My lovely PA (personal assistant )

My lovely PA (personal assistant )
Paman Theo


__ADS_3

Kamar rawat Grace semakin ramai tak terkendali, di tambah kedatangan keluarga Oliver. Mereka memberi hadiah begitu istimewa untuk adiknya Dylan, sebuah stroller dari merek Dior.


"Terima kasih atas kadonya uncle, baby Yuna pasti akan menggunakannya dengan baik. " Ucap Grace, dia duduk bersandar di dampingi Liam. Sementara baby Yuna berada di gendongan Nyonya Aline.


"Oh this baby girl is so cute. Christian kapan kau akan memberi kami cucu seperti Dylan dan Yuna? " Aline memainkan jemari kecil nan lentik milik bayi perempuan itu.


"Uhuk uhuk,,, " Alya terbatuk saat meneguk minum di sofa tamu. Patricia mengusap pelan punggungnya.


"Pelan-pelan Al, kau ini selalu ceroboh." Tanpa sadar Patricia menilai ketidak berdayaan Alya sebagai sesuatu yang salah.


"Momm, can you stop it? " Teriak Alya frustasi. Semua orang yang ada di sana kaget mendengar kemarahan Alya.


"Kau selalu mengatakan aku ceroboh, ya kau benar. Aku sangat sangat ceroboh dalam hal apapun, kau puas? " Dada Alya naik turun menahan emosinya, namun air mata telah lolos meluncur begitu saja.


"Al, mommy mu tidak bermaksud,,, " Bela Rodrigo, Alya beranjak dari duduknya lalu keluar meninggalkan ruangan.


Kejadian itu membuat suasana menjadi canggung. Lekas pamit, keluarga Oliver tidak mungkin menonton kisruh rumah tangga keluarga Rodrigo.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Theo pasti sudah menunggu. " Ajak Oliver menyudahi kunjungan mereka.


"Terima kasih sekali lagi, uncle dan bibi Aline." Grace melepas kepulangan mereka, sementara tuan Rodrigo dan Patricia sudah keluar menyusul Alya sejak tadi.


"Aku akan mengantar kalian. " Liam terpaksa meninggalkan Grace, dia tak enak hati karena keluarga Oliver harus menyaksikan kejadian tadi.


Christian melihat sikap Alya lebih berani berekspresi belakangan ini. Mungkin Alya sedang tertekan oleh suatu hal. Saat keluar dari rumah sakit, Adrian tak sengaja melihat sosok Christian tengah menghampiri Alya di parkiran. Wanita itu hendak masuk ke dalam mobil.


"Al,,, " Tangan Christian menahan pintu mobil agar Alya tidak jadi.


"What? Aku sangat lelah Christian, bisakah kau berhenti mengganggu ku? " Alya terdengar memelas padanya, namun Christian malah gencar menahannya.


"Alya, katakan sekali lagi kalau kau tidak menerima lamaran ku? Aku akan berhenti, dan kau bebas melanjutkan hidupmu." Tiba-tiba Christian memiliki dorongan mengatakan hal itu.


"Jadi dia akan mencampakkan ku, di saat aku mengandung anaknya? " Batin Alya, merasa sakit di ulu hatinya. Ada perasaan takut Christian meninggalkan dan melupakan dirinya.


"Ya, aku tidak berniat menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Kau puas? " Alya menyingkirkan tangan Christian, iapun masuk dan mulai menyalakan mesin mobil.


"Sial." Umpat Christian menjambak rambutnya. Dia benar-benar kehilangan akal untuk membujuk Alya.

__ADS_1


"Christian,,, " Seseorang menyapa Christian yang masih terjebak oleh emosinya sendiri. "Adrian, jadi kau bertugas di sini? " Mungkinkah dokter yang Alya temui tadi adalah Adrian pria yang berdiri di hadapannya?


"Ya, aku baru pindah setahun yang lalu. Sudah lama kita tidak bertemu Christian. Sejak kejadian itu,,, " Kalimat Adrian menggantung, seakan enggan meneruskannya.


"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku pergi dulu. " Christian pamit sebelum berbicara panjang lebar dengan Adrian.


