
Di sebuah gereja berukuran cukup luas dengan kursi kayu berjejer dimana sebuah keluarga berdiri menyambut kedatangan mempelai wanita. Begitu cantik mengenakan gaun menjuntai berbelahan dada A line. Wajah cantiknya masih tertutup kain menerawang, ia menggandeng seorang anak laki-laki yang usianya hampir empat tahun.
Sementara mempelai pria mengusap air mata di ujung matanya, berdiri di depan altar menunggu pengantinnya.
"Here's your bride daddy... " Dylan menyerahkan tangan ibunya pada sang ayah lalu duduk bersama auntie Al di sisi kiri altar.
"Silakan mempelai pria. " Kata Pendeta meminta mereka mulai mengucap janji suci. "Saya Liam Arthur mengambil engkau Gracia Rodrigo menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya baik susah maupun senang, kala sehat dan juga sakit. " Liam mengangkat tangan kanan seraya mengucapkan janji sakral di hadapan Tuhan, pendeta dan segenap keluarga. Hingga giliran Grace, pundak wanita itu bergetar hebat tak kuasa menahan tangis. Tangannya juga mengikuti Liam,
"Saya Gracia Rodrigo menerima engkau Liam Arthur menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya, baik susah maupun senang, kala sehat dan juga sakit." Semua anggota keluarga menitikan air mata bahagia melihat sepasang kekasih bersatu dalam ikrar pernikahan.
"Mulai detik ini, kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Berbahagialah Tuhan memberkati, kalian boleh melakukan wedding kiss." Perintah Pendeta agung. Liam lalu membuka penutup wajah Grace, meraih tengkuknya lalu mengecup lembut bibir merah darah Grace. Alya menutupi kedua mata Dylan menggunakan tangan nya.
"I love you Grace,,," Bisik Liam ketika ciuman mereka terlepas.
"I love you too Liam." Balas Grace tersenyum bahagia.
Di luar gereja mereka mengabadikan momen dengan berfoto. Grace memberikan buket bunganya pada Abigail yang mengerucutkan bibirnya.
"Kau curang, mendahului pernikahan ku." Kesal Abigail memeluk hangat sahabatnya. "Maaf, sebagai kompensasi aku memberimu hadiah." Grace mengacungkan kunci apartemen miliknya yang pernah ia tempati bersama Hecan dan Sia.
"Kau mengusir ku? " Abigail menangis mendapat hadiah luar biasa dari Grace. "Aku sudah menyuruh perusahaan interior mendesain ulang rumah baru kalian. Kau bisa memilih dan mendiskusikan nya. Aku tahu tinggal dengan keluarga kalian tidak bisa leluasa." Kalimat terakhir Grace membisikkan nya di telinga Abigail.
"Terima kasih Grace, kau terbaik." Abigail kembali memeluk Grace. Bersama keluarga Jack ia merasa mendapatkan keluarga baru. Orang tua Grace memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Selamat ya sweety,,, " Tuan Rodrigo memeluk dan mengecup ujung kepala Grace. Tak terasa hari bahagia tiba dimana ia menyaksikan putri kecilnya menikah. "Terima kasih dadd untuk semua perjuanganmu. Aku sayang daddy. " Lirih Grace dalam dekapan sang ayah.
"Auntie Al, Terima kasih sudah menjaga keponakanmu selama ini. Aku sayang kau Alya. " Grace dan Alya saling berpelukan. "Semoga kau bahagia selalu Grace." Bibi Patricia mengusap pundak Grace.
__ADS_1
Liam memang memaksa Grace untuk berbulan madu singkat sebelum kembali beraktifitas di kantor.
Dylan turun dari pangkuan Grand pa Arthur, ia beralih ke gendongan Grace memeluknya yang masih mengenakan gaun pengantin.
"Mommy akan sangat merindukan mu Dy,," Sama seperti saat kuliah Grace juga sering merasa kehilangan sosok bocah menggemaskan itu, tapi ia juga tenang karena ada nenek kakek nya yang menjaga. Sejujurnya Grace tidak bisa berjauhan lama dengan anaknya.
"It's ok mommy. Aku bahagia sekarang daddy dan mommy sudah bersatu. " Ucapnya kemudian mengecup pipi sang ibu. Liam mengusap kepala Dylan sayang, anak itu mengayunkan tangannya menyuruh Liam mendekat.
"Jangan lupa rencana kita! " Bisiknya pelan namun mereka masih bisa mendengarnya. "Rencana apa Liam? " Grace menuntut penjelasan.
"Ini rahasia kaum pria baby,,, " Pipi Grace semakin merona kalau mendengar panggilan sayang Liam. Keluarga nya hanya tersenyum simpul melihat kemesraan mereka.
"Sudahlah cepat berangkat, aku gerah melihat tingkah kalian. " Paman Jack menyudahi acara perpisahan sesaat mereka. Dylan di ambil alih oleh Grand Pa Rodrigo. Mereka semua saling melambaikan tangan sampai mobil pengantin benar-benar menghilang dari pandangan.
Tanpa mereka sadari seseorang mengamati sejak tadi di dalam mobilnya. Tangannya memukul stir meluapkan kekesalan. Dia adalah Ethan, masih belum Terima Grace menikah dengan pria lain apa lagi itu Liam. Saudara tirinya. Ia pun mengikuti mobil mereka dari jarak cukup jauh agar tidak ada yang mencurigainya.
"Kau gugup? " Liam memasangkan sabuk pengaman untuk Grace juga penutup telinga. Grace mengangguk, ini kali pertama ia naik pesawat jenis helikopter. Liam menggenggam tangan Grace memberinya ketenangan.
Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam Grace dan Liam akhirnya tiba di landasan udara khusus pribadi di kota Piana. Mereka sudah di tunggu supir untuk mengantar ke kediaman bibi Pat.
"Kenapa kita tidak di hotel saja? " Liam membantu menurunkan koper lalu di serahkan ke supir untuk di simpan di bagasi. "Di sana banyak kenanganku saat hamil dan melahirkan Dylan. Aku ingin kau juga memiliki perasaan yang aku renggut dari mu. " Grace menggenggam tangan Liam mengingat kesalahannya di masa lalu membuat Grace bersedih.
"Aku mengerti, Terima kasih kau sudah peduli. " Liam mengecup singkat bibir Grace. Mereka pun masuk ke mobil.
Setiba nya di rumah Liam membantu Grace menata pakaian di lemari, kamar itu merupakan saksi perjuangan Grace menjadi seorang ibu tunggal. Tidak ada kesedihan, ia hanya ingin mengingat momen membahagiakan tentunya.
"Aku akan masak menu makan malam. " Grace pamit ke dapur, mereka sudah sangat lelah namun perut harus tetap terisi. Grace dan Liam terakhir makan sebelum acara pemberkatan.
__ADS_1
Rumah itu sudah lama mereka tinggalkan namun setiap hari akan ada orang suruhan tuan Rodrigo untuk membersihkan nya. Liam melihat beberapa bingkai foto dimana Grace sedang duduk sambil mengasihi baby Dylan. Ia mencium potret itu dan tersenyum bahagia. "Terima kasih sudah hadir di hidup daddy. " Katanya bergumam memandangi foto Dylan.
Saat sedang memasak Grace menangkap sosok dari kejauhan sedang berdiri di dekat pohon kelapa. Biasanya pantai akan sepi ketika mereka berkunjung.
"Ada apa? " Liam melihat Grace terdiam dengan tatapan kosong. Ia memeluk pinggang Grace dari belakang.
"Entahlah, mungkin itu tetangga yang kebetulan lewat. " Grace kembali fokus menumis bumbu bolognese saus pasta. "Harum,,, " Bisik Liam persis di telinga Grace, membuat empunya bergidik merasakan sensasi panas.
"Sabar, sebentar lagi makanan jadi." Grace tersenyum, ternyata menyenangkan menjalin asmara setelah resmi menikah. Berbeda dengan dulu, Grace selalu di liputi rasa cemas dan khawatir mereka akan berakhir berpisah.
Keduanya makan malam dengan santai, sesekali Liam menggombali Grace hanya untuk melihatnya tersipu malu.
"Kau ingin tambah anak berapa? " Liam bertanya tanpa rasa bersalah, Grace tersedak hingga batuk beberapa kali. "Minumlah, jangan gugup seperti itu." Liam memberi segelas air ke tangan Grace. "Bisakah tidak membahas itu dulu, kita sedang makan Liam." Grace menggeleng tak percaya suaminya mulai mesum.
"Rencanaku dan Dylan ingin membuat tim basket dengan adik adiknya. " Terang Liam santai tanpa beban, seolah membuat anak itu mudah dan tidak memerlukan effort. "Jadi ini rencana yang di sebutkan Dylan?" Grace memicingkan matanya, Liam terkekeh geli sambil menghindari tatapan Grace.
"Kau pikir mengandung dan melahirkan itu mudah? Aku setiap hari mual dan muntah, berjuang mengeluarkan anakmu antara hidup dan mati. Bahkan aku juga mengalami baby blues, aku enggan menyusui Dylan secara langsung." Liam tak menyangka Grace malah tersinggung atas ucapannya soal tambah anak. Istrinya bahkan susah payah menahan cairan bening di matanya untuk tidak meluncur.
"Hey,,, I'm sorry. Aku tahu, membayangkannya saja aku merasa bersalah. Seharusnya aku ada di sampingmu." Liam bangun dari duduknya lalu berlutut di hadapan Grace, menciumi telapak juga punggung tangan sang istri. "Terima kasih, karena tangan ini sudah merawat dan menjaga darah daging ku. Bahkan tangan ini yang selalu mengulur membantuku dalam kesulitan. Maaf karena aku selalu menyakitimu, aku berjanji akan selalu menjaga, melindungi dan mencintaimu sampai maut memisahkan kita. " Grace mengangguk beriringan dengan isak tangisnya. Ia memang sensitif saat mengingat masa masa tanpa Liam. "Sudah ya, jangan menangis. Hatiku sakit melihatnya. " Karena makan malam sudah habis, Liam membantu Grace mencuci piring kotor dan merapikan meja.
"Besok mau kemana? " Tanya Liam di saat mereka menggosok gigi bersama di kamar mandi.
"Aku ingin naik ATV, waktu itu tidak sempat karena harus sembunyi darimu. " Liam mengusap puncak kepala Grace, apa pun akan Liam lakukan untuk kebahagiaan nya. "Padahal aku sempat melihat dua wanita berpelukan di tepi jalan. Aku kira mereka penyuka sesama jenis." Liam tersenyum dengan busa pasta gigi di mulutnya. "Hahaha, kau terlalu liar. Aku akui, aku sempat takjub melihat kau bertelanjang dada. " Liam yang sudah selesai lantas membuka kaos kebanggaannya.
"Nikmati sepuasnya." Secara naluriah Grace menyentuh ke-enam kotak di perut Liam, sikat gigi bahkan masih ada di mulutnya. Liam berdehem merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan.
"Aku ingin tidur pakai AC." Grace menyadarkan pikiran liarnya.
__ADS_1
"AS your Wish. " Liam paham maksud perkataan Grace. Intinya dia tak tahan melihat Liam telanjang dada, ia harus mengenakan kaos agar tidak kedinginan. Apa lagi udara tepi pantai sangat dingin.