My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
episode 59


__ADS_3

Pagi ini begitu cerah, keramaian terjadi di area restoran hotel. Beberapa keluarga maupun pasangan tengah asik menikmati sarapan mereka. Buffett menyediakan berbagai macam menu makanan. Mulai dari pastry, salad, cream soup, main course dan beberapa jenis dessert.


"Andai Dylan ada di sini... " Menikmati cream soup dan baguette Grace jadi mengingat anak laki-laki nya. Liam menggenggam tangan istrinya Grace.


"Week end nanti, kita ajak semua keluarga berlibur disini. " Grace mengembangkan senyumnya mendengar rencana Liam. Sepertinya akan seru kalau mereka bisa menginap sama sama di hotel. Berenang, makan bersama dan jalan jalan mengelilingi kota Paris.


"Baiklah, aku setuju. "


Ketika mereka menikmati sarapan seorang perempuan berhenti tepat di meja Liam. "Hai Liam, akhirnya kita bertemu kembali." Sapaan itu sangat ramah namun Liam merasa terganggu olehnya.


"Ah tuan Liam, selamat pagi. Putriku Brigitte sangat ingin mengobrol dengan anda, maafkan tingkahnya. Dia selalu begitu saat tertarik pada seorang pria. " Dominic ayahnya menyusul setelah tahu tujuan Brigitte.


Melihat reaksi dingin Liam Grace berinisiatif membalas teguran ayah dan anak itu. "Selamat pagi tuan Dominic, nona Brigitte. Silakan menikmati sarapan pagi kalian. " Grace tersenyum kaku mempersilahkan keduanya meninggalkan meja mereka. Sepertinya Liam tidak mau berbasa-basi sedikitpun.


"Kau sekretaris nya Liam bukan? Tolong buatkan jadwal makan malamku dengannya, ada yang perlu aku bahas dengan tuanmu." Seloroh Brigitte tanpa tahu siapa Grace sebenarnya, membuat Liam melotot tajam akan marah namun Grace menggenggam tangannya meminta Liam bersabar. Brigitte melihat itu jadi ikut menatap tajam Grace. Grace bangkit dari kursinya, ia mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Aku Gracia Rodrigo, istri Liam dan ibu dari anaknya. Aku juga bertugas membantu suamiku di kantor. Tapi sayang, jadwal Liam sudah sangat penuh beberapa bulan ke depan. " Liam hanya tersenyum menyaksikan keberanian Grace membuka identitas nya pada perempuan yang jelas menggoda dirinya. Brigitte tampak emosi dan kaget bersamaan, begitupun Dominic. "Kapan kalian menikah? Kalian sedang tidak bersandiwara bukan? " Brigitte masih belum Terima, Grace pegal tangannya terus di abaikan. Ia pun menarik tangan Brigitte untuk bersalaman dengannya secara paksa. "It's a secret nona Brigitte. Kau bisa menghubungi ku untuk urusan pekerjaan, enjoy your breakfast. " Grace kembali duduk menikmati secangkir kopi hitam, sepahit wajah Brigitte yang patah hati. Karena tak tahan menanggung malu, mereka akhirnya memilih pergi mencari meja kosong.


"Good Girl,,, " Liam mengusap ujung kepala Grace bangga padanya.


"Dia mau merebut mu? Jelas aku akan menyingkirkan siapapun yang berani menantang ku. " Grace menggelengkan kepalanya tak percaya, pesona Liam masih setajam dulu di kalangan anak perempuan koleganya.


"Haha you're so cute saat cemburu. " Liam tertawa lepas melihat ekspresi jengkel istrinya.


"Ayo, aku ingin mengantar Dylan ke sekolah sebelum pergi bekerja. " Liam mengangguk mengusap sudut bibirnya menggunakan napkin sebelum menyusul langkah istrinya.


"Kerja sama dengan Noel,,, " Di perjalanan Grace berniat membahas masalah mereka dengan Noel. Ia masih belum bisa melupakan kejadian semalam, Grace yakin Noel hanya sedang emosi dan tak berniat menyakitinya.


