan Arthur shock melihat Grace bersama anak kecil keluar dari kamar.
"Daddy? Jelaskan Liam." Perintah tuan Arthur mulai emosi.
"Permisi uncle, sebaiknya kami pulang." Grace pamit.
"Dy, tunggu daddy! " Liam hendak mengejar Dylan dan Grace namun tuan Arthur mencegat langkahnya.
"Kau hutang penjelasan Liam ! "
__ADS_1
"Dadd please, saat mereka keluar dari rumah ini aku tidak akan pernah bisa bertemu Dylan lagi." Liam terlihat begitu frustasi ingin menahan kepergian Grace dan Dylan.