My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
berjanji yang terakhir


__ADS_3

Setibanya mobil di tepi jalan, Alya keluar lalu mengambil belanjaan di kursi belakang. Tak ia sangka, Christian juga ikut menyusul langkahnya.


"Kenapa kau mengikuti ku? Lebih baik kau pulang saja. " Mengetahui Christian akan masuk ke rumahnya Alya melarang dan mengusir nya.


"Tidak, aku takut terjadi sesuatu padamu. Jangan menolak bentuk peduli ku terhadap Seniman pribadinya. " Mendengar jawaban logis Christian, Alya meringis merasa kecewa Christian hanya bersikap profesional.


"Terserah kau saja, awas kalau kau mengganggu ku. " Melebarkan matanya Alya memperingati Christian. Pasalnya dia takut Christian melanggar batas selama mereka bersama.


"Baiklah." Christian mengalah menuruti keinginan Alya.


Memasuki apartemen kecil Alya, Christian masih bernafas lega karena itu cukup rapi dan bersih. Setidaknya Alya betah tinggal disana meski jauh dari pengawasannya. Alya meletakkan makanan cepat saji di meja depan televisi.


Ia berjalan menuju lemari, membuka lalu mencari pakaian rumahan untuk ia pakai. Christian duduk di tepi tempat tidur memperhatikan gerak-geriknya. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka, Alya bersikap apa adanya. Membuat Christian menarik sudut bibirnya keatas.


"Aku ingin mandi dulu, tolong carikan film bagus selagi kau tidak melakukan apapun." Pinta Alya pada Christian, mereka saling tatap hanya untuk interaksi sederhana. Christian mengangguk, Alya akhirnya masuk ke kamar mandi.


Mengedarkan pandangannya, Christian tidak mendapati hal aneh tentang Alya. Sepertinya dia memang sangat dingin dan tertutup. Namun ia kembali teringat, selama berhubungan dengannya Christian memang tidak pernah sekalipun memberikan Alya hadiah atau barang yang bisa di jadikan kenangan.


Tak ingin di marah Alya, Christian bergegas duduk di sofa mengambil remot untuk mencarikan film menarik yang akan mereka tonton.


Setelah sekian lama mereka menahan diri, Christian memiliki kesempatan berduaan dengan Alya malam ini. Dan Alya seperti sengaja memberinya kesempatan.


Ketika asik memilih, ponsel Alya berdenting menandakan pesan masuk. Christian mencondongkan tubuhnya penasaran. Ia bisa melihat kontak bernama Luke mengirimi Alya sebuah foto dengan sebaris caption,


"This place is incredible Al, tak sabar bertemu denganmu disini."


Bisa Christian tebak, jika Alya dan Luke sering bertukar kabar. Sementara dirinya hanya bisa menahan kesabaran untuk tidak menghubungi Alya di kala rindu menyerang.


Lima belas menit berselang, Alya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Aroma sabun di tubuhnya menyeruak masuk ke dalam hidung Christian.


"Sial." Umpat nya dalam hati, begini saja gairah Christian sudah terpanggil. Apa lagi Alya hanya mengenakan one set rayon pendek berwarna dusty pink.


"Ayo mulai filmnya. " Perintah Alya melihat Christian hanya melamun saja.


"Ok." Jarinya menekan tombol play. Keduanya duduk di sofa, berdempetan tanpa ada yang menyadari hal itu. Christian mengulum senyum puas.

__ADS_1


"Aish,,, kenapa kau memilih genre horor?" Belum apa-apa Alya sudah menutupi wajahnya kaget melihat cover film di layar.


"Ini seru Al, semua orang membahasnya." Malah tertawa melihat tingkah Alya, yang menutup matanya ketakutan bahkan film baru saja di putar.


Mengalami berapa kali jump scare, Alya selalu reflek berbalik menyenderkan kepalanya di lengan Christian. Padahal bila di pikir, Alya bisa saja meminta Christian mengganti judul film. Tapi Alya seakan menikmati kebersamaan itu. Alya nyaman Christian menemaninya.