"It's over,,, " Jawab Liam singkat. Grace mengernyit keningnya tak mengerti. "Maksud mu Noel membatalkan kerja sama? Liam kau butuh tempat di Le Havre, ini semua,,, "


"Sst,,, tenanglah Grace. Aku dan Noel sudah mengobrol menyelesaikan masalah kita, dia tetap menerima proposal ku. Kita bisa berteman baik dengannya, jadi jangan ada lagi rasa tak nyaman diantara kalian berdua." Tanggapan Liam membuat Grace tersenyum bangga, ia pun menyenderkan kepalanya di lengan Liam yang fokus menyetir.

__ADS_1


"Terima kasih, karena kau sudah bersikap bijak. Noel memang pria yang baik, aku sudah menganggapnya kakak laki-laki ku." Mereka saling menautkan jemari masing-masing. Liam menyempatkan mengecup ujung kepala Grace.


"Kau menyanjung pria lain di hadapan suamimu, kali ini aku maafkan." Grace tersenyum melihat sifat Liam yang perlahan mulai bersikap dewasa meski kadang terlalu posesif.


Mobil Liam tiba di depan gerbang rumah mertuanya. Kebetulan Dylan dan Sam baru akan berangkat ke sekolah.


"Mommy, daddy,,," Dylan berlarian menghampiri orang tuanya, dia langsung masuk ke dalam pelukan Grace.


"I miss you mommy, i miss you daddy. " Liam mengambil alih untuk menggendong anak pertamanya. Ia yakin setelah kemarin menghajar Grace habis-habisan akan ada adik Dylan menyusul.


"We miss you to Dylan, kau mau ke sekolah?" Tanya Liam, Dylan mengangguk antusias.


"Kalau begitu biar kami antar. " Grace mengusap kepala Dylan yang memiliki rambut tebal dan hitam pekat.


"Aku ikut nona, aku akan menjaga Dylan selama di sekolah." Samantha buka suara, dia memiliki firasat buruk akan menimpa keluarga bahagia di hadapannya.


"Biar aku yang menyetir. " Zen menawarkan diri karena mereka semua akan pergi, terlihat juga gurat kelelahan di wajah Liam. Zen khawatir kakak sepupunya kelelahan.


Selepas kepergian mereka, Nyonya Coco turun dari mobil tergesa-gesa menuju kediaman tuan Rodrigo. Untungnya masih ada Patricia yang menjaga rumah, kebetulan suaminya harus mengantar Alya ke sekolah untuk urusan nilai raport.


"Tenang nyonya, ada apa? Mereka baru saja pergi mengantar Dylan sekolah. Satu blok dari rumah ini." Terang Patricia memberi tahu alamat sekolah Dylan.


"Ethan, dia kabur dan akan membalas entah pada siapa maksudnya. Tolong jaga rumah ini siapa tahu dia datang kesini. " Setelah mengatakan hal mengejutkan sekaligus menakutkan Nyonya Coco pergi untuk menyusul anak kandungnya.


Sesuai peringatan Nyonya Coco, Patricia memerintah kan para penjaga untuk memperketat keamanan rumah. Tak lupa ia juga menghubungi sang suami.


Sayangnya Ethan sudah menunggu di sekitar sekolah Dylan tanpa sepengetahuan Samantha. Dia bahkan menyamar menjadi petugas kebersihan jalan agar tidak ada yang mencurigai nya.


Liam dan Grace mengantar Dylan hingga pintu gerbang sekolah, mereka menciumi Dylan penuh kasih sayang.


"Jadi anak baik ya Dy, nanti mommy akan jemput kamu lagi. " Grace memeluk tubuh kecil Dylan dengan cara berjongkok.

__ADS_1


"Siap mommy, semoga di sini sudah ada calon adik ku. " Dylan menyentuh perut Grace berharap doa nya akan terkabul.


"It's on the way Dy, masuklah! " Dylan mengangguk menuruti perintah orang tuanya. Samantha mengikuti dari belakang namun ia menengok sesaat untuk memastikan keamanan atasannya. Mata Samantha menyipit ketika melihat sosok yang seperti tidak asing sedang berjalan buru buru mendekati Liam. Di belakang punggungnya ia menyimpan sebilah pisau, Sam tahu apa yang akan terjadi segera berlari menghalau Ethan. Dan ketika Ethan berniat menusuk Liam dia malah mencelakai Samantha saudari asuhnya.


Sleb,,,


Liam dan Grace terperangah kaget menyaksikan kejadian memilukan di depan mata mereka sendiri. Sam terkulai lemah tak berdaya dalam pangkuan Grace yang berhasil menahannya. Liam segera menahan lengan Ethan yang ikut terkejut mendapati dirinya salah sasaran. Harusnya Liam yang celaka, bukannya Samantha. "Sam, bangunlah! Liam cepat panggil ambulance. " Teriakan Grace mengundang perhatian Zen yang sedang mengangkat telepon di dalam mobil. Ia buru buru keluar dan mendapati gadis yang sudah mencuri hatinya sedang kesakitan.


"Nona, apa yang terjadi? " Zen masih tak percaya.


"Zen, cepat bawa Sam ke rumah sakit. Dia di tusuk orang." Perintah Grace, Zen mengangguk kemudian membopong tubuh Samantha yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah di bagian perutnya.


Grace merasa dejavu, nasib naas menimpa Samantha juga pernah di alami olehnya. Ia memfokuskan diri mencari keberadaan Liam, mungkin dia sedang menghabisi orang yang sudah tega mencelakai Samantha atau lebih tepatnya berniat melukai suaminya.


"Liam awas! " Teriak Grace saat sadar sebuah mobil melaju dengan kencang menuju arah Liam dan pria yang ternyata Ethan sedang saling mencekik leher masing-masing.


"Tolong jaga Samantha! Dia tidak bersalah." Ucap Ethan sebelum dia mendorong tubuh Liam sekuat tenaga agar terhindar dari tabrakan.


Bruk...


Mobil menghantam Ethan dengan sangat keras hingga terpental cukup jauh. Liam berbalik kemudian menghampiri Ethan yang bersimbah darah di bagian kepala.


"Ethan, bertahan lah! " Liam mengguncang pundak Ethan agar dia tetap terjaga.


"I'm sorry Liam, karena diriku kau harus terpisah dengan Grace bahkan kehilangan bayi kalian. I swear, aku tidak pernah menyentuh istri mu sedikitpun." Setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan Ethan langsung terpejam. Terdengar suara ambulans tiba di tempat kejadian. Untungnya sekolah sudah di mulai, Anak-anak tidak harus menyaksikan kejadian mengerikan ini.


Ethan menyesal karena tindakan jahatnya Samantha lah yang harus celaka. Bagaimanapun Ethan sangat menyayangi adiknya. Sama halnya Liam, dia menghargai Ethan sebagai saudara tirinya. Nyonya Coco bahkan menangis melihat keadaan Ethan, dia datang begitu terlambat untuk mencegah semuanya.


"Mom, tenanglah. Ethan akan baik-baik saja." Liam merengkuh pundak ibunya untuk menenangkan. Nyonya Coco menghangat ketika mendengar Liam memanggilnya mommy.


"Thanks God, kalian tidak terluka." Sejujurnya Nyonya Coco lebih mengkhawatirkan Liam dan Grace, tapi melihat Ethan dia sangat sedih dan iba. Ethan juga anaknya meski tidak terlahir dari rahimnya.

__ADS_1


"Baby, lebih baik kau pulang ke rumah. Biar aku dan mommy menyusul ke rumah sakit menggunakan taksi." Pinta Liam pada Grace, tak ingin istrinya terlalu lelah dan shock.


"Kabari aku kondisi Samantha. " Grace menerima kunci mobil mertuanya, ia langsung pulang ke rumah.


__ADS_2