
Luke mengantarkan Alya ke flat Hellen. Sejujurnya dia masih ingin berlama-lama bersama Alya, tapi ia tidak tega melihat kelelahan di wajah gadis cantik tanpa kacamata tebalnya.
Mereka akhirnya sepakat memeriksa materi lomba esok hari sepulang kuliah.
"Kau yakin tinggal di sini Al? " Luke memperhatikan sekeliling apartemen, sepi, kumuh dan juga sedikit menyeramkan.
"Ya, tadi Hellen memberi kabar ada flat kosong di sini. Aku pergi dulu Luke, Terima kasih untuk makanan juga tumpangannya." Alya masuk ke dalam meninggalkan Luke yang masih menatap tak percaya.
Alya naik ke lantai atas untuk menemui Hellen. Dia bahkan sudah mentransfer uang sewa pada pemilik asli flat. Ketika ingin mengetuk Alya mendapati pintu sudah terbuka sedikit. Ia pun masuk tanpa berpikir panjang.
"Ell,,, " Mencari keberadaan Hellen, Alya berjalan menyusuri ruangan. Terdengar jelas suara ******* dan lenguhan dari arah kamar Hellen.
Langkah kaki Alya terhenti di dekat pintu kamar, ia bisa menyaksikan kegiatan panas di atas ranjang. Dimana Hellen dan satu perempuan di bawah kungkungannya sama-sama dalam keadaan tanpa busana. Alya menutup mulutnya tak percaya, Hellen melakukan tugas seorang pria yaitu memuaskan teman atau mungkin bisa saja itu kekasihnya.
Alya bergidik ngeri melihat kelainan Hellen. Ia pun secara diam-diam keluar rumah, menutup pintu dengan pelan. Alya akan berpura-pura tidak melihatnya, dia bahkan mengetuk pintu dengan tangan gemetar.
"Ell,,, kau di rumah? " Mendengar suara Alya, Hellen bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Kekasih wanitanya pun gelagapan merapikan diri agar tidak mencurigakan.
"Kau baru pulang Al? " Sapa Hellen setelah membukakan pintu. Seorang perempuan cantik sudah duduk manis di sofa depan televisi.
"Iya, aku ingin mengambil koper ku. Apa aku mengganggu? " Alya menatap Hellen dengan wajah datarnya. Sungguh Alya merasa kaget sekaligus jijik mengetahui kepribadian temannya.
"Tidak Al, masuklah. " Hellen bergeser memberi jalan untuk Alya masuk. Tetap berdiri di ambang pintu, Hellen sangat gugup takut Alya mendengar suara mereka tadi.
"Terima kasih Ell, kau sudah banyak membantuku. Aku ke flat dulu. " Pamit Alya, senyumnya terkesan di paksakan dan Hellen menyadari itu.
"Sama-sama Al, aku akan berkunjung nanti." Teriak Hellen pada Alya yang sudah menjauh.
"Sial, apa dia mendengarnya? " Umpat Hellen kesal, dia membanting pintu sangat keras.
"Babe, bukankah kau memutuskan ku demi mendapatkan gadis cantik itu? " Keduanya melanjutkan kembali aktifitas panas yang sempat tertunda.
"Oh aku sangat ingin merasakan bagaimana indahnya tubuh Alya Shamare, bahkan aroma tubuhnya saja begitu memabukkan. " Dan Hellen melampiaskan hasratnya dengan membayangkan wajah Alya. Alya pasti akan bergidik ngeri bila mendengarnya.
__ADS_1
Di flat barunya, Alya bersyukur bisa mendapatkan tipe yang lebih baik dari milik Hellen. Bersih, rapi dan terawat tentunya. Terdapat satu kamar tidur, ruang televisi dan dapur yang menyatu. Bergaya industrial membuat Alya mungkin akan sedikit betah. Tapi mengingat kelakuan Hellen berhasil memancing rasa khawatirnya. Apa lagi di sini flat begitu sepi bagai tak berpenghuni, padahal Hellen bilang di lantai mereka penuh semua. Ya, flat Alya berada di ujung koridor sebelah kiri sementara Hellen sebelah kanan.