"Jadi, kau melakukan kesalahan yang sama seperti dulu Chris? Semoga kali ini kau lebih beruntung. " Gumam Adrian menatap mobil Christian yang keluar dari area rumah sakit. Adrian mengepalkan tangannya, gejolak hatinya hadir kembali setelah bertahun-tahun ia tutup rapat-rapat.


****


Sebelum turun, Sera menyempatkan mengecup pipi Christian. Keduanya masih duduk di mobil, Christian mengantar Sera ke bandara untuk kembali ke London. Merasa berat meninggalkan Paris, Christian berniat mengajak Alya juga. Lagi pula Alya pulang hanya untuk menenangkan Theo.


"Jangan terlalu lama di sini Chris. Kita harus mempersiapkan pernikahan. " Sera mengingatkan Christian calon suaminya yang hanya diam menatap ke depan.


"Hem,,, " Hanya gumaman kecil sebagai tanggapan Christian. Sera membiarkannya kali ini, melihat Christian banyak melamun malah membuatnya bingung dan kesal sendiri.


"Aku pergi Chris. See you soon,,, " Pamit Sera, dia turun dari mobil setelah Porter membantu mengeluarkan kopernya.


Setelah beberapa waktu menjalani terapi, Theo akhirnya di perbolehkan pulang oleh petugas rehabilitasi. Untungnya dia tidak harus mendekam di balik jeruji besi berkat kekuatan koneksi. Theo hanya di beri peringatan sanksi yaitu berupa pelayanan masyarakat. Karena tidak paham dia memohon agar Alya mau membantunya.


Alya menunggu di luar menjemput Theo yang akan pulang ke rumahnya. Mengetahui kepulangan Sera, Alya menyimpulkan Christian juga akan kembali ke London bersamanya.


"Bukan masalah besar, kau harus menyetir untuk ku. Kau melarang orang tuamu menemaniku. " Ya, Theo sangat suka sikap Alya yang keras dan dingin.


Dia sudah nyaman dengan semua itu. Theo sadar, jika perasaan memang tidak bisa di paksakan. Itu hanya akan membuat jarak di antara mereka. Namun Theo akan perlahan membuat Alya mau menerima dirinya. Sama saja Theo belum bisa menyerah.


"Baiklah, silahkan tuan Puteri. " Theo membukakan pintu untuk Alya, lalu melindungi kepalanya agar tidak terbentur. Suatu bentuk perhatian secara naluri. Setelah menaruh tas berisi pakaian di bagasi mobil, Theo langsung duduk di kemudi. Dia melajukan mobil meninggalkan tempat rehabilitasi.


"Apa kau senang menjadi pelukis profesional? " Di perjalanan Theo ingin mendengar Alya bercerita tentang kehidupannya selama di London.


"Ya, aku menjadi lebih disiplin karena tanggung jawab. Aku juga bekerja part time sbagai karyawan di OCompany, membantu di bidang desain grafis. " Tak ingin menutupi apapun dari Theo, Alya mengaku berhubungan langsung dengan Christian dalam hal pekerjaan.


"Kakak ku sangat mencintai bilang seni, dia tumbuh dengan didikan grand pa. Perlahan dia mulai mengembangkan bisnis. Dan aku hanya bisa menjadi penerus yang pecundang. " Dalam hal apapun Theo merasa kalah dari Christian. Karir maupun cinta.


"Kau tinggal perlu membuktikan, bahwa kau mampu menjaganya dengan baik." Alya menepuk pundak Theo sebagai bentuk penyemangat.


Sesaat Theo memandangi Alya takjub, meski sudah menyakitinya Theo masih bisa berteman dengan Alya. Benar, Alya akan selalu terbuka menerima seseorang menjadi bagian di hidupnya tanpa suatu paksaan.

__ADS_1


"Theo awas! " Teriak Alya panik ketika mobil mereka hampir menyerempet mobil yang berada di depannya. Reflek Theo membanting stir ke kiri, dia menginjak rem dalam-dalam. Menghindari benturan, Theo merentangkan tangannya melindungi Alya.


