
Alya tidak menyangka, prinsip hidupnya akan berubah setelah bertemu dengan Christian. Kakak dari teman sekolahnya. Perkenalan mereka cukup konyol menurutnya. Alya pernah di cium paksa oleh Christian yang tengah mabuk. Dan takdir seperti menyatukan mereka, Alya di titipkan orang tuanya pada Christian ketika harus sekolah di luar negeri. Lucu memang, pada akhirnya Alya harus kembali ke negara asalnya.
Tampak Theo menjadi groom's men kakaknya. Menunggu kedatangan Alya yang di gandeng oleh tuan Rodrigo. Pernikahan di adakan di kediaman mempelai wanita, Alya memilih gaun begitu sederhana. Rambut Alya bahkan hanya di kepang, dia tidak mengharap pesta meriah seperti anak konglomerat biasanya.
Di depan pendeta Christian dan Alya mengucap janji pernikahan. Alya dan Christian saling menatap memancarkan kebahagiaan.
"Sekarang, kalian sudah menjadi sepasang suami istri secara hukum dan agama. Bolehlah kami melihat wedding kiss kalian." Theo membuat keluarganya tertawa ketika dia bersedia menjadi pemandu acara.
"Kau ini,,, " Christian menepuk pundak Theo. Tanpa rasa ragu, Christian meraih pipi Alya kemudian mengecup bibirnya cukup lama. Semua yang hadir memberi mereka tepukan meriah.
"Selamat ya Al, akhirnya kau menikah juga." Grace memeluk adiknya, Alya mulai berkaca-kaca hendak berpisah dengan keluarga.
"Hey, pengantin tidak boleh menangis di hari bahagianya. " Mommy Pat mengusap lembut menghapus air mata anak bungsu nya.
"Thanks mom, kau sudah memberiku kehidupan yang Sangat baik." Alya memeluk Patricia erat.
"Putri kecilku,,, " Panggil tuan Rodrigo menghampiri kemudian menarik Alya kedalam pelukannya. Mereka menitikan air mata bahagia, setelah melewati semua masalah yang begitu panjang.
"Kalian semua harus sehat dan kuat, aku tidak akan sanggup kehilangan kalian. I love you dad. " Suara Alya hampir terbenam dalam dada ayahnya, namun mereka masih bisa mendengar dengan jelas kejujuran Alya.
"Ok, jangan bersedih. Sekarang kau sudah menjadi istri seseorang, jagalah martabatmu dan jalankan tugasmu dengan baik." Tuan Rodrigo menasehati anaknya, satu tangannya menghapus air mata di pipi.
"Berbahagialah kalian." Ucap Tuan Rodrigo penuh harap.
Setelah mengucapkan salam perpisahan untuk pergi berbulan madu, Alya dan Christian di antar ke bandara. Kali ini ia menyewa pesawat pribadi untuk pergi ke Seoul Korea Selatan.
Alya nampak menangis dalam diam, entah mengapa hari ini Alya menjadi mellow sekali. "Baby, kenapa kau diam saja hem,,, apa kau sakit? " Christian meraih tangan Alya, menggenggam lalu menciumi nya.
"Aku baru sadar, keluargaku sangat mencintaiku. Dan aku tidak bisa bersama mereka lagi." Alya menunduk, menyesali kelakuannya dulu.
"Hey, kata siapa? Bukankah kau masih bisa bersama mereka Al. Aku akan menemanimu tinggal di Paris sampai kau benar-benar siap ikut bersamaku." Kata-kata Christian berusaha menghibur Alya.
"Benarkah? " Alya bergerak menghadap Christian, suaminya bisa melihat binar bahagia di mata Alya.
"Tentu." Jawab Christian yakin, Alya pun memeluk Christian erat.
"Terima kasih, Terima kasih Christian."
__ADS_1
Sebelum menikahi Alya Christian sempat meminta maaf pada Sera dan keluarganya. Tentu karena merasa terancam mereka membiarkan kenangan pahit masa lalu begitu saja. Setidaknya Christian akan berhenti mengawasi Sera dengan syarat Sera menjauh dari Alya.
Kedatangannya di negara Kpop membuat Alya semakin bahagia. Dia sudah lama ingin berkunjung ke sana. Tinggal di pusat kota, membuat Alya mudah pergi kemanapun yang dia inginkan.
Bangun dari istirahat nya, Alya tak menemukan Christian di kamar. Ia memilih membersihkan badan terlebih dulu.
Sementara Christian berkutat dengan laptop di pangkuannya, bekerja di saat bulan madu mungkin terdengar membosankan. Tapi tanggung jawablah menuntut nya bersikap profesional.
"Christian, bisakah kau menemaniku belanja baju? " Alya menganjingkan kemeja crop yang di padu padankan dengan rok mini. Kebetulan musim panas di sana.
"Hem, wait for a second. " Jawab Christian, Alya menunggu dengan memoles wajahnya tipis-tipis.
Sepuluh menit berlalu,
Christian belum juga berhenti bekerja. Alya mulai bosan menunggu.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri. Nikmati saja pekerjaan mu." Alya beranjak dari kursi makan, meraih tasnya buru-buru.
"Al, tunggu." Melupakan sejenak tugasnya, Christian menyimpan laptop di atas meja. Ia berjalan cepat mengejar Alya.
"Hey, I said stop. " Tangan Alya di cengkram begitu kuat olehnya.
"Sorry Al,,," Christian menyesali tindakannya.
"aku hanya ingin kau bersabar menungguku. " Lanjutnya lagi. Alya menatapnya tajam.
"Kalau kau memang banyak pekerjaan, jangan menjanjikan bulan madu ini Christian. Aku akan mengerti hal itu." Tukas Alya memarahi suaminya.
"Ok, kita pergi sekarang. Aku tidak ingin merusak suasana bahagia ini." Dan pada akhirnya Christian memang harus menemani sang istri jalan-jalan. Mungkin dia terlalu egois membawa pekerjaan ke acara bulan madunya.
Alya berkeliling kota Seoul bersama Christian. Mereka sengaja menyewa mobil bersama tour guide, mendatangi tempat-tempat terkenal. Mulai dari berbelanja di myeongdong, Alya membeli banyak barang di sana. Selain untuk dirinya, ia juga akan memberikannya pada keluarga. Setelah itu Alya dan Christian istirahat sejenak di cafe yang sangat ramai pengunjung.
Terakhir, Alya mengajak Christian naik cable car menuju puncak Namsan Tower. Christian melihat kebahagiaan di wajah Alya. Dia ingin selalu bisa memberikan Alya hal itu.
"Jangan menatapku seperti itu Christian." Perintah Alya ketika Christian tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Alya.
"Why? You're my wife, I love you so much Al." Keduanya berpelukan menyalurkan perasaan lega bisa bersama mulai sekarang.
__ADS_1
"Christian, jangan pernah meninggalkanku ok? " Kata Alya di dalam dekapan sang suami.
"Hem, apakah tidak terbalik? Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, Alya jangan pernah pergi dariku lagi. Atau aku akan hancur." Balas Christian tak mau kehilangan Alya.
Mereka menghabiskan waktu di Seoul selama tiga hari. Mengingat pekerjaan sudah menanti keduanya. Sebelum kembali ke London Christian menemani Alya di Paris terlebih dulu.
"Aku akan ke kantor sebentar, kau langsung istirahat saja di rumah ok? " Pinta Alya ketika mereka berada di perjalanan dari bandara.
"Tidak mau, aku harus ikut Al. Aku takut kau bertemu Theo tanpa sepengetahuan ku." Christian membenamkan kepalanya di pundak Alya.
"Ya Tuhan Christian, kau ini posesif sekali. Terserah kau saja kalau begitu. " Pasrah, Alya membiarkan Christian mengikutinya. Sebenarnya Alya hanya kasihan, khawatir Christian terlalu lelah.
Alya memang menyewa satu lantai di gedung perusahaan Theo. Pantas saja Christian begitu menjaga Alya agar tidak bersama Theo lagi. Dalam hidup semua bisa berubah karena adanya peluang.
"Niar, apa semua baik-baik saja? " Tanya Alya ketika berpapasan dengan Daniar.
Gadis panti asuhan yang ikut bersama Alya ke London. Alya sangat tertarik dengan kemampuannya dalam bidang komunikasi. Rencananya Daniar akan menetap di Paris dan melanjutkan studinya di sana. Daniar bergabung semenjak Alya mendirikan perusahaannya.
Alya bertemu dengan Daniar saat gadis kecil itu berusia dua belas. Tak terasa kini Daniar berubah menjadi sosok cantik dan cerdas di usia ke delapan belas.
"Semua lancar nona Al. Anda memiliki para staf kompeten jadi tidak perlu cemas. Aku selalu mengirim laporan melalui email." Jawab Daniar yakin.
"Hem baiklah, " Christian mengintil di belakang Alya layaknya anak itik dan induknya.
"Oh ya, karena aku masih dalam masa cuti jadi kau wakilkan aku rapat bersama Theo nanti siang." Perintah Alya, Daniar mengangguk tak masalah.
"Siap nona, selamat beristirahat." Daniar pun kembali ke ruang kerjanya bersama staf yang lain.
Christian akhirnya bisa berduaan dengan Alya meski terpaksa pulang ke rumah keluarganya. Padahal Christian berharap bisa tinggal terpisah selama mereka bersama.
"Aku tahu kamu kecewa. Tapi Christian, tolong mengerti perasaanku saat ini. Setelah ini kau memiliki ku seutuhnya, ok?" Keduanya duduk di ujung tempat tidur mendiskusikan kehidupan rumah tangga keduanya.
"Iya Al, aku hanya lelah. Aku tidur duluan." Mengecup kening Alya sebelum dirinya rebahan di atas kasur empuk.
Alya menghela nafas, ternyata berumah tangga tidak semudah yang ia bayangkan. Itulah mengapa dirinya enggan melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
terima kasih sudah mampir untuk membaca, sepertinya kisah Alya dan Christian akan segera berakhir. author sedang dalam tahap pertimbangan membuat kisah Theodor Oliver. kasihan dia harus jadi sad boy soalnya. 😊😂