My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
tidak menginginkannya


__ADS_3

Kediaman Liam Arthur junior baru saja selesai mengadakan pesta baby Shower. Kandungan Grace sudah menginjak sembilan bulan, itu artinya sebentar lagi adik Dylan yang di ketahui berjenis kelamin perempuan akan segera lahir.


"Dadd, bukankah Alya pulang sore ini? " Grace memastikan kepulangan sang adik. Karena terlalu fokus memeriahkan suasana mereka hampir lupa kalau Alya mungkin saja sudah ada di rumah.


"Benar Grace, apa dia langsung pulang ke rumah? " Tuan Rodrigo malah balik bertanya.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, aku khawatir Alya sendirian di rumah." Patricia langsung mengajak suaminya pulang. Lagi pula acara sudah berkahir sekitar setengah jam yang lalu.


"Baiklah, ayo. Kami pamit dulu Grace, Liam."


Keduanya mengangguk.


"Mommy, aku ingin menginap di rumah grand pa. Aku merindukan auntie Al. " Usia Dylan hampir lima tahun, dia semakin pintar dan menggemaskan. Ternyata lama berpisah dengan Alya tidak melunturkan kedekatan mereka.


"Bagaimana ini Liam, aku kasihan Alya pasti kelelahan. " Grace dengan perut besarnya meminta pendapat Liam.


"Biarkan saja. Dy, kau jangan membuat auntie Al repot ya. Atau kami akan menjemput mu secara paksa. " Liam memperingati Dylan, diapun mengangguk cepat mematuhi peraturan yang di buat ayahnya.


"Hore,,, ayo grand ma, grand pa. " Dylan menarik tangan Tuan Rodrigo dan nyonya Patricia.


Di kamarnya, Alya sudah terlelap sejak sore hari. Melewatkan jam makan malam, ia merasa lapar begitu mendominasi. Mau tidak mau Alya membuka mata, ia berjalan keluar menuju dapur.


"Surprise,,,, " Teriak Dylan dan Patricia menyambut Alya di meja makan. Yang tadinya mengantuk, Alya berbinar melihat kejutan kecil sebagai sambutan kepulangannya.


"Mommy dengar kau belum makan, jadi kami sengaja membuat makanan untukmu. Dylan membantu banyak." Patricia meletakan beef lada hitam di piring untuk Alya.


"Yes mom, perutku berdemo meminta di isi." Jawab Alya.


Dylan yang begitu merindukan Alya berlari menghampiri Alya, masuk kedalam gendongan sang bibi.


"I miss you auntie Al.. " Bisik Dylan, lalu mencium pipi Alya.


"Dy, kau semakin berat. Rasanya aku tidak sanggup menggendong mu lagi. " Segera menurunkan Dylan, ia berjongkok lalu mengusap wajah Dylan menyeluruh.


"Kau akan jadi kakak yang baik. Jaga adik dan mommy, oke? " Dylan mengangguk patuh mendengarkan nasehat Alya dengan baik.


"Ayo makan Al... " Panggil Patricia pada anaknya.

__ADS_1


Ketika Alya berdiri dia kembali merasa pusing di kepala. Bertepatan dengan tibanya Tuan Rodrigo, Alya terkulai lemas di pelukan ayahnya.


"Alya,,, " Suara Patricia membuat semua orang panik. Dylan terperanjat kaget melihat bibinya pingsan setelah menggendongnya.


"Grand ma, auntie Al lelah karena menggendongku. Maafkan aku auntie... " Dylan biasanya tidak mudah menangis, namun saat tahu Alya sakit air matanya berderai tanpa tertahankan.


"Aku bawa Alya ke kamarnya, tolong telepon dokter. " Kata Tuan Rodrigo. Meski di usia senja, dia masih bugar dan kuat membopong tubuh Alya.


Sekitar lima belas menit menunggu, dokter wanita tiba di kamar Alya. Mulai memeriksa keadaan pasien. Tidak ada tanda-tanda Alya sakit parah. Membuat dokter menyimpulkan sesuatu lalu memberitahu keluarga nya.


