My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 38


__ADS_3

"Makanlah dulu sebelum pulang, Josh akan mengantarmu." Liam melepaskan Grace kali ini, dia membiarkan Grace karena khawatir Dylan terus mencari keberadaan ibunya. Mata Grace berkedip beberapa kali tak menyangka Liam akan luluh dengan cepat.


Dia bahkan mengambilkan makan malam dan menaruhnya tepat di samping Grace.


Grace cukup menuruti apa saja keinginan Liam agar dia mau membebaskannya. Sementara pria itu malah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keringat akibat membopong Grace sudah melekat di badannya.


Ada yang salah dengan Liam, dia terlihat tenang menurut Grace. Apa Liam sedang merencanakan sesuatu padanya? Grace yakin setelah ini Liam pasti akan mencari informasi tentang keluarganya. Benar kata Tuan Rodrigo, cepat atau lambat Liam pasti akan mengetahui kebenaran jati diri Dylan. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Liam dengan handuk putih melilit di pinggangnya.


"Uhuk uhuk,,, " Grace tersedak gara gara melihat Liam bertelanjang dada. Liam segera menyodorkan botol minum ke hadapan Grace.


"Pelan pelan saja Grace, bukankah kau sudah melihatnya." Ucapan santai Liam malah semakin menjadi, Grace menyemburkan minuman ke badan Liam. "Grace,,, " Liam menggeram kesal mendapat perlakuan Grace.


"Maaf, sebaiknya aku pergi sekarang." Sikap Grace menunjukkan kalau wanita itu belum tersentuh oleh pria lain selain dirinya. Apa lagi reaksi Grace saat di perlakukan oleh Ethan tadi, dia sampai pingsan karena shock.


Di perjalanan menuju rumah, Grace lebih banyak melamun. Pikirannya di penuhi rasa takut kalau Liam sudah mengetahui semuanya. Dia bukan pria biasa, menggunakan kekuasaannya tentu akan mudah mengorek informasi rahasia seseorang. Apa perlu Grace kabur lagi demi menghindari Liam ? Sampai kapan Grace harus melarikan diri dari kenyataan?


"Pak Josh, sebenarnya kemana istri Liam? Kenapa dia malah sibuk mempermainkan aku? " Tiba tiba saja Grace ingat Veronica, bagaimana kalau dokter cantik itu salah paham padanya.


"Nona Ve di London bersama keluarga kecilnya." Jawab Josh, dia melirik Grace melalui kaca spion.


"Maksudnya? " Tanya Grace bingung. "Sebenarnya mereka tidak ada hubungan apa apa nona. Berita pertunangan tuan Liam dan nona Ve hanya karangan agar nona keluar dari persembunyian." Josh mungkin sudah lelah menghadapi permasalahan mereka, sebaiknya dia berkata jujur saja pada Grace. Wanita itu lebih dewasa di banding tuannya.


"Benarkah begitu, ku kira mereka sudah menikah." Hati Grace mendadak lebih tenang mendengar kabar soal hubungan Liam dan Veronica.


"Terima kasih sudah mengantar." Sebelum turun Grace pamit pada Josh.


"Sudah tugasku nona." Setelah memastikan Grace masuk ke dalam Josh kembali melakukan mobilnya.

__ADS_1


Kedatangan Grace di sambut keluarganya yang sudah cemas sejak tadi. Dylan berlari menghampiri Grace lalu memeluknya erat. "Maafkan mommy Dy, kau pasti sangat khawatir." Grace menggendong Liam seperti bayi koala menuju sofa ruang keluarga.


"Grace kau kemana saja? " Tuan Rodrigo bertanya penuh curiga, jangan jangan putrinya habis menemui Liam.


"Ada sedikit masalah saat pulang dadd, aku sempat di rawat karena pingsan." Kata Grace berbohong, ia tidak ingin ayahnya tahu hal sulit apa yang sudah Grace alami tadi.


"Kau sudah makan Grace? " Tanya Patricia. "Sudah bi, setelah sadar aku langsung makan." Alya mendekat ke arah Grace berniat mengambil alih Dylan, tapi bocah itu menggeleng dan semakin erat memeluk ibunya.


"Biarkan Al, kakak juga sangat merindukan nya." Grace mengusap usap punggung Dylan memberi ketenangan.


"Mommy, Dylan bermimpi mommy di culik uncle jahat. Please, mommy harus jaga diri mommy baik baik." Dylan mulai menangis kembali saat menceritakan mimpi buruk di tidur siangnya.


"Iya mommy akan jaga diri, sekarang kita ke kamar ya Dy. Mommy juga sangat lelah." Grace undur diri lalu masuk ke kamar pribadinya. Ia berganti pakaian mengenakan piyama sebelum menidurkan Dylan.


Tanpa Grace sadari, Liam berhasil menaruh penyadap suara di dalam tas jinjing miliknya. Air mata terjatuh begitu saja ketika Liam mendengar percakapan mereka.


"Hem,,, " Grace sudah memejamkan matanya pura pura tidur agar Dylan tidak membahas soal ayahnya lagi.


"Kapan akan mengundang uncle baik dan tampan? " Pertanyaan Dylan semakin membuat pendengar setianya merasakan kerinduan amat mendalam. Grace juga bingung harus bagaimana menanggapi keinginan Dylan.


