
Semalam Grace dan keluarga kecilnya menginap. Menjadikan suasana rumah ramai karena kehadiran Dylan. Seperti pagi ini, mereka sarapan di ruang makan mendengar celoteh Dylan mengenai sekolah barunya.
Alya memilih menikmati potongan buah agar tidak mual dan memuntahkan nya kembali. Tidak ingin membuat Grace kakaknya khawatir.
"Argh,,, " Tiba-tiba Grace menjerit kesakitan setelah air ketubannya pecah begitu saja. Membuat suami dan orang tuanya panik menghampiri.
"Grace kau akan melahirkan." Teriak Patricia setelah melihat ke kolong meja.
Mendengar kata melahirkan Grace berusaha tenang agar dia bisa melewatinya dengan lancar.
"Antar aku ke rumah sakit Liam, cepat." Perintah sang istri pada suaminya.
Liam mengangguk seperti robot membantu memapah Grace. Sementara tuan Rodrigo menyuruh supir menyiapkan mobil.
Nyonya rumah bergegas menuju kamar Grace untuk mengambil perlengkapan yang selalu ia bawa menjelang persalinan.
"Adik akan keluar auntie, adik akan keluar." Dylan malah bersorak gembira di tengah kepanikan. Alya hanya menggeleng lucu melihat tingkahnya.
"Kau mau ke sekolah jadi kakak yang pintar atau bolos demi adikmu? " Tahu keadaan sedang kacau, Alya mengambil alih menjaga Dylan keponakannya.
"Ke sekolah auntie, aku berjanji pada mommy tidak akan merepotkan nya saat mengurus adik." Jawab Dylan penuh keyakinan.
"Good boy, let's Go! auntie yang antar ke sekolah. " Mereka melakukan high five sebelum pergi.
Alya akhirnya memilih menyetir sendiri, dia sangat merindukan jalanan kota Paris. Lagi pula sekolah Dylan tidak jauh dari rumah mereka. Hanya lima belas menit sudah tiba di depan gerbang. Grace sengaja mencari sekolah tidak jauh dari kediaman sang ayah. Bila sewaktu-waktu mereka sibuk, nenek dan kakeknya bisa menjemput. Samantha lebih sering membantu pekerjaan Grace di banding mengurus Dylan.
"Nanti auntie jemput di jam pulang sekolah. Kalau ada perubahan jadwal kau bisa menghubungi auntie, ok? " Alya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dylan.
"Siap auntie, have a good day. Bye... " Dylan melambaikan tangan berpisah dengan bibinya.
Di perjalanan, Alya bingung harus pergi kemana. Tidak memiliki teman membuatnya kesepian. Dari pada bosan menunggu waktu, Alya memilih berjalan-jalan ke salah satu mall di pusat kota.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alya keluar dari mobil menenteng totebag nya sembarangan. Ia menabrak seseorang cukup keras, namun Alya berhasil melindungi perutnya. Orang itu berjongkok merapikan tas milik Alya yang berserakan.
"Maafkan aku... " Ucapnya seraya memberikan tas milik Alya.
"Terima kasih, ini keslahanku." Kata Alya merasa tidak enak tidak berhati-hati.
"Tidak masalah nona, kalau begitu aku permisi." Tak lama, dia pun pergi meninggalkan Alya.
Ternyata reflek Alya menandakan dia sangat peduli akan janin yang ia kandung. Mungkin terlalu kejam jika Alya berniat Melenyapkannya.
"Oh thanks God,,, you're safe baby." Alya mengelus sayang perutnya. Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi hal buruk menimpa calon anaknya.
__ADS_1
Alya menyusuri mall dari lantai satu. Mendadak ia ingin menikmati waffle dengan topping ice cream. Untung saja penjual sudah membuka tokonya.
"Can you give me one portion of waffle with vanilla ice cream? " Alya memesan di depan kasir sekaligus pembuatnya.
"Yes sure, seven dollar for that please." Ketika Alya mengulurkan tangannya memberi kartu pada kasir, ia kembali melihat bracelet pemberian Christian.
