
Le Havre, spring
,
,
,
,
,
Di sebuah universitas ternama seseorang merayakan kelulusannya bersama teman seperjuangan. Mereka saling berfoto untuk mengabadikan momen berharga. Berjanji saling memberi kabar meski akan sama sama sibuk bekerja.
Tak menyangka, kembali merasakan wisuda di usianya yang genap dua puluh tujuh. Perempuan cantik dengan aura keibuan berjalan bak model ternama menghampiri keluarganya.
"Selamat Grace, akhirnya kau lulus juga." Paman Jack orang pertama yang memeluk memberi nya ucapan selamat. Di susul Abigail tunangannya, mereka akan menikah dalam waktu dekat.
"Mercy, dimana Alya dan Dylan? " Mata Grace mencari keberadaan adik dan malaikat kecilnya.
"Mommy,,, " Dari arah belakang berlarian seorang anak laki-laki berusia tiga tahun memegangi belasan balon berwarna emas. Grace merentangkan tangannya menyambut Dylan, mereka berpelukan hangat. Alya juga membawa buket bunga mawar tiga warna yaitu merah, putih dan pink.
"I miss you so much Dy,,, maaf karena mommy harus meninggalkanmu."
Tangan Grace tak henti mengusap kepala Dylan. Ah anak manis ini memiliki rambut kriting mengikuti gen dirinya.
"It's ok mommy, aku senang tinggal bersama grand ma dan juga auntie Al. " Alya kini menjelma menjadi gadis remaja, ia akan masuk ke sekolah tingkat senior di kota Paris sebentar lagi.
"Lebih baik kita mengobrol di hotel saja, sambil makan siang." Ajak Jack pada seluruh anggota keluarganya. Di sana tuan Rodrigo juga sudah menunggu kedatangan mereka.
Mobil pun akhirnya meninggalkan area sekolah bisnis Ecole de management de Normandie, di pusat kota. Selama Grace menempuh pendidikan keduanya ia tinggal di kota Le Havre yang terletak di bagian utara Perancis. Saat sibuk Grace selalu menitipkan Dylan bersama keluarganya. Kadang Alya juga menginap di apartemen hanya untuk menjaga Dylan ketika Grace ke kampus.
Setibanya rombongan di hotel, mereka di sambut tuan Rodrigo. Grace bergegas mendekat ingin segera memeluk ayahnya. Berkat dukungan tuan Rodrigo Grace mampu melalui masa sulit di hidupnya. Bahkan ia sudah siap menerima tawaran daddy untuk menjalankan bisnis keluarga. "Thanks dadd, Ilysm... " Bisik Grace pada sang ayah. Tuan Rodrigo tersenyum sambil menitikan air mata haru sekaligus bangga. "Grand pa,,, " Suara menggemaskan begitu nyaring mengisi lobby hotel yang luas. Bangunan baru bergaya roma ini memang sangat indah, meski resmi di buka beberapa bulan lalu hotel sudah ramai pengunjung. Dua tahun proses renovasi ulang menjadikannya tempat favorit menghabiskan akhir pekan.
"Jagoan grand pa semakin tinggi,,, " Tuan Rodrigo memangku Dylan cucu kesayangannya. Potret keluarga bahagia bukan? Hanya saja ada satu tempat kosong yang selalu menjadi kelemahan Grace.
"Kita ke restoran sekarang, kalian pasti sudah lapar." Tuan Rodrigo mengajak kedua anak perempuannya, istri, dan juga adik ipar beserta tunangannya.
Di tengah suasana makan siang yang gembira, sejak tadi Grace sibuk mengetik diatas layar ponselnya.
__ADS_1
"Dy, mommy mu sibuk sekali. Mungkin dia sedang melamar pekerjaan." Abigail akan memulai godaannya yang menangkap basah prilaku lain seorang Grace.
"Hey Bi jangan pernah kau menghasut putra ku. Aku memang sedang bekerja." Grace mengerucutkan bibirnya menanggapi keusilan calon auntie nya.
Dalam hati Grace cekikikan membaca pesan dari seseorang. Begini bunyi pesan itu,
"Berbalas chat denganmu membuatku seperti anak remaja, kau menyenangkan." Lalu Grace segera membalasnya,
"Haha jangan memuji, kau kan tahu aku ibu satu anak. Kau akan kecewa saat kita bertemu suatu hari nanti."
Sudah sekitar satu tahun Grace memiliki teman chat. Iseng iseng Grace mengunduh aplikasi kencan online, ia malah berteman dengan pria asing lewat ruang obrolan. Obrolan mereka acak, kadang hanya bertanya sedang apa, atau saling menanyakan keadaan yang sedang di alami.
"Ehem,,, kau sedang tidak berkencan dengan seseorang kan Grace? " Tanya tuan Rodrigo menghentikan kegiatannya memainkan ponsel.
"Tidak dadd, mana mungkin. Aku terlalu sibuk saat ini." Grace menampilkan barisan gigi rapi dan putihnya membantah tuduhan sang ayah.
"Dy, kalau mommy punya kekasih apa kau akan setuju? " Jack semakin berani meledek Grace yang tak tahu tempat, di hadapan anaknya dia malah berbalas chat dengan orang lain.
"Hem,,, " Dylan nampak berpikir, Orang-orang menjadi penasaran apa reaksinya.