"Tuan dan nyonya Rodrigo, nona Alya hanya kelelahan. Untuk memastikan, tolong bawa nona ke dokter obgyn. Saya tebak nona sedang hamil muda, tapi untuk lebih jelas biarkan nona mengetes nya dulu di rumah. Kalian bisa membeli testpack di apotek terdekat. "


Kalimat demi kalimat berputar-putar di kepala Rodrigo maupun Patricia. Seakan sulit mencerna apa yang mereka dengar. Keduanya diam seribu bahasa. Dokter itu bahkan pamit tanpa menunggu jawaban dari orang tua pasien. Mungkin sebaiknya dokter memberi mereka waktu. Tentu ada keterkejutan mengingat Alya masihlah sangat muda.


"Tidak, kenapa dia seperti ini? Alya bagaimana jika dia benar-benar hamil? Lalu siapa ayah dari anak yang dia kandung... " Terisak pelan, Patricia bertanya-tanya pada Rodrigo. Ia yakin suaminya mengetahui hal yang tidak ia ketahui.


"Tenanglah, mungkin dokter salah diagnosis. Aku akan menyuruh orang membeli alat itu. Kau jaga dia jangan sampai Alya pergi kemana-mana. " Rodrigo keluar kamar dengan raut wajah kecewa.


Jelas mereka terpukul.


Alya adalah gadis pendiam selama ini, penurut dan tidak neko-neko. Mungkin akibat tinggal sendiri dia menjadi bebas dalam bergaul. Tapi bukankah ada pak Ben yang selalu menjaga dan mengawasinya? Patricia duduk di tepi ranjang, dia menatap wajah pucat putri satu-satunya yang ia besarkan sejak dalam kandungan.


"Auntie cepat sehat lagi, maafkan aku." Mendengar kepolosan cucunya, Patricia malah menangis tersedu-sedu mengingat Alya kemungkinan hamil.


Padahal ia hafal betul, Alya sedang berusaha meraih mimpinya. Membangun dan mewujudkan satu-persatu.


"Dylan, sayang. Kemarilah, biarkan auntie Al istirahat ya? Grand ma akan menemani mu tidur di kamar grand pa. " Menurut, Dylan berangsur turun dari tempat tidur. Menerima uluran tangan sang nenek.


Alya tersadar, dia mencoba duduk meski kepalanya masih terasa berat. Sudah ada Tuan Rodrigo duduk di tempat Patricia tadi. Ia memegang sebuah kotak kecil panjang. Hati Alya perih saat melihat benda yang ada di tangan ayahnya.


"No, no, no! Itu tidak mungkin, ini pasti salah. " Grace menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia tahu tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


Masa periode yang seharusnya ia lewati dua bulan terakhir Alya anggap efek dari pelepasan alat kontrasepsi.


Alya sempat melakukannya dengan Christian, dia tidak berpikir akan hamil dengan mudah kali ini.


"Kau pastikan sendiri Al. Daddy tidak akan marah padamu, tapi cobalah mengerti kekecewaan mommy mu. " Ucap Tuan Rodrigo mencoba bersabar menerima jika Alya memang mengandung anak Christian.

__ADS_1


Alya menerima tes penguji kehamilan dari Tuan Rodrigo. Ia berjalan gontai masuk ke kamar mandi. Membaca cara pakai agar tidak keliru. Dia berharap melihat satu garis di atas benda pipih berwarna putih itu.


Setelah menunggu, Alya dapat memastikan dirinya memang tengah berbadan dua. Ia terduduk lemas di lantai. "Ini salah, aku tidak mau. Aku harus bagaimana? " Sesal seakan membuat Alya berpikir keras bagaimana membatalkan kehamilan nya. Gila, rasanya Alya hampir gila memikirkannya.


"Al, keluarlah. Daddy dan mommy akan menjagamu dan calon anakmu. Jangan takut Al, kami bersama mu. " Tuan Rodrigo tidak ingin Alya berbuat nekad. Usianya masih sangat labil, sebaiknya Tuan Rodrigo mendampingi Alya di masa sulitnya saat ini.


Alya membuka pintu, wajahnya begitu dingin dan datar. Bersikap, menganggap semua baik-baik saja. Tidak akan ada yang mengubah keputusannya.


"Aku tidak menginginkannya dad. Tolong bantu aku! " Ucap Alya pelan dengan tatapan kosongnya. Tuan Rodrigo kaget bukan main mendengar permintaan Alya. Dia berlutut di bawah Alya, menggenggam tangannya.


"Jangan Al, Dia tidak berdosa. Aku dan ibumu akan membantumu menjaganya." Lirih tuan Rodrigo. Benar kata Patricia, semua ini dampak dari kegagalannya menjadi seorang ayah untuk Alya. Andai saja dia berpikir panjang, Alya pasti tidak mengalami hal berat sekarang.


"Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak menginginkan nya dadd. " Alya berteriak histeris memukul-mukul perutnya. Tuan Rodrigo menahan laju tangan Alya, memeluknya erat.


"Hentikan Alya. Tenangkan pikiranmu, ayo kita berlibur agar kau tidak tertekan." Berusaha menenangkan Alya, Tuan Rodrigo mengelus rambut Alya secara lembut.


Patricia menangis dalam diam mendengarkan penolakan Alya terhadap calon anaknya. Ia yakin jika pria itu berada di sekitar Alya. Saat ini ia mengesampingkan rasa penasaran nya. Yang penting Alya behenti menyakiti dirinya sendiri.


Mengusap air matanya, Patricia masuk membawa piring makan malam untuk Alya. Sejak tadi dia berdiri di ambang pintu.


"Al, makanlah dulu. Kau bilang lapar tadi." Alya yang malu berpelukan dengan ayahnya segera melepaskan diri. Dia mengusap air mata, tak ingin Patricia melihatnya menangis.


"Mom aku ingin makan dengan nasi. " Mendadak Alya meminta nasi, padahal dia jarang menikmati daging lada hitam di dampingi karbo.


"Baiklah, mommy akan mengambilnya. Ayo dadd, biarkan Alya istrahat." Ajak Patricia meninggalkan Alya sendirian.


Alya terduduk di atas tempat tidur. meraba perutnya yang masih rata. Christian sejak lama menginginkannya, namun Alya belum siap. apa lagi hubungan mereka terjalin begitu saja tanpa kejelasan.


sejak tadi juga Christian tak henti menghubungi nya. Daniel juga ikutan menelepon menanyakan kabar Alya. dia berjanji akan memberi kabar setelah tiba di Paris.


Alya memilih mengabaikan keduanya. ia mulai menikmati makan malam telatnya. rasa hangat lada hitam di tenggorokan mampu membuat Alya segar kembali. dia mengingat kejadian malam itu, mungkin sekitar dua bulan usia kandungannya jika Alya tidak salah menebak. tapi selama ini Alya merasa wajar tidak mendapat periodenya. tahunya Alya malah mengandung benih Christian.


"tidak boleh ada yang tahu tentang ini, kecuali kau dan aku. kita bawa Alya menjauh dari Paris maupun London. ini semua demi mental Alya. " tuan Rodrigo menahan Patricia yang akan mengantarkan nasi untuk Alya.


"lalu bagaimana dengan kuliahnya? Grace sebentar lagi melahirkan, siapa yang membantu menjaga Dylan? " kurang setuju dengan ide Rodrigo, Patricia tidak mau Alya kabur seperti Grace waktu itu.


"akan ada pertumpahan darah antara kakak beradik Pat. aku tidak rela Alya menjadi rebutan. Kau tidak mengenal Oliver dan Aline. mereka bahkan menyuruh kekasih Christian menggugurkan kandungannya dulu. " kedekatan Alya dan Christian mengharuskan Rodrigo mengecek kehidupan pribadi keluarga Oliver.

__ADS_1


"Ya Tuhan, separah itu? kasihan sekali Alya, aku takut dia menerima penolakan." kakinya terasa lemas tak bertenaga mendengar bagaimana kehidupan Christian.


"maka dari itu, bantu aku meyakinkan Alya. jangan biarkan dia berpikir untuk melakukan hal yang sama. kita bisa bukan melakukannya sekali lagi? " yaitu menyembunyikan anak mereka saat hamil dari pria yang mencintainya untuk yang kedua kali. Rodrigo bagai dejavu, dia memiliki dua anak perempuan yang bernasib hampir sama. bedanya Alya belum siap dengan kehamilannya. Dulu Grace malah sengaja ingin memiliki anak dari Liam meski pada akhirnya mereka kembali bersama.


__ADS_2