My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 8


__ADS_3

Beberapa jam lagi acara peluncuran koleksi musim panas La collection akan di mulai. Mereka mengadakan peragaan busana di Grand Palais, gedung langganan ajang fashion week dunia. Staf yang terlibat begitu sibuk mempersiapkan hal hal penting untuk menyukseskan pagelaran.


Liam yang biasanya hanya memantau dari jauh kini ia ikut turun tangan. Tentu ia ingin memastikan tidak ada yang berani berniat menggagalkan acara pentingnya. Lebih penting dari biasanya, karena Grace akan tampil sebagai model berwajah baru. Sebenarnya Liam mempertimbangkan dengan matang, mereka tidak ingin model yang sudah di pakai oleh brand lain. Perusahaan nya membutuhkan angin segar.


"Apa Grace sudah datang? " Tanya Liam pada Cathy manajer pemasaran. "Mungkin sebentar lagi, tadi dia menghubungi ku baru keluar apartemen." Jawab Cathy dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau merusak mood bosnya yang sedang antusias.


"Kabari aku jika dia sudah datang." Titah Liam kemudian pergi menuju ruang tunggu di belakang panggung.


Sementara Grace masih berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat. Acara memang masih lama tapi ia harus datang lebih awal untuk latihan dan make up. "Pergilah sendiri Grace, jangan percaya siapapun selain padaku." Kembali mengingat ucapan Liam, sepertinya keadaan menjadi lebih serius akibat dirinya.


Di jam istirahat taksi memang sangat sulit di dapat di sekitar rumah Grace. Harusnya tadi Grace meminta Liam menjemput nya saja. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Grace. Dahi Grace mengkerut sekaligus waspada siapa orang yang ada di dalamnya.


"Nona Grace,,, saya di minta tuan Liam menjemput anda nona, silakan. " Kata pria berbadan tinggi dan kepala plontos membukakan pintu.


"Dia tidak bilang akan menjemput ku." Grace berkelit berniat menolak ajakan orang asing.


"Kita tidak memiliki waktu lagi nona." Pintanya penuh penekanan berharap Grace kooperatif. Namun bukan Grace namanya jika ia percaya begitu saja. Grace berjalan cepat meninggalkan mobil dan pria tadi. Namun dengan sigap pria yang di duga suruhan seseorang membius nya dari belakang. Saat lemah tubuh Grace segera di letakan di kursi belakang. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Grace yang masih sadar berpura-pura pingsan. Padahal sapu tangan bercampur obat itu sama sekali tidak mengenai hidung maupun mulutnya. "Dasar bodoh." Grace mengumpat dalam hati. Tak lama mobil berhenti di suatu tempat yang sepi, dan penculiknya malah keluar begitu saja tanpa curiga.


Grace segera mengirim lokasi dirinya pada Liam supaya pria itu bisa menjemput dan menolongnya. Karena Grace tidak hafal jalanan yang di laluinya tadi. Sedikit mengintip Grace melihat ada dua komplotan lain yang berdiri di depan sebuah pintu masuk gudang terbengkalai. "Bagaimana caranya agar aku bisa kabur?" Gumam Grace berpikir keras. Sayangnya ia terlalu lambat sehingga penculik yang menyetir mobil mulai mendekat.


"Lepaskan aku! " Teriak Grace memberontak saat tangannya ditarik secara paksa. Grace di seret layaknya karung berisi tepung dan di pindahkan ke mobil lainnya. Mobil pun berpindah ke tempat yang akan membawa Grace ke bos mereka. Di sebelahnya ada pria muda menatap Grace dingin.


"Siapa kau? " Tanya Grace dengan nada tinggi. "Jadi kau mainan baru seorang Liam? " Pria yang Grace tebak seumuran Liam malah balik bertanya.


"Bos apa tidak masalah menunjukkan wajahmu padanya? Bagaimana kalau dia mengadu." Seorang supir berani bertanya pada bos muda nya.


"Aku ingin tahu reaksi Liam saat miliknya aku ganggu. " Dia menanggapinya dengan santai lalu tangannya mencoba menyentuh pipi Grace namun Grace malah menepis nya kasar.


"Aku bukan milik siapapun. " Tolak Grace menatap kearah jendela. Telpon Grace berdering memecah keheningan, dengan cepat Grace merogoh saku celana jeans nya namun segera di rebut oleh tangan laki laki itu. Grace melotot tajam tapi dengan santainya dia menjawab panggilan Liam.