"Dia harus melawan ku dulu, kalau menang aku izinkan dia mengencani mommy." Mendengar kalimat terakhir Alya langsung membungkam mulut Dylan. Anak sekecil itu dari mana mengenal kata kencan, pasti dari paman Jack dan auntie Abigail.
"Mommy ingin ke toilet, Dy jangan nakal." Grace sudah menahan pipis sejak di perjalanan menuju hotel, ia buru buru mencari toilet di restoran itu.
"Daddy juga harus bertemu klien di ruang meeting, nanti kita bertemu saat makan malam." Tuan Rodrigo pamit bekerja, sebelum itu dia mengecup kening Alya dan Patricia bergantian.
"Kau tidak mencium ku tuan? " Jack menghentikan langkah kaki Tuan Rodrigo. "Aby, pikirkan lagi rencanamu menikah dengannya. Aku takut dia menyimpang." Setelah puas membalas Jack tuan Rodrigo melanjutkan langkahnya. Mereka hanya mengangkat bahu mendengar candaan bapak bapak.
"Grand ma, tablet Dy ketinggalan di mobil." Baru ingat Dylan melupakan benda kesayangannya. Berniat ke parkiran untuk mengambil tablet miliknya.
" Al, antar keponakanmu dan jaga dia baik baik." Paman Jack memberikan kunci mobil pada Alya. Dylan langsung berlari keluar dari restoran itu, membuat Alya harus bergegas mengejarnya.
Saking gembira berlarian Dylan tidak melihat jalan dan menabrak tubuh berbadan tinggi menjulang. Dylan yang terduduk menepuk kedua tangannya lalu mendongak ke atas.
"I'm so sorry sir, aku tidak melihat jalan." Ucap Dylan menunduk menyadari kesalahannya. Pria itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dylan. "Nevermind,,, " Ia mengulurkan tangan meminta Dylan berdiri.
"Apa kau terluka? " Tanyanya mengamati tubuh mungil Dylan. Dylan menggelengkan kepala lemas, dia takut paman di hadapannya akan marah.
"Jangan takut, lain kali kau harus berhati-hati. " Dia menasehati Dylan, balita itupun mengangguk patuh.
__ADS_1
Lim Dylan, usianya tiga tahun setengah dan dia memang sudah pandai berbicara. Pintar dalam bidang elektronik karena Grace memang sudah menyekolahkan Dylan sejak setahun lalu. Saat anak seusianya masih asik bermain, Dylan sibuk mempelajari ilmu matematika menggunakan tablet nya. Keluarganya bahkan kewalahan mengimbangi kecerdasan Dylan saat belajar. Bukan mereka yang mengajari Dylan, melainkan sebaliknya. Hanya Alya yang mampu menghadapinya. Karena Alya juga gadis cerdas di sekolah.
"Siapa namamu? " Saat mendapat pertanyaan Dylan memberanikan diri menatap lawan bicaranya.
"Dylan,,," Alya berteriak mencari keberadaan keponakannya. Dylan menengok lalu berlari menghampiri auntie. "Have a nice day uncle... " Dylan menunduk berjalan melewati uncle baik dan tampan itu. Mereka menuju parkiran untuk mengambil tablet Dylan.
"Lain kali jangan nakal Dy, mommy melarangmu berlarian di tempat umum." Nasehat Alya masih bisa di dengar oleh pria yang tak henti menatap Dylan.
Grace baru akan keluar dari toilet, kakinya tercekat ketika melihat sosok dari masa lalunya muncul kembali. pria itu semakin tampan dan berwibawa, Grace masih merasakan jantungnya berdetak tak menentu. belum, ia belum siap bertemu Liam lagi. kenapa dia selalu muncul tiba-tiba setelah sekian lama saling menghindar.
"Tuan, jadwal kepulangan sudah di tentukan. sore nanti pesawat take off pukul lima." itu Josh asisten pribadi Liam, keduanya masih saja menjadi tim hebat di mata Grace.
tapi di mana keberadaan istri Liam Veronica? Grace celingukan menatap sekeliling restoran. saat ponselnya berbunyi nada pesan, Grace kembali masuk menunggu Liam pergi.
dari tuan diktator,
dimana?
Grace tersenyum simpul lalu membalas.
"toilet."
"sedang? " teman chat kembali bertanya.
"Hide and seek." membalas chat pria asing ini membuat Grace tersenyum tak jelas.
"seriously? kau seperti bocah tiga tahun yang baru ku temui tadi." balasnya lagi.
"similar, aku memang memiliki anak balita. sikapku kadang terpengaruh olehnya."
hingga beberapa menit menunggu pesan tak kunjung di balas. Liam dan Josh sepertinya juga sudah pergi sejak tadi. Grace keluar dari persembunyian dan kembali ke meja keluarganya.
"lama sekali Grace,,, " Abigail merajuk, dia sudah lelah menunggu dan ingin segera ke kamar beristirahat.
"maaf Bi, Dylan mana? " Grace takut Liam akan bertemu dengan Dylan, jangan sampai itu terjadi.
"nah itu mereka." Patricia menunjuk kedatangan Dylan bersama Alya. Grace bisa bernafas lega membuang pikiran buruknya jauh jauh.
"ayo kita ke kamar masing-masing." ajak Grace dengan menggandeng Dylan.
__ADS_1