"Dy, mommy ingin berkata jujur padamu." Grace membuka mata lalu menarik nafas dalam dalam, tak lupa mengeluarkan nya perlahan. Mungkin ini sudah saatnya Grace memberitahu siapa ayah kandung Dylan. "Uncle baik dan tampan itu adalah daddy mu. Maaf karena mommy tidak bisa mengatakannya lebih cepat. Mommy takut dia memisahkan kita Dy, kau segalanya bagi mommy. Mommy tidak bisa hidup tanpamu Dy." Grace menangis tersedu-sedu seraya mengusap pipi Dylan. Dylan hanya menunjukkan ekspresi datar masih mencerna apa yang ibunya sampaikan. "Sungguh? Mommy tidak bohong kan,,, " Dylan memastikan sekali lagi kebenarannya. Grace mengangguk yakin kali ini.


Liam menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Akhirnya dia tahu jika benar Dylan adalah darah dagingnya. Grace memang wanita luar biasa tak terduga. Wanita itu sanggup memikul beban menjadi ibu tunggal selama ini. Melewati masa sulit kehamilan seorang diri, melahirkan tanpa suami dan membesarkan Dylan menjadi anak pintar sendirian. Ingin rasanya Liam memeluk wanita itu sekarang juga. Apa lagi Dylan, Liam sangat merindukan bocah mungilnya.


"Sekarang tidur ya, mommy akan berusaha untuk bicara pada daddy mu. " Dylan mengangguk patuh lalu mengecup kening Grace. Grace juga membalasnya cukup lama, merekapun akhirnya mencoba terpejam mengarungi lautan mimpi indah.


Esok pagi seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk santap sarapan. Grace terlihat melamun dan memainkan makanannya dengan garpu. Bagaimana caranya memberitahu Liam soal Dylan? Apa Liam akan menerimanya, atau jangan jangan Liam tidak mau mengakui Dylan. Tes DNA, Grace yakin pria itu akan percaya setelah melakukan tes kecocokan genetik. Lalu setelahnya, apa Liam akan mengambil Dylan dari hidupnya? Grace semakin takut hanya dengan memikirkannya saja.

__ADS_1


"Grace, berhentilah melamun. Cepat makan sarapanmu." Abigail yang duduk di sebelahnya menyadarkan Grace, plus sedikit mencubit lengannya.


"Aw, sakit By... " Grace meringis mengusap lengan yang menjadi sasaran keusilan Abigail. Saat sadar semua orang tengah menatap heran ke arahnya.


"Mommy, hari ini Dylan mulai sekolah. Mommy mau kan mengantarku sebelum ke kantor? " Grace terkejut mendengar kabar baru dari anaknya, ia malah sibuk mengurus masalah hati dari pada pendidikan Liam. "Ah ya, tentu Dy. Kalau sudah kita berangkat sekarang saja." Dylan mengangguk semangat lalu berlari ke kamar untuk mengambil perlengkapan belajarnya.


"Paman Jack kapan tanggal pernikahan kalian? " Grace mengalihkan pikirannya dengan bertanya pada Jack.


"Seminggu lagi Grace, kau jadi pelupa ternyata semenjak pindah ke sini." Jack dan Abigail menjadi sibuk menyiapkan pernikahan, kadang mereka pulang hanya untuk tidur.


"Tempatnya dimana? " Lagi lagi pertanyaan Grace terdengar basi di telinga keluarganya. "La Chambre,,, " Jawab Abigail dan Jack kompak.


"Oh,,, hah? Dimana? " Grace bukan tidak mendengar, dia ingin memastikan apa mereka tidak salah memilih tempat.


"Kendalikan dirimu Grace, berhentilah berpikir keras." Titah tuan Rodrigo, dia tahu Grace sedang dalam masalah berat dan tak berniat memberitahunya. Sebagai ayah Tuan Rodrigo merasa tidak becus menjaga dan melindungi Grace.


"Sebaiknya aku berangkat." Grace menghindari perdebatan tak berkesudahan jika berhadapan dengan ayahnya.


Dylan dan Grace sudah pergi di temani supir pribadi nya. Alya juga berangkat ke sekolah naik bus, dia lebih suka merakyat di banding di perlakukan sebagai tuan putri. Sementara Jack dan Abigail akan pergi ke rumah sakit tempat mereka bekerja. Untuk membangun klinik sendiri tentu memerlukan waktu cukup lama. Masalah tempat tinggal mereka sepakat tak masalah hidup bersama keluarga besar. Agar uangnya bisa di tabung untuk masa depan.


Rumah menyisakan penjaganya yaitu Patricia dan Tuan Rodrigo. Mereka asik menyiram tanaman di halaman samping. "Apa Grace sedang dalam masalah? Aku lihat dia seperti orang kebingungan." Sebagai ibu sambung Pat memang enggan mencampuri urusan Grace, dia takut melanggar privasi.


"Sesuai perkiraan, sepertinya Liam sudah mengetahui kebenaran Dylan. Grace pasti ketakutan Liam akan merebut Dylan darinya. Di tutup serapat apapun tetap saja akan terungkap, apa lagi mereka menghadapi seorang Liam. Keputusan Grace pindah ke Paris artinya dia siap dengan konsekuensi nya." Tuan Rodrigo pun sedikit khawatir Liam berniat mengajukan hak asuh dan perwalian.


"Mungkin masalah akan selesai kalau mereka bersatu, lalu letak masalahnya dimana?" Tanya Pat masih bingung.


"Ego mereka sama-sama tinggi. Semoga Dylan bisa menyatukan orang tuanya." Tuan Rodrigo seakan pasrah dan berharap Grace mendapatkan kebahagiaan nya. Mereka kembali ke dalam rumah untuk mengunjungi sekolah baru Dylan. karena Grace harus pergi ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2