My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
kampus


__ADS_3

Pagi menyapa, Alya mencoba membuka matanya yang terasa berat. Akibat pindahan semalam ia harus bergadang merapikan pakaian dan perlengkapannya. Ia beranjak dari tempat tidur, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Astaga,,, " Suara Alya menggema menunjukkan keterkejutan nya yang luar biasa. Ia baru menyadari sesosok pria berbaring di bawah tempat tidur.


"Kenapa dia malah tidur di lantai? " Karena di dorong rasa penasaran akhirnya Alya mendekati tubuh pria dengan pakaian casual seperti semalam.


"Tuan bangun! " Kakinya menggoyangkan lengan tanpa mau menyentuh langsung. Terdengar suara lenguhan darinya sebagai respon ia mendengarkan.


"Dia pasti mabuk semalam, Theo kenapa kau punya kakak seperti Christian? " Alya sekilas melirik jam waker di atas nakas, ia tidak ada waktu mengurus Christian.


Alya sudah siap mengenakan dress floral berwarna peach berlengan pendek. Ia menyempatkan membuat sarapan sebelum berangkat. Hanya roti panggang dan telur setengah matang, tidak ada bahan lain di dalam lemari es.


Terlihat Christian kelaur dari kamar mengenakan setelan kerja. Alya mengunyah sambil terus memperhatikan nya. Bulu-bulu halus di tangan maupun wajahnya menambah kesan maco dan manis. Tapi tidak bagi Alya, dia terlihat cuek tanpa terpesona sedikitpun. Baginya semua laki-laki sama saja, menyebalkan.


"Kau makan sendiri, Punyaku mana? " Christian celingukan mencari jatah sarapan paginya.


"Tidak ada roti lagi, kalau tuan mau akan ku buatkan telur. " Sebenarnya Alya malas melayani orang asing, hanya saja ia sadar diri menumpang di rumah Christian jadi sudah sewajarnya Alya membantu sedikit.


"Tak masalah, tolong buatkan. Aku sangat lapar sekali. " Christian berjalan ke arah dapur, ia membuat secangkir kopi hitam menggunakan mesin nespresso.


"Aku akan mengantar mu ke kampus sebelum ke kantor. " Christian duduk sementara Alya sudah sibuk membuat omelet plain.


"Tidak perlu, tuan jangan terbebani dengan kehadiran ku. Aku bisa melakukan nya sendiri." Alya menengok sebentar ke belakang untuk bicara dengan Christian.


"Tapi aku,,, "


"Sudah jadi, selamat menikmati. Aku pergi dulu. " Alya meletakkan telur gulung setengah matang di hadapan Christian. Ia meraih tasnya di kursi kemudian keluar dari apartemen.


"Padahal aku senang melakukan nya. Dia tidak seburuk yang aku kira. " Christian sudah salah menilai keculunan Alya di awal perkenalan mereka.


Letak flat milik Christian berada di perumahan Camberwell Grove, Alya hanya perlu berjalan kaki sekitar seratus meter untuk sampai di halte bus. Kemudian menempuh jalanan Peckham menuju kampus seni London. Begitu menikmati pemandangan, Alya hampir lupa mengenakan kacamata miliknya. Sebenarnya Alya memakainya hanya saat mengerjakan lukisan agar lebih fokus dan terhindar dari perihnya efek cat air.


Sekitar lima belas menit jalanan lancar dan Alya sudah turun di halte depan kampus. Ia melihat sekeliling, banyak juga mahasiswa baru seperti dirinya. Berkat surat rekomendasi dari sekolahnya Alya hanya perlu mendaftar secara online, dan otomatis di Terima. Hari ini Alya akan melengkapi keperluan nya untuk mulai belajar minggu depan. Terbilang telat, Alya seharusnya sejak lama melakukan hal itu.


Pemampilan Alya menjadi perhatian orang-orang di kampus. Sebut saja mereka meremehkan Alya, bagaimana bisa gadis seperti nya di Terima di kampus bergengsi itu? Pasti kutu buku, pendiam dan jadi korban perundungan.

__ADS_1


"Mataku sakit melihat dia. "


"Sebagus apapun pakaiannya tidak bisa menutupi wajahnya yang buruk rupa."


"Oh my god, she is freak. "


Begitu kira-kira cemoohan yang Alya dapat di hari pertamanya. Ia masa bodo tentu, Alya harus bersabar demi bisa menjalankan pendidikan nya dengan tenang. Alya berusaha menjaga nama baik keluarga dengan tidak membuat onar. Padahal dia sudah ingin merobek mulut gadis-gadis cantil di segala penjuru kampus.


"Nona Shamare, untuk kegiatan tambahan aku harus mencantumkan apa di sini? " Salah satu petugas administrasi menanyakan keikutsertaan nya dalam kegiatan di luar kampus.


"Volunteer. Tolong daftarkan aku di setiap kegiatan amal kampus ini miss. " Akhirnya Alya bisa mewujudkan impiannya, ia bisa menghabiskan waktu senggangnya dengan membantu orang susah.


"Baiklah, nona juga bisa menjadi donatur junior di badan amal kami jika memang berkenan. " Miss bisa berkata demikian karena melihat latar belakang keluarga Alya di formulir pendaftaran. Siapa yang tidak mengenal pemilik Miracle Jewellery. Meski Alya tidak menggunakan marga ayahnya, nama tuan Rodrigo terpampang nyata sebagai ayah dari Alya Shamare.