Mengalihkan rasa takut, Alya mengambil snack yang sudah ia beli menggunakan uang Christian. Menikmatinya di kala film tidak terlalu intens pada sosok setan.


"Makanlah, aku membeli untuk mu juga. Aku tahu kau belum makan bukan? " Karena Christian hanya fokus menatap layar, Alya menyodorkan burger pesanannya untuk Christian.


"Thanks." Ucap Christian menerima lalu menyantapnya.


Aneh bukan, mereka sehangat itu setelah saling menghindar dalam kurun waktu yang cukup lama. Kenyataan memang tidak bisa di pungkiri, keduanya sama-sama memendam kerinduan namun perasaan gengsi berhasil mengalahkannya.


Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersama menonton film horor. Alya malah tertidur di paha Christian. Tak tega membangunkannya, Christian menggendong Alya memindahkan tubuhnya ke tempat tidur.


Alya berbaring miring ketika Christian baru saja merebahkan nya. Pria itu juga menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Alya. Sebelum pergi Christian menyempatkan duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus rambut Alya.


"Sweet dream baby,,, " Ucapnya pelan, penuh rasa sayang. Lalu Christian bangkit, langkahnya terhenti ketika Alya menahannya dengan menggenggam tangan Christian.


"Are you sure? " Christian memastikan. Alya mengangguk mengiyakan.


Christian pun memilih ikut berbaring bersama Alya, karena tubuhnya juga sudah sangat lelah menjalani aktifitas sehari penuh. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Deru nafas hangat saling beradu sama seperti tatapannya keduanya.


"Have you been well? " Tanya Alya pada Christian, dia menggeleng karena setelah Perpisahan menyakitkan itu Christian seperti terjebak dalam kesendirian tak berujung. Meski ada Sera hatinya tetap merasa kosong. Tidak ada lagi Alya di kehidupan Christian.


"Why? It's hurt me Christian, ketika kita bertemu kau selalu bersikap kau baik-baik saja tanpaku. Aku pikir kau sudah bisa menerima Sera." Alya membelai pipi Christian, memberinya ketenangan di saat pergolakan batin terjadi. Christian memejamkan matanya menahan gejolak yang menyeruak mendambakan sentuhan lebih.


"Don't seduce me Al,,, or you'll be in danger." Mendengar ancaman Christian Alya malah tersenyum simpul.


"Christian, ayo kita melakukannya untuk yang terakhir kali. Aku akan berhenti mengganggumu. " Tiba-tiba hatinya mengharapkan sesuatu dari Christian. Mungkin begini akibatnya memendam rindu tak terucap. Alya sangat mendominasi hasrat bercinta keduanya.


Dan malam itu, Christian habiskan bersama Alya. Melakukannya beberapa kali di tempat berbeda. Alya begitu pandai memuaskan Christian, dan sebaliknya. Menjerit, melenguh menandakan kenikmatan mereka rasakan. Christian tak hentinya menatap mata Alya ketika perempuan itu berada di atasnya.


"Apa yang kau inginkan Al? " Batin Christian di penuhi tanda tanya. Christian sendiri masih bingung dengan sikap ambigu Alya.

__ADS_1


"Ah, Christian,,," Mengetahui Alya akan tiba, Christian menaikan tempo menghujam Alya di bawah kungkungan nya.


"Alya,,, sebut namaku! " Perintahnya terus menghentakkan miliknya.


"Ini gila Christian, please, please,,, " Tubuh Alya menggelinjang hebat tak kuasa menahannya lagi. Dan rasanya begitu hangat ketika Christian berhasil menyiram rahimnya.


Nafas mereka terengah-engah setelah menyelesaikan sesuatu yang telah lama mengganggu pikiran . Bagi Alya tidak masalah jika Christian hanya memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan kepuasan. Dan Christian tahu jika Alya sudah memiliki perasaan untuknya. Biarpun hubungan mereka tidak ada tujuan, setidaknya Christian masih bisa bertemu dengan Alya lagi.