"Itu sangat cantik nona. " Puji kasir mengembalikan kartu milik Alya.
"Ya, ayah dari anakku memberikannya." Seulas senyum tercipta di wajah pucat nya. Selera makan Alya menurun drastis di awal kehamilan nya.
"Oh poor you baby girl. Aku yakin kau akan mendapat kebahagiaan melalui anakmu." Pelanggan toko waffle itu hanya Alya jadi Kasir mengerjakan tugasnya dengan berbincang bersama Alya.
"Kau benar, aku tidak pernah berharap lebih. Kehadirannya membuat ku sadar, ternyata masih banyak yang menyayangiku." Gumam Alya, penjual waffle tersenyum menanggapi curhatan hati Alya.
"Here's your waffle nona. Enjoy, and have a nice day." Alya menerima waffle yang di tengahnya terdapat dua skop ice cream rasa vanilla.
"Thanks mam... " Ucapnya lalu pergi meninggalkan stand tersebut.
Ia menyekop es krim menggunakan sendok sambil berjalan melewati beberapa toko. Berhenti di toko kacamata, Alya sudah lama sekali tidak memakainya. Ketika ingin masuk kedalam Alya malah berpapasan dengan seseorang yang cukup ia kenal.
Tabrakan kembali terjadi, kali ini Alya harus merelakan waffle yang baru ia cicipi satu gigitan terjatuh begitu saja. Alya meratapi nya dengan mata berkaca-kaca.
"Bisakah kau berhati-hati? Lihat bajuku kotor. " Teriaknya memaki Alya, memaksa Alya mendongak menatapnya tajam.
"Dasar anak kecil! Aku bisa membelikanmu seisi tokonya. Jangan menangis, kau membuatku menjadi orang jahat." Tangannya membekap mulut Alya.
"Ada apa ini? " Seseorang menghentikan aksi keduanya. Alya bahkan hampir menggigit lengan wanita itu.
"Christian, lihatlah Alya. Dia menangis hanya karena aku tak sengaja menjatuhkan waffle nya. " Sera membela diri, tak ingin Christian berpikiran buruk mengira Sera menyakiti Alya.
"Jangan bilang hanya, itu makanan yang baru bisa ku makan selama beberapa hari." Bentak Alya tidak terima Sera menganggap sepele.
"Sudah Al, aku antar kau membelinya lagi. Sera, bisakah kau pulang lebih dulu? Tadi mommy telepon ingin minta di temani menjenguk Theo." Bagi Christian ini adalah kesempatan emas bertemu Alya tanpa sengaja. Dia bahkan menyuruh tunangannya pergi.
"Tapi Chris, aku masih harus membeli pakaian dalamku. " Tolak Sera sehalus mungkin.
"Se, kau besok sudah kembali ke London. Jangan berlebihan, aku tahu kau memilikinya." Lagi-lagi Sera kalah dari bocah ingusan seperti Alya. Menghentakkan kakinya kesal, Alya melepaskan Christian kali ini.
Selepas kepergian Sera, Alya juga ikut pergi meninggalkan Christian. Kebingungan, Christian langsung mencekal lengannya lembut.
"Tunggu Al, kenapa kau pergi? Kita butuh bicara banyak." Terpaksa Alya menuruti keinginan Christian. Kemarin seharusnya Alya menemuinya di coffeeshop. Karena kelelahan Alya lebih banyak tertidur.
"Baiklah, aku ingin makan rice bowl." Terang Alya, dia menuntun Christian mencari tempat yang menjual menu tersebut. Christian hanya pasrah mengikuti kemanapun Alya pergi.
__ADS_1
"Duduklah, biar aku yang pesan. Kau mau apa? " Tanya Christian di dekat meja kasir. Mereka memilih restoran Jepang.
"Beef yakiniku, sweet. " Jawab Alya yakin.
"Tidak biasanya kau makan nasi Al... " Meski heran namun Christian tetap memesankan menu pilihan Alya.