"Bonjour Liam,,, apa kau sangat merindukannya? " Sapanya penuh ledekan. "Sial kau Pete, berani kau sentuh dia aku akan membunuhmu." Suara Liam jelas terdengar tidak main-main dengan ancamannya. Pria bernama Peter sengaja mengeraskan suara panggilan.

__ADS_1


"Datanglah untuk menjemputnya sebelum aku berubah pikiran. Oh aku lupa, bukankah dia model mu nanti malam? " Liam geram karena putera dari salah satu pemegang saham berani menculik Grace.


Sambungan di matikan sepihak oleh Peter. Grace harusnya lebih waspada kalau tahu ini bisa terjadi menimpanya. Ternyata mereka kembali ke jalan utama kota, merasa ada kesempatan saat mobil melambat di dekat lampu merah Grace membuka pintu lalu berlari hingga terjatuh ke aspal.


"Shith !" Umpat Peter tak menyangka perempuan itu akan nekad meloncat.


"Sial, aku kurang perhitungan tadi." Grace segera bangkit meski lutut dan sikutnya berdarah akibat mencium aspal. Ia berlarian menyetop taksi di belakang. Untung saja ada yang kosong sehingga Grace selamat dari penculikan itu.


"Pak tolong bawa aku ke Grand Palais. " Perintah Grace pada supir taksi yang sengaja mengebut setelah tahu keadaan penumpangnya.


Sekitar satu jam lebih Grace sempat berada dalam situasi berbahaya. Kini ia sudah tiba di depan gedung dengan selamat. Ia tak ingin membuat posisi Liam dalam bahaya jika dirinya gagal kabur.


Para staf yang ikut panik mencari Grace terdiam mematung menatap kedatangannya. Liam yang baru saja menelpon anak buahnya untuk mencari keberadaannya segera berlari mendekati Grace lalu memeluknya erat. Semua menyaksikan adegan romantis di depan mereka. Liam bos berhati dingin yang paling anti pada perempuan kini memeluk seorang Grace yang baru ia kenal.


"Thank you Grace,,, karena kau selamat." Bisik Liam membelai rambut berantakan grace. Grace merasa jika Liam hanya membutuhkan kehadiran dirinya untuk menjadi seorang model. Mungkin Grace berlebihan sempat berpikir Liam sangat mengkhawatirkan keadaannya. Lidahnya keluh tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


"Grace kenapa kau diam saja? " Liam melepaskan pelukannya lalu memperhatikan wajah murung Grace. "Mereka tidak menyakitimu kan? Oh God, apa yang terjadi padamu? " Liam melihat lutut Grace berdarah begitupun telapak tangan dan juga sikutnya.


"Cepar panggilkan tim medis! " Teriak Liam pada siapapun di sekitarnya, ia cemas mengetahui Grace terluka. Grace menurut saja di bawa oleh perempuan yang akan mengobati luka lukanya.


"Tentu bisa nyonya Bianca. Aku masih sanggup berjalan, ini bukan masalah besar." Jawab Grace enteng di saat semua orang cemas.


"Grace lebih baik kita menyerah saja." Ajak Bianca putus asa karena dirinya enggan memakai model dalam keadaan terluka. "Dengar nyonya, kau mana bisa menemukan model lain saat waktu semakin sempit. Sungguh aku tidak apa apa, kalian atasi saja bagaimana lukaku ini bisa di tutupi." Grace memberi saran lain dari pada harus menyerah.


Bianca dan perias wajah saling memandang, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sentuhan look berbeda di tubuh Grace demi menutupi lukanya.


Berulang kali Grace tarik nafas lalu membuangnya. Ia mencoba menguasai diri agar tidak nervous saat berjalan diatas panggung. Nasib Liam berada di tangannya saat ini. Grace akan mengesampingkan urusan hatinya dulu.


"Grace kau yakin Baik-baik saja? " Liam mendatangi Grace dari pada model pengiring lainnya. Tentu mereka iri karena orang baru malah menjadi model utama. "Boleh aku minta tolong? " Tanya Grace ragu. "Katakan, apa yang harus aku lakukan? " Liam menunggu Grace bicara. "Genggam tanganku, aku butuh kekuatan saat ini." Dengan cepat Liam menuruti keinginan Grace, dapat ia rasakan ketegangan menyelimuti perempuan cantik itu. Tangannya bahkan terasa dingin saat Liam sentuh.


"Mercy,,, " Ucap Grace tersenyum, Liam sangat menyukai fenomena langka itu.


