
Christian yang kebetulan melintasi jalanan itu, ia terperangah kaget melihat mobil miliknya ringsek di bagian depan sebelah kiri. Yang artinya pengemudi bisa saja cidera parah akibat menabrak tebing.
"Alya,,, " Christian mematikan mesin mobil, dia dengan di penuhi rasa takut dan cemas keluar untuk menghampiri kerumunan. Tepat ia berdiri, Christian merem as kepalanya melihat Alya di angkut petugas medis dengan kondisi kening berdarah. Bahkan di lehernya sudah di pasang cervical collar.
"Dia kekasihku sir, Hati-hati! " Pintanya pada petugas yang akan menaikan brankar Alya ke dalam ambulans. Christian segera masuk kembali ke mobil untuk mengikuti ambulans menuju rumah sakit terdekat.
Karena jalanan lengang, mereka tiba dengan waktu singkat sekitar sepuluh menit. Alya di bawa ke ruang gawat darurat. Ternyata selain Christian supir yang hampir bertabrakan dengan Alya juga ikut.
"Tuan maafkan aku, tapi kekasihmu berada di jalur yang salah. Kau bisa mengecek kamera dasbor milik ku. Saat masih jauh aku berulang kali memberi peringatan." Dia menjelaskan kronologi kecelakaan tunggal yang di alami Alya. Jelas sang supir tidak mau di salahkan dan di jadikan tersangka.
"Ya, Terima kasih karena kau sudah mau menghubungi ambulans. Biar aku yang mengurus nya. Anda boleh pergi. " Setelah memberi keterangan pada polisi supir pun akhirnya harus pergi. Melanjutkan tugasnya sebagai kurir pengantar barang.
Dokter keluar guna memberitahu keadaan pasien pada walinya. Christian berjalan mendekat tak sabar.
"Pasien hanya mengalami gegar otak ringan tuan, untuk lebih spesifik kita bisa melakukan tes secara menyeluruh setelah pasien siuman. " Sedikit bisa bernafas lega, Christian mengucapkan terimakasih pada dokter yang sudah menangani Alya.
Selepas kepergian dokter Christian berniat melihat keadaan Alya.
Terhenti, tangan Christian hendak memegang handle pintu ruangan namun pikirannya tersadar. Alya kabur Sejauh ini dan mengalami kecelakaan tentu semua karena dirinya.
Ingatan Christian kembali ke masa itu. Dimana dirinya harus kehilangan seseorang yang pernah ia cintai. Gara-gara keegoisan dirinya, hanya mementingkan perasaan membuat Angel menerima begitu banyak masalah. Christian terpaksa menerima kenyataan Angel meninggal setelah mengalami pendarahan pada proses abor si.
Dan itu di sebabkan oleh penolakan kedua orang tuanya.
"Maafkan aku Al,,, " Gumam Christian. Ia kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam. Terlihat Alya tengah tertidur setelah mendapat perawatan terbaik.
Ia duduk di kursi sebelah brankar. Memandangi wajah Alya dengan perban menempel di kening sebelah kirinya. Ingin menggenggam tangan Alya namun Christian takut malah membangunkannya.
"Aku akan memaafkan kesalahan mu Al. Membiarkanmu menjadi orang asing, mari kita tidak bertemu asal kau baik-baik saja tanpaku." Tekad Christian sudah bulat, dia mengabulkan keinginan Alya untuk berpisah.
Tak terasa, air mata Christian menetes begitu saja merasakan sakit begitu mendalam. Jika Angel dia tidak melihat wujudnya lagi, sedangkan Alya Christian harus mengabaikan nya jika sewaktu-waktu mereka bertemu tanpa sengaja.
Meski masih ingin menemani Alya, Christian akan menggunakan logikanya mulai sekarang. Ia keluar untuk menelepon Daniel.
"Halo Niel, kau beritahu utusan tuan Rodrigo untuk menjemput Alya di sini. Ku kirimkan alamatnya segera. " Lebih baik orang tuan Rodrigo langsung yang mengurus Alya. Karena Christian tidak akan pernah sanggup berlama-lama dengan Alya di saat hubungan mereka telah kandas.