"Ya, aku akan dengan senang hati miss. Terima kasih, aku ingin melihat sekeliling." Alya segera pamit undur diri dari ruangan tata usaha kampus.


Hal pertama yang ingin ia kunjungi ialah kantin, di sana terkenal dengan menu kalangan muda yang sedang viral. Tak sedikit para mahasiswa menghabiskan uang jajan mereka demi bisa nongkrong dan berselca, memenuhi akun media sosial masing-masing.


"Wah, ini gila. " Alya menganga melihat desain cafetaria, seperti sebuah mall di tengah-tengah bangunan.


"Ya, namaku Alya. " Alya mengulurkan tangannya, di sambut dengan baik oleh lawan bicara di hadapannya.


"Hellen, aku di tingkat dua. Semoga kau betah di sini. " Hellen tersenyum ramah pada Alya, padahal semua orang terlihat mengucilkan gadis sederhana yang aslinya cantik sekali.


"Thanks. Kau mau minum kopi? " Merasa bisa akrab Alya mengajak Hellen berjalan ke stand yang menjual kopi.


Mereka memesan minuman dan sedikit cemilan sebelum menghadiri acara perkenalan dan penyambutan di aula. Keduanya langsung nyambung saat mengobrol, bertukar cerita kehidupan masing-masing. Tapi tidak dengan Alya, masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dari orang asing. Namun Alya berharap bisa berteman baik dengan Hellen.


"Kau tinggal di mana Al? " Mereka sudah selesai, dan tengah menuju aula di bagian paling belakang kampus.


"Camberwell Grove, kau sendiri? " Tentu bukan masalah jika Alya memberitahu orang lain alamat sementaranya bukan? Alya sudah mulai membuka celah untuk bisa berteman dengan Hellen.


"Benarkah? Aku juga tinggal tak jauh dari perumahan Grove. Kapan-kapan kau harus mengundangku . " Hellen selalu mengulas senyum di wajahnya, Alya pribadi ramah dan cocok untuknya.


"Haha mungkin kita bertemu diluar saja. Aku tidak enak pada pemilik rumah, di sana aku menumpang. " Di kalimat akhir Alya sedikit berbisik di dekat telinga Hellen. Membuat empunya bergidik merasakan sensasi lain.

__ADS_1


Langkah mereka menaiki tangga untuk mencari tempat duduk paling pas. Hellen mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan Alya.


"Kenapa tidak ambil flat atau kau bisa tinggal di asrama. " Alya menggelengkan kepalanya menolak semua pilihan yang Hellen sampaikan.


"Aku tidak akan betah di asrama. Aku tinggal bersama saudara. " Ada sedikit kebohongan, Alya enggan memberitahu semua rahasianya.


"Oh begitu. " Hellen mengangguk mengerti. Dan tak lama para mahasiswa baru mulai memadati aula. Mereka siap mendengar ceramah mengenai peraturan kampus.


Sekitar satu jam acara berlangsung, Alya sudah siap untuk naik bus. Ponselnya bergetar menandakan seseorang menelepon.


"Alya,,,,, " Suara nyaring wanita dalam sambungan video membuat Alya tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Hai kak, mana Dylan? " Grace mencebikan bibirnya kesal, dia malah menanyakan anak nya.


"Al, kau selalu menanyakan Dylan padahal aku yang sangat merindukan mu. " Alya menggelengkan kepalanya heran oleh sikap posesif kakaknya.


"Ya, Dylan is my first love Gracia. You're the next " Kekehan keduanya mengundang rasa penasaran seseorang yang memperhatikan Alya.


"Dylan sedang bermain dengan Liam. Kau harus nya di sini Al supaya bisa merawat calon keponakan mu. " Wajah berseri Grace berhasil menular, Alya melebarkan matanya tak percaya mendengar kabar gembira dari kakaknya.


"Selamat kak, aku yakin kali ini pasti perempuan. " Tiba-tiba Alya meramal jenis kelamin calon adik Dylan.


"Kau sudah seperti cenayang Al, sedang apa sekarang? Mommy menanyakan kabarmu, kau masih susah di hubungi. " Sejenak Alya lupa, dirinya memang belum sempat memberi kabar orang tuanya.


"Aku sibuk pindahan Grace, ini baru selesai acara perkenalan. Sampaikan salamku pada mommy dan daddy, aku baik-baik saja. Christian menjagaku di sini. " Ucapan Alya malah menciptakan seulas senyum di wajah pendengar setianya.


"Sudah dulu Kak, aku harus belanja keperluan ku. " Alya segera mematikan sambungan saat melihat bus menghampiri halte.


"Wah,,, aku pasti akan di sanjung oleh tuan Rodrigo. " Suara di sebelah Alya mengejutkannya, pria dengan kemeja bergaris warna biru mungkin sudah lama berdiri di sana.


"Kau, sedang apa di sini? " Hal yang paling Alya tidak sukai adalah seseorang menguping percakapannya meski tanpa sengaja.


"Aku hanya lewat dan melihatmu sedang berdiri, ayo aku antar kau pulang. " Christian berjalan ke arah mobilnya namun Alya bergeming.


"Cepatlah, aku harus kembali ke kantor. " Perintah Christian menyadarkan lamunan Alya soal sikap pria itu.

__ADS_1


"Kenapa dia malah jadi baik padaku? " Batin Alya, mereka akhirnya duduk di dalam mobil yang mulai melaju membelah jalanan.


__ADS_2