Menjelang pagi, Christian benar-benar pergi dari rumah Alya. Meninggalkan nya dalam keadaan tubuh polos tertutup selimut. Tak lupa sebuah kecupan di kening Alya ia daratkan.


"I love you Al,,, " Tidak ada lagi harapan Christian tentang Alya yang mengandung benihnya. Dia tidak mau berharap banyak atau akan kembali kehilangan Alya.


Sayangnya, kepulangan Christian diketahui pak Ben yang hendak mengecek keadaan Alya. Dia tahu Alya sempat pingsan di tengah kegiatan amal. Ia menunggu tak jauh berharap Christian dan Alya tidak melewati malam bersama. Sialnya harapan pak Ben terpatahkan. Nona mudanya kembali menggila. Susah payah pak Ben menutupi kebebasan Alya dari tuan Rodrigo, pada akhirnya dia terpaksa memberitahu bos besar tentang kelakuan putri bungsunya.


"Halo tuan, maaf mengganggu. Ini salahku tuan, tidak bisa menjaga nona dengan baik. Mereka kembali bersama. " Lapor Pak Ben pada tuan Rodrigo.


Paris,


Setelah menerima kabar tentang Alya. Rodrigo tidak bisa melanjutkan tidurnya. Ia memilih menyulut sebatang rokok di balkon kamar. Berpikir keras mencoba mengerti kemauan Alya.


"Kau menghancurkan Theo, bagaimana nasib mereka di tanganmu Al? " Lirih Rodrigo menghempaskan asapnya ke udara.


"Apa anak itu membuat ulah lagi? " Terdengar suara Patricia di ambang pintu membuyarkan lamunan sang suami. Berbalut jubah tidur, Patricia tak sengaja mendengarkan percakapan suaminya dan utusan yang menjaga Alya di sana.


"Aku akan mencoba memindahkan Alya, meski sulit setidaknya di sini dia akan terjaga. Aku tidak mau Alya menjadi budak nafsu Christian. Kau harus bisa membujuknya. " Titah Rodrigo merupakan mutlak tak bisa di bantah siapapun.


"Apa kau tidak pernah penasaran kenapa Alya bisa seliar itu? Aku tahu jawabannya sejak dulu sekali. Dan kitalah yang membuatnya seperti sekarang Tuan Rodrigo yang terhormat. " Merasa kesal akan keputusan egois Rodrigo, Patricia meluapkan emosinya yang telah lama tertahan.


"Kau pikir aku tidak menyesal Pat? Aku membuang waktu tiga belas tahun yang berharga, hanya karena ketakutan kita. Takut Grace menolakmu dan juga Alya. Semua sudah berlalu, aku hanya ingin melindungi dia. Kalau kau berpikir tindakan ku salah apa aku harus diam saja Alya menjadi simpanan Christian? " Patricia terisak mendengar kalimat penghinaan Rodrigo terhadap anaknya sendiri.


"Terserah kau saja, asal kau jangan pernah menyakiti anakku Igo. " Mata Patricia seolah memohon dengan sangat. Ketika Patricia memanggilnya dengan sebutan itu, artinya Patricia sedang sangat kecewa padanya.


"Aku tahu itu, ayo tidurlah kembali. Ini masih sangat pagi. " Rodrigo merangkul pundak Patricia menuntunnya kembali ke tempat tidur mereka.


Sementara di kamarnya, Alya terbangun ketika tenggorokan nya merasa kering. Ia tidak melihat Christian masih di sana. dan pada akhirnya Alya sadar, mereka hanya sama-sama saling membutuhkan pelampiasan. tidak ada harapan untuk hubungan yang lebih serius.

__ADS_1


"Lalu kenapa aku merasa sakit,,, " gumam Alya seraya meraba dadanya.


__ADS_2