Acara pun di mulai, tamu undangan duduk rapi mengelilingi panggung dimana para model akan memamerkan koleksi terbaru rancangan Bianca. Banyak tamu penting yang hadir, diantaranya selebriti, pengusaha, pejabat maupun kelangan atas lainnya. Sejak tadi mereka menanti kehadiran kartu As La collection, penasaran siapa yang mendapat posisi model utama. Biasanya La Collection akan memakai selebriti yang tengah naik daun.

__ADS_1


Hingga saatnya tiba untuk Grace keluar. Ia mengenakan two pieces berbahan linen bercorak buah-buahan tropis seperti semangka, strawberry hingga nanas. Atasan tanpa lengan yang press body tentu memamerkan bentuk tubuh Grace. Mereka terpesona dengan tatapan takjub, selain model pakaian yang berani Grace juga memiliki sentuhan make up berbentuk strawberry dan sepotong semangka di paha dan lengannya. Sebenarnya itu ide untuk menutupi luka Grace.


Hasil yang sangat memuaskan untuk ukuran model amatir. Tamu undangan memberi ekspresi luar biasa bisa mengenal wajah baru di dunia modelling.


"Congratulations for La collection, they did it !" Teriak pembawa acara mengundang sorak sorai penikmat mode, mereka bahkan berdiri memberi tepuk tangan ketika Bianca dan Grace berdiri berdampingan.


Setelah rilis website La collection mulai memposting apa saja yang menjadi andalan mereka.


"Bos, ini berhasil dan sempurna." Bisik Cathy pada Liam memberi laporan penjualan sementara. Liam tersenyum bangga memandang Grace di atas panggung. Ternyata dia berhasil mencuri perhatian orang-orang. Tangannya kini penuh dengan buket bunga.


"Kau hebat Grace." Gumam Liam, Cathy hanya ikut senang melihat kesuksesan perusahaan. ternyata bosnya tahu betul nilai jual seorang Gracia.


Sampai di penghujung acara, Grace baru kembali dari runway setelah memamerkan dress terakhir. Total ia memakai lima rancangan Bianca sejak awal hingga akhir. "Grace, thank you so much darling." Bianca tiba menyusul Grace lalu memeluk hangat. "Sama sama Nyonya, aku senang sekali bisa membantu. Adrenalin ku selalu terpacu saat berjalan di sana." Mata Grace berbinar kalau mengingat aksinya tadi.


"Kau lebih baik sekolah model Grace, kau berbakat sayang." Bianca tak hentinya memuji kemampuan Grace.


"Ya, aku sangat ingin melakukannya. Terima kasih sudah membukakan jalan untukku." Kini giliran Grace yang memeluk Bianca.


"Dimana Tuan Liam? " Sejak dirinya tiba Liam seakan menghindari nya. Ia penasaran komentar pria itu mengenai penampilannya. "Jangan cari dia Grace, bos kita sibuk mengobrol dengan para kolega. Dia sudah mempersiapkan pesta perayaan Grace." Bianca kegirangan mengingat kata pesta. Jarang sekali bosnya itu mau mengapresiasi hasil kerja keras karyawannya.


"Benarkah? Aku ingin ikut nyonya." Jawab Grace antusias.


"Tentu harus, karena berkat keberhasilan mu Bos mau memperhatikan karyawan nya." Tambah Bianca memberi kesan bagus seorang Liam di hadapan Grace.


"Maksud nyonya?" Grace bingung kurang memahaminya.


"Look, dia bos yang kaku dan dingin. Sekalipun perusahaan mencetak penjualan tertinggi dia mana ada memberi penghargaan pada kami. Tapi hari ini dia akan mentraktir kita semua Grace." Benarkah karena dirinya? Grace merasa tersanjung mendengarnya.


Para wartawan dari berbagai majalah kini ribut di luar ruangan ingin mewawancarai Grace. Tentu kemunculan Grace di dunia fashion akan menjadi headline. Ia berhasil memikat orang-orang yang menyaksikan kecantikannya.


"Aku hanya akan menerima wawancara resmi lewat perusahaan." Liam berdiri menghalau mereka. Dia tidak akan membiarkan Grace di kerumuni laki laki secara gratis.


"Apa dia akan menjadi model tetap brand anda tuan? " Tanya wartawan majalah nomer satu di Paris.

__ADS_1


"Tuan, boleh kami tahu identitasnya? Nama, usia, dan latar belakang keluarganya. " Tambah wartawan lainnya.


"Seperti kataku, kalian bisa membuat janji untuk wawancara dengannya. Kami akan memilih siapa yang pantas mempublikasikan model kami." Merasa cukup Liam masuk ke dalam, dia memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di luar.


__ADS_2