Berjalan menyusuri lorong kecil Christian masuk ke dalam mobil. Menunggu hingga utusan yang akan menjemput Alya tiba. Biarlah dia mengawasi tanpa sepengetahuan nya. Christian masih khawatir Alya kabur lagi.
Daniel mengerti keinginan Christian. Mungkin keduanya sepakat berpisah demi kebaikan masing-masing. Namun jelas pria itu masih menunjukkan rasa peduli untuk Alya.
__ADS_1
"Jadi beginikah akhirnya? " Gumam Christian memandang langit malam di kota London. Daniel ikut merasakan kesedihan Christian dari kejauhan.
****
Alya keluar dengan duduk di kursi roda, di dorong pria berbadan tegap berotot besar pada kedua lengannya. Setelah mendapat sarapan dan hasil tes menyeluruh Alya di bawa pulang oleh nya.
"Pak Ben, apa benar tidak melihat Christian?" Sebelum Ben membantunya naik ke kursi penumpang di belakang, Alya bertanya ke sekian kalinya.
"Tidak ada siapapun nona, Tuan Daniel yang menelepon ku tadi malam. Mungkin tuan Daniel melacak mobil milik tuan Christian yang di bawa nona." Alya mengangguk samar membenarkan jawaban pak Ben.
"Benar pak Ben, mungkin aku hanya mimpi semalam. " Lemas Alya kecewa.
Ben pun segera memindahkan Alya secara hati-hati.
Tanpa Alya sadari, orang yang ia cari masih duduk setia di balik kemudi memperhatikan nya. Sejak kedatangan Ben yang di yakini Christian merupakan pesuruh tuan Rodrigo, Christian masih belum ingin pergi dari sana. Menunggu Alya keluar hingga pagi hanya memastikan perempuan itu baik-baik saja.
Di perjalanan Alya hanya melamun menyandarkan kepalanya yang masih berdenyut. Rasanya seperti nyata, Christian mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Namun ketika ia bertanya pada suster hanya supir truk yang sempat menunggunya. Tandanya Christian tidak menyusul sama sekali.
Ada rasa sakit membayangkannya, bukankah memang keputusan Alya meminta Christian menjauhinya?
Lalu kenapa Alya sedih saat Christian tidak peduli dengan keadaannya?
"Maaf nona, tuan besar menanyakan kabar anda? Soal kepulangan ,,, " Suara pak Ben menghentikan lamunan Alya. Ia tersentak kaget, baru ingat hal itu.
"Ah bilang saja aku mengalami kecelakaan ringan pak Ben. Bantu aku mengganti mobil Christian yang rusak. " Pinta Alya mencoba bersikap logis.
"Baik nona." Balas pak Ben.
Kali ini Alya benar-benar akan pindah dari flat milik Christian. Tuan Rodrigo ayahnya sudah menyiapkan tempat untuk Alya, tak jauh dari kampusnya.
Pak Ben membantu Alya mengemas barangnya, bahkan beliau juga yang mencarikan Alya tempat tinggal baru.
"Pak Ben punya anak? " Alya berjalan di depan ketika Pak Ben di belakang nya membawa koper besar. Keduanya menaiki tangga karena lift sedang dalam perawatan sementara.
"Ya nona, tuan besar membantu biaya kuliahnya. Mungkin satu tahun lagi Leila bisa wisuda." Alya mengangguk, dia merasa iba karena pak Ben harus berjauhan dengan keluarganya.
"Terima kasih pak Ben sudah membantu menjagaku. " Ucap Alya tulus.
"Sama-sama nona, sudah menjadi tugasku." Sahut pak Ben.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di depan apartemen tipe studio.
Pak Ben membukakan kunci, mata Alya langsung menyapu seluruh ruangan. Berukuran lima kali empat meter, memang lebih kecil di banding milik Christian. Tapi Alya sangat suka dengan tata letaknya.
Kamar mandi di sebelah kiri berhadapan dengan mini kitchen set. Uniknya terdapat sliding door sebagai skat ruangan. Ada tempat tidur menghadap jendela lebar, meja makan dengan dua kursi di sebelahnya. Sebuah sofa di sudut jendela akan menjadi spot favorit Alya. Apa lagi ada pintu untuk menikmati pemandangan di balkon.
"Wah pilihan pak Ben terbaik. Ini bagus sekali. " Alya berdecak kagum mengamati ruangan yang di dominasi warna putih itu. Hanya lemari pakaian dan sofa yang berwarna hitam.
"Tempat di sini memang berkualitas nona. Semoga nona betah dan bersenang-senang di sini. Mahasiswa juga butuh hiburan sejenak agar bisa semangat belajar. " Imbuh pak Ben memberi saran. Lalu beliau mulai membantu nona nya merapikan keperluan seperti alat masak dan bahan makanan. Memperlakukan Alya seperti putrinya sendiri.
"Pak Ben benar. Aku akan mengingat nya." Alya tersenyum simpul menanggapi.
Selepas pekerjaannya selesai pak Ben akan kembali ke tempat tinggal nya. Tuan Rodrigo bahkan memberinya biaya sewa. Menjamin kehidupan pak Ben di luar gaji selama menjaga Alya. Jadi jelas pak Ben akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia bahkan memiliki sambilan sebagai guru les gitar agar tidak terlalu bosan saat libur menjalankan tugas.
Alya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang nyaman setelah meminum obatnya. Suara pesan masuk mengharuskan Alya kembali duduk.
"Nona, lukisan anda masuk tiga besar dan aku di minta hadir di jamuan makan malam. Apa yang harus ku lakukan? " Ternyata Jeni yang mengirimi Alya pesan. Alya pun segera membalasnya,
"Datang saja Je, akan ku siapkan gaun dan perias untukmu. Bersikaplah senatural mungkin. Aku pasti menjagamu dari dekat." Perintah Alya.
Ia pun segera mencari gaun lewat media sosial sebuah salon kelas menengah. Alya juga perlu memikirkan budget yang ia keluarkan. Jika sudah lolos ke tiga besar artinya Alya sudah mengantongi setidaknya sepuluh ribu dolar bila berakhir di posisi ke tiga. Di tambah hasil penjualan lukisan itu sendiri. Mungkin Alya bisa mendapat tambahan sekitar lima ribu dolar. Sudah matang ia pikirkan untuk upah Jeni.
Alya jelas mengabaikan keuntungan yang Christian janjikan. Dia akan terus melebarkan sayapnya tanpa harus orang-orang mengenalinya. Namun ia perlu berhati-hati agar tidak menyebabkan masalah di kemudian hari.
Bukan nilai uang yang penting bagi Alya. Melainkan rasa kemanusiaan Alya agar bisa membantu kesulitan orang lain.
"Bertahan lah sebentar lagi. " Mohon Alya pada Jeni meski sambungan mereka sudah terputus.
di ruang kerjanya, Christian masih bisa fokus meski tengah patah hati. bagaimana tidak, dia melihat jejak pelukis anonim yang ternyata mengikuti kompetisi. ada satu kemiripan dari setiap lukisannya, yaitu dia akan membubuhkan inisial P. entah itu namanya, nama kota ia dilahirkan atau apa?
sayangnya amarah Christian membuncah kala mendapati potret Alya terpampang begitu besar. dia bahkan tidak suka mengetahui siapa pelukisnya. Like Adison, laki-laki yang selalu mendekati Alya.
"Niel, jadikan saja ini pemenangnya. aku akan memajang wajah Alya di kamarku. aku tidak rela dia di perebutkan." protes Christian melampiaskan kekesalannya.
"tapi Chris, lalu bagaimana nasib pelukis anonim ini? bukankah kau sangat ingin mengetahui identitasnya? " ya, Christian memang berencana menjadikan lukisan Alya sebagai pemenang. agar Christian tahu siapa pembuat sesungguhnya . apa lagi dia jarang mengeluarkan hasil karyanya.
"tentu aku akan segera mengetahui nya Niel. aku memiliki firasat bagus. " seringai Christian mengundang rasa penasaran Daniel.
nanti malam mereka akan mengadakan jamuan untuk ketiga kontestan yang berhasil menjadi tiga besar. Luke, pelukis profesional, dan satu lagi atas nama Jeni. dan Christian mencurigai gadis bernama Jeni. selama penjurian Jeni terlihat gugup tanpa sebab, padahal dia bisa memaparkan tema dengan sangat baik.
__ADS_1