Christian terperangah melihat Alya begitu lahap menikmati makanannya. Belum tahu saja dia semua itu akan keluar lagi nanti. "Kau mau tambah Al? " Tawaran Christian lebih terdengar seperti ejekan. Alya memicingkan matanya.
"Cepat habiskan milikmu, aku harus menjemput Dylan. " Kesabaran Christian selalu di uji selama berdekatan dengan Alya. Tapi hari ini Alya cukup sangat tidak terkontrol. Tadi dia menangis, sekarang marah-marah padanya. Saat menyantap makan siangnya Christian melihat binar kepuasan.
"Kau bilang selera makanmu buruk beberapa hari ini, apa kau sakit Al? " Mendengar pertanyaan Christian Alya yang baru saja menyedot minumannya tersedak.
"Pelan-pelan Al, aku tidak akan merebut minumanmu." Tangan Christian meng elus-elus punggung Alya, dia bahkan berpindah tempat.
"Aku tidak sakit. Hanya sedang kurang nafsu makan. " Semua karena benih yang Christian tanam di perutnya, batin Alya.
"Maaf soal Theo. Aku sudah menjelaskan semuanya, bahkan pada daddy. Jadi semua orang sudah tahu tentang perasaan kita Al. Jadi maukah kau mencobanya bersama ku?"
"Tidak." Potong Alya, Christian belum selesai menjelaskan.
"Why? Semua akan berjalan dengan baik Al, apa lagi yang kau takutkan hah? " Suara Christian mulai meninggi, tandanya dia emosi menghadapi Alya yang keras kepala.
"Orang tuaku tidak akan setuju Chris. Bagi mereka, aku hanya akan menjadi perusak hubunganmu dan Sera." Maafkan anakmu ini mom, dad, Alya meringis memfitnah orang tuanya.
"Aku akan berusaha meyakinkan mereka Al." Christian menggenggam tangan Alya, masih mencoba membuatnya berani mengambil keputusan.
"Christian please. Jangan paksa aku." Melepaskan genggaman Christian, Alya berdiri untuk pergi dari sana.
Tak ingin mengejar, Christian memilih membiarkan Alya pulang sendiri. Dalam hati kecilnya Christian sangat khawatir Alya pergi setelah berdebat dengannya. Kecelakaan yang menimpa Alya waktu itu membuatnya trauma. Bergegas Christian menyusul Alya, berharap dia belum jauh keluar dari mall. setelah tiba di parkiran, untungnya Alya baru masuk ke dalam mobil.
Christian mengikuti dari belakang. menemani Alya selama perjalanan menuju sekolah Dylan. dahi Christian mengernyit. siapa anak kecil yang Alya jemput siang itu. masih berdiam di dalam mobil, Christian memperhatikan interaksi keduanya.
"Dy, mulai sekarang auntie tidak bisa menggendong mu lagi. tolong kau mengerti ya? " Sebelumnya Dylan sempat merengek meminta di gendong Alya.
"kenapa auntie? apa karena aku berat, Auntie akan sakit jika menggendongku? " Alya mengelus lembut pipi Dylan.
"hem,,, karena di sini, " Alya menuntun tangan Dylan menuju perutnya. "ada baby, dia masih sangat kecil Dy. jadi auntie harus berhati-hati." bagaimanapun Grace dan kakak iparnya akan segera tahu, jadi Alya tidak memiliki alasan untuk menutupi kehamilannya dari anggota keluarga lain.
"really? Aku akan memiliki cousin? wah auntie terbaik, terbaik. aku mendapatkan cousin darimu." Dylan berputar-putar mengelilingi tubuh Alya. dia bersorak gembira mendengar kabar Alya bibinya tengah mengandung.
sayangnya Christian tengah fokus membalas email Daniel saat keduanya membahas baby. kalau saja Christian lebih fokus, mungkin ia hampir menangis bahagia mengetahuinya. Alya menitikan air mata melihat kebahagiaan di wajah Dylan.
"apa Christian dan keluarganya juga akan bahagia dan menerima kehadirannya? aku takut sekali. " gumam Alya. tersadar ketika Dylan menarik tangannya menuju mobil.
__ADS_1