Alya pun sama terkejutnya, dia melindungi perut yang mulai berbentuk dan menonjol dari benturan keras yang mungkin saja terjadi.


"Maafkan aku Al, seharusnya aku lebih fokus." Karena mengagumi wajah Alya Theo tidak memperhatikan jalan, dia tidak sadar bahwa mobil di depannya melambat karena lampu merah.


"Theo perutku,,, " Alya meringis merasakan kram di bagian bawah perutnya. Bingung dengan keadaan Alya, Theo bergerak menyentuh perut Alya mencoba memberinya kenyamanan.


Betapa terkejutnya Theo ketika meraba nya, Alya seperti sedang,,,


"Alya kau,,, " Kedua alis Theo saling bertaut, semoga saja pemikiran yang muncul di benaknya salah besar.


"Jangan katakan pada siapapun Theo, please. " Seraya memejamkan mata, Alya memohon agar Theo tidak bicara apapun soal kehamilannya apalagi pada Christian.


"Apakah Christian yang melakukannya?" Tak tahan lagi, Theo akhirnya menanyakan hal itu.


"Ini hanya sebuah kesalahan Theo. Aku sudah berusaha menjaga diri, tapi aku tidak tahu semuanya akan terjadi begitu saja." Alya melepaskan seatbelt nya lalu keluar, mereka masih berada di perbatasan menuju kota Paris.


Theo menyusul Alya. Dia mengusap wajahnya tak percaya, jika wanita yang ia cintai malah memiliki ikatan yang mendalam dengan sang kakak.


"Alya, kau harus mengatakannya pada Christian. Dia berhak tahu soal anaknya. Jangan egois Al! Aku tidak yakin kalau kau tidak mempercayai cinta, buktinya kau malah menyerahkan tubuhmu untuk Christian. " Meski sakit, Theo mencoba menasehati Alya yang selalu keras kepala.


"Ini hidupku Theo, aku yang berhak memutuskan. Jadi tolong bantu aku, tutup mulutmu rapat-rapat hanya sampai Christian menikah dengan Sera." Karena Alya tidak ingin pria itu membatalkannya. Jika Christian sudah resmi menjadi suami seseorang, artinya dia akan sulit keluar dari situasi itu. Alya bisa bernafas lega hidup berdua bersama anak mereka. Kalaupun Christian tahu nantinya, Alya tidak akan melarang mereka bertemu.


Ironis dan egois, namun itulah pemikiran Alya. Alya hanya harus bertahan sebentar lagi, dia akan kembali meraih cita-cita nya.


"Siapa lagi yang tahu soal ini Al? " Setelah tenang, Theo mulai menginterogasi Alya.


"Kau, orang tuaku dan juga dokter kandungan di rumah sakit. Mereka akan membawaku pergi sampai aku melahirkan." Bahkan Grace kakaknya belum ia beritahu. Untungnya dia sibuk mengurus baby Yuna, jadi pertemuan mereka jarang sekali.


"Aku harap kau tidak menyesal dengan keputusan mu Al. Sebagai paman dari anakmu, aku akan menjaga kalian berdua menggantikan Christian." Alya langsung mengangguk mendengar Theo bersedia membantunya.


Tanpa bisa ia kontrol, Theo memeluk Alya erat sekali. Dan Alya membalasnya. Dia merasa jauh lebih tenang sekarang.


"Thanks Theo, kau sudah mau mengerti." Gumam Alya, mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.


Di kantor milik ayahnya, Christian membanting semua berkas di atas meja. dia mendapat laporan bahwa adiknya di jemput oleh Alya. apa lagi Christian melihat foto yang di kirim orang suruhannya dimana Alya dan Theo berpelukan.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menggunakan Theo untuk lari dariku Al. atau kau akan melihat pertumpahan darah antar saudara. " matanya memerah merasa di khianati oleh Theo maupun Alya. karena Christian tidak tahu apa alasan mereka melakukan interaksi intim itu. pesuruh nya juga berada cukup jauh di dalam mobil, jadi tidak bisa mendengar percakapan keduanya.


__ADS_2