Untuk perabotan rumah tangga memang sudah tersedia sebagai fasilitas. Namun tidak ada alat masak yang bisa Alya gunakan sama sekali. Berbeda di rumah Christian, segala sesuatu nya sudah lengkap tersusun rapi pada tempatnya masing-masing.
"Apa yang kau pikirkan Al? " Menepuk pipinya pelan, Alya mengusir bayangan Christian dari kepalanya.
"Aku harus kuat, bukankah ini keputusan ku? " Kembali mengingatkan keteguhan Dirinya, Alya tidak boleh menyerah hanya karena masalah yang di timbulkan orang lain. Tentu itu bukan menjadi urusannya.
"Mungkin aku pesan barang-barang secara online saja, di sini jauh dari supermarket. " Gumam Alya, ia pun mulai membuka aplikasi belanja online one day service. Memesan kompor gas portabel, wajan, panci, pemanggang roti bahkan microwave. Tentu Alya masih memiliki tabungan khusus dari hasil penjualan lukisannya. Uang yang di kirim daddy nya masih utuh kecuali untuk bayar biaya sekolah.
"Selesai, aku ingin segera tidur." Alya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tercium bau khas laundry pada sprei nya, Alya membayar cukup mahal agar pemilik flat mau membersihkan tempat ini sebelum ia pindah.
***
Di kampus Alya sekarang lebih dekat dengan Luke, ia melakukan tugas yang di berikan Sir Alex. Tentu membuat Hellen kesal dan iri, Alya sudah mulai melupakan keberadaan dirinya. Di cafetaria Alya duduk Canggung bersama Luke, semua mata tertuju pada mereka.
"Al, menurutmu tema apa yang bagus untuk aku buat? " Luke menyodorkan tab miliknya, ia memperlihatkan beberapa contoh tema lukisan.
"Aku mengerti, idemu cukup mind glowing Al. " Dan Luke sudah yakin dengan keputusannya, membuat Alya tersenyum lega bisa membantu.
"Aku ke kelas dulu, hari ini mata kuliah digital marketing. Akan ada seminar dari salah satu pengusaha." Bangkit dari duduknya, Alya memasukkan buku juga laptopnya ke dalam tas.
"Siapa? " Luke bertanya karena penasaran.
"Tidak tahu, aku belum membaca pengumumannya. " Mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing.
Kelas kali ini dialihkan ke gedung teater pementasan seni peran. Alya yang selalu antusias tentu memilih tempat duduk paling depan agar bisa mencerna penyampaian ilmu oleh narasumber. Setelah semua orang berkumpul dan kondusif moderator mulai membuka acara.
"Kita akan menyambut pengusaha sukses di bidang desain grafis maupun interior, silahkan Tuan Christian Oliver." Pengumuman moderator seakan membuat kerongkongan Alya tercekat.
Ingin rasanya ia keluar ruangan atau setidaknya pindah ke belakang, sayang sekali mata mereka beradu secara cepat. Alya kembali mengenakan kaca matanya dari dalam tas, kali ini dengan frame lebih kecil menambah kesan intelek pada diri Alya.
"Baiklah, AS you know I'm Christian Oliver. Setahun belakangan aku dan temanku Daniel melebarkan sayap di bidang perusahaan desain interior dan grafis. Kami memberi peluang bagi kalian yang sedang meniti karir untuk bergabung, berlomba memenuhi kebutuhan orang-orang di era globalisasi. Aku sangat tertarik dengan hasil karya yang under rated, contohnya ini." Christian menekan tombol pada remote yang menampilkan sebuah lukisan pada screen besar di atas panggung.
__ADS_1
Alya tercengang melihatnya, dia tahu persis siapa pembuat lukisan penuh makna itu.
"Aku sangat beruntung bisa memiliki salah satu koleksi anonim, sayangnya dia malah menggeluti pasar gelap. Padahal tujuh ribu dolar ku untuk membeli lukisannya bisa ku lipat gandakan beberapa kali. " Semua orang yang hadir juga ikut kagum melihat lukisan koleksi Christian.
Lukisan yang menampakkan seekor burung keluar dari sangkarnya, terbang bebas menuju angkasa di langit fajar. Seolah burung itu siap menapaki dunianya. Alya meremass kedua tangannya, ia kesal mendengar Christian menyebutnya pelaku pasar gelap.
"Kalian tahu, jika saja aku mengetahui pembuat aslinya aku akan menjadikannya Seniman pribadiku. Dimana aku tengah mempersiapkan sebuah galeri seni sederhana untuk bisa di nikmati para pecinta seni lukis. " Fakta mengejutkan Alya dapat dari Christian, ternyata begitu besar pria itu menyukai sebuah karya seni. Pantas saja di hotel miliknya menyuguhkan beberapa koleksi memanjakan mata.
"Tapi aku juga memiliki option lain, kalian yang nanti akan mengikuti lomba tentu berkesempatan menjadi juara. Kami akan mengontrak pemenang pertama sebagai peserta magang di perusahaan OCompany." Ungkap Christian.
Meski Alya akan berjuang demi mendapatkan gelar juara, mendadak urung karena harus berurusan dengan Christian. Ia lega Luke mengikuti lomba, dia yakin Luke mampu memenangkannya.
Setelah sesi pemaparan materi, moderator mengambil alih memberi Christian waktu untuk minum. Matanya tak pernah lepas dari Alya. Penolakan yang ia berikan merupakan kesalahan terbesar dalam hidup Christian. Padahal jika saja malam itu terjadi mungkin Christian bisa mengikat Alya lebih erat.
"Bagi yang ingin bertanya silahkan kami beri kesempatan, tolong pertanyaan nya yang berbobot ok. " Canda moderator, karena biasanya jika narasumber memiliki paras rupawan mereka hanya akan melemparkan pertanyaan konyol. Seperti sudah menikah? Siapa pasangan yang beruntung itu? Sebutkan nomer telepon anda! Ya seputar kehidupan pribadi.
"Saya miss,,, " Seseorang mengangkat tangan, ternyata Luke juga mengikuti seminar itu.
"Silakan tuan Adison. " Christian menatap ke arah Luke yang duduk di barisan paling atas. Ia ingat laki-laki itu yang mendekati Alya tempo hari.
"Tuan Oliver, bagaimana anda menyesuaikan waktu pekerjaan dan urusan pribadi? Apa anda hanya bermain di luar demi melepas penat atau,,, " Belum selesai Luke bertanya Christian sudah berdiri kembali untuk menjawab.
"I don't play a game, aku menjalani hubungan yang serius. " Meski menjawab pertanyaan Luke sorot mata Christian jelas tertuju pada Alya yang duduk persis di bawah kakinya. Alya mendongak ke atas, dia menatap Christian intens.
"kau dan aku memiliki tujuan berbeda Chris. sepertinya keputusan ku benar untuk menjauh darimu. " batin Alya, ia sadar sudah terjerat pesona Christian. sebisa mungkin Alya menguatkan hatinya agar tetap teguh pendirian.
berbeda dengan Alya, Christian seolah memberitahunya kalau Christian tulus menyukai Alya. meski Alya tidak menginginkan sebuah ikatan hubungan yang jelas. sesuai saran Daniel, Christian akan mencoba mengikuti keinginan Alya lebih dulu.
"but, I can exchange the rules tergantung pasanganku. " senyum tipis terbit di wajah Christian, ia puas mengutarakan perasaannya pada Alya meski secara tersirat.
dalam hatinya Alya merasa hangat mendengarnya, seperti ada kupu-kupu bertebaran di dalam perut Alya. ternyata Christian rela mengubah keputusannya demi dirinya.
Dan acara pun berakhir, Alya bergegas meninggalkan teater. sementara Christian yang ingin sekali menyusul harus terhenti, para mahasiswa ber berondong mendekatinya meminta tanda tangan maupun foto bersama.